
“Tante cantik lagi apa? OmDhe, katanya kangen sama istri kecilnya,”
“Huh…,” pekik Nila begitu membuka ponsel, membaca pesan masuk,
“Omdhe?” gumam Nila berfikir. Nila dapat pesan dari nomor baru, tidak ada namanya, tapi ada keterangan di profil, kalau mereka berada di satu grup yang sama grup kelas. “Salah sambung kali ini?” Nila meletakan ponselnya.
“Triiing..,” ponsel Nila berdering lagi.
Nila sedang pusing menghafal dan belajar, karena nanti ada kuliah Rendi, takut ditanya tidak bisa dan diberi hukuman, saat ada pesan tidak jelas Nila kesal.
Padahal dari sejak ponsel Nila hidup, Nila sedang menunggu balasan Buna. Nila menjawab pertanyaan Buna semalam, Nila minta maaf, dan Nila ingin menjelaskan sesuatu. Sayangnya Buna yang sekarang pikiranya terbang kemana- mana, juga dalam perjalanan menemuinya, gantian tidak menjawab pesan Nila.
“Hhhh siaapa sih? Omdhe.. omdhe?” gumam Nila, karena sedang menunggu balasan Buna, Nila kembali membuka ponselnya.
“Woah? Dipta?” gumam Nila kali ini kaget, si Omdhe itu mengirim foto Baby Pradipta sedang melongo. “Ini siapa sih?” Nila pun berfikir siapa? “Om..dhe?” Nila pun terus berfikir dan mengeja, seketika itu, otaknya langsung terhubung, buru- buru, Nila menyibak tirai jendela kamarnya.
“Ish..,” Nila pun langsung mendesis manyun dan dadanya mengembang, ternyata Omdhe Rendi. Tapi kenapa nomernya baru? Ternyata Rendi menghubungi Nila dengan nomer yang untuk umum, biasanya dengan nomer pribadi. Jadi sekarang Nila punya dua- duanya.
Rendi dan Adip tampak sedang mengobrol asik di teras depan dan di antara mereka, Baby Dipta sudah tertidur kembali, sepertinya Rendi sudah cukup lama sampai.
Adip dan Rendi terlihat akrab, bahkan terkesan bukan sebagai dosen, tapi seperti kawan. Nila pun menutup tirainya lagi sembari senyum- senyum sendiri, ternyata seindah itu rasanya diapeli suami.
Secara status Nila melesat jauh dari teman- temanya seusianya karena sudah bersuami, teman- teman Nila baru berpacaran. Tapi secara isi, Nila tertinggal jauh, teman- temanya sudah berkencan, bahkan beberapa ada yang melebihi batas, meski statusnya suami, Nila baru sekarang diapeli.
Nila melirik jam, karena tahu ada Rendi, Nila berniat segera mandi. Nila pun keluar, menemui Jingga meminjam baju lagi. Sayangnya begitu bertemu, Jingga terduduk di dapur, Jingga menampakan muka masam, dan mengatupkan bibirnya.
“Kak..,” panggil Nila.
“Hmm…,” Jingga tidak menjawab.
“Nila pinjam baju lagi!”
__ADS_1
“Kenapa pinjam Kakak? Kamu kan bisa beli dari uang suamimu? ” jawab Jingga ketus.
Nila jadi menelan ludahnya bingung, Jingga masih belum memaafkanjya ternyata. Nila pun memilih tidak mau ribut.
“Kok Kakak ngomongnya gitu?” tanya Nila pelan.
“Oh ya… kalau mau bohong sama Baba, kalau mau kencan, jangan libatin Kak Jingga dan Bang Adip lagi, selesein sendiiri masalah kalian, kenapa harus pulang kesini? Kamu udah bisa nentuin sendiri kan?” omel Jingga masih emsoi.
Nila pun semakin tercekat, bahkan marahnya Jingga melebihi semalam. Ini berbeda sekali dengan pemandangan di depan. Adip sangat ramah bahkan akrab ke Rendi, tapi kenapa benci Jingga seperti mengakar.
