Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Keluarga Laksana.


__ADS_3

"Tenang aja Mas... jangan tergesa- gesa dan panik gitu!" tutur Jingga menegur Adip yang hampir aja nyerempet ibu- ibu membawa keranjang sayuran.


"Hhh.. astaghfirulloh," Ucap Adip menghela nafas, setelah berhasil mengerem mobilnya.


Jingga dan Nila ikut panik.


"Kamu baik- baik aja kaan? Abang panik. Maaf!" ucap Adip ke Jingga.


Adip duduk di bangku depan sendiri sementara Nila menjaga Jingga di belakang.


"Baik Bang... Anak kita masih bergerak aktif kok. Insya Alloh dia masih baik- baik aja. Jingga juga belum kontraksi. Baru pecah ketuban aja. Hati- hati nyetirnya," ucap Jingga lagi menjelaskan menenangkaj Adip. Walau dia tahu dia juga ingin segera memastikan keadaanya dan takut kenapa- kenapa. Tapi Jingga tidak mau kecelakaan.


"Iya!" jawab Adip. Setelah tenang Mereka kembali melaju ke rumah sakit milik Dokter Gery, Pak Dhe Jingga sendiri.


Karena memang sudah dekat, tidak butuh waktu lama mereka sampai. Nila sebelumnya sudah Wa Pak Dhenya pemilik rumah sakit itu, sekaligus menteri kesehatan di negaranya.


Sehingga begitu mereka sampai, para perawat dan dokter yang berjaga langsung menyambut. Bahkan Jingga langsung di jemput dengan kursi roda.


"Dokter Jingga, silahkan!" tutur salah seorang perawat menjemput Jingga ke mobil karena Jingga hendak berlenggang begitu saja.


"Saya masih bisa jalan kok!" jawab Jingga.


"Apaan sih. Udah manut aja?" sahut Adip.


"Iya Dokter. Pakai kursi roda aja!" jawab Perawat.


"Cuma berapa langkah Bang!" jawab Jingga masih mengelak.


"Tapi pasien dengan kasus ketuban pecah dini harus bedrest, dokter!" sahut Perawat menasehati.


"Tuh dengerin. Udah abang yang dorong. Makasih ya Sus!" jawab Adip mengambil jalan tengah.


Jingga tidak bisa menolak lagi. Benar memang agar ketubanya tidak terus keluar banyak sebaiknya Jingga tidak jalan kaki.


Suster pun mengangguk meninggalkan mereka dan membiarkan Adip mendorong Jingga. Sementara Nila menjadi pendamping setia untuk kakaknya.


Begitu mereka masuk, mereka langsung disambut dan dibawa masuk ke ruang priksa khusus. Bahkan dokter yang jaga mendahulukan memeriksa Jingga.


Tentu saja Jingga yang merupakan keponakan kesayangan Dokter Gery, bahkan Hanya Jingga yang bersedia sekolah kedokteran ketimbang anaknya sendiri dan Jingga digadang- gadang sebagai penerus merasa hal itu biasa saja.


Namun rupanya, ada salah satu pelanggan yang juga ingin didahulukan dan memesan sudah ruang VVIP itu lebih dulu. Dia tidak terima karena tidak didahulukan disuruh menunggu dan kemungkinan hanya mendapat ruang VIP biasa. Ruang VVIP tinggal satu ruang.


Pasien itu marah dan tidak terima, meski sebenarnya nilai kegawatanya memang lebih urgen Jingga. Sebab pasien yang baru datang baru kontraksi awal. Tidak ada tanda yang mengancam. Bahkan setelah diperiksa pembukaannya baru buka 2, belum juga ada pecah ketuban semuanya masih bagus dan masuk tahap observasi normal.

__ADS_1


Akan tetapi sepertinya mereka juga bukan orang sembarangan dan ingin diprioritaskan.


Pelanggan itu pun protes ke pihak rumah sakit. Pihak Rumah sakit pun menjelaskan, kronologi nya.


"Kalian tidak tahu siapa saya?" bentak suami pasien itu.


"Saya Tahu Pak. Anda menantu dari keluarga Laksana. Tapi istri Bapak tidak ada tanda kegawatan. Mohon tunggu sebentar ya. Kita siapkan kamarnya!"


"Nggak ada kegawatan gimana? Istri saya kenceng- kenceng dan sakit!"


"Orang mau melahirkan kan memang harus seperti itu Pak. Tapi istri Bapak tidak ada tanda kegawatan jadi mohon tunggu ya!" jawab suster lagi.


"Saya lihat pasien yang tadi juga tidak ada tanda kegawatan. Bahkan masih tampak segar? Kenapa sepertinya kalian mengistimewakan?" omel Suami si perempuan hamil itu.


"Dokter Jingga memang terlihat baik- baik saja dan belum ada kontraksi. Tapi ketubanya sudah pecah. Dan itu bahaya!" jawab Perawat.


