Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kesempatan


__ADS_3

“Deket lagi, sini lagi,” lirih Rendi ke Nila.


“Malu…,” lirih Nila mendesis melirik ke beberapa cameramen yang sudah siap mengambil gambar mereka.


“Haish…,” desis Rendi geram, bahkan Rendi sudah keringetan.


Sudah hampir setengah jam, bahkan di tempat acara suara yang terdengar sudah berganti ada 10 lagu, baru dua angel yang berhasil mereka dapatkan dengan hasil maksimal. Ada puluha. Foto tapi semuanya gagal dan kaku.


Sekarang sesi yang ketiga di ambil di taman Buna di rumah samping. Fotografer ingin mereka berpose lebih in tim. Jika tadi sekedar pose saling tatap, juga berdiri memandang langit, bergandengan tangan, juga pose- pose berdiri ada jarak, sekarang fotografer mengarahkan ada kontak fisik lebih tepatnya menciium.


Di bawah pohon tanaman hias Buna, Rendi yang sudah tidak sabar ingin segera duduk mengakhiri ritual menyebalkan ini, dengan cepat menarik pinggul Nila di hadapan kamera.


"Mas!" pekik Nila kaget. Tapi Rendi tidak peduli. Bahkan Nila dan Rendi kini berhadapan rapat.


“Begini Mas?” tanya Rendi tanpa malu menoleh ke kamera.


Sementara Nila masih menelan ludahnya kaget, Nila pun rasanya sangat risih, dia memalingkan wajahnya, ingin cepat selesai.


“Kakak pengantin ceweknya agak menunduk biar keningnya pas. Yang penganten prianya cium keningnya!" tutur Fotografer dengan sabar mengarahkan.


Nila menegaang mengikuti arahan. Rendi pun dengan kaku memajukan wajahnya.


"Nah...Oke ya begitu… satu.. dua…,” ucap Fotografer memberi aba- aba.


“Gleg!” seketika itu Nila terbelalak.


Tepat di hitungan ketiga dan lampu kamera menyala, pose yang sebelumnya sudah ajip, bukanya dilanjut mencium kening, Rendi mengubah formasi.


Rendi justru mengangkat dagu Nila dan mengecup bibir Nila. Tanpa malu di depan kamera, bukan hanya cium kening, Rendi mencium bahkan melahap bibir Nila dengan leluasa.


Tentu saja, kameramenya senyum- senyum sendiri, dunia serasa benar- benar milik Rendi.


Mereka ingin ngumpet membiarkan Rendi menghabiskan waktunya, tapi kamera sudah ada di tanganya, lensa pun sudah focus ke arah mereka, hingga dalam hitungan detik tidak mau melewatkan moment, cekrak cekrek mereka mendapat pose yang di luar ekpektasi. Bahkan langsung dapat banyak.


Sepersekian detik, saat Nila terlihat gelagapan sambil tersenyum Rendi melepas pagutanya, dan menoleh ke fotografer.


“Sudah Mas? Oke kan?” tanya Rendi dengan percaya diri.


"Siip Kak!" jawab Fotografer memberikan jempol. Ya jelas oke. Ini adalah foto sweet natural dan candid.


Sementara Nila menunduk malu sekali, tubuhnya rasanya seperti mengambang, bergetar tidak bisa dijelaskan. Nila tidak kuat mengangkat wajah menoleh ke tim fotografer.


Fotografer yang bernama Mas Rian dan ternyata malah belum nikah mengangguk pun senyum- senyum. Sebenarnya mereka profesional, gaul tapi tetap menghormati Rendi, karena Rendi dan Nila juga tidak banyak bercanda jadi tim fotografer juga canggung mau banyak bicara.


"Sudah selesai kan?" Tanya Rendi.


“Terserah Kak, kalau mau dilihat dulu, silahkan, kalau masih kurang, pumpung masih moment kita siap foto lagi! Masih banyak kok!” ucap Rian.


Rendi melirik Nila, Nila pun mengangkat wajahnya menatap Rendi dan menggelengkan kepala dengan tatapan penuh harap, agar sesi ini disudahi.


