Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Apa Baba marah?


__ADS_3

Rendi langsung mengeratkan rahangnya karena kesal, kepalanya sudah dibuat pusing menghadapi gadis kecilnya yang labil, kenapa waktu istirahatnya diganggu.


Sementara Valen mengembangkan senyumnya, setelah berkali- kali mengunjungi rumah Rendi untuk memojokan Rendi agar mengaku belum menikah tapi tak pernah ketemu, kini Rendi datang.


Valen yang tadinya duduk di teras langsung berdiri.


“Hai Rend? Sore amat pulangnya?” sapa Vallen ramah menyambut Rendi.


“Ehm…,” Karena kesal Rendi mukanya masih ditekuk, Rendi turun dari mobilnya dengan malas. “Apa yang perlu kutanda tangani? Kok kamu ke rumah?” sapa Rendi datar dengan wajah tegangnya.


Meski dijuteki, Valen tetap tersenyum dengan wajah tanpa takut.


“Baru juga pulang udah langsung tanya kerjaan, duduklah, kamu tidak ingin masuk dulu dan mempersilahkan aku? Aku tamu lho!” jawab Valen tetap santai.


Rendi yang kesal hanya tersenyum masam menatap Valen sejenak. “Masalahnya kamu tahu kan? Aku tidak begitu suka, membawa urusan pekerjaan ke rumah, seingatku aku juga tidak menyebarkan tempat tinggalku ke rekan kerjaku,” jawab Rendi.


Valen hanya menghela nafasnya lembut dan malah menyelipkan sedikit rambutnya, agar leher jenjangnya yang putih dan anting berlianya terlihat.


“Sebagai teman nggak apa- apa kan aku berkunjung? Oh ya, sedari tadi rumahmu terkunci? Sepertinya rumahmu kosong? Kamu pulang sendiri?” jawab Valen menata katanya pelan dan anggun malah tersenyum penuh arti memperhatikan mobil Rendi.


Rendi jadi mengernyit tidak mengerti arah pertanyaan Vallen.


“Apa maksud kamu? Ya aku pulang sendiri!” jawab Rendi bertanya ikut melihat mobilnya.


Vallen pun semakin melebarkan senyumnya.


“Aku ke sini ingin berkenalan dengan istrimu! Boleh kan?” jawab Valen memancing.


“Ehm..,” Rendi langsung berdehem semakin kesal. Rendi pun menggaruk pelipisnya sekarang benar- benar kesal.


“Tidak perlu datang ke sini untuk berkenalan dengan istriku, kapan- kapan aku kenalkan dia ke kamu!” jawab Rendi jutek.


“Apa kamu sedang mengusirku? Sekarang aku sudah di rumahmu lho? Kenapa harus kapan- kapan, atur waktu bertemu kan susah!” jawab Valen lagi.


“Ck. Valen aku baru pulang, aku butuh istirahat, kamu tahu maksudku kan?” jawab Rendi lagi mengusir secara halus.


Valen tersenyum lagi menatap Rendi.


“Ya ampun, ck. Sifat jutekmu memang tidak berubah ya? Hhh.. aku kan kesini bukan untuk mengganggumu, aku ingin bertemu istrimu!” jawab Valen lagi dok dekat dan sok mengingat saat mereka akrab.


Rendi langsung menelan ludahnya, kesal. Sekarang dia terpojok, pilihanya Dia harus pandai beralibi, atau jujur.


“Mau apa memangnya bertemu istriku?” jawab Rendi.


“Aku pernah dengar, orang bilang istri sahabat kita berarti sahabat kita juga kan? Aku ingin berkenalan, aku juga punya sedikit bisnis perhiasan dan komunitas arisan. Aku ingin ajak istrimu! Siapa tahu cocok kan?” jawab Valen lagi beralasan.


“Istriku tidak cocok ikut- ikutan komunitas semacam itu. Dia hanya akan memakai perhiasan yang kuberikan! Jadi kalau kamu menemuinya untuk itu, urungkan saja niatmu!” jawab Rendi lagi.


Tapi Vallen tidak putus asa apalagi tahu malu. Valen terus mendesak Rendi.


“Kamu ternyata suami yang otoriter ya!”


“Kamu boleh menyimpulkan begitu!” jawab Rendi lagi.


“Kasian tahu istrimu kalau kamu terlalu kaku begitu, kasih lah dia kelonggaran!”


“Valen! Please ya, urusan rumah tanggaku itu bukan urusanmu. Aku minta maaf, aku ingin istirahat. Kamu tahu kan maksudku?” jawab Rendi nadanya meninggi mengusir Vallen


Valen yang diusir bukanya tersinggung justru semakin berani.