"Oh jadi dia dokter makanya didahulukan? Alasan aja kalian! Dokter apa sih dia? Kalian tidak tahu siapa istrinya saya?" omel orang tersebut.


Perawat pun menelan ludahnya menagan sabar.


"Bukan karena dia dokter Pak. Tapi karena Dokter Jingga memang perlu diperiksa dulu. Istri Bapak kan juga sudah diperiksa!" jawab Perawta lagi.


"Tapi kenapa istri saya tidak segera dipindah ke ruang Vvip yang saya inginkan?" bentak si suami itu ngotot.


Akhirnya Nila yang mendengar ikut mendekat dan bertanya.


"Ada apa ini Pak?" tanya Nila sopan.


"Maaf. Non.. sudah kita bereskan kok! Udah Non Nila pergi aja!" ucap Perawat berbisik mencegah Nila jadi ribut.


Si suami melirik ke Nila.


"Siapa dia?"


"Saya Nila Gunawijaya! Apa ada masalah? Saya keponakan Dokter Gery!" jawab Nila.


Saat mendengar nama Nila tiba- tiba suami orang itu terdiam dan berbalik. Dia pun hanya bertanya kapan istrinya pindah ke ruang bukan UGD. Perawat pun menjelaskan perawat hendak membereskan rekam medis dulu.


Masalah pun selesai akan tetapi, Nila tetap penasaran. Nila pun memperhatikan si suami itu kemana perginya.


Nila melihat, si suami itu menghampiri satu ibu hamil yang yang berbaring di atas bed pasien, juga pemuda tampan seusianya, sepertinya adiknya sedang menunggui kakaknya. Mungkin sama seperti Nila.


Saat Nila memperhatikan, keluarga mereka ternyata sedang menggunjing keluarga Nila dan menatap Nila sehingga mereka bertemu pandang.

__ADS_1


Nila pun bertanya ke perawat dan perawat menjelaskan detail masalahnya. Juga memberitahu kalau masalah sudah selesai.


"Ya udah makasih ya Sus!" jawab Nila ke perawat, lalu Nila pergi ke kantin.


Sesampainya di kantin, Nila segera memesan makanan, dan memakanya di sebuah bangku untuk beberapa saat.


Setelah selesai makan Nila pun beranjak, hendak membeli camilan untuk dirinya dan kakaknya.


Dan saat Nila berjalan ke kasir, tanpa sengaja dia berpapasan dengan adik si ibu hamil tadi. Bahkan Nila membuat si Pria itu menjatuhkan belanjaannya.


"Ehm...," dehem pria itu.


"Maaf!" ucap Nila sopan.


"Jangan mentang- mentang anak Gunawijaya, udah minta didahulukan masih halangin jalan orang!" ucap Pemuda itu sewot.


Nila pun menelan ludahnya geram.


"Maaf ya Mas. Kakak saya nggak pernah minta didahulukan. Tapi ketuban kakak saya memang sudah pecah dan harus segera diperiksa!" ucap Nila.


"Tapi Kakakku datang lebih dulu dan perutnya sudah kenceng- kenceng!" jawab Pria itu.


"Perawat dan dokter sudah menjelaskan kan? Kakakmu juga sudah diperiksa dan hanya tinggal tunggu kamar kan? Ya sudah!" jawab Nila lagi.


"Tau apa kamu tentang kesehatan. Itu kan hanya alasan kalian untuk berlaku sewenang- wenang!" jawab si adik ngeyel


"Jadi kamu meragukan keterangan Dokter?" tanya Nila menohok.


Pria itu sedikit tersentak dan gelagapan


"Kakakmu masih terlihat sehat dan baik- baik saja!" jawab Pria itu.


"Susah ya ngomong sama orang yang nggak tahu. Kadar bahayanya seseorang kan bukan hanya dilihat dari luar. Kalau nggak tahu searching aja. Kalau kamu nggak percaya sama dokter ya udah nggak usah minta tolong ke dokter. Kalau nggak tahu jangan sok tahu!" ucap Nila panjang.


Hati Nila sedang kacau akan masalah yang menimpanya. Dia pun jadi emosi dan mengeluarjan sisi kasarnya.


Pria yang sama- sama menunggu kakaknya pun dibuat terdiam oleh Nila. Sementara Nila langsung pergi.


****


Setelah diperiksa, untuk menghindari bahaya, dan juga infeksi. Apalagi ketuban bayi Jingga tinggal sedikit. Jingga langsung dibawa ke ruang bersalin. Dokter pun memberi obat untuk memacu Jingga agar timbul kontraksi.


Nila dan Jingga pun membeeri kabar keluarganya. Sehingga Baba dan keluarga yang di rumah langsung heboh dan melupakan agenda hari esok, yang seharusnya mendampingi Nila sidang cerai.

__ADS_1


__ADS_2