Nila tak seperti Jingga suka sekali berpose bahkan dengan keadaanya yang sekarang gendut bukanya lebih tenang dari jaman gadis, sekarang lebih lincah dan percaya diri. Dipta berada di asuhan Adip, sejak awal terluhat banyak berpose dan entah sudah berapa kali sejak di kamar meminta wefie bersama Nila ataupun meminta kru yang memfotokan.


“Kita percaya kok sama Mas Rian, hasilnya pasti bagus semua. Sudah saja ya!” jawab Rendi benar- benar tidak suka.


Padahal kalau di tempat lain bagi tim foto, hasil jepretan si pengantin masih sangat sedikit. Tapi mau bagaimana lagi, kedua mempelai tidak suka banyak- banyak.


"Baik. Pak. Sudah yakin ya? Tidak mau nambah?" tanya Mas Rian


"Udah cukup. Udah banyak kan? Fotoin keluarga kita aja!" jawab Rendi.


Pihak fotografer pun mengangguk, mengemasi peralatanya.


Rendi kemudian menatap Nila mengajaknya masuk.


“Ke kamar, yuk!” ajak Rendi berbisik.


“Huh?” pekik Nila untuk kesekian kalinya selalu ngebleng kalau diajak bicara Rendi.


Dan untuk kesekian kalinya juga, Rendi harus menggigit bibirnya geram, kenapa hari ini Nila terlihat sangat lola.


“Kita ke kamar, ganti baju, panas pakai baju begini!” ucap Rendi.


Nila melirik ke tempat pesta, masih ramai suara music pun masih terdengar.


“Acara belum selesai Mas. Masa kita masuk? Kalau dicariin gimana?” tanya Nila berfikir normal.


“Nggak! Percaya! Lihatlah, mereka semua asik sendiri- sendiri, udah! Kita bukan boneka pajangan yang harus duduk diliatin banyak orang. Ganti aja! Yuk!" ajak Rendi mengajarkan sesat ke Nila.


Ya, acara Baba kan memang bukan standing party atau resepsi seperti pada umumnya yang tamunya hilir mudik, dari awal sampai akhir ya tamunya memang hanya itu itu saja.


Nila pun mengangguk, tapi otak warasnya masih ragu, apa pantas, pengantinya meninggalkan tempat pesta padahal acara masih ramai- ramanya. Nila pun masih melirik ke tempat pesta.


“Ayok buruan, emang kamu betah pakai gamis beginian? Apa ini ditempel- tempelin. Berat kan? Ganti yuk!” ajak Rendi lagi malah mengatai gaun Nila yang penuh aakan Mutiara indah, padahal kan cantik.


“Ya. Nila juga ingin ke kamar mandi!” jawab Nila setuju.


Seketika itu, Rendi pun mengembangkan senyum dan mengulum lidahnya senang.


“Yuk!” ajak Rendi kembali mengulurkan tanganya.


“Nila bisa jalan sendiri, gaunya nggak terlalu lebar kok!” jawab Nila menolak Rendi lagi, ternyata Nila masih risih.


“Hhh...Oke!” jawab Rendi mengangguk meski sedikit kecewa.


Dari arah tempat pesta, melihat tim fotografer kembali dan tidak ada pasangan penganten, mereka langsung sigap mengejar Nila dan Rendi.

__ADS_1


“Lhoh, Kak penganten mau kemana?” tanya perias sedikit mengangkat jariknya berjalan cepat mendekat ke Nila dan Rendi.


Nila dan Rendi pun berhenti menoleh.


“Kita mau ke kamar, mau ganti!” jawab Nila. Rendi kan seperti sebelumnya kalau ada perempuan lain mendadak cuek tidak peduli.


“Lhoh acaranya belum selesai kan? Udah mau ganti? Nggak sayang Kak?” tanyanya.


“Kan tinggal nyanyi- nyanyi sama makan kan? Nanti kita ke sana lagi kok, mau ke kamar mandi!” jawab Nila beralasan.


“Oh!” jawab MUA. “Berarti saya sudah seselai ini?” tanya MUA senang.


“Ya sepertinya sudah? Tidak ada agenda lagi kan Kak?” jawab Nila.


