
Tidak menggubris ucapan Rendi, Nila yang luka hatinya mulai sembuh, karena mendengar ternyata Rendi punya kebiasaan baik, kini kembali terluka.
Kenapa Rendi harus cerita Jingga juga pernah dihukum di tempat ini, kan Nila jadi hilang mood. Padahal tadinya Nila juga ingin berdua dengan Rendi.
Di otak Nila jadi datang berbagai bayangan bagaimana Rendi memperlakukan Jingga. Bahkan terbayang hal yang tidak seperti adanya dan itu ternyata membuat sesak sangat, walau Nila sudah paham dari awal.
Merasa dicueki dan melihat Nila murung Rendi malah menundukan wajahnya mendekat ke Nila. Rendi meletakan dagunya di atas meja agar melihat Nila dari bawah sebab Nila menundukmn
Diperlakukan seperti itu Nila semakin manyun bercampur tersipu, lucu.
"Beneran cemburu nih?" tanya Rendi malah menggoda.
Bukanya sembuh, Nila tambah cemberut lalu membuang muka. Pipinya menggembung sangat lucu lebih lucu dari tadi saat terlambat. Rendi kemudian ambil sikap.
"Aduh, Mas salah omong ya? Jangan cemburu lah! maaf!" ucap Rendi lagi malah sekarang menggeser kursi mendekat ke Nila, tangan satunya juga direntangkan ke bahu kursi Nila.
Nila jadi salah tingkah.
"Lucu deh kalau cemburu gini?" goda Rendi lagi.
"Enggak! Cemburu untuk apa? Nila mau ngerjain!" jawab Nila ngeles menyibukan diri dengan kertas di depanya.
"Sret!" Rendi iseng mengambil kunci jawaban yang sedang Nila pelototi sembari tersenyum.
"Ck, jangan diambil? Nila mau ngerjain, bentar lagi jam kuliahnya Prof Ina," ucap Nila dengan kata yang sedikit tersendat bercampur kesal.
"Senyum dulu, nanti ku balikin," goda Rendi lagi terkekeh menggoda Nila ternyata se_asik ini.
"Ish, ya udah nggak aku kerjain. Aku balik aja!" jawab Nila lagi tambah ngambek dan meletakan ballpoint.
"Hehe ya ya, nggak. Nih?" jawab Rendi semakin menajamkan tatapanya dan tersenyum mengembalikan lembar kunci. "Sok selesaikan... kan harus tanggung jawab, komitmen dan profesional!" ucap Rendi lagi.
Nila jadi mendengus kesal.
"Ya sudah, tidak usah ganggu. Sana pergi. Aku nggak mau berurusan lagi dengan dosen yang menyebalkan!" jawab Nila menyindir Rendi lagi. Kan sekarang Rendi lagi sok akrab jadi suami.
"Dosenya nyebelin ya?" tanya Rendi malah balik menggoda Nila.
Karena sudah terlanjur kesal, walau digoda Nila tidak menggubris, matanya tetap lurus tidak melirik ke Rendi. Rendi jadi tambah gemas. Tapi dia tahan.
"Yaya.. nggak ganggu!" jawab Rendi mengalah. Kasian juga Nila diledek terus, dari pagi kan Nila sudah banyak menangis.
Rendi membiarkan Nila bekerja. Rendi diam sesaat duduk di samping Nila, masih sambil memperhatikan setiap gerak Nila, menikmati indahnya, lentik bulu matanya, garis hidungnya juga bibirnya yang sangat manis dilihat dari segala sudut. Nila lebih banyak mirip ke Buna sedikit berbeda dari Jingga yang mirip Baba, tapi mereka ada kemiripan dari mata dan hidungnya.
"Jangan cengeng ya! Jangan nangis lagi!" ucap Rendi tiba- tiba.
Dibilang cengeng Nila jadi tambah kesal. Nila yang tadinya fokus langsung menoleh dengan mata gerungnya.
"Cengeng?" pekik Nila.
"Aku nggak tahan liat kamu nangis. Jangan nangis di depanku ya. Jangan pancing aku buat cium kamu!" ucap Rendi lagi semakin berani terbuka dan hilang semua gengsinya.
