
“Ehm…, Budhe Cuma kasih tahu Nila kalau mau hamil harus siap mental dan psikis Ba… Nila tahu kok Pendidikan itu yang utama!” ucap Nila cepat tahu cara menenangkan Babanya.
Kalau sampai Oma yang jawab duluan. Bisa hancur acara sore hari ini.
“Hm…,” Baba berdehem sedikit malu sudah nimbrung ke emak- emak karena Buna juga langsung memberikan tatapan tidak suka. Baba pun segera berlalu sambil mengangkat muka galaknya.
Akan tetapi walau Dokter Mira dan Jingga memililih diam takut kalau Baba ngomel, Oma Mirna berbeda. Oma Mirna tetap focus mendengarkan pernyataan Nila dan merasa ada yang salah.
“Besok ada pengajianya nggak acaranya?” tanya Oma nyeletuk setelah Baba pergi.
“Maksudnya gimana Bu? Kan Pengajianya sekarang!” jawab Buna.
“Sore ini ngaji bareng anak- anak yatim kan? Sama doa Bersama. Ibu tanyanya ada pengajiannya nggak??” tanya Oma Mirna menegaskan.
“Tausiyah mungkin maksud Ibu, Al!” sahut Dokter Mira mempertegas.
“Nggak Oma. Udah pinter- pinter pada, nggak perlu di tausiahin terus. Bosen!” jawab Jingga menyahut dengan nada bawelnya.
“Ciiit!”
“Auh… Buna!” keluh Jingga spontan karena Buna gemas mencubit anaknya yang kalau bicara seenak sendiri.
“Takabbur kamu! Mulut dijaga!” omel Buna ke Jingga.
“Tapi nyatanya emang nggak ada kan Bun? Jingga baca kok susunan acaranya. Jingga kan jawab jujur! Nggak ada tausiah!” jawab Jingga lagi merasa benar ke ibunya.
“Ya tapi sama nenek nggak takabur, udah pinter nggak perlu tausiah segala! Apa itu, orang solikhah tidak bicara begitu!” sambung Buna.
“Buna sensitive banget sih? Ya kan Jingga emang nggak solekhah!” jawab Jingga lagi dengan manyun- manyun membela diri.
Anak dan Ibu yang serasa menjadi kakak adik itu, sekarang juga jadi terlihat mudaan Buna karena Buna langsing, dan Jingga masih gendut, malah berdebat.
Mereka membahas acara Nila. Sampai Oma jadi geram ke sendiri ke anak dan cucunya, anak dan ibu kok malah beranten. Dokter Mira pun hanya geleng- geleng kepala, kekuarga saudaranya ini ramai sekali, sementara Nila tetap tenang. Nila malah memilih menatap ponselnya yang sedari tadi bergetar sampai dia matikan mode getar dan deringnya karena malu.
“Wes… wes kok malah, padu!” omel Oma Mirna menengahi.
“Oma. Jingga kasih tahu ya! Besok itu acaranya Cuma makan- makan, foto- foto sama nyanyi- nyanyi, makanya Nenek sama Oma besok dandan yang cantik. Besok itu kita pesta. Syukuran. Sekali- kali Oma. Jangan tausiah terus!” jawab Jingga lagi masih tetap bawel dan berani.
“Bagus tuh. Setuju aku!” jawab dr. Mira keceplosan tidak suka pengajian.
__ADS_1
“Taah kan, Nek. Budhe aja setuju kan? Tos Budhe!” celetuk Jingga girang tidak suka ada pengajian.
Dan tentu saja Oma langsung mendelik dan dr. Mira langsung, tutup mulut. "Ups!" lirih dokter Mira siap dipelototin mertua tirinya.
“Emang pripun to Buk? Kalau mau ada tausiah, biar Alya sampaikan ke Mas Ardi,” sambung Buna tetap sopan ke Ibunya, Buna malah khawatir dimarahi Oma karena tidak ada pengajianya.
Tentu saja Jingga dan dokter Mira langsung saling tatap tidak setuju dan tidak suka. Udah biar saja besok acaranya santai kumpul keluarga.
“Ini susunan acaranya nanti berantakan, Buna! Nggak usah aja. Nila nanti diceramahinnya sama mertuanya aja! Kan Kyai!” serobot Jingga protes.
“Nggak! Wong ming tanya kok! Oma nggak mau ngerusak acara. Katanya kan gitu,” jawab Oma sewot dan tersinggung.
Tentu saja Jingga langsung mencibir tapi dalam hati senang.
Berbeda dengan Nila langsung tersenyum ke Oma.
“Nila dengerin tausiah dari Oma Rita dan Nenek Mirna aja, sepanjang waktu Nila mau dengerin, Oma dan Nenek mau kasih kan?” celetuk Nila lembut dan sopan membesarkan hati Nenek dan Omanya.