“Iya. Berarti saya boleh pulang, Kak?” tanya MUA memastikan.


“Ya. Pulanglah!” jawab Rendi cepat dan singkat menegaskan tidak suka diganggu.


Tentu saja pihak MUA senang sekali yang biasanya merias dari pagi sampai sore, stand by ini belum setengah hari boleh pulang. Apalagi hari ini bayaranya lebih mahal.


“Terima kasih Pak, sebelum pulang barangkali perlu saya bantu lepasin hiasanya? Mari saya bantu..” tanyanya lagi menawarkan bantuan.


“Kita bisa sendiri kok!” jawab Rendi cepat dengan jutek.


“Baju dan seperangkat pakaian ini, punya Buna kan?” tanya Nila menyahut memastikan.


“Iya, Kak! Kita hanya fokus merias kok!” jawab MUA


“Oh, ya udah, kita lepas sendiri aja,” jawab Nila tersenyum.


MUA pun mengangguk sangat senang lalu berterima kasih dan berpamitan.


“Makan dulu, Kak!” ucap Nila ramah mempersilahkan periasnya makan dulu.


Periasnya mengangguk senang lalu kembali ke tempat pesta, kini tinggal Rendi dan Nila penganten yang benar- benar meninggalkan acara. Karena Nila menolak digandeng, Rendi pun berjalan cepat di depan.


“Auw…” pekik Nila tiba- tiba.


Saat melewati tatanan batu di taman Buna, Nila yang memakai sepatu berhiaskan mutiara dan berheels tinggi tersandung dan jatuh.


“Haish…,” desis Rendi berhenti dan menoleh ke belakang.


Nila tampak tersungkur, matanya mengernyit seperti menahan sakit, gaun yang penuh rangkaian Mutiara pun tampak menyentuh rerumputan Buna.


Rendi menghela nafasnya dan segera berbalik mendekat.


“Makanya kalau dibilangin suami itu nurut, suruh pegang tangan Mas, nggak mau sih!” ucap Rendi mencibir Nila.


Nila jadi mencebik, kesal. Sudah jatuh, sakit, malah dikatai.


“Ayo bangun!” ucap Rendi mengulurkaan tanganya.


“Haish!” desis Rendi lagi, dengan celat menahan agar tidaak ikut jatuh. Rendi kemudian membungkukan tubuhnya.


“Pegang!” ucap Rendi sigap mengarahkan tangan Nila agar bepegangan. Nila mengikuti Rendi meraih bahu dan leher Rendi.


Dengan cepat dan sigap, Rendi mengangkat Nila dan membawa dalam rengkuhan tangan kekar dan dada bidangnya. Untungnya Nila kecil dan Rendi tinggi berisi, jadi Rendi tidak kesulitan mengangkat Nila.


Sepersekian detik Nila pun bertumpu nyaman pada tangan Rendi dan bersandar di dadanya, tapi Nila malu sehingga tidak menatap Rendi dan memilih menekuk lehernya berlindung menghadap ke dada Rendi.


Kaki Rendi pun melangkah tegap dan gagah membawa Nila. Sembari berjalan Rendi melirim Nila dan tersenyum, lucu sekali Nila.


Dulu saat awal Nila terlihaat begitu berani dan dewasa, ternyata umur tidak bisa berbohong, dia tetaplah gadis remaja yang baru akan beranjak dewasa, sisi kekanakanya masih melekat.


“Pintar ya kamu. Dikasih hati ambil sekalian ampelanya!" ucap Rendi.


"Apa maksudnya?" tanya Nila.


"Kalau mau digendong bilang, bilang. Aku nggak mau digandeng doang maunya digendong, jangan pakai adegan jatuh, sayangkan gamisnya kotor!” ucap Rendi lirih mengatai Nila.


“Ish. Apaan sih. Heelsnya tinggi banget, Nila nggak biasa pakai heels!” jawab Nila membela diri.


“Makanya jangan kependekan jadi nggak perlu pakai heels!” jawab Rendi mengejek Nila lagi.


Nila pun kesal dan spontan Nila melepas tanganya memukul dada Rendi, sehingga Rendi hampir kehilangan keseimbangan.


