
Tidak menjawab iya, tidak juga mendekat menyerahkan diri. Nila terbengong dan membelalakan matanya kemudian menelan ludahnya. Benar- benar, Rendi membuatnya jantungan.
Saat itu sudah sangat sepi dan gelap. Hanya ada sinar temaram dari lampu atas kebaikan Baba yang terpasang di pagar rumah. Jika security sudah memastikan semua anggota keluarga Tuanya pulang. Mereka akan menutup pagar dan juga istirahat. Nila juga tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai ada yang tahu.
Nila malu, takut dan rasanya aneh sekali menyerahkan diri dipeluk.
"Kok malah diam? Mas butuh beberapa hari pergi, kamu nanti kangen sama Mas!" ucap Rendi tidak suka permintaanya ditolak.
Nila malah beringsut menjauh.
"Sesuatu yang dirindukan akan terasa manis pada ujungnya, bukakan pintu ya! Nila mau masuk!" ucap Nila menolak lembut.
Bukanya menjawab Rendi tetap memeluk Nila paksa.
"Jangan terlalu kuat menahan rindu. Bukankah kamu sudah menantikan Mas, 3 tahun lamanya. Gengsi itu hanya akan membuat kamu susah sendiri. Halal kok jujur sama suami! Jangan ditutupi!" ucap Rendi sembari membawa Nila dalam dekapanya dengan nyaman
Dipeluk paksa sedikit membuat Nila kaget, tapi Nila tahu memang akan seperti itu dan tidak hanya sekali itu. Nila pun diam sejenak menikmati waktu hangat dalam dekapan Rendi.
"Seharusnya kita pulang bersama kan? Kurang sabar apa Mas?" ucap Rendi lagi ingin diakui kebaikanya dan cintanya. Kalau dia sungguh mau jadi suami Nila yang baik.
"Aku udah pulang ke rumah Mas, bahkan ke kamar Mas, salah siapa membuatku pergi! Mas sendiri yang membuat semuanya jadi serumit sekarang, " jawab Nila ngeles, rasanya enggan memuji Rendi. Padahal 3 tahun lamanya dalam diam, di atas kertas putihnya Nila selalu memuji Rendi hanya dengan mendengar cerita Ummi.
"Yaya udah nggak usah dibahas!" jawab Rendi kesal tidak mau terlihat salahnya. Ya, Rendi masih menunjukan sisi ego sebagai lelaki yang ingin benar.b
Tidak mau terlena nanti malam gerbangnya ditutup. Nila segera mengurai peluknya.
"Sudah Mas! Ini sudah malam. Nila harus segera masuk ke rumah!" ucap Nila.
Rendi pun mengangguk dengan raut kecewa. Setelah 33 tahun lebih membujang, baru sekarang merasakan kehangatan dekapan seorang wanita, rasanya ingin terus berlanjut, tapi Rendi harus mengerti. Rendi memencet remote mobil dalam sakunya dan membuka kunci pintunya.
Nila segera keluar, Rendi ikut keluar mengantar sampai pagar dan memastikan Nila masuk rumah walau dari kejauhan.
"Hh...bismillah?" batin Rendi, kemudian berfikir akan pulang menemui Abah. Ya, tidak mau menunda dan tidak mau terkena masalah lagi Rendi harus menyegerakan semuanya agar pernikahanya tidak goyah lagi.
****
Nila sendiri berjalan cepat dan hati- hati kembali ke kamar. Dheg- dhegan Nila melebihi rasa dheg- dhegan saat di pondok karena telat ikut kajian dan nanti bisa di hukum membersihkan kamar mandi. Nila takut sekali kepergok Baba ternyata mencuri kesempatan bertemu Rendi. Walau suaminya sendiri mereka berdua masih takut dengan Baba.
__ADS_1
Selain itu, rasanya tubuh Nila seperti terselimuti kabut panas yang terus membuat hatinya bergetar.
Walau Rendi sudah pergi bekas dekapanya sentuhanya masih terus terasa.
"Hh... Ini bukan mimpi kan?" gumam Nila merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Beruntung sekali saat Nila masuk ke rumah tidak bertemu dengan siapapun.
*****
Pagi harinya semua berjalan baik, susana kembali hangat dan rukun, bahkan Ikun pulang sebelum jam sarapan tiba.
Ikun kangen dengan si Vio comel. Malam nanti Ikun juga akan kembali terbang ke luar negeri mengurusi bisnisnya, itu sebabnya dia harus menemui adik dan keluarganya.
