Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Om apa Kak?


__ADS_3

“Bawa apa itu, Dhek?” tanya Jingga melihat, Nila masuk ke kamar melewati mereka menunduk dan memegang buku, Rendi. 


“Buku, Nila Kak!” jawab Nila. 


Jingga pun tersenyum mengangguk tak ada curiga sedikitpun. Malah berfikir positif.


“Belajar lho... kuota jalur prestasi tu sedikit, saingan kamu banyak, waktunya mepet lagi!” tegur Jingga. 


“Iya Kak, Ini Nila mau ke kamar buat belajar!” jawab Nila. 


"Siiip!"


Nila pun ke kamar, akan tetapi sesampainya di kamar, Nila tidak segera mencari buku- buku soal latihanya. Pikiranya masih terpaut pada untaian kata yang Rendi susun, berbaris memenuhi kertas yang sempat Nila remas. 


“Hukum pernikahanku, tidak jelas,” batin Nila putus asa, ada dua hukum yang mengenai jika seorang laki- laki menyembunyikan statusnya, dan hukum itu hanya Rendi dan Tuhan yang tahu. Rendi sungguh berniat cerai atau tidak saat mengatakan bujang.


Sementara Nila meyakini, berdasar sikap cuek Rendi adalah benar Rendi menjatuhkan talak kinayah. Tapi apa ini? Dia meminta Nila memulai hubungan mereka yang baru.


“Huft...,” Nila pun memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya sendiri. 


“Belajar Nila.. belajar! Ingat, Oma!” batin Nila kemudian mereemas surat Rendi dan membuangnya ke tempat sampah di bawah meja belajarnya. 


Nila pun menanggalkan pakaian penutup kepalanya yang membuatnya terlihat anggun dan ebih dewasa. Setelah kini terlepas, Nila kembali terlihat menjadi gadis belia yang sangat segar dan menawan. 


Dengan jemari lembut dan mata lentiknya, Nila memulai membaca lembar demi lembar buku pelajaran dan latihan soal. Nila berusaha merangkai sel- sel di otaknya untuk menampung semua materi yang dia baca. 


Sayangnya belum selesai Nila membaca satu bab, ponselnya berdering. 


“Ummi..,” gumam Nila melihat sekilas siapa kontak yang menghubunginya. 


“Benar kan? Mas Rendi nggak tulus, tapi diminta Ummi!” gumam Nila merasa berat memencet panggilan jawab. Meski begitu hatinya terasa sakit dan perih karena harus melawan akalnya sendiri. 3 tahun bukan waktu yang singkat Nila mendapatkan kasih sayang Ummi. Nila menyadari salah dirinya mengabaikan dan menjauhi Ummi atau Fatma.


“Maaf Ummi, Mas Rendi sudah menyakiti hati Oma dan buat kecewa orang yang paling Nila sayang, Nila nggak mau sakiti hati Baba!” batin Nila memilih mengabaikan pesan Ummi. 


Ummi tidak berhenti sampai di menelpon. Telpon diabaikan, Ummi pun mengirim pesan. 


“Nila putriku..... 


Ummi ingin bertemu denganmu. Namun sepertinya akan sulit.


Ummi minta maaf ya, atas nama Ummi dan anak Ummi. 


Ummi hargai keputusan, Nila, Baba Nila dan keluarga Nila, jika memang menghendaki perpisahan ini. 


Ummi  mengakui kesalahan anak Ummi, mohon maaf ya


Tapi Nak... 


Ummi hanya meminta, tolong ambilah keputusan dengan hati dan pikiranmu yang jernih. Ambilah keputusan dengan istikhirohmu. Bukan dengan emosimu.


Perceraian memang dibolehkan, tapi dibenci Alloh. Bahkan setan akan menari dan bergembira mensyukurinya. Apa kamu rela?


Kamu ingat kan perempuan- perempuan yang Alloh muliakan, bahkan Aisyiah tetap bertahan walau Firaun menjadi suami yang kejam? 

__ADS_1


Ummi tidak memintamu, memaafkan Rendi. Niat Rendi memang salah, sikap Rendi memang menyakitkan. 


Ummi hanya meminta kamu kembali berfikir jernih. Apa Rendi berbuat kasar terhadapmu? Tidak kan? Apa Rendi menduakanmu? Juga tidak kan? Rendi tidak pernah menyentuhmu karena dia ingin menjaga pendidikanmu tuntas. 


Entah bagaimana niat Rendi, tapi selama belum ada keputusan dan terucap talak yang sesungguhnya, semua bisa kita perbaiki kan? 


Maaf jika Ummi terlalu banyak berharap. 


Tapi jika Nila mantap berpisah, Ummi dan Fatma, hanya meminta, tetaplah menjadi Putri kesayangan kami. Jangan putus tali silaturrahim kita ya.


Ummi..."


“Hhhh...,” Nila semakin buyar konsentrasinya dalam belajar, membaca pesan Ummi.


Entah itu fatma atau Ummi yang menulisnya. Tapi pesan itu menggetarkan hati Nila. Hingga air mata Nila menetes tanpa Nila sadar. Nila memang sangat dekat dengan Fatma. 


Nila pun hanya menggenggam, ponselnya bingung mau jawab apa. Nila tidak mau gegabah menjawab. 