“Rendi- Rendi, seterluka inikah kamu sampai mengusirku? Jujurlah pada hatimu, kamu tidak perlu marah lagi padaku? Kenapa kamu harus beralasan sesulit ini untuk menjawab pertanyaanku! Bahkan sampai mengarang cerita?” ucap Valen lagi dengan percaya diri, yakin kalau Rendi belum menikah dan hanya ingin tidak terlihat menyedihkan karena gengsi dan belum move on.


Rendi semakin mengernyit. Bagi Rendi Vallen semakin aneh


“Apa maksudmu? Aku mengarang cerita?" tanya Rendi.


“Kamu tidak mengijinkan istrimu bergaul denganku atau memang istrimu itu tidak ada?” jawab Vallen memperjelas.


Rendi langsung menangkap dan tersenyum masam.


“Apa kamu sedang mengatakan aku berbohong tentang istriku?” tanya Rendi balik.


“Aku masih bingung rumah tangga seperti apa yang sedang kamu bangun Rendi. Semua teman- teman kita tidak ada yang datang ke pernikahanmu, aku juga beberapa kali ke sini, rumahmu seperti kosong, kamu belum punya istri kan? Aku tidak akan mengasihani kamu kalau memang kamu belum bisa mencintai orang lain, kamu tidak perlu berbohong, Rendi!” ucap Vallen panjang.


Tentu saja Rendi langsung tertawa.


“Oh sekarang uang sedang berbohong dan mengarang cerita aku apa kamu sih? Tunggu kamu tadi bilang datang ke sini beberapa kali? Kamu sedang memata- mataiku?” tanya Rendi lagi.


Gleg. Vallen pun tercekat.


“Aku bukan memata- matai kamu, aku Vallen sahabatmu! Aku peduli ke kamu Rend.” ucap Valen lagi.


Rendi langsung memijat keningnya.


“Vallen, aku mengenalmu sebagai Vallen yang menghargai waktu, suka berkerja dan selalu menimbang manfaat dari setiap tindakan, sejak kapan kamu melakukan hal yang sia- sia begini? Untuk apa kamu mengusik kehidupanku sejauh ini?” jawab Rendi semakin memojokan Valen.


“Aku masih mencintaimu!" jawab Vallen akhirnya nekat menyatakan cintanya.


"Woh?" Rendi jadi terhenyak tidak menyangka.


"Kita memang pernah gagal, Ren. Aku tahu kita saling cinta, aku cerai dan kamu masih senrdiri. Kita bisa memulai lagi Ren," Tutur Valen menggebu.

__ADS_1


Rendi terdiam, benar- benar tidak menduga.


"Kalau memang orang tuamu ingin aku memakai hijab, aku bersedia menjadi mualaf dan memakai hijab seperti yang kamu inginkan!” jawab Valen panjang mengungkapkan perasaanya.


”Hhh…” Rendi speechless. “Duduklah!” ucap Rendi kemudian.


Akhirnya Rendi memilih duduk sejenak.


Vallen pun mengikuti Rendi, menunggu jawaban Rendi. Vallen yakin, Rendi akan menerima dan mengakui kalau dia belum menikah.


“Aku minta maaf, Vallen!” ucap Rendi tidak mau mengulur waktu. “Aku sungguh sudah menikah. Oke. aku beritahu kamu apa adanya, aku menikahi gadis pilihan orang tuaku. Dia santri ibuku. Aku memang tidak menjalani pernikahan seperti orang pada umumnya, karena dalam pernikahan kami, kami mempunyai kesepakatan terkait jarak dan tempat tinggal. Istriku memang baru sekali datang ke rumah ini. Jadi ketiadaanya di sini memang karena kami masih mempunyai kesepakatan untuk tidak tinggal satu rumah karena suatu hal. Aku sungguh sudah menikah dan aku punya istri,” Tutur Rendi menjelaskan dengan tegas.


Valen langsung gelagapan dan wajahnya merah padam.


“Dan kami memang baru menikah siri,” lanjut Rendi lagi lirih.


Vallen tercekat mendengarnya, “Siri?” tanya Valen.


“Ya!” jawab Rendi mengangguk.


“Kenapa saat aku dulu mempunyai ide melakukan itu kamu tidak mau? Dan sekarang kamu?” tanya Vallen merasa dicurangi Rendi karena dulu bahkan Valen bersedia menikah tanpa restu tapi Rendi meminta waktu sampai ada restu.


Rendi jadi kebingungan menjelaskanya.


“Ya masalahnya beda, Vallen!” jawab Rendi.


Seketika itu, Vallen pun meneteskan air matanya, setelah dia percaya diri dan merendahkan harga dirinya ternyata dia salah.