Tapi meski ucapanya mengarah ke hal dewasa, tatapan Rendi yang tadi seperti nakal, kini berubah penuh kasih, ucapan Rendi terasa tulus memang tidak ingin Nila menangis.
"Gleg," mendengar kata Rendi, Nila mendadak jadi panas, dheg- dhegan bercampur haru, reflek Nila menjauhkan wajahnya. Nila merasa masih ngeri dan gigu dicium. "Apa sih?" cibir Nila mengernyit menghilangkan dheg- dheganya
Rendi tersenyum lagi dengan mimik yang berbeda melihat respon Nila. Entah, senyum Rendi penuh arti, yang pasti walau hanya ditatap, Nila jadi mati kutu.
"Nila koreksi di kelas ajalah!" ucap Nila kemudian, Nila pun mengumpulkan kertas teman- teman hendak pergi. Nila merasa terancam sekarang, lebih baik kabur dari pada dirinya keringetan karena Rendi.
"Eits ya jangan. Di sini aja!" cegah Rendi, tanganya spontan menekan kertas di mejanya agar di situ dan tidak dibawa pergi
"Hhh...Ya udah. Jangan ganggu! Sana pergi!" ucap Nila mengusir Rendi.
Nila celingak celinguk. Pintu ruang Rendi kan dibiarkan terbuka untungnya tidak banyak lalu lalang karena ruang Rendi di pojok.
"Yaya!" jawab Rendi mengangguk terkekeh.
Rendi kemudian bangun dari duduknya sembari mengusap tengkuknya. Menghadapi Nila harus sabar dan pelan- pelan. Rendi pun berpindah ke meja kerja satunya dimana kursinya lebih empuk dan besar juga ada komputer.
Duduk di dekat Rendi membuat Rendi tersiksa. Tanganya sudah gatal dan geregetan ingin macam- macam. Tapi kan Nila sedang bekerja.
Rendi pun duduk membiarkan Nila melaksanakan tugasnya, sebenarnya mudah untuk Rendi mengerjakan sendiri, tinggal membuat post test versi online otomatis akan keluar Nilainya.
Di sini Rendi kan dosen, dia memakai cara manual karena ingin melatih mahasiswa, tau arti tanggung jawab dan kerja keras, terhadap Nila pun dia sedang mengajarkan agar tanggung jawab mengerjakan dengan tuntas.
Nila yang sedang pundung karena cemburu menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat, niat hati ingin bertanya tentang paparazzi pun bubar. Malas bertanya- tanya.
Tidak bisa diungkapkan, pokoknya begitu sesak, bahkan Nila juga menebak kalau Rendi melakukan hal yang sama ke Jingga dulu, bahkan lebih. Kan Jingga sudah semester akhir, Nila yakin betul itu. Sebenarnya pun dia tahu sejak perjodohan belum diputuskan, tapi kenapa dulu terasa ikhlas sekarang sakit walau hanya dengan menerka.
“Sudah selesai, Dok!” ucap Nila bangun masih dengan suara marah meletakan hasil daftar Nilai teman- temanya.
Rendi yang baru mulai membuka computer pun menoleh.
“Oke terima kasih, Mbak Nila cantik,” jawab Rendi ikutan sok- sokan lagi panggil Nila, Mbak. Karena Nila memanggilnya Dok.
Nila mencebik, merasa konyol sendiri kenapa mereka harus pura- pura segala, naif. Tapi tetap saja karena marah Nila semakin mempertegas jarak mereka.
“Tugas saya sudah selesai kan? Saya undur diri, Dok!” pamit Nila.
Karena tidak ada siapapun, Rendi jadi terkekeh sendiri sembari menatap Nila.
Rendi bosan dan geli sebenarnya harus menahan diri bersandiwara. Tapi Semua itu dia lakukan karena Rendi kasian ke Nila, kasian kalau Nila dibully teman- temanya.
__ADS_1
Sejujurnya, sebagai orang modern, kalau bukan karena prinsip Abah yang tidak ingin anaknya tergelincir dalam dosa, Rendi pribadi tidak begitu setuju dengan pernikahan siri. Sayangnya Abah lebih suka nikah siri daripada tunangan.