"Kamu tahu kan apa yang bisa menyebabkan kuliahmu terhambat?" tanya Baba di akhir sarapan tiba- tiba melempar tatapan ke Nila.
Semua yang sedang mengakhiri makannya langsung terhenyak mengangkat wajahnya menatap Baba.
Nila yang sedang mengunyah juga jadi gelagapan, lalu mengunyah cepat untuk segera menjawab
"Iya Ba!"
"Bukan Baba mau mencampuri urusan rumah tangga kalian nantinya atau membatasi. Baba cuma mau yang terbaik untuk kamu. Walau perempuan tidak harus mencari nafkah. Pendidikan itu penting. Mengurus anak itu juga tidak mudah. Pikirkan baik- baik sebelum menyesal mengenai rencana mempunyai anak!" ucap Baba panjang.
"Iya, Ba. Nila akan pikirkan itu. Nila akan prioritaskan kuliah!" jawab Nila.
"Baguslah. Baba ada agenda keluar kota. Jadi Baba, mau berangkat cepat, Bun siapkan ya!" tutur Baba mengakhiri makan pagi. Baba langsung berdiri.
Buna dan yang lain jadi pun mengangguk, Buna langsung ikut bangun mengikuti Baba, Nila pun mengambil tisu membersihkan mulutnya. Amer juga tampak cuek meneguk air putih di depanya. Anak- anak juga langsung diurus naninya.
Hanya Ikun yang langsung mengernyit kebingungan.
"Kak, Baba ngomong apa sih?" tanya Ikun ke Amer dan Nila.
"Ehm....," Nila berdehem menunduk.
Amer tidak menjawab dan melirik Nila. Ikun pun ikut menatap Nila.
"Baba kok bahas rumah tangga dan anak? Apa maksudnya?" tanya Ikun mempertegas.
__ADS_1
"Apa maksudnya La? Jelasin tuh! Kakakmu nanya!" tanya Amer.
Nila pun menatap Ikun malu.
"Nila maafin Mas Rendi, Kak!" ucap Nila singkat.
"What?" pekik Ikun melongo.
Amer melihat jamnya, dia yang sekarang sudah menjadi pembisnis tidak mau banyak bercakap. Amer tampak bangun dan meninggalkan mereka berdua.
"Kakak juga ada janji sama klien. Kakak duluan ya!" ucap Amer pamit
"Ya!" jawab Ikun cuek. Masih menatap Nila yang menunduk malu.
"Gimana ceritanya kok kamu maafin Rendi. Kalian balikan? Bukanya kalian udah cerai?" tanya Ikun mendesak
Nila ikut menatap jam sebelum menjawab. Ternyata sudah mepet.
"Nila ada kuliah pagi Kak. Nila jelasin nanti ya. Maaf!" jawab Nila.
"Eh tunggu dulu. Kakak penasaran!" ucap Ikun lagi
"Ceritanya panjang. Maaf. Kata Baba, Nila harus prioritasin kuliah kan? Kakak nanti jemput Nila ya. Daaa... Assalamu'alaikum!" jawab Nila cepat.
"Haish ...," pekik Ikun frustasi dan mengacak- acak rambutnya. "waalaikumslaam," jawab Ikun tetap menjawab salam.
Baik Amer dan Ikun memang punya apartemen pribadi masing- masing. Setelah sibuk bekerja mereka mulai belajar mandiri, pulang ke rumah hanya beberapa hari saja dalam seminggu, jika tidak ada agenda kerja dan kangen keluarga.
Ikun yang beberapa hari kemarin tidak pulang jadi tidak tahu info apapun tengang Rendi.
"Aku harus jawab apa ke Hanan?" gumam Ikun. "Aku kan baru saja menjawab curhatanya dan siap bantu!" gumam Ikun lagi merogoh ponselnya.
Ikun orang terakhir yang tertinggal di meja makan.
Ikun jadi galau memutar mutar sendiri ponselnya. Ternyata Hanan dekat dengan Ikun dan mengungkapkan ketertarikanya pada Nila.
"Nila tidak cocok dengan Rendi. Usia mereka terpaut jauh. Rumah tangga mereka bisa tidak sejalan dan seimbang?" gumam Ikun lagi.
__ADS_1
"Bukanya bagus mereka bercerai sebelum Nila diapa-apain. Kenapa bisa balik sih?"
*****