Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Ngorok


__ADS_3

“Kakak kemana Buna?” tanya Iya ke Buna.


Iya, Iyu dan Vio sedang kruntelan di kamar mengerumuni Buna.


Sementara Baba sedang duduk bersilah, berhadapan dengan Oma, saling membuka Al- Quran, tadarus bersama saling menyimak. Oma Rita sudah masuk usia senja. Oma Rita juga sudah menjadi buyut, barang- barang mahal yang dulu melekat di tubuhnya kini sudah mulai ia tanggalkan. Koleksi barang brandednya lebih banyak dilelang dan disumbangkan ke yayasan GunaPeduli. Sebagian untuk Jingga dan Nila, seperti tas, perhiasan dan lain- lain. Meski mukenah dan sajadah yang ia kenakan tetap mukenah mahal. Tapi kini Oma lebih banyak waktu untuk ibadah.


Diberi kesempatan menjadi buyut di usianya yang menginjak 70an tahun, dan tetap cantik. Alhamdulillah penyakit strokenya juga mulai sembuh sejak kelahiran Dipta, Oma