Bagi Rendi, jika tidak diikuti komitmen kuat oleh kedua belah pihak untuk saling menjaga diri sampai sah secara hukum, pernikahan siri merugikan pihak perempuan dan hak hukum anak mereka, seperti tidak menghargai perempuan.
Untungnya Nila dan Rendi berbeda. Mereka tujuanya untuk saling mengikat, Rendi komit tidak mencampuri Nila sampai dewasa dan sah. Ya, Rendi harus komit termasuk menjaga agar tak menampakan di depan umum tentang status mereka.
Rendi tidak mau mencederai harga diri Nila di hadapan teman- teman yang tidak semua mengerti prinsip Abah, cukup pada lingkungan anak- anak pondok dan keluarga mereka dulu yang boleh tahu. Mereka kan sudah paham maksud Abah, jadi tidak muncul banyak spekulasi yang merendahkan.
“Makanan kesukaan Oma apa?” ucap Rendi kemudian malah tanya makanan kesukaan Oma.
Tentu saja, walau kesal ingin cepat pergi, Nila jadi mengernyit. Rendi aneh sekali, senyum senyum sendiri mengerjai Nila, sok- sokan galak dan memanggilnya Mbak. Sekarang tiba- tiba tanya Oma.
“Oma? Oma siapa?” tanya Nila.
“Ya Oma kita?” jawab Rendi percaya diri.
“Hh…Kita?”
“Ya. Nenek Mirna, Ibu Mirna Nurmalasari, istrinya dokter Nando?” jawab Rendi.
“Oh. Mau apa tanya- tanya?” jawab Nila.
Bukanya menjawab, Rendi malah bangun dari kursi duduknya, Rendi berpindah duduk di pojok meja mendekat ke Nila yang berdiri hendak pergi. Nila jadi salah tingkah lagi.
“Sampai kapan kita mau kaya giini terus? Hm? Berbohong pada diri sendiri itu melelahkan kan? Mas akan usaha lewat Oma. Kamu telat karena Baba kan?” tutur Rendi pelan dan kali ini tidak dengan menggoda Nila, tapi serius dan sorot matanya begitu teduh dan hangat.
Nila menunduk terdiam, rasanya ingin sekali berkata iya, Nila juga lelah bersandiwara, tapi Nila juga bingung. Mulut Nila pun membeku.
"Kira- kira Mas bawa oleh- oleh apa biar Oma senang?" tanya Rendi lagi.
“Oma sedang atur pola makan sehat, Oma suka buah sawo matang. Kalau nggak ubi madu,” jawab Nila pelan tanpa berani menatap Rendi.
Mendegar penuturan Nila, Rendi mengernyit.
“Ubi madu? Belinya dimana?”
“Di pasar tradisional atau di tukang buah, banyak kok,”
“Kamu temenin Mas beli ya?” ucap Rendi lagi meminta.
“Maaf, tidak bisa! Nila diantar supir, Nila harus pulang tepat waktu!" jawab Nila lagi masih tidak menatap Rendi.
“Hhh.. baiklah,”
“Sudah kan? Nila ke kelas!” pamit Nila hendak pergi.
“Tunggu!” ucap Rendi masih ingin bersama Nila dan Rendi meraih tangan Nila cepat untuk menahanya.
Nila langsung menoleh ke tangan Rendi dan bergerak meminta lepas, tapi Rendi malah turun dari duduknya di meja dan mendekat ke Nila.
Nila jadi gelagapan. Seketika itu dengan tanpa aba- aba, tangan Rendi meraih dagu dan pipi Nila.
“Apa Baba memarahimu lagi?” tanyanya pelan sembari ingin mengelus pipi Nila.
"Gleg!"
Mendapatkan perlakuan seperti itu, sontak Nila panik dan menepis tangan Rendi kuat. Selain Nila belum pernah diperlakukan seperti itu, Nila kan sedang cemburu meski ada rasa terharu juga mendengar Rendi mau ke Oma.
Terlebih lagi Nila malu kalau ada yang lihat, Nila langsung celingukan ke pintu yang terbuka takut ada yang lewat.