Oma Rita yang sedari tadi memilih menyimak di atas kursi roda langsung tersenyum mengangguk, Oma Mirna juga iya.
“Hemmm…,” Jingga pun hanya mencebik mendengar adiknya sedang merayu Omanya.
“Ini nih, beda kan, anak pesantren sama bukan! Ngomongnya menenangkan!” sindir Oma Mirna mengutarakan kesal ke Jingga kalau sama Omanya suka ngeledek.
“Iya, Bunga, gitu Nenek, Sukanya ngebandingin!” jawab Jingga ikut memojokan Oma Mirna.
Kali ini Oma Mirna malah jadi bullian Jingga.
“Ini kenapa sih? Kok mbahasnya malah kemana- mana. Nila Buna mau tanya!” sahut Buna menengahi dan menyudadi kelakuan Jingga yang kalau diteruskan bakal Panjang bawelnya, bisa bikin Oma Mirna nangsi tersinggung.
“Ya, Bun!” jawab Nila.
“Keluarga suamimu berapa orang? Ke sini jam berapa? Sore ini kesini nggak?” tanya Buna serius.
“Ada banyak Bun, semalam dini hari datang! Nggak tahu sih ke sini atau enggak!” jawab Nila. Memberitahu
Buna dan Jingga mengernyit,
“Banyak? Berapa?” tanya Jingga lagi.
__ADS_1
Nila pun menjelaskan berapa jumlah tamunya, dan semua speechless.
“Lak, rumahmu kan nggak begitu gede, mereka nginep dimana? Kak Aisyah bukanya anaknya masih balita? Terus besan- besan mertuamu dimana?” tanya Jingga langsung antusias.
Ya, jika dibanding rumah Baba, rumah dokter Nando dan rumah Jingga, rumah Rendi memang bergaya minimalis modern dan tergolong kecil, walau bagi keluarga Rendi, rumah Rendi sudah besar dan mewah.
Nila pun menjelaskan kalau tamu- tamu laki- laki keluarga suaminya sebagian tidur Bersama lesehan, ipar- ipar dan mertuanya tidur satu kamar, begitu jyga teman- temanya.
“Astaghfirulloh, kenapa nggak bilang sayang? Suruh nginep di hotel Gunawijaya aja mereka. Telpon Rendi suruh nginep di hotel aja!” jawab Oma Rita langsung ikut nimbrung merasa kasihan dengan besanya.
“Nila udah sampaikan kok, Oma. Mas Rendi bilang nggak mau kalau nginep di hotel Gunawijaya, soalnya di rumah, mereka lagi masak- masak dan buat parsel juga,” jawab Nila cerita.
“Gleg!” Buna pun terdiam menelan ludahnya.
Sementara dokter Mira dan Jingga langsung speechless dengan keluarga Nila. Bagi Jingga dan dokter Mira, keluarga Rendi ribet.
“Berarti kamu belum tidur dong sama Si Rendi itu?” celetuk Jingga dengan tanpa dosa.
“Mamah Diptaaa…,” dan tepat saat Jingga nyeletuk, Bang Adip suaminya lewat dan dengar kalau istrinya mulutnya kelewatan.
“Ehm…,” sementara Nila menunduk malu. Bunga yang masih gadis langsung berbinar penasaran.
“Pak Rendi, bukan si Rendi!” tegur Adip.
“Bang, Pak Rendi sekarang kan adik kita! Jingga kakaknya. Masa manggil Pak! Abang nggak usah ikut- ikutan sanah pergi!” jawab Jingga merasa tidak bersalah mengatai Rendi si Rendi, dan malah mengusir Adip. Padahal Adip bawa Dipta yang tidur.
Adip pun hanya mencebik menggendong Dipta dan ditidurkan di tempatnya.
“Tetep aja, bener kata Adip, yang sopan udah jadi ibu, omonganya dijaga! Anakmu niru kamu nanti lho!” sahut Buna kembali memarahi Jingga. “Udah pertanyaan kakakmu nggak usah dijawab!” Buna membela Nila dan Adip.
“Tante nggak apa- apa, jawab aja Dek Nila, kan Dek Nila nikah udah lama?” sahut Bunga paling antusias ingin ledek Nila.
Nila jadi tersipu- sipu.
"Jangan bilang istri rasa gadis nih?" imbuh dokter Mira menambahi gantian bully Nila.
Nila hanya bisa menunduk senyum- senyum.
"Nila ada telepon. Nila pamit bentar!" ucap Nila mencari alasan lari dari bullian. Meski memang benar Nila ada telepon.
__ADS_1
Nila pun menepi keluar rumah mencari tempat yang sepi.
Akan tetapi sesampainya di depan. Nila berdiri terpaku menatap orang yang berdiri di depanya.