
Rendi tidak bisa menolak kata Abi Yusuf, Abahnya, kali ini. Sebenarnya, Abi Yusuf dulu sering berujar begitu, mengutarakan betapa dia ingin Putranya tinggal di rumah dan mengurus pesantrenya, namun Rendi selalu menolak.
Rendi merasa tidak pantas jadi seperti Abinya, Rendi tidak suka jadi penceramah akhlak dan tidak berkompeten untuk mengajar di pondok.
Apalagi menjadi imam dan pengasuh santri yang baginya tanggung jawabnya besar. Rendi selalu beralasan, masih ada Syamsul suami Fatma yang lebih baik dari segi perangai dan akhlaknya, juga murid- murid Abi Yusuf yang lebih senior juga lebih tawadzu menurut Rendi. Ilmu agama mereka juga jauh lebih baik menurut Rendi.
Rendi lebih suka hidup bebas tanpa bayang- bayang orang tuanya dan dituntut menjadi contoh untuk banyak orang.
Rendi lebih suka melihat dunia luar, bepergian ke satu Negara dan Negara lain walau itu sekedar ikut seminar atau pelatihan, bukan pendakwah yang harus berikan contoh.
Rendi masih ingin mengumpulkan uang banyak, agar bisa membeli apa yang dia suka. Beribadah sesuai dengan hati dan kemampuanya.
Di Pesantren Abi, dikonsep untuk hidup sederhana. Abi tidak suka hidup mewah, harus sederhana, harus menjadi contoh, bersikap ramah juga.
Tapi hari ini, demi agar Abinya mau dia suapi dan mimun obat oral yang diberikan dokter, Rendi mengangguk.
“Insya Alloh, Bah. Hanya sampai Abah sembuh kan? Tidak untuk seterusnya ya, Abah pasti akan segera sehat? Rendi masih punya kontrak dengan Pemerintah soalnya,” jawab Rendi.
“Tapi mau?”
“Ya, tapi Abah makan ya!” jawab Rendi lagi.
Abah tersenyum mau, dan Rendi kembali mengambil sarapan pagi untuk Abahnya. Walau terkesan kaku, antara ayah dan putranya itu, Rendi membantu Abah makan. Tidak sampai habis tapi Rendi sudah cukup lega, separuh nasi sudah berhasil Abah makan.
“Sudah,” ucap Abah merasa sudah cukup dengan tanganya memberikan kode Rendi untuk berhenti.
"Satu sendok lagi, Bah!" jawab Rendi.
Sayangnya Abi Yusuf tetap menggelengkan kepala. "Sudah cukup?"
Rendi pun mengangguk, yang penting Abi sudah makan. Rendi kemudian mengambil obat yang tadi di antarkan perawat, membantu mengambil air putih dan memberikan ke Abi Yusuf agar diminum.
Tidak berselang lama, pintu dibuka, Ummi diantar santri nya Abi Yusuf datang mengucap salam.
Rendi dan Abi Yusuf pun menjawabnya tenang.
"Waalaikum salam,"
“Sudah makan Bi?” tanya Ummi mendekat ke suaminya dan melihat tempat makannya.
“Alhamdulillah sudah, Mi”
“Oksigenya sudah dilepas? Udah nggak sesak memangnya?” tanya Ummi sangat perhatian pada suaminya. Saat subuh tadi Abi Yusuf masih memakai oksigen.
“Alhamdulillah, mendingan Mi…,” jawab Abi.
Lalu Abi melirik ke Rendi, sembari melihat jam.
Umi pun tersenyum lega lalu membereskan pakaian ganti untuk Abi yang baru dia bawa dari rumah.
“Bar..,” panggil Abi ke Rendi. Baik, Abi Yusuf dan orang pondok kan memanggil Rendi Gus Akbar.
“Ya Bah!” jawab Rendi.
“Ini hari Kamis kan?”
“Ya Bah!”
“Tau kan jadwalnya Abah, kasian Ahmad, dia sudah mengajar di kelas. Dia juga subuh sudah memimpin musyawarah pagi. Pulanglah!” ucap Abi menagih janji Rendi.
Selain sekolah madrasah rutin dan kajian rutin, yang diajar para guru ustad, di pondok ada banyak kegiatan lain.
Ada kegiatan keterampilan untuk bekal, para santri juga beberapa kegiatan keagamaan di luar target kelulusan. Seperti setelah sholat subuh ada mujahadah, majlis musyawarah, latian pidato, pelajaran di luar kelas ada banyak sesuai minat, lalu dalam seminggu ada 4 kali pengajian besar yang semua santri berkumpul di masjid dan masih ada yang lain.
Dan di moment 4 kali kumpul besar ini, Abi Yusuflah yang mengisi langsung. Abi meminta Rendi mengisi di moment ini.
Isi kajianya bisa melanjutkan kitab yang Abi baca, bisa ceramah tentang kasus terkini yang perlu disampaikan bagaimana santri menghadapinya, atau sholawat dan doa bersama.
“Ehm… ya Bah!” jawab Rendi patuh.
Ummi sedikit mendelik dan menoleh ke suami dan anaknya.
“Biar Akbar bantu Abi sementara, masa di rumah mau nganggur di rumah sakit, wong Abi mau tidur, kok ditungguin, kan Mubadzir waktu namanya!” ucap Abi Yusuf memberitahu Ummi.
Ummi pun tersenyum senang mendengarnya.
“Ya… Abi, biar Ummi yang nunggu dan rawat, pulanglah, bantu adikmu ya. Kita bisa gantian nanti, kamu kan belum pulang dari kemarin, libur masih panjang kan?” jawab Ummi mendukung Rendi.
Rendi semakin tidak bisa berkutik, dan dia terpaksa hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Ya Mi...Bah!" jawab Rendi.
Rendi pun bergegas pamit ke ayah ibunya. Bersama dengan santri yang tadi mengantar Ummi, Rendi pun pulang menuju rumah Abinya.
Rumah yang cukup bagus dan besar untuk ukuran di daerah, tapi tak sebesar rumah Baba dan Rendi di Ibukota. Rumah dimana di selang beberapa meter, terdapat bangunan asrama dan sekolah pesantren yang besar. Di situlah berisi ribuan Santri setingkat MTS dan MA tinggal.
Sesampainya di rumah, Rendi langsung masuk ke kamarnya, bukan kamar yang mewah dan besar seperti kamar di rumah pribadinya. Tapi kamar ini, kamar tempat dia tumbuh, dari Rendi kecil menjadi Rendi remaja.
Kamar ini juga, kamar yang dulu sempat ditinggali Nila setiap hari jum’at atau libur madrasah. Dan di kamar ini, satu- satunya kamar yang masih dipajang foto saat mereka akad.
“Huuft…,” begitu sampai di kamarnya Rendi membaringkan tubuhnya sekedar meluruskan tulang belakang.
3 hari ini, apalagi saat Abi masih di ruang ICU, Rendi benar- benar tidak ingin meninggalkan Abinya, setia menunggu Abinya stabil sampai kemarin sore dipindah ke ruang rawat biasa. Baru sekarang setelah diusir Abi Yusuf dia pulang ke rumah orang tuanya.
Padahal sebenarnya, rencana Rendi, setelah Abisnya dinyatakan stabil atau membaik, dia akan segera kembali bekerja.
Di otak Rendi sudah berjejer berbagai agenda, makalah yang harus dia periksa juga bahan ajar yang akan dia sampaikan. Tapi demi Abinya yang selaama ini dinomor duakan, Rendi terpaksa menyerahkan semua itu ke temanya.
Dan tentu saja, ada satu wajah yang terus dataang menghantuinya, gadis kecil yang sudah dia buat menangis. Gadis kecil yang kemudiaan berubah berani menjawab perkataanya, menatapnya sinis dengan wajah marah dan kecewanya, gadis kecil yang dia ingin lihat tersenyum seperti saat dia bersama kawanya.
Rendi kemudian melirik ke foto yang terpajang di atas nakas kamar kecilnya itu. Foto yang menurut diaa dulu menggelikan, wajah Nila masih sangat polos, lugu dan sangat terlihat bau kencur.
“Ck…kenapa Ummi suka sekaali memasang foto ini? Padahal kan sudaah kusimpan terakhir aku pulang!” gumam Rendi.
“Ah tapi biarlah di sini. Dia sangat berbeda. Semua akan baik- baik saja kan?” gumam Rendi.
Lalu Rendi bangun dan mengambil ponselnya, bukanya cepat- cepat mandi dan memakai koko datang ke pesantren memenuhi keinginan Abinya, Rendi masih sempat memeriksa laporan pekerjaan dari temanya.
Dia adalah dokter Santi, dosen yang sama lulusan dan keahlianya dengan Rendi, dan dia mintai tolong menggantikanya.
Dokter Santi pun sudah mengirimkan banyak laporan tugas Rendi, yang sudah siap menanti.
“Biar asistenku aja yang koreksi lah, sepertinya aku masih semingguan lagi di sini,” jawab Rendi ke dokter Santi.
“Lama amat? Yakin nggak rindu sama gadis mungil itu?” jawab Dokter Santi menggoda Rendi.
Rupanya, dokter Santi salah satu rekan yang akrab dengan Rendi dan satu- satunya yang Rendi beri bocoran kalau dia pernah menikahi Nila yang sekarang jadi mahasiswinya. Bahkan Rendi juga minta tolong Santi untuk mengawasinya.
Dokter Santi adalah dokter sekaligus dosen yang cakap, sholehah, dia 4 tahun lebih tua dari Rendi. Dia seorang ibu yang dikaruniai 3 orang anak. Yang pertama anaknya sudah remaja.
Dia juga satu- satunya rekan Rendi yang berani secara vul gar mengatai Rendi bujang tua dan meminta segera menikah. Itu sebabnya Rendi akhirnya cerita.
“Dia amankan?” tanya Rendi kemudian.
“Apa dia masih suka dekat- dekat dengan Hanan?” tanya Rendi lagi.
“Nggak, kan udah beda kelas!” jawab Dokter Santi memberitahu.
Rendi pun tersenyum lega. Rupanya pembagian kelas Nila ada campur tangan Rendi.
“Oke, baiklah!” jawab Rendi.
Dokter Santi pun membalas whastap Rendi dengan emot senyum lalu mengirim satu foto Nila saat Nila bercanda dengan Dita, terlihat sangat manis dan natural. Nila tak seperti Jingga yang banyak mewarisi Baba Ardi, wajahnya blesteran.
Nila banyak mewarisi Buna, manis, khas anak negeri, saat tersenyum ada lesung pipitnya. Ya meski hidungnya lebih ke Baba.
“Thanks Buuu…,” jawab Rendi ke dokter Santi yang seperti kakaknya.
Rendi kembali berbaring merebahkan badanya sembari memandangi foto Nila.
"Cantik" gumam Rendi tak jemu melihat, bahkan dia zoom, lalu Rendi membandingkan dengan foto yang ada di kamarnya, sangat berbeda.
“Masa iddahnya masih 2 bulan lebih kan? Aku masih punya kesmpatan?” gumam Rendi merasa masih punya banyak waktu.
“Hah…bismillah ya Alloh. Kali ini ampuni aku dan tolong aku!” batin Rendi.
Rendi pun bangun membuka lemarinya, mengambil handuknya dan bersiap ke pondok.
Setelah beberapa saat, kini dia sudah menanggalkan kemeja mahalnya dan berganti dengan pakaian koko serta sarung sederhana.
Rendi berjalan kaki menyeberang jalan, masuk ke pondok Pesantren ayahnya yang sudah lama dia tinggalkan. Ternyata sekarang jauh lebih indah. Pondok Pesantren yang megah, di lingkungan pegunungan. Belakang pagar pondok terhampar perbukitan, tempat yang nyaman untuk belajar.
Riuh santri- santri mulai terdengar, ada kelas yang sedang kompak melafalkan nadzoman hafalan kitab dan membuat Rendi yang mendengar menjadi merinding. Ada juga kelas yang sepi dan terdengar suara ustad menjelaskan. Ada kelas di mana gurunya melatih keterampilan di luar materi keagamaan. Yang pasti suasana pesantren berbeda dengan universitas.
Rendi tersenyum melihatnya, sebenarnya tidak jauh menyenangkan dari kampus orang dewasa. Dia pun berjalan menuju ke kantor ustad ustadzah para pengajar.
“Gus Akbar,” para santri senior yang menjadi pengurus dan beberapa ustad ustadzah pun saling bergunjing melihat kedatangan Rendi.
****
__ADS_1
Di kampus.
Nila dan Dita sangat semangat mengikuti semua penjelasan dosen tentang rencana pembelajaran mereka di semester pertama.
Karena baru hari pertama mereka pun belum masuk materi, baru pemaparan materi apa saja yang akan mereka capai, juga jadwal ke depan per harinya, lalu persiapan buku- buku apa saja yang harus mereka miliki sebagai bahan ajar dan daftar pustaka yang menemani mahasiswa belajar ke depan.
Dan tidak ketinggalan pembentukan organisasi kelas. Untuk organisasi kelas, Celine menjadi ketua kelasnya dan Farel wakilnya. Dita sebagai sekertaris dan Nila bendahara, untuk seksi- seksi di isi teman- teman lain. Nila sendiri juga tidak mengerti kenapa dirinya dipilih bendahara oleh teman- temanya.
Selain pembentukan organisasi kelas, juga pun dibentuk grup kelas, sehingga secara otomatis, Farel sekarang punya kontak nomor Nila begitu sebaliknya.
Sekitar pukul 12.00, perkuliahan selesai.
“Kita cari buku yuk!” ajak Dita setelah dosen pergi dan mahasiswi hendak pulang.
Nila diam tidak langsung menjawab, tapi melirik daftar buku yang dia catat.
“Kayaknya kakakku punya deh! Aku tanya kakakku dulu aja, gimana?” jawab Nila.
Walau Nila anak orang kaya, Nila masih menganut asas kebermanfaatan, selagi masih ada yang bisa dipakai kenapa tidak.
“Kakakmu dokter?” tanya Dita nyeletuk.
Nila kemudian tersenyum, Ibu, Kakak, Budhe, Pak Dhe juga kakeknya kan dokter, malah punya rumah sakit besar dan menteri di negera itu.
“Iyah,” jawab Nila singkat.
“Tapi kan itu buat kamu, aku belum punya, ya udah aku beli sendiri aja!” jawab Dita.
“Ya udah aku temenin, tapi aku ijin Babaku dulu ya!” ucap Nila.
“Siap!” jawab Dita.
Nila pun segera mengambil ponselnya dan mengirim pesan Babanya.
Nila tak seperti Jingga yang tak pandai meminta ijin. Sekali Nila meminta ijin, Baba Acc, sebab menjelaskan kemana arah perginya, bersama siapa untuk apa juga menyebutkan kontrak Nila akan konsekuensi pulang. Ya inginya Baba begitu, harus jelas.
Setelah mendapat ijin, Nila dan Dita langsung menuju ke toko Buku yang dia tuju. Kali ini mereka naik angkutan umum, mereka pun menuju ke halte depan kampus. Nila dan Dita tidak tahu kalau ada pasang mata yang memperhatikan mereka.
“Sepertinya sekarang, the time for start the game. Gue penasaran cewek seperti apa lo?” gumam Farel masih terus kesal ke Nila.
****
Di Tempat lain.
“Ini bener kan alamat Rendi? Kok kosong terus sih? Apa aku datang ke kampus aja? Tapi harusnya kan jam segini dia udah pulang? Apa aku tanya satpam komplek dulu?” gumam Vallen di dalam mobil.
Rupanya Vallen nekad mencari rumah Rendi, sayangnya 5 kali Vallen datang, pintu gerbang rumah Rendi selalu terkunci.
Vallen ingin membuktikan sekaligus mendekati Rendi. Siapa istri Rendi, masihkah ada harapan untuk dia atau tidak.
Vallen kemudian menyambangi satpam komplek perumahan Rendi.
“Permisi Pak,” tanya Vallen ramah.
“Yan, Non!”
“Rumah nomor 5 bener kan Rumah Pak Rendi Akbar Maulana? Yang jadi dosen di kampus kedokteran?” tanya Vallen.
“Iya bener, Non!”
“Kok rumahnya kosong ya? Kalau boleh tau dia pulang kerja jam berapa ya biasanya?” tanya Vallen.
“Oh iya, Pak Rendi emang beberapa hari ini nggak keliatan, biasanya dia jamaah subuh di masjid komplek sini. Tapi ada kok yang biasa bersihin rumahnya, tanya sama mereka aja Non,” jawab Satpam komplek.
“Oh ya? Siapa Mereka?”
“Dia Bu Siti sama Pak Kardi, orang kampong seberang, dia megang kunci rumahnya Pak Rendi kalau nggak salah,”
“Dimana aku bisa nemuin mereka?” tanya Vallen lagi.
“Tiap pagi jam mereka datang buat bersih- bersih rumah!”
“Oke makasih Pak!” jawab Vallen tersenyum senang.
****
Sebenarnya aku pengen tulis nama daerah, atau kampus, tapi aku takut kalau sebutin nama, ada tulisanku yang tidak sesuai menyinggung atau jadi masalh. Nggak apa- apa ya aku sebutin initial. terserah kalian bayangin dimana.
Tentang kehidupan Pesantren itu juga cuma hayalan dan sedikit pengetahuanku. Kalau salah dimaklumi. Ini hayal.
__ADS_1
Makasih.
Pokoknya kalau mau aku semangat, like koment dan vote ya. Kalau nggak suka boleh pergi tapi jangan sakiti penulis atau kaasih bintang sedikit. Udah tinggalin aja cukup. Kalau ada komplain atau koreksi sampaiin yang sopan dan jelas yaa.