
Lampu hias berkilauan menghiasi langit- langit di sslah satu kafe di ibukota itu sore itu, di pojokan duduk di sofa empuk beberapa orang seumuran Rendi dengan penampilan yang sama- sama necis.
Di meja mereka pun tersaji makanan dan minuman lezat yang baru dicicipi ujungnya tapi sudah kembali dicueki.
Mereka adalah Valen, Axel dan juga Iwan, sahabat Rendi dulu.
“Huuftt…,” Axel dengan santai menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Waktuku nggak banyak, jangan bohongin gua terus! Ada apa?” ucap Vallen ke Axel.
“Sebesar apa cinta lo sama Rendi?” tanya Axel dengan mata liciknya lalu mengangkat satu kakinya untuk ditumpuk ke kaki yang lain. Duduk bak bos.
Vallen pun mengulum lidahnya kesal ke Axel, kenapa harus tdnya? padahal semua teman Rendi saat di luar negeri dulu tahu, kalau Rendi dan Vallen saling mencintai dan sangat serasi, sayangnya orang tua Rendi tak setuju.
“Fuuuc_k you…,” umpat Vallen kasar.
“Heii… stay cool darling, aku tanya serius!”
“Nggak usah kebanyakan bosa basi deh! buru? Whats wrong with him?” jawab Vallen lagi.
“Yeah, serius Vallen! Aku tanya serius.Kamu beneran mau balikan sama Rendi?”
“Crazy semua ya kalian. Gue kesini nemuin kalian bukan buat jadi pelakor ya!” jawab Vallen lagi.
“Sepanjang investigasi kami, Rendi masih sendiri kok!” celetuk Iwan.
Axel pun tersenyum menatap Vallen dan Vallen mendelik kaget tapi senang.
“Tapi dia ngomong sendiri ke gue, dia lagi nunggu istrinya, dan dia mau ngenalin istrinya! Jangan bikin gue ngimpi das aaku6g” jawab Vallen.
__ADS_1
“Kalau gitu coba aja main ke rumahnya, ada nggak di rumah ada istri?” jawab Axel.
Bola mata Vallen berputar karena berfikir, “Siapa tahu dia LDR dan istrinya di kampong?” jawab Vallen rasional.
“Kalau gitu foto nikah deh!” jawab Axel lagi.
“Kalian nyebelin banget sih? Nyuruh gue jadi detektif!”
“Gue sahabat lo, Len! Rendi belum punya istri!” jawab Axel meyakinkan.
“Terus buat apa dia ngarang cerita ke gue?” jawab Vallen lagi.
“Mungkin karena dia ingin balaskan sakit hati ditinggal nikah sama kamu!” jawab Axel.
Vallen terdiam sejenak dan menatap kedua mata Axel juga Iwan, apa mereka serius. Axel dan Iwan pun menganggukan kepala meyakinkan.
“Apa itu artinya dia masih ada rasa sama aku?” tanya Vallen.
Vallen yang memang pulang kampong untuk menemui Rendi tentu saja mengangguk.
“Oke!” jawab Vallen.
Axel yang selalu memanfaatkan peluang tentu saja tersenyum senang.
“Oke… besok kita atur biar lo bisa main ke rumahnya!” ucap Axel dengan senyum liciknya.
Vallen pun mengangguk senang. Sejujurnya, saat muda dulu, bagi Vallen yang pernah dekat dan menjadi orang yang mengisi hati Rendi. Rendi orang yang sangat perhatian, teliti, pejuang juga berprinsip. Vallen pernah dibuat menjadi ratu saat itu, dan satu yang membuat Vallen terus mengincar Rendi, Rendi enggan berkontak fisik dengan Vallen meski Rendi akan mengusahakan apa yang diinginkan Vallen.
****
__ADS_1
Walau rasa masih ingin berlama- lama di dalam masjid, tapi Rendi sadar sedari pagi dia beraaktivitas dia belum mandi dan berganti pakaian. Menjelang petang, Rendi pun melajukan mobilnya menuju ke rumah besar, hasil jerih payahnya merantau dan meninggalkan keluarga besarnya.
Seperti hari- hari sebelumnya, Rendi menikmati waktunya dalam kesendirian. Sesampainya di rumahpun, Rendi membuka pintu sendiri, tanpa ada yang membukakan pintu dan menyambutnya. Bahkan setelah membukanya dia kembali menguncinya daro dalam.
Tidak banyak berkativitas, Rendi langsung menuju ke kamarnya, meletakan barang kerjanya dan masuk ke kamar mandi. Menyiapkan air mandi dan semuanya sendiri. Ritualnya sehari- hari, untuk melepaskan penatnya, Rendi berendam di air hangat selama beberapa puluh menit. Bahkan sampai Rendi tertidur.
****
Sementara Nila,
Sesampainya di rumah, Nila disambut hangat Buna dan adik- adiknya. Terutama Vio.
“No no…, kakak mandi dulu kotor, no gendong- gendong dulu!” ucap Nila menggerakan jari telunjuknya ke Vio.
Begitu melihat Nila, Vio langsung merengek ingin diajak bermain dan digendong Nila.
“Aaamm….,” Vio pun langsung cemberut merengek dan menangis mengadu ke Buna.
“Kakak kotor dan baru pulang, sayang. Biar kakak mandi dulu ya!” ucap Buna.
Nila pun tersenyum ikut memberi pengertian juga janji setelah selesai bebersih akan kembali ke bawah dan bermain dengan Vio.
Nila pun bergegas mandi, bersih- bersih sholat lalu dengan segera turun ke bawah. Berbeda dengan Rendi yang kesepian, hari Nila pun sangat hangat. Bahkan tak ubahnya mahasiswi baru yang masih belia dan manja, Nila mengadukan PRnya ke Bunanya.
“Suruh bikin topi buat kepala dari kertas, Bun! Kaya anak SD,” ucap Nila.
“Ya atulah bikin! Namanya buat senang- senang….”
“Hmmm Nila capek, tadi lupa belum beli bahanya!”
__ADS_1
“Pakai punya Iya dan Iyu!” jawb Buna