“Maaf!” ucap Nila menunduk merasa bersalah.
“Kakak udah nggak kenal kamu lagi, kamu udah berubah, kamu banyak bohong, perkataanmu juga nggak bisa dipegang!” omel Jingga lagi seperti sangat benci ke Nila.
Nila semakin tidak bisa berkata- kata, hingga Nila menitikan air mata. Dibentak kakak yang dia sayang rasanya sakit.
“Nila nggak bohong Kak! Maafin , Nila!” ucap Nila pelan.
“Kakak nggak mau denger lagi,! Sana sama suamimu aja! Suruh dia pergi, males aku litanya!” ucap Jingga lagi.
“Iya Kak! Maaf” jawab Nila, tidak mau bertengkar, Nila kemudian berbalik.
Melihat adiknya diam berbalik dan mengalah, Jingga yang pundung tapi sebenarnya niatnya protes ke Nila agar Nila patuh, jadi sakit sendiri.
“Nila tunggu!” panggil Jingga kemudian.
Nila pun berhenti, dan menoleh.
Saat menoleh, ternyata Jingga sendiri juga menitikan air matanya. Jingga tampak berdiri lalu mendekat ke Nila dan memeluknya.
Nila jadi bingung sendiri, dan menerima pelukan kakaknya itu. Hingga beberapa saat, kakak adik itu saling peluk dan menitikan air matanya.
__ADS_1
“Apa kamu yakin dengan keputusanmu rujuk?” tanya Jingga lirih menguraikan pelukanya.
"Kamu nggak sedang diguna- guna kan?" tanya Jingga dengan suara terisak
Nila menyeka air matanya bingung mau jawab apa.
“Kakak nggak mau kamu nangis lagi, kamu masih kecil, kamu berhak bahagia dan menikmati masa mudamu?” ucap Jingga kemudian.
"Kaka cuma mau kamu bahagia? Tapi apa iya bahagiamu itu Pak Rendi? Sudah sejauh apa hubungan kalian?" tanya Jingga lagi mengira Nila dan Rendi selama ini menyembunyikan sesuatu dari Jingga, sampai dompet Rendi ada di Nila.
"Sejauh apa gimana Kak? Maksud kakak gimana?" tanya Nila pelan.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau jawab kakak. Kamu boleh bohong ke Kakak. Tapi pada Baba dan Buna. Jujur saja. Jangan bohongi mereka," ucap Jingga lagi.
"Bohong gimana Kak?"
"Please jangan buat Kakak kecewa ke kamu. Terserah apa yang kamu lakukan, asal kamu bahagia. Tapi jangan bohong ke Baba dan Buna!".
"Kakak kenapa ngomong gini? Nila nggak bohong ke siapa- siapa? Nila ke sini mau minta tolong ke Kakak dan Bang Adip buat sampaiin apa yang terjadi,"
"Nila please, kakak nggak akan larang hal buat kamu bahagia. Sok kalau mau sama Pak Rendi. Kakak cuma nggak mau kamu nyesel!"
"Kakak berarti dukung Pak Rendi?"
"Kakak nggak bisa larang kamu kan? Kakak juga nggak tahu kan apa yang kalian lakukan?" ucap Jingga lagi.
"Nila nggak ngelakuin apa- apa Kak. Nila kesini ingin kita berdiskusi bareng menanggapi niat Mas Rendi," jawab Nila lagi.
"Sampai dompet dia kamu pegang. Apalagi yang perlu didiskusikan?" ucap Jingga lagi.
"Oh...," ucap Nila langsung terhenyak. Kini Nila mengerti kenapa Kakaknya menuduhnya. Nila pun tersenyum.
__ADS_1
Jingga jadi tersinggung Nila malah tersenyum, saat Jingga hendak bertanya, ART Jingga mendekat.
"Mbaak.. ada nyonya besar di depan!" tutur ART Jingga yang tadi mengantar minuman kini kembali.