
“Bang Hanan?” pekik Nila kaget, saat berjalan menuju ke auditorium kampus Hanan tahu- tahu mengagetkan sudah ada di sampingnya.
“Assalamu’alaikum..,” sapa Hanan tersenyum.
Nila pun membalas senyum Hanan sejenak lalu menundukan kepalanya tidak nyaman berjalan berdua. “Waalaikumsalam..,” jawab Nila.
Hanan membersamai Nila, pagi ini ternyata ada kuliah umum dimana dan jadwal kuliah Umum oleh dosen tamu dari luar Negeri. Kuliah ini diadakan di auditorium dan tidak hanya kelas Nila.
Tentu saja Hanan sangat senang dan dia pun tidak mau menyiakan kesempatan, setelah pisah kelas kan mereka jarang bertemu.
"Sendirian aja?"
"Iya dianter supir tadi! Nanti ketemu di kelas bareng anak- anak!" jawab Nila.
"Apa kabar nih?" tanya Hanan.
"Alhamdulillah baik. Bang Hanan baik?" tanya Nila.
“Kemarin sih kurang baik. Tapi sekarang baik banget!" jawab Hanan merayu secara tersirat. Tapi Nila tidak paham dan mengira kemarin sakit tapi sekarang sembuh. Padahal maksud Hanan karena sekarang bertemu denganya.
"Oh Alhamdulillah kalau udah baikan!" jawab Nila polos.
Hanan pun menyunggingkan senyum.
"Udah baca materinya?” tanya Hanan, memancing percakapan dengan Nila.
Nila sedikit gelagapan beberapa hari terakhir focus Nila kan teralihkan karena Rendi. Nila yang dulu suka membaca buku sebelum kuliah dimulai, ta[I sekarang bahkan membukanya saja tidak, jadi malu sendiri.
“He.. belum Bang, Bang Hanan udah ya?” tanya Nila.
“Intip dikit, takut nggak mudeng kalau banyak bahasa inggrisnya!" jawab Hanan
"Ck. Bang Hanan kan udah fasih merendah sukanya!" jawab Nila
"Aku duduk dekat kamu ya. Biar kalau nggak mudeng aku tanya!" ucap Hanan lagi.
"Sungguh Nila belum belajar Bang!" jawab Nila lagi.
"Tumben kamu belum belajar,” jawab Hanan lagi.
“He… lagi males,” jawab Nila.
"Anak serajin kamu kenal malas?" gurau Hanan lagi.
"Aku manusia biasa. Bang! Nggak usah berlebihan!" jawab Nila lagi.
Karena mereka teman SMP mereka sedikit akrab.
Mereka pun tidak menghiraukan yang lain berjalan bersama dengan santai mencari tempat duduk yang paling depan agar bisa mendengarkan dosen dengan jelas. Sebab kuliah umum tidak akan sefokus kuliah di kelas.
Nila sama sekali tidak tahu bahwa ada banyak pasang mata yang menatapnya sinis. Bahkan menggunjing Nila melalui handphone.
“Pinter banget ya dia sembunyi lewat hijabnya?” ketik Della
“Apa sih La?” tanya Nina.
“Kalian akan kaget kalau tahu siapa Nila sebenarnya,” ketik Della lagi.
“Emang apa yang lo tahu tentang Nila?” tanya Celine menambahkan.
“Klik,” seketika itu Della mengirim foto Rendi dan Nila di hotel saat Rendi mengusap kepala Nila dengan mesra, juga Nila meraih tangan Rendi yang mengira salah jalan.
Di grup anak sosialita yang terdiri dari Celine, Nina, Della, Sania dan Miki langsung pada mengeluarkan emot speechless. Hanya Celine yang mengeluarkan emot senyum.
“Mereka pacaran?” tanya Nina.
“Entahlah. Tapi di hotel?” jawab Della.
“What? Hotel?” pekik Nina.
"Nila jomblo dan Pak Rendi juga belum nikah kan?" tanya Sania.
"Itu yang nggak habis aku pikir? Nila kan baru lulus SMA. Sama kayak kita!" ucap Della.
"Mereka di kelas juga nggak ada tanda apapun?" sambung Nina.
Mikki yang anak baik juga dekat dengan Nila dan Dita menjadi silent readers, Celine yang juga punya rahasia dan lebih tahu lebih dulu juga hanya menyimak.
“Gue kemarin nggak sengaja liat mereka, pulang kuliah keluar kamar, kayaknnya abis check in!” jawab Della lagi mengeluarkan unek- uneknya.
“Lo ngapain di hotel?” ceplos Miki dengan polosnya.
__ADS_1
“Ada perlu!” jawab Della menyembunyikan sesuatu juga dari teman- temanya.
“Kita lihat aja, kalau memang mereka ada hubungan pasti ketahuan kan?” celetuk Celine menutup percakapan teman- temanya.
Walau menjadi satu geng, di antara mereka juga saling menutupi rahasia masing- masing.
“Kok Nila gitu ya? Itu sekarang Nila deket- deket sama Hanan maksudnya apa? Padahal kan Nila kalem gitu? Terus sama Pak Rendi mesra begini? Mereka pacaran? Apa gimana?” celetuk Miki lagi jadi cemberut kesal ke Nila.
Nila duduk di depan di sebelah Hanan dan Mikki di sampingnya.
“Makanya Mik, jadi orang jangan liat dari covernya,” tulis Celine di grup.
“Yap. Bener banget tuh. Yang kalem biasanya penuh kejutan!” sambung Nina si anak badung yang sekarang jadi merasa lebih baik dari Nila walau dia tak memakai hijab.
“Hati- hati makanya sekarang, banyak orang berkamuflase,!” sambung Della mengatai Nila juga.
“Ish… aku jadi kesal ke Nila! Kok bisa dia gitu padahal pake hijab?” keluh Miki lagi melirik Nila yang duduk tenang menyiapkan buku kuliahnya.
Tidak ada yang tahu kalau mereka saling menggunjing di ponsel, Mikki yang sebelumnya baik ke Nila, langsung menjauh dari Nila, bahkan saat Dita datang hendak merapat, Mikki langsung mengajak Dita.
“Dita… duduk sini!” panggil Mikki.
“Sini aja di depan! Mau kemana memangnya?” sahut Nila dengan ramah seperti biasa. Karena sebelumnya mereka berdekatan.
Sayangnya seketika itu, Mikki langsung jutek.
“Dit jangan deket- deket sama orang munafik!” ucap Mikki dengan polosnya.
Tentu saja Dita dan Nila langsung membulatkan matanya, kenapa si Mikki yang terbiasa baik dan polos seperti Dita berkata begitu.
“Siapa yang munafik, Mik?” tanya Hanan membela.
“Nggak ada, nanti biar waktu yang kasih tahu!” jawab Mikki lagi jadi sensitive ke Hanan.
Nila langsung menelan ludahnya, kerasa sebab Mikki sedikit menatap Nila sinis. Dita jadi bingung sendiri mau duduk dimana.
“Sini yuk!” ajak Miki lagi menunjukan bangku kosong lebih jauh dari Nila.
Nila semakin kerasa kalau orang yang dia maksud adalah dirinya. Hanan juga langsung peka dan menatap Nila.
“Sok, Dit, duduk dekat Mikki aja, aku sama Hanan!” jawab Nila mengalah.
Dita jadi serba salah, tapi karena sudah ada Hanan di dekat Nila, Dita memilih duduk di dekat Miki.
“Nggak!” jawab Nila sembari berfikir dia salah apa.
“Kok dia gitu?” tanya Hanan.
“Apa jangan- jangan Mikki suka sama Bang Hanan, makanya Miki gitu?” ucap Nila malah berfikir lain.
“Ehm…” tentu saja Hanan langsung GR. Miki memang cantik dia juga baik polos, orang tuanya juga dokter spesialis terkenal di daerah.
“Apa sih, sampingku juga masih kosong, mereka bisa kan duduk di sini!” ucap Hanan.
Yak arena kuliah di auditorium, baris depan itu rata dan banyak, ada belasan tapi baru Hanan, Nila dan beberapa siswa dari kelas lain, Mikki memilih duduk di baris pojok.
"Ya siapa tahu gitu. Nila bangun aja ya! Nila pindah!" ucap Nila.
"Sshh.Ck. Jangan. Udah biarin. Nanti kita tanya baik- baik. Udah kamu sini aja. Malah jadi masalah nanti!" ucap Hanan
Nila pun mengangguk melitik ke Miki yang tampak ceria lagi.
Diam- diam Nila pun bertanya ke Dita, Mikki kenapa?
Sayangnya, Dita tidak menjawab, dan tidak lama dosen tamu dari luar negeri itu datang, siswa lain baik dari kelas Nila atau dari kelas lain masuk memenuhi ruangan. Mereka pun memasukan ponsel masing- masing dan mengikuti perkuliahan dengan focus, hingga kuliah berakhir.
Siswa pun berhamburan keluar. Sementara Nila tampak mengemasi bukunya.
“Makan yuk!” ajak Hanan seperti biasa.
“Abis ini, kelas Nila ada kuliah lagi, Bang. Makasih ajakanya!” jawab Nila menolak sopan.
“Oh… oke.”
“Kelas Bang Hanan udah selesai?” tanya Nila.
“Ada sebenarnya kelasnya dokter Rendi, tapi tadi malam kasih pengumuman kosong, di ganti minggu depan! Nggak tahu kenapa?” jawab Hanan.
“Ehm..,” Nila pun menunduk menggigit bibirnya, Nila tahu kenapa Rendi tidak datang. Mempersiapkan pernikahan mereka. Tapi Nila tidak siap memberitahu. “Oh gitu? Berarti pulang ya?” tanya Nila.
“Aku mau ngamen,” jawab Hanan megedikan matanya.
__ADS_1
“Hum? Ngamen?” tanya Nila memekik kaget.
“Latian nyari nafkah, kan aku udah usia produktif!” jawab Hanan.
“Oh, Bang Hanan punya kerja sambilan?” tanya Nila baru ngeh.
“Iya, mau belajar sama Bang Ikun,” jawab Hanan lagi.
“Lhoh kok Bang Ikun?” tanya Nila lagi.
“Iya, Bang Ikun kan keren Cuma dari rumah tapi namanya udah di kenal di kancah dunia! Uangnya banyak lagi,” ucap Hanan memuji Ikun.
Ya ikun memang pandai di bidang IT, nila saja tidak mudeng, entah programmer atau AI/ML enginer atau game developer atau ISS, Nila tidak tahu. Buna juga tidak mudeng, apa yang dikerjakan Ikun dengan computer- computer dan teamnya. Ikun hanya selalu memastikan pekerjaanya halal.
Yang jelas uangnya banyak, bahkan Ikun sering main keluar negeri tanpa minta uang ke Baba lagi.
Bahkan pernah saat salah satu gudang Amer kebakaran dan mengalami kerugian cukup besar yang menjadi musibah cukup berat, Ikun membantu Amer.
“Oh, semangat belajar ya Bang. Tapi memang nggak pusing, jurusan Bang Ikun dan kedokteran kan jauh berbeda, nanti malah keteteran lhoh kuliahnya, kan Bang Hanan masih punya orang tua yang biayai Bang Hanan!” ucap Nila memberitahu.
Hanan menatap Nila dalam dan tersenyum.
“Kamu kok baik banget sih nasehatin aku?" ucap Hanan malah memuji Nila.
Nila jadi salah tingkah, perasaan Nila berbicara biasa saja layaknya terhadap teman yang lain.
“Baik gimana?” tanya Nila polos.
“Kuliah kedokteran untuk ikutin cita- citanya Papaku, di pesantren ikutin mamaku, dan aku pengen jadi pria mandiri biar bias mengkhitbah wanita yang kucinta! Aku akan bekerja keras dan semua akan berjalan bersama,” ucap Hanan memberitahu.
“Woo…,” secara spontan Nila terhenyak dan melongo menunjukan kekaguman ke Hanan. “Bang Hanan keren, rupanya sudah punya calon?” tanya Nila dengan polosnya.
Hanan tidak menjawab dan menatap Nila dengan penuh kekaguman.
“Insya, Alloh. Doain ya!” ucap Hanan.
Nila pun tersenyum tulus dengan sangat manis.
“Tentu, Nila pasti doain, Bang Hanan keren banget.” Puji Nila lagi dengan tulus mendukung sahabatnya.
“Doain dia mau jadi istriku dan mendukungku!” ucap Hanan lagi,
"Jadi Bang Hanan mau nikah muda?" tanya Nila lagi senang ada temanya.
"Satu tahun lagi kan usia kita 20 tahun. Cukuplah menabung satu tahun kalau ikut Banh Ikun. Insya Alloh siap!" ucap Hanan semangat dan menggebu.
“Nila yakin perempuan itu pasti bangga punya calon suami yang memperjuangkanya dengan keras begini!” ucap Nila memuji lagi.
“Begitukah?”
“Iya pastilah, siapa perempuan di dunia ini yang tidak senang dikhitbah pria muda, penuh semangat, pekerja keras, mandiri, tampan dan baik seperti Bang Hanan!” jawab Nila lagi.
“Kamu merasa begitu?” tanya Hanan semakin menatap Nila tajam.
“Hah?” kali ini Nila sedikit gelagapan karena Hanan terdengar lebih berbeda.
“Ehm.. maksudku, apa dia akan melihatku begitu!”
“Menurutku sih begitu!” jawab Nila.
Hanan pun tersenyum senang.
“Kalau boleh tahu siapa dia?” tanya Nila dengan polosnya.
Hanan menatap Nila lagi sembari tersenyum.
“Adalah, nanti kamu tahu!” jawab Nila.
“Ish…,kenapa tidak sekarang?” Nila hanya mendesis.
"Belum waktunya. Kan aku baru mau belajar kerjanya!"
"Oh iya ya!" jawab Nila.
Nila kemudian menoleh ke sekeliling, mereka memang menunggu teman- temanya keluar lebih dulu agar tidak berdesakan di pintu ataupun lift menuju ke kelas Nila. Nila mencari Dita sayangnya teryata Dita dan Mikki sudah keluar. Mereka mengobrol asik sampai tidak ngeh siapa saja yang lewat.
“Bang, teman- teman Nila udah keluar, Nila cabut dulu ya!” ucap Nila pamit.
Hanan mengangguk.
“Semoga sukses usahanya, semangat!” ucap Nila menyemangati Hanan, yang dia tahu ternyata sahabatan dengan Ikun.
__ADS_1
Nila tidak tahu perempuan yang Hanan ingin khitbah adalah dirinya.