Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Aku kenapa?


__ADS_3

“Aku sungguh minta maaf, Nila. Aku ingin memperbaiki semuanya, kamu mau kan?” ucap Rendi di depan cermin besar di ruang walk in closet di rumahnya. 


“Huuft... bukan- bukan begini, ini kurang lembut!” ucap Rendi berkomentar sendiri.


Rendi pun menghela nafasnya berlatih lagi. “Ehm... ehm... aku sudah baca semua isi bukumu, terima kasih atas perasaan dan cintamu yang begitu besar untukku. Aku minta maaf sudah menyakitimu. Kamu... kamu masih mempunyai perasaan itu kan? Kita bisa memulai dari awal kan? Maafkan aku?” ucap Rendi lagi, berceloteh sendiri seperti orang gila, bahkan Rendi juga tampak gugup seakan Nila sungguhan di depanya. 


“Haissh... bukan begitu!” gumam Rendi lagi mengacak- acak rambutna merasa belum pas.


Saat kemarin Rendi sempat mengirim selembar surat yang dia selipkan di buku Nila, berhasil membuat Nila menghubunginya, Nila gagal menemuinya pasti ada sesuatu, Rendi yakin. Jadi di pertemuan kali ini, Rendi bertekad hendak meyakinkan Nila untuk rujuk saja. 


Sayangnya, Rendi yang sudah tua tetap saja hatinya terasa gugup menemui Nila. Bahkan untuk menyiapkan kata- kata minta maaf, Rendi sudah berdiri sekitar satu jam. Frustasi merasa belum mendapat rangkaian kata yang tepat, Rendi memilih mandi lalu bersiap datang ke pihak yang menikahkan Rendi dan Nila saat itu. 


Rendi sangat berharap Nila datang dan dia mempunyai kesempatan meminta maaf dan berbicara dari hati ke hati dengan Nila. 


Selang beberapa saat Rendi sampai di tempat tujuan. Sayangnya di halaman parkir tak ada mobil yang terparkir. Rendi menelan ludahnya, hatinya mulai timbul curiga, tapi dia berpositif thingking, dia datang awal dan tidak membuat menunggu orang lain. 


Rendi kemudian duduk menunggu. Demi masa depanya, mengakhiri status pria kesepian di rumahnya, juga predikat bujang tua di kampusnya, dan memperbaiki hubungan keluarga besarnya, Rendi rela absen dari pekerjaanya. 


Sayangnya sudah 20 menit, tak ada jua orang datang. Rendi yang terbiasa saklek dan disiplin mulai panik.


“Apa mungkin aku kepagian, keluarga Baba Ardi kan juga terbiasa disiplin? Kenapa mereka belum datang?” gumam Rendi melihat jam tanganya. 


Rendi pun menunggu lagi dengan meyibukan diri membaca beberaa artikel dunia politik juga pendidikan dan olahraga. Hingga tidak terasa Rendi sudah membaca 10 judul artikel, juga menonton  belasan video masih diselingi membalas pesan dari teman juga rekan kerjanya, kurang lebih sudah 1 jam. Rendi masih tetap sendiri dan tak ada orang datang. 


“Udah jam setengah 10 kenapa tidak datang juga?” gumam Rendi. 


Karena sudah lama, Rendi pun semakin yakin ada sesuatu. Rendi menelan ludahnya hatinya mulai gelisah dan datang rasa sakit serta kecewa. 


“Apa mereka tidak datang? Apa mereka tidak lagi peduli dengan status Nila dan benar- benar menganggap kita cerai? Tapi bukankah cerai juga tetap harus ada ikrarnya?” batin Rendi mulai putus asa. 


Dengan setitik harapan, Rendi menelpon Farid, sebab, Rendi sudah diblokir dari semua akses telepon keluarga Baba. 


“Om nggak bisa bantu, telepon ke nomer sekertarisnya Amer saja!” jawab Om Farid singkat. 

__ADS_1


Bahkan Om Farid seperti tak peduli Rendi dan enggan membantu. 


Rendi menelan ludahnya getir, sepertinya memang keluarga Nila seperti ingin memutus hubungan dari sebelah pihak. Seketika itu tubuh Rendi langsung melemah tak berdaya. Bahkan mereka memperlakukan Rendi dengan tidak profesional dan mengingkari temu janji untuk sidang perceraian. 


Rendi pun menelpon sekertari Amer. Sekertaris Amer pun membalas 15 menit lagi Amer datang beserta penengahnya. 


Benar saja selang beberapa waktu mobil keluarga Gunawijaya datang dengan bersama orang yang mereka agendakan. Meski begitu, Amer sama sekali tak menyapa Rendi walau sebelumnya Amer begitu menghormati Rendi. 


Sidang dimulai, Rendi pun mengungkapkan rasa bersalahnya, meminta maaf dan ingin rujuk. Akan tetapi pihak Nila yang membawa dan menyatakan surat kuasa untuk Nila tetap bersikukuh kalau Nila minta cerai.


Pihak keluarga Nila pun menyampaikan semua kesalahan Rendi dan apa yang terjadi. Rendi banyak menunduk dan tidak banyak berkata, melawan Amer yang menggebu dan menampakan kemarahan juga kebencianya. 


Karena bukan pernikahan KUA, dan hanya nikah sirih, sidang berjalan begitu cepat. Meski begitu Rendi masih belum puas dan dongkol. Rendi ingin melawan tapi tak diberi kesempatan.  


“Jangan ganggu adikku lagi. Keluargaku memaafkanmu, tapi jangan sakiti keluarga kami!” ucap Amer menghampiri Rendi sebelum pergi. 


Rendi menelan ludahnya menunduk, merasa kalah dan sakit. Hati Rendi berkata, bukan situasi seperti ini yang dia ingin. 


Tidak menunggu jawaban Rendi, Amer pergi dan berjalan meninggalkan Rendi. 


“Seharusnya aku senang kan dengan keputusan ini? aku dan Nila kan memang tidak terjadi apa- apa? Tapi kenapa aku sesakit ini? abi dan Ummi memaafkan aku kan? Aku sudah berusaha? Tapi kenapa aku tetap merasa sakit?” gumam Rendi lagi. 


"Seharusnya ada Nila kan? Kenapa berat rasanya?"


Rendi diam untuk beberapa saat, karena kepalanya terasa begitu, penat. Rendi pun berniat pergi. Rendi ingat, kan Axel mau nikah. Rendi kemudian menghubungi teman- temanya. 


**** 


Flashback di tempat lain.


“Cekreek...,” pintu ruang tindakan akhirnya dibuka. Sedari tadi Adip bingung mau masuk dan tanya bidan atau dokter, tapi rupanya semua pegawai di ruang itu sibuk dengan pekerjaanya. Dan Adip langsung bangun begitu salah satu pekerja boleh masuk. 


“Kok ditutup pintunya Dok? Istri saya baik- baik saja kan?” tanya Adip gugup. 

__ADS_1


“Oh suaminya dokter Jingga ya?” tanya suster itu. 


“Iya,..istri saya baik- baik saja kan?” 


Suster itu pun tersenyum. 


“Selamat ya Pak. Dokter Jingga sudah lahiran,” ucap suster. 


“Alhamdulillah,” ucap Adip spontan. Wajahnya langsung berbinar dan penuh haru. 


“dari tadi, Bapak dicariin tapi nggak ada, karena ada tindakan jadi pintu kami tutup dan hanya ada satu penunggu yang mendampingi dokter Jingga,” sambung suster 


Adip pun mengangguk dan tidak sabar masuk. 


“Dokter Jingga sedang dijahit Pak. Ikut saya ke meja depan, ada yang harus bapak tanda tangani!” ucap Suster lagi. 


“Ya... saya temui istri saya dulu, Sus!” jawab Adip ngeyel tidak sabar. 


Suster tidak bisa menolak dan membiarkan Adip masuk. sesampainya di dalam Jingga sedang posisi litotomi dan dijahit. Adip sedikit ngeri. Akan tetapi melihat bayi kecil di atas dada Jingga Adip, pun terharu dan segera mendekat Jingga dan menciumnya. Sayangnya Jingga diam tanpa ekspresi bahkan tak ada kata yang keluar.


Nila pun berpikir hendak pergi karena Adip datang. Sayangnya tangan Jingga langsung meraih tangannya dan memheri kode tetap stay.


“Selamat ya Sayang... Alhamdulillah bayi kita lahir. Makasih ya.. Abang bangga ke kamu!” bisik Adip lembut. 


Jingga yang kecewa Adip pergi saat dia mengejaan, malah manyun. 


“Udah sih sana diberesin dulu urusanya!” ucap Jingga mengusir Adip. 


Adip mengangguk dan pasrah ke Nila. Setelah itu, Adip mengurusi administrasi kelahiran putrinya. Walau mereka gratis karena keluarga pemilik rumah skit, adip menandatangani beberapa persetujuan tindakan. Dan Nila yang menjaga Jingga sampai selesai hingga Opa Nando dan yang lain datang. 


Semua bersukacita, tak ada yang ingat atau memikirkan Nila harus sidang. 


“Kakak udah banyak yang urus, semalaman kamu kan juga begadang. Tidur geh!” tutur Jingga ke Nila. 

__ADS_1


Nila yang memang sangat lelah dan ngantuk hanya mengangguk dia tidak sempat melihat jam berapa sekarang karena hanya ingat baru sholat subuh.


Dan hanya dengan menyandarkan badan di sofa, Nila tertidur. 


__ADS_2