Belum Nila menemukan kata yang tepat untuk membalas, terdengar suara berisik dari luar. 


“Jangan ganggu, Kak Nila. Kak Nila mau belajar!” 


“Aku nggak ganggu kok, orang Cuma pengen temani Kakak. Kita juga belajar!” 


Ternyata di luar kamar Iya Iyu ingin masuk ke kamar Nila tapi dihalau Jingga. 


Nila pun segera menyeka air matanya. Kalau Nila ketahuan menangis karena Rendi, pasti Jingga akan marah. Nila pun segera menyembunyikan ponselnya dan kembali menghadap bukunya. 


Dan benar saja si kembar usil sudah mendorong pintu kamar Nila dengan membawa tas kebesaranya. 


“Kita janji nggak nakal kok!” ucap Iyu sambil melirik Jingga yang sudah berkacak pinggang. 


Nila yang baik hati pun mengangguk memperbolehkan. 


“Ye.. makasih Kak Nila cantik!” jawab Iya. 


“Iyuuuh!” decih Jingga, ternyata adiknya masih SD sudah pandai merayu dan akting. 


Nila hanya cengengesan. 


“Iya Kak Nila kan baik nggak kaya Kak Jingga!” imbuh Iyu sambil cengengesan melirik ke Jingg. 


“Iya, gendhut lagi!” imbuh Iya sambil berlari. 


“Iya... Iyuu...!” teriak Jingga langsung gemas ingin cubit. Mereka berdua langsung ngacir naik e kasur Nila. 


“Nggak apa- apa Kak. Nila udah selesai kok belajarnya!” ucap Nila meyakinkan Jingga. 


“Mereka modus doang, kesini karena abis dimarahin Baba. Mereka lari ke sini, abis bikin nangis Vio!” adu Jingga ke Nila. 


Iya dan Iyu tidak peduli dan tetap tanpa salah malah kruntelan di kasur Nila. 


“Iya kah? Kalian bikin nangis adek?” tanya Nila. 

__ADS_1


“Nggak kok. Orang dhek Uuung emang sering nangis!” jawab Iya membela diri.  


“Keluar! Jangan ganggu, Kak Nila!” lerai Jingga lagi.


Sayangnya Iya dan Iyu malah menarik selimut dan berlinding di baliknya. 


Nila pun meyakinkan Jingga nggak apa- apa, Nila kan pawangnya mereka. 


“Kakak sama Bang Adip mau keluar lho, nggak mau ikut?” Goda Jingga ke Iya Iyu. “Nanti Kakak traktik makan sama eskrim!” 


“Kalau sama Bang Adip doang mau, kalau sama Kak Jingga, nggak mau!” jawab Iya. 


“Ishhh...,” desis Jingga kesal sekali, nggak bayi nggak udah mulai gede, adik- adiknya masih terus ngeselin. 


“Iya. Kak Jingga bawel dan cerewet soalnya!” jawab Iyu. 


“Iiiih! Kaliaan, tak jitak lho !!” Jingga yang sedang hamil malah dibuat darah tinggi. 


“Udah Kak, jangan diladenin mereka, Mah! Tinggalin aja!” ucap Nila lembut melerai.


Jingga pun menghela nafasnya, “Jangan ganggu kak Nila lho!” ucap Jingga, lalu Jingga pamit ke Nila pergi.


Nila mengangguk tersenyum.  


Begitu pintu ditutup dan Jingga pergi, Iya dan Iyu langsung buka selimut. Mereka bersorak gembira.


“Kaak..,” celetuk Iya. 


“Hmmm apa?” jawab Nila


“Kak Rendi kan katanya jadi suaminya Kak Nila?” tutur Iya dengan polosnya. 


“Om!” celetuk Iyu membenarkan panggilan sapaan Iya. 


Nila pun mengernyit sedikit tersentak dengan celetukan adik- adiknya tiba- tiba bahas Rendi. Tapi Nila masih menunggu mereka menyelesaikan pertanyaanya. 


“Kak!” jawab Iya ngeyel ke Iyu.  


“Om!” sanggah Iyu.


"Sudah- sudah. Terserah kalian mau panggil Om atau Kak. Jangan bertengkar. Ada apa?" lerai Nila.


“Kakak, dia kan katanya jadi suaminya Kak Nila? Kok nggak kesini? Bang Adip suami Kak Jingga juga kesini?” tanya Iya lengkap.


Sejak awal Rendi datang kan Iya ngefans ke Rendi. 


Nila pun menelan ludahnya, Iya sampai bertanya hal itu. Nila bingung mau jawab apa. 


“Kak Rendi kan janji mau belikan Iya kaos bola,” celetuk Iya lagi. 


Nila pun mengernyit, tidak menyangka.


“Oh ya?” tanya Nila. 

__ADS_1


“Iya.. Om Rendi kan kalau hari minggu suka olahraga bareng Pak Dhe Farid dan Baba!” celetuk Iyu nimbrung. 


Nila semakin menelan ludahnya. Selama Nila di Pesantren, dia dekat dengan orang tua Rendi. Rendi pun di sini dekat dengan Baba dan sering bertemu. Apalagi Adip berada di pulau yang jauh. Ikun orangnya sangat pendiam dan Amer sibuk sendiri.


__ADS_2