“Hey… awas nanti jatuh!” pekik Rendi.


Untungnya Nila tidak begitu berat jadi Rendi masih berdiri kokoh meski sedikit goyang.


Nila pun kembali meringkuk nyaman.


“Emang Nila pendek banget apa? Perasaan e ggak?” gerutu Nila ternyata baper di katai pendek.


Ya, Jingga, Amer, Ikun dan yang lain kan tinggi- tinggi.


“Ya dibanding Mas. Tinggian Mas kan?” jawab Rendi narsis dan percaya diri.


Nila diam tidak menjawab, sebenarnya kalau sedang sensitive, Nila pun menyadari, jika dibandingkan saat berada di usia yang sama, Nila dan Jingga memang jauh lebih sempurna Jingga. Itu sebanya Nila kalau dibahas masalah fisik jadi diam.


“Kok diam?” tanya Rendi menoleh ke Nila yang mendadak diam.


“Turunin Nila, Nila bisa jalan sendiri!” pinta Nila ngambek, mereka juga sudah masuk ke rumah.


“Sssttt…,” sayangnya Rendi justru mencengkeram tubuh Nila lebih kuat dan berjalan lebih cepat, “Udah diam, nggak usah protes! Jangan banyak bergerak!” jawab Rendi.

__ADS_1


Karena sebenarnya juga memang nyaman, Nila pun diam, apalagi begitu masuk rumah rupanya semua penghuni rumah sedang di luar di tempat pesta.


Rendi pun dengan semangat langsung menuju lift menuju ke kamar Nila.


“Nggak ada orang ya Mas?” tanya Nila lirih karena tak mendengar suara manusiq.


“Udah Mas bilang kan? Biarkan mereka Bahagia, Baba kan undang artis mahal, jadi harus dinikmati! Ada tau nggak ada kita mereka nggak peduli,” ucap Rendi memberitahu.


Nila mengangguk dan menyandarkan kepalanya lagi dengan nyaman. Bahkan Nila memejamkan matanya. Ternyata Rendi kuat berjalan sejauh dari halaman sampai ke dalam rumah membawa Nila.


Karena rumah Baba ada lifnya tidak butuh waktu lama mereka pun sampai kamar. Dengan lembut Rendi menurunkn Nila, tapi di kamar mandi.


“Lhoh kok di sini?” pekik Nila ke GR_an. Saat memejamkan mata, Nila membayangkan seperti di adegan film yang pernah dia tonton dia akan dibaringkan di Kasur, Lalu Nila berbaring nyaman.


Saat digendong, saking nyamanya, kantuk Nila datang dan rasa ingin BAK nya hilang.


Rendi pun mengernyit.


“Katamu kamu mau ke kamar mandi?” tanya Rendi dengan tanpa rasa bersalah.


Seketika itu Nila pun melebarnya bibirnya tersenyum nyengir


“Iya sih!” jawab Nila, kan memang Nila beralasan ingin pipis.


Melihat Nila nyengir Rendi jadi berfikir lain.


“Emang maunya kemana?” tanya Rendi dengan tatapan penuh arti jadi menggoda Nila.


“Hah?” pekik Nila salah tingkah.


“Nggak jadi ke kamar mandinya?” tanya Rendi memastikan masih dengan tatapan mautnya dan membuat Nila tambah salting.


“Kebelet pipis apa kebelet yang lain?” goda Rendi terus memepet Nila.


Nila pun gelagapan menelan ludahnya mundur, tapi sayang Nila mentok ke tembok dan Rendi tambah nyengir ingin ketawa.


“Jadi… jadi,” ucap Nila tergagap wajahnya jadi pucat ketakutan.


Spontan saja, tawa Rendi pecah. Padahal kan Nila dan Rendi sudah beberapa kali bermesra dengan Rendi, bahkan mereka sudah sama- sama pernah saling melihat tubuh mereka masing- masing tapi tetap saja, Nila masih selalu canggung dan gemetaran.


“Kok ketawa?” tanya Nila cemberut, kenapa Rendi selalu menertawakannya.


“Ya udah sok kalau mau ke kamar mandi. Mas tunggu di sana. Tapi. Lepas dulu dandananmu. Sini Mas bantu, nanti kotor semua lagi!” ucap Rendi dengan dewasa dan penuh kasih.


"Iya. Makasih!" jawab Nila sopan. Nila mendunduk lalu memutar tubuhnya.


“Tolong bukain jarum nya!” ucap Nila menghadap membelakangi Rendi meminta Rendi melepas peniti di bagian belakang.


"Oke!"


Tidak menunggu jeda, Rendi dengan cekatan membantu Nila melepas hijabnya, untung riasan Nila temanya simple elegan, jadi mudah dibuka, hanya mengambil beberapa peniti dan sekali putaran hijab Nila terbuka, gelungan Rambut Nila pun terurai saat Rendi menariknya. Dan seketika itu, mata Rendi tak berkedip.


Tidak rapih, rambutnya sedikit berantakan terurai, akan tetapi itu membuat Nila terlihat begitu sek si. Apalagi aroma wangi sampo Nila masih tercium di indra Rendi, rambut Nila juga lurus sehingga tiap helaianya membuat Rendi tersihir ingin mendekat dan menciumnya, dengan Gerakan spontan dan reflek Rendi pun mendekat mencium rambut Nila, lalu merambat mencium kepala Nila hingga ke pangkal kuping Nila.


“Maas..,” lirih Nila spontan, sedikit kaget merasakan geli yang luar biasa.


Nila jadi menoleh ke Rendi yang sekarang ternyata sudah mendekat merapat ke belakang tubuhnya.


Rendi tidak menyahut, hening.


Saat Nila menatap, mereka jadi beradu tatap, mata Rendi menatap Nila tajam, hingga sepersekian detik, walau tak ada senapan rasanya Nila seperti ditembak, seketika itu tubuh Nila jadi melemas. Ya tiap kali Rendi melesatkan tatapan itu seluruh otot Nila terasa meleleh hilang daya.


“Gleg!” Nila gelagapan menelan ludahnya salah tingkah.


Bukanya memberikan kesempatan Nila membuang air seperti tujuan awal, dengan sigap, Rendi kembali membopong Nila dan membawanya ke atas Kasur.


“Mas…,” pekik Nila gelagapan melihat jam masih belum dzuhur dan di depan kan acara sedang seru- serunnya.


“Ssssttt…,” ucap Rendi mendesis jarinya dihadapkan ke bibir Nila.


“Kita… kita.. mau apa?” tanya Nila tergagap, Nila beringsut memundurkan tubuhnya ke bahu Kasur, menghindari Rendi yang sudah mengungkungnya.


Rendi tidak menjawab tapi hanya mengikuti Nila, merangkak, dengan tanganya mengungkung Nila.


“Mas tahan dulu ya. Nanti kita dicariin, Yang lain pasti nyariiin kita! Kita ke bawah yuk!” ajak Nila lagi. Nila kan masih normal masa di bawah sedang acara pengantinya malah di kamar.


“Nggak lama kok, janji!” tutur Rendi ternyata tidak mau melewatkan kesempatan.


****


Hehehe.


Makasih Kakak yang mau baca Nila, yang nungguin Nila dan Rendi MP, maap yaaaa.... rangkai sendiri alurnya yak.


Entah karena udah tambah tua, aku sekarang takut mau rangaki adegan itu. He….


Takut juga.


Sadar sih. Keterampilanku masih jauh. Hehe makasih yg masih suka.


Oh ya. Di lapak bekas istri kecilku, Yang judulnya Bukan dia, akan diisi cerita Amer. Insya Alloh tidak kalah seru dengan isi cerita yang beda. Baca dan pantengin yaaakk.. terus komen lagi.


Pokoknya kalau suka dan mau aku semangat Nulis, itu koment.


Koment itu menghidupkan otakku juga. Jadi aku tau, ceritanya itu ada gregetnya nggak? Aku jadi tahu ekspresi dan rasa kalian baca itu apa?

__ADS_1


Gitu. Kalau amleng aku juga stuck.


Makasih.


__ADS_2