Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Nila Absen.


__ADS_3

Sudah semalaman Jingga mengalami kontraksi tapi sampai pagi dipriksa 1 jam lalu, masih pembukaan 8 dan belum lahir. Padahal sekarang sudah pukul 05.30 pagi. Baik Adip dan Nila masih tetap setia menunggu.


Baba Amer dan Ikun sudah datang semalam, karena mereka laki- laki mereka hanya berjaga sampai subuh. Lalu mereka berniat pulang sebentar.


Oma dan Buna tidak boleh datang karena Oma baru sembuh. Sementara Vio menangis kalau ditinggal.


Oma Nurma dan Opa Nando sedang dalam perjalanan bersama sepupu Jingga, Bunga dan Dokter Mira.


"Bang Jingga udah nggak kuat!" lirih Jingga kelelahan semalaman tidak bisa tidur.


"Semangat Sayang. Kamu pasti bisa. Udah bukaan delapan kan? Berdoa yah? Kamu mau apa? Minum madu ya!" ucap Adip berusaha tetap tenang menyemangati Jingga istrinya.


Jingga menggelengkan kepalanya. Wajahnya sudah pucat pasi dan jilbabnya sudah berantakan.


"Baang sakiit....," lirih Jingga terus memegangi tangan Adip sampai Adip belum sholat subuh.


Sementara Nila baru selesai.


"Sabar Sayang..., nafas panjang hembuskan.. sambil istighfar!" ucap Adip terus menyemangati Jingga.


"Operasi aja... Jingga nggak kuat!" lirih Jingga lagi hampir menyerah.


"Heii...nggak boleh gitu. Kamu udah buka 8 ini tinggal ujung perjuanganmu. Kamu udah berjuang semalaman! Semangat berhasil. Kamu pasti bisa!" ucap Adip lagi menyemangati.


Sesaat kontraksi Jingga berjeda.


"Hhh...hah!" Jingga pun diam dan mengambil jeda nafasnya.


Nila kemudian menatap Abangnya.


"Kak Adip sholat dulu aja!" ucap Nila lembut.


Adip pun menatap Jingga.


"Bang Adip belum subuhan Sayang. Bang Adip sholat dulu ya...! Udah mau abis waktunya?" lirih Adip meminta.


Jingga menitiikan air matanya tidak menjawab. Akal sehatnya tahu, salah kalau dia membiarkan suaminya meninggalkan sholat. Sementara hatinya ingin terus bersama suaminya.


"Sebentar ya,..., Nila kan udah selesai ada di sini juga! Dosa lho ini udah mau abis waktunya!" bisik Adip lagi.


"Nila di sini temani Kakak," sahut Nila ke Jingga.


Walau tidak menjawab, Jingga melonggarkan peganganya tanda setuju.


Adip pun pergi setelah mencium kepala Jingga.


"Semangat Sayang!" bisik Adip.


Begitu langkah kaki Adip tak terdengar, kontraksi Jingga datang lagi.


"Sshhh...," Jingga langsung ancang- ancang ambil nafas panjang.


"Do'a Kak...semoga segera lengkap dan lahir dhehde bayinya!" bisik Nila memegang tangan Jingga menemani Jingga merasakan kontraksi.

__ADS_1


Seketika itu keringat Jingga bercucuran.


Kontraksi Jingga semakin lama semakin sering. Nila pun terus menyemangi Jingga memegangnya, mengusap pinggangnya juga menuntunya berdoa. Hingga beberapa kontraksi berlalu, seakan jedanya semakin sedkit dan hampir tak ada jeda.


"Kakak kok kaya pengen Bab ya Niil," lirih Jingga.


"Sabar Kaak. Ambil nafas panjang kan katanya belum boleh mengejan. Nafas panjang yaa!" bisik Nila lagi


Tapi sayangnya kontraksi Jingga terus bertambah. Jingga tidak bis menahanya sampai berteriaak.


"Aak...," teriak Jingga.


"Kakak istighfar...," bisik Jingga menenangkan.


"Sakit Nilaaa...," tutur Jingga.


Teriakan Jingga pun terdengar oleh tim dokter yang menangani Jingga. Tidak selang lama, dokter Kandungan yang secara khusus ditugaskan Dokter Gery dan Bidan senior datang.


"Kakak Saya... kencengnya sudah tidak tertahankan Dok," ucap Nila memberitahu.


"Sebentar ya... saya priksa dulu!" jawab Bidan


Nila mengangguk.


"Saya seperti ingin Bab, Dok!" lirih protes Jingga merintih.


"Ya Dokter Jingga. Saya pastikan dulu ya, sudah pembukaan lengkap atau belum!" jawab Dokter bersiap memeriksa Jingga.


Sayangnya kontraksi Jingga seperti tiada henti. Dokter pun menyingkap selimut Jingga. Pengeluaran dari jalan lahir Jingga sudah bertambah dan lubang anus juga membuka.


Dokter dan Bidan pun menutup pintu untuk menjaga privasi dan diputuskan yang mendampingi Bersalin Jingga Nila. Mereka memang sempat bertanya dimana suaminya. Karena suaminya pergi jadi Nila yang menemani Jingga.