“Mas ingat ini kantor” tutur Nila mengingatkan Rendi dengan nafas sedikit memburu. Apa kata orang mahasiswi berhijab bermesraan di ruang dosen.
“Kenapa memangnya?” jawab Rendi santai
Nila pun menatap cctv.
“Nila mau ke kelas!” jawab Nila cepat ingin segera pergi.
“Hhh...,” Rendi malah mendengus, kemudian maju lebih cepat dan malah menutup pintunya.
“Mas?” pekik Nila kaget.
"Apah?" jawab Rendi pelan.
“Mas kok ditutup,”
Bukanya menjawab, tanpa permisi, Rendi malah menarik tangan Nila dan mendekap Nila paksa.
“Mas!” pekik Nila gelagapan berusaha berontak.
“Cuma di sini kan kita berdua, sebentar saja,”
“Mas ada cctv, mas jangan begini?” ucap Nila panik dan melepaskan diri dari dekapan Rendi.
“Hhh..,” Rendi malah menghela nafasnya dan mengeratkan pelukanya.
Nila semakin berontak mendorong karena sesak dan takut.
Rendi jadi menelan ludahnya menatap Nila tajam.
"Hoooh.. hooh...," Nila sedikit kaget takut dan ngos- ngosan.
Rendi menanggapinya tersenyum lembut, melangkahkan kakinya maju lagi, Nila pun masih ketakutan dan mundur tapi mentok meja yang satunya.
__ADS_1
Melihat respon Nila, Rendi malah menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
“Nila aku suamimu? Bukankah setiap hari kamu menyapa bulan, menunggu kita bersama. Kenapa kamu ketakutan begini? Kenapa memangnya kalau cctv merekam kita, jangankan cctv, malaikat di samping kanan kiri kita melihat, mereka doakan kita. Semesta berdoa untuk pasangan halal yang bersatu setelah bertengkar, biar saja semua tahu, hm?” tutur Rendi ke Nila.
“T. t. tapi..,” ucap Nila tergugup.
Tidak menunggu persetujuan, Rendi kembali memeluk Nila.
“Sebentar saja?" lirih Rendi sembari memejamkan matanya, membawa Nila dalam pelukannya.
Nila jadi gelagapan tapi kali ini tidak memberontak.
"Apa kamu tahu? Mas mengkhawatirkanmu? Baba pasti marah ke kamu kan? Itu sebabnya kamu terlambat? Mas takut, kamu nggak boleh kuliah lagi, maafin Mas ya..” lanjut Rendi lagi, kali ini tidak menggoda Nila dan mengungkapkan ke khawatiran yang tulus.
Nila tercekat, hatinya tergetar, iya memang itu yang terjadi. Nila juga sangat sedih dan memang butuh sandaran untuk semua itu, tapi Nila tidak cukup keberanian untuk mengadu.
Nila yang tadinya memberontak kini melemas mengijinkan Rendi memeluknya, bahkan Nila menerima pelukan itu. Nila memang butuh Rendi.
“Berlatihlah jujur pada diri sendiri, jangan disembunyikan lagi, kamu percaya Mas kan?” lirih Rendi lagi.
Nila masih terdiam membiarkan tubuh hangat Rendi memeluknya, senyaman ini ternyata dipeluk suami. Bibirnya ingin berkata iya, tapi kelu.
Sesaat mereka berpelukan tanpa suara, hanya detakan jantung yang saling beradu. Sepersekian detik, Nila ingat lagi cemburunya. Nila kemudian mendorong Rendi cepat.
“Kenapa? Kamu tidak percaya Mas?” tanya Rendi tersinggung.
“Apa dulu Mas juga begini ke Kak Jingga?” tanya Nila spontan masih dengan mimik manyun dan cemburu.
Rendi langsung terkekeh, Rendi kemudian mengusap tengkuknya, gatal sekali ingin melahap bibir Nila.
“Jadi kamu benar cemburu?” Rendi malah balik bertanya.
“Ish…,” desis Nila cepat- cepat berbalik dan menghindar.