“Tolong pahami keadaanya, kisah kita sudah berakhir. Sejak kamu menikah dan pergi, aku sudah mengikhlaskanmu, dan aku hanya akan menikah dengan orang yang Ibu dan ayahku ridzo! Dia istriku, dan aku mencintainya,” sambung Rendi menegaskan.


Valen pun menyeka air matanya menahan sesak.


“Aku minta maaf karena masih berharap padamu!” lanjut Vallen.


Rendi mengangguk tenang. Sebenarnya Rendu juga kasian dengan Valen tapi Rendi sudah melupakan Vallen sejak lama.


“Aku berharap kamu menemukan jodoh terbaikmu,” ucap Rendi tulus.


Valen hanya menyeka air matanya.


"Aku minta maaf!" lanjut Rendi.


“Tapi kita masih bisa berteman kan?” tanya Vallen lagi.


“Tentu, program kita masih jalan kan? Aku berharap kamu professional! Besok pagi kita juga ada meeting kan? Aku harap kamu tidak membawa perasaan dalam pekerjaan kita dan tolong mulai sekarang simpan masalalu kita,” jawab Rendi tenang memberi tahu.


Vallen menunduk mengatur nafasnya dengan wajah yang malu dan sakit. Axel benar- benar kurang ajar batin Vallen.


“Kalau sekiranya tidak nyaman, aku akan delegaasikan ke temanku,” sambung Rendi karena Vallen tampak menunduk menahan air mata.


“Tidak!” jawab Valen cepat dan menegakan wajahnya.


“Oke aku professional, kamu tidak perlu ganti!” lanjut Valen meminta.


“Oke…” jawab Rendi mengangguk. “Tolong pisahkan hubungan kerja dan pribadi, ingat itu!” ucap Rendi meminta syarat.


“Ya aku tahu!”


“Kalau gitu maaf, aku mau istirahat, aku tidak perlu kasar kan?” ucap Rendi lagi tega mengusir Vallen.


Valen pun kembali menatap Rendi nanar, dan tanpa sepengetahuan Rendi, Vallen mengepalkan tanganya sakit.


“Aku akan pulang, sebelumnya boleh aku tahu, kenapa istrimu tidak tinggal bersamamu dan kalian menikah siri?”


“Sory, itu hanya rahasia keluarga kami, secepatnya kita akan menikah secara resmi dan tercatat di pencatatan sipil!” jawab Rendi percaya diri dan mantap, tidak peduli sebenarnya sedang menghadapi tembok besar yaitu Baba, Amer dan Ikun juga Oma Rita.


“Boleh aku tahu siapa dia?” tanya Vallen lagi.


“Besok aku beri undangan untukmu, kamu bisa baca di sana! Nyonya Valen!” jawab Rendi semakin mempertegas.


Valen pun menelan ludahnya semakin terasa getir, meski begitu Vallen tersenyum dan bangun untuk pergi.


Rendi pun melepas Valen lalu menutup gerbangnya.


Seketika itu Rendi langsung menelpon Bu Siti, mengkonfirmasi kedatangan Vallen ke rumahnya.


Secepat kilat Bu Siti dan Pak Kardi datang meminta maaf.


“Haish… lain kali jangan terima tamu tanpa ijinku!” jawab Rendi.


“Maaf, Pak. Nona itu bilang calon istri Pak Rendi!” tutur Bu Siti minta maaf.


“Hhh..,” Rendi hanya menghela nafas dan merogoh sakunya.


Bu Siti dan Pak Kardi menunduk ketakutan karena sudah lancang membiarkan Vallen masuk.


“Ini istriku!” ucap Rendi tiba- tiba menunjukan ke Bu Siti dan Pak Kardi.


Gleg, Bu Siti dan Pak Kardi langsung membelalakan matanya, selama dua tahun lebih mereka tidak ada yang tahu kalau Tuanya sudah menikah.


“Pak Rendi sudah punya istri?” tanya Pak Kardi.

__ADS_1


Sementara Bu Siti memperhatikan foto Nila, “Meni geulis…masih muda?” gumamnya lirih.


Secepat kilat Rendi menarik handphonya dengan wajahnya yang mendadak sengak.


“Selain dia jangan boleh masuk!” ucap Rendi lagi.


Bu Siti dan Pak Kardi mengangguk.


“Ya sudah kalian boleh pulang!” tutur Rendi.


Bu Siti dan Pak Kardi iya iya aja meski dalam hati masih syok, Rendi itu melamun atau ngelindur.


Apalagi yang Bu Siti lihat foto Nila hampir seumuran dengan anaknya. Mereka masih ragu dengan pernyataan Rendi.