Dokter pun menyampaikan ke Jingga dan Nila. kalau Jingga sudah boleh mengejan. Dokter dan Bidan juga membimbing cara mengejan yang benar.


"Ikuti saya ya.. kalau kontraksinya datang.. ambil nafas.. lalu diejankan seperti orang Bab...semangat ya.!" tutur Dokter.


Jingga mengangguk bertekad. Nila mendampingi sekaligus siap siaga memenuhi apa yang Jingga butuhkan.


"Kalau tidak kontraksi ambil jeda istirahat minum. Okey? Bantu Minum ya Nona Nila!" lanjut Dokter memberitahu.


Jingga dan Nila mengangguk mengerti dan Nila menyuapi Jingga minuman.


Jingga marah karena Adip pergi di saat yang tidak tepat. Sayangnya marahnya itu dikalahkan dengan kontraksi yang hebat, sehingga Jingga melampiaskan marahnya dengan mengejan kuat. Sekitar 20 menit Jingga dipimpin mengejan Bayi Jingga pun lahir.


"Ayo dokter Jingga. Udah keliatan nih kepalanya, udah di bawah. Yook loss nekat yook!" pimpin Dokter semangat.


"Eghhhh...," Jingga pun menarik kuat nafasnya .


"Nila membantu Jingga menyangga kepalanya.


"Bismillah Kaak. Ayo Kaak!" tutur Nila semangat.


"Eeghhh....," Jingga nekat mengejan sekuat tenaga.

__ADS_1


Dengan sekali tarikan nafas dan tenaga yang kuat, kepala bayi Jingga lahir.


"Cukup.. cukup Nafas pendek ya. Hah...hah...," ucap Dokter memberi arahan.


Jingga pun bernafas pendek- pendek, dengan gerakan cepat dokter melakukan beberapa prasat dan melahirkan bayi Jingga.


"Oek.. oek...," selang berapa detik tangisan bayi Jingga terdengar keras.


Jingga pun meneteskan air matanya begitu juga Nila.


"Anakku lahir? Hiks.. aku udah melahirkan?" isak Jingga terharu dan penuh syukur.


"Iya Kak?" Nila langsung memeluk menciumi kakaknya.


"Alhamdulillah Kaak. Baby Boy!" lirih Nila setelah melirik keponakanya.


"Kok. Bang Adip malah pergi sih! Hiks.." keluh Jingga cemberut sembari menyeka air matanya sangat menyesalkan di detik- detik penting malah pergi.


"Udah nggak apa- apa. Kan Bang Adip lagi do'a juga buat Kakak. Yang penting sekarang Jagoan kita selamat! Kakak juga sehat!" ucap Nila menghibur.


"Sebbel. Kenapa nggak sholat dari tadi!" keluh Jimgga egois padahal Jingga sendiri yang tidak mau ditinggal. Jingga kesal sendiri semua berjalan di luar mimpinya.


"Ehm...," Nila menghela nafasnya bingung menanggapi, Jingga kan kalau pundung hanya Adip dan Buna yang bisa luluhin.


"Ya kan nggak tahu Kak. Udah nggak apa- apa. Nila panggil Bang Adip ya. Kayaknya udah selesai sholatnya!" ucap Nila pamit.


Sayangnya Jingga benar- benar pundung dan menarik tangan Nila.


"Kakak mau sama kamu aja. Kakak nggak mau ngomong sama Bang Adip!" ucap Jingga merajuk.


"Kaak...," bisik Nila merayu.


"Nilaaa...," jawab Jingga.


Belum mereka berhenti saling menawar.


Bidan dan dokter yang menyela.


"Ibu saya suntik ya!" ucap Bidan ijin.


Dokter tampak melakukan tindakan ke bayi Jingga.


"Adik bayinya biarkan Inisiasi menyusu dini ya. Kami tinggal lahirkan plasenta setelah itu kita periksa laserari jalan lahir, kayaknya ada robekan sedikit biar dijahit dulu!" ucap Dokter menjelaskan beberapa tahapan yanh akan dilalui Jingga.


Jingga dan Nila mengangguk. Jingga pun tersneyum haru saat putra tampanya diletakan di dadanya untuk IMD.


Nila juga ikut hanyut dan terharu melupakan semua agendanya. Nila memilih mengikuti mau Jingga sebab Nila juga tidak tega ke Jingga yanh sedang tak berdaya.


Nila pun terpenjara di dalam ruangan bersama Jingga dan tidak keluar. Padahal jam 08.00 adalah jadwal sidang Nila dan Rendi.


Sementara Adip selesai sholat karena begadang semalaman perutnya mules. Dia pun menyempatkan buang air besar ke kamar mandi.


Begitu hajatnya selesai dan bergegas ke ruangan di jalan Adip malah menabrak petugas ruang gizi di persimpangan. Adip pun bertanggung jawab membantunya. Baju Adip juga jadi kotor dan basah. Adip jadi ke kamar mandi dan ke ruang rawat Jingga yang bukan ruang tindakan untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Sesampainya di ruang tindakan pintunya ditutup.


__ADS_2