Rendi masih terus menahanya, meraih tanganya lagi agar tetap stay. "Jangan pergi!"
"Nila mau kuliah!"
“Masih ada waktu sebentar!"
"Nggak!" jawab Nila kekeh berjalan maju meraih gagang pintu.
"Mas nggak pernah meluk Jingga!" ucap Rendi cepat.
Nila terdiam mengurungkan gerak tanganya.
"Mbak Nila, dengar! Mana berani Mas menyentuh anak gadis Baba Ardi yang berharga, Mas kan belum nikahin kakakmu, Mas berani meluk kamu, kan Baba sendiri yang menjabat tangan Mas, mengucap ijab qobul di hadapan Penghulu, kamu ingat itu kan?” lanjut Rendi menjelaskan dengan jujur.
Nila menelan ludahnya masih terdiam. Hatinya mengembang, Nila ingin balik kanan lagi, tapi sangat kelu. Entahlah. Nila hanya menunduk menggigit bibir bawahnya malu ketahuan cemburu.
Rendi pun mengalah. Rendi yang maju meraih kedua bahu Nila memutar agar menghadapnya.
Dengan perlahan Nila pun mengangkat wajahnya menatap Rendi. “Bener?” tanya Nila lirih.
Rendi tersenyum lagi dan menjawab pertanyaan Nila lembut. “Iya bener! Tanya aja kakakmu! Kan mas bilang, jangan cemburu!”
“Ehm…,” dehem Nila hatinya sangat senang tapi malu mau bilang iya.
"Ssh...," Rendi hanya mendesis gemas sendiri ingin toel toel Nila. Tangan dan tubuhnya geregetan tapi takut didorong lagi atau Nila nekad kabur.
“Ke kantin yuk!” ajak Rendi kemudian mengalihkan tubuhnya yang geregetan.
“Nggak, Dita menungguku Nila nggak mau telat lagi, aku mau ke kelas aja!” jawab Nila.
“Hhh…," Rendi pun menghela nafas lalu melirik ke ayam srundeng di atas meja bimbingan
"Ya udah. Mas ada ayam srundeng tuh. Bawa makan sama Dita ya!" ucap Rendi memberikan ayam dari Livi.
Nila masih diam ragu menerima.
"Terima! Ini suamimu yang kasih! Kasian Dita. Anak kos pasti jarang makan begini!" ucap Rendi dewasa.
"Ya. Makasih!" jawab Nila menerima. Nila berbalik lagi dan membuka gagang pintu.
Rendi pun menyandarkan bo kongnya ke meja melepas Nila keluar dari ruanganya sembari mengacak- acak rambut, kepalanya sangat pusing. Rendi merasa Nila di ruanganya sangat cepat. Rendi masih ingin bersama Nila.
****
Sepanjang langkah Nila keluar dari ruangan Rendi, Nila celingak celinguk.
"Duh ada yang liat nggak ya? Pusat kontrol cctv dimana?" gumamnya over thingking. Padahal jelas- jelas begitu Nila keluar suasana sepi, deretan ruang dosen kosong karena mereka sedang ada di kelas.
"Klek...Aak!" jerit Nila spontan dan ayam di tanganya terjatuh.
Tepat di belokan gedung dosen dan gedung kelas, ada kaki yang menjulur dari balik tembok di tikungan saat Nila hendak belok. Nila yang memakai rok panjang dan melamun langsung terjatuh.
"Auh.... sshh..," perih dan sakit, kedua tangan Nila kotor, bagian pelipisnya juga terasa pegal apalagi kedua lututnya. Pelan- pelan Nila bangun duduk melemaskan tulangnya yang sakit dan membersihkan telapak tanganya.
Tidak ada yang membantu, padahal Nila menyadari ada sepasang kaki ber_flat shoes di depanya. Nila pun mengangkat wajahnya ke atas melihat siapa itu.
Seraut wajah cantik tersenyum sinis menatap Nila dengan bersedekap bersandar ke tembok.
"Celine?" pelik Nila kaget.
__ADS_1
"Udah? Ngecharge nya?" tanya Celine pelan.
"Gleg!" Nila tercekat tidak bisa menjawab.