
Sesampainya di rumah, Nila disambut oleh keluarga besarnya. Keluarga Nila bangga, putri pendiamnya, walau sekolah di sekolah yayasan nyatanya mampu bersaing. Hari ini juga Jingga dan bayinya pulang. Keluarga besar Baba pun berkumpul.
“Cucu Oma...,” sambut Oma Rita mengulurkan tanganya meminta Nila mendekat dan menciumi kepala Nila.
Melihat Nila, kakek nenek Nila yang lain ikut mendekat.
“Opa bangga sama kamu! Selamat datang di dunia mahasiswi ya!” sahut Opa Nando yang ikut memberi selamat.
“Makasih, Opa Oma...,” jawab Nila tersenyum menoleh ke Opa Oma dari Bunanya itu.
Berbeda dari suami dan besanya, Oma Nurma, tampak diam tidak berkomentar, ada raut khawatir dalam sorot matanya. Entah apa yang Oma Nurma pikirkan.
Setelah bersalaman dan memeluk Oma Rita, Nila pun bersalaman pada Oma Nurma dan Opa Nando.
“Tuntut ilmu yang benar, harus punya niat yang tulus ya...,” tutur Oma Nurma berbeda dengan keluarga yang lain.
Jika yang lain semua tampak bergembira dan memberikan selamat Oma Nurma sama sekali tidak tertawa sedikitpun.
“Iya Oma..,” jawab Nila.
Opa Nando yang melihat istrinya tidak tersenyum juga ikut menoleh.
“Ya sudah sana ganti baju dulu!” tutur Oma Rita.
Nila mengangguk dan pamit ke kamar, seTelah Nila pergi, keluarga Gunawijaya kemudian berkumpul menyambut Baby Boynya Jingga.
Sampai usia 1 bulan, Baba Ardi meminta keluarga kecil mereka tinggal di rumah Baba, baru setelahnya boleh pulang ke rumah Bang Adip.
Adip yang merasa saat hamil banyak LDR dan merepotkan mertuanya tidak bisa menolak, walau sebenarnya, Adip ingin mereka mandiri.
Semua pun tampak gembira menyambut bayi Jingga, sehingga Jingga sang Ibu malah tidak sempat menggendongnya. Buna langsung sigap menggendong cucu pertamanya, dan Vio langsung gemas ikut mendekat.
“Jingga...,” panggil Oma Nurma saat Jingga menepi hendak meminum susu ke belakang. Karena hampir semua sibuk mengurus Baby Boynya, Jingga jadi terabaikan dan sendirian.
“Iya Nek,” jawab Jingga.
“Boleh nenek bicara?” tanya Oma Nurma.
Jingga mengangguk tersenyum, “Tentu Nek, ada apa?” tanya Jingga.
“Rendi itu orangnya gimana kalau di kampus?” tanya Oma Nurma tiba- tiba.
Jingga langsung menatap Oma Nurma heran.
__ADS_1
“Nenek kok tiba- tiba tanya Pak Rendi?”
“Sudah jawab saja? Selama kamu kuliah dulu? Bagaimana sepak terjangnya? Sebelum kamu ketemu Adip, apa yang membuat kamu membenci Rendi?” tanya Oma lagi.
Oma bertanya dengan nada rendah sambil celingukan melihat suasana keluarga lain yang berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya Oma tidak ingin ada yang mendengar.
Jingga mengambil jeda untuk bercerita dan nenek menganggukan kepala memaksa Jingga bercerita.
“Cerita pada Nenek, apa dia pernah memperlakukanmu dengan buruk? Apa dia pria yang kurang ajar?” tanya Oma Nurma.
“Nggak Nek,” jawab Jingga.
“Hhhh...,” Nenek menghela nafasnya seperti ada kekhawatiran dalam yang dia rasa.
“Pak Rendi selalu bersikap sopan ke Jingga Nek, Jingga aja kaget, waktu, Baba kasih tahu kenal dekat dengan keluarganya, dan Jingga nggak nyangka kalau dia saudara Pak Dhe Farid,” tutur Jingga bercerita. “Emang kenapa Nek?” tanya Jingga.
“Selama kamu kuliah dia tidak mengganggumu kan?” tanya Oma Nurma lagi.
“Enggak Nek. Dia sopan dan profesional kok, nggak pernah ganggu. Cuma, Jingga kesel. Dia orangnya diam, kaku, galak Nek. Kaya Baba! Beda sama Bang Adip, ya maaf Nek buka maksud Jingga bandingin orang,” jawab Jingga lagi.
"Tapi ya gitu dia kaya orang gila waktu tahu Jingga nikah sama Bang Adip?"
"Gila gimana?"
"Tapi apa dia pernah nyakitin kamu? Atau sentuh- sentuh kamu?"
"Nggak sih. Cuma ngomong. Kan Jingga sama Bang Adip!" jawab Jingga.
“Oh ya sudah.... apa kamu pernah mendengar dia dekat dengan perempuan?”
“Tidak,” jawab Jingga. “Nenek kenapa sih? Tanyanya aneh,” tanya Jingga lagi.
“Tidak apa- apa,” jawab Nenek diam.
Jingga jadi curiga, tapi Oma Nurma mengalihkan pembicaraan bertanya tentang ASI Jingga sudah keluar atau belum.
Jingga pun menjawabny sehingga topik obrolan mereka berganti.
Tidak lama, Opa Nando datang dan mengajak Oma Nurma pulang. Jingga pun kembali ke anaknya tanpa berfikir banyak tebtang pertanyaan Oma Nurma.
Hari itu, rumah Baba dan Buna pun dipenuhi kebahagiaan.
Bagi Baba hidupnya bak dilimpahi bintak kebahagiaan. Nila yang ketrima kuliah jalur beasiswa prestasi meski pengumuman dan perkuliahan masih beberapa hari, tapi Nilai yang keluar pastut disyukuri.
__ADS_1
Terlebih kebahagiaan yang tiada tara, kedatangan member Gunawijaya yang baru.
Satu minggu berlalu, Baba pun mengadakan syukuran dan pengajian besar bersama anak- anak panti, juga membagikan sembako untuk warga yang tidak mampu di luar rumah Baba.
Jika sebelumnya di acara rumah Baba, Baba mengundang Rendi, Abah Rendi untuk pimpin doa, hari ini di hari bahagianya tidak ada mereka. Baba mengundang ustad lain.
Meski begitu, Rendi dan Fatma yang sedang di Ibukota tahu acara selamatan di rumah mantan besanya itu
“Apa ini?” tanya Rendi ke Fatma saat Fatma membungungkus kado.
“Abang nggak lihat ini apa?” jawab Fatma.
“Siapa yang lagi bayi?”
“Nggak usah pura- pura nggak tahu!” jawab Fatma lagi.
Berita kelahiran Jingga, walau nomer Rendi sudah diblokir, tapi Fatma tetap tahu dari Pak Dhe Farid.
“Kita akan diusir kalau ke rumah mereka!” jawab Rendi dingin.
“Kita kasih kado doang kok, Bang!” tutur Fatma tenang.
“Kado kita nggak akan dihargai, nggak usah buang- buang tenaga!” jawab Rendi lagi.
Fatma kemudian tersenyum.
“Lebih buang tenaga mana dengan abang yang setiap hari berusaha membeli kartu baru demi bisa hubungi Nila dan juga lewat depan rumah besar itu berharap bertemu Nila Bang?” jawab Fatma. “Bang Rendi yang Fatma kenal, bukan Bang Rendi yang mudah putus asa!” jawab Fatma.
Rendi langsung terdiam tidak menjawab pertanyaan Fatma.
Fatma tahu, Rendi tidak sepicik apa yang dia ucapkan. Bahkan meski perkuliahan belum dimulai, tanpa orang lain tahu, Rendi terus berusaha mencari tahu aktivitas Nila, agar dia bisa bertemu Nila.
Bahkan Rendi langsung mencari tahu data tentang Hanan.
“Fatma yakin, meski Pak Ardi tidak mau menerima barang ini, tapi Kak Adip, Bu Alya, juga Oma Nurma akan menerima. Jangan jadi penguntit Bang. Tunjukan itikad baik kita!” tutur Fatma memberitahu.
Sayangnya Rendi masih, diam tidak menjawab dan hanya melengos pergi. Fatma pun hanya menghela nafasnya sembari melirik kemana Rendi pergi.
Fatma kemudian kembali membungkus kadonya dan kemudian dikirimkan ke alamat rumah Baba.
“Hanya dengan ini aku bisa beritahu Nila, kalau kita masih keluarga,” batin Fatma berharap.
"Nila...aku sayang kamu. Aku merindukanmu. Terlebih Abangku. Kamu juga kan?" batin Fatma menitikan air matanya.
__ADS_1