Selepas Bu Siti dan Pak Kardi pergi, Rendi kembali mengacak- acak rambutnya, merasa nelangsa dan kesal.


Ternyata sepenting ini mempublikasikan pernikahan dan mempertegas status. Kenapa seakan semua peristiwa yang menimpanya seperti menuntut diirinya untuk cepat membawa Nila ke permukaan.


Pertama dari semua jabatan dirinya di pekerjaan, Livi, teman- temanya dan sekarang Vallen. Status menikah itu ternyata dibutuhkan.


Bukanya mandi, Rendi malah menjatuhkan dirinya di atas sofa dan memutar otaknya.


“Dulu aku merasa nyantai aja, dengan kesendiianku, kenapa sekarang jadi segelisah ini sih? Aku nggak bisa didiemin Nila semalaman begini. Nggak, aku nggak bisa bersabar, tapi masa aku harus adu jotos sama Baba?” gumam Rendi mencari ide bagaimana agar bisa bertemu dengan Nila.


Sepersekian detik, Rendi tersenyum lalu mengambil ponselnya.


“Apa di grup ini ada Mbak Nila, tolong hubungi saya, atau 30 menit lagi, saya tunggu di kampus!” ucap Rendi menggegerkan grup kelas.


Tentu saja, Dita langsung on, begitu juga teman- teman yang lain. Padahal Nila yang dicari masih sibuk menyimak Oma tadarus. Karena Nila lama tidak membalas, Dita dan teman- teman Nila langsung wa Nila dan telpon Nilaa. Sementara Celine langsung tersenyum melempar ponselnya. "Dasar tukang akting ribet?"


****


Di rumah Baba


“Kaak ada telepon tuh!” ucap Iya memberikan telpon ke Nila,


“Dari siapa?” tanya Nila.


“Nggak tahu, bunyi terus!” jawab Iya manyun.


“Angkat dulu,” ucap Oma.


Nila pun mengangguk lalu angkat telpon Dita,


Begitu diangkat Dita langsung menyerbu Nila.


“Buruan balas di grup, Pak Rendi nyariin kamu tuh!”


Kepada Dita, Nila tidak berkutik walau di sini Nila manyun, kesal, ini pasti akal- akalan Rendi.


“Yaya,” jawab Nila,


“Tadi suratnya si Livi dibawa kamu kan? Kali dia nyariin?” ucap Dita malah mengompori.


“Ya ini aku telepon dia!” jawab Nila.


Belum Nila menutup telepon Dita ternyata Rendi sudah wa lagi di grup bahkan beralasan komputernya eror.


“Hiiish pinter banget sih dia bikin gegara, ck.. aku kan nggak megang komputernya?” gumam Nila jadi kesal dan Nila tahu ini pasti akal- akalan Rendi.


Nila pun berniat mengurungkan menjawab dan menghubungi Rendi karena kesal dan tahu akal bulus Rendi. Nila melempar menaruh ponselnya dan berbalik.


Sayangnya belum Nila melangkah seperti ada yang berbisik, “Kalau nggak dijawab bakal bikin masalah di grup, nggak asik juga kan kalau Rendi ngelantur di grup,”


“Haish…” desis Nila khawatir Rendi nekat, akhirnya Nila kalah ego dan membuka blokir Rendi.


Nila pun membuka blokiran Rendi, lalu membalas di grup.


“Iya Pak, mohon maaf saya ada salah apa ya Pak?” jawab Nila.


Belum Nila menjawab, ternyata begitu dibuka, Rendi langsung telepon Nila.


Nila pun buru- buru menepi ke kamar.


“Halo, Sayang!” ucap Rendi cepat.


“Ish.. apaan sih? Pakai acara bohong di grup segala? Nila nggak megang- megang komuter Mas ya!” jawab Nila manyun


Rendi malah terkekeh.


“Kata siapa nggak megang? Kamu udah obrak abrik hardware Mas!” jawab Rendi malah merayu Nila, begitu Nila angkat telepon Rendi langsung semangat dan bahagia.


“Ck.. serius nih! Nila matiin lagi, NIla blokir lagi..,nggak penting banget sih!” ancam Nila cemberut.


“Eh ya jangan! Tunggu!”


“Apalagi? Ada perlu apa? Jangan kasih tugas lagi!'’


“Belum baca wa Mas?”


“Belum, sibuk! Ada apa emangnya?" jawab Nila jutek ternyata Rendi menjengkelkan.

__ADS_1


“Suami itu nomer satu malah diblok segala, ada apa sih? Baba marah? Mas kesitu ya!” tanya Rendi mendesak.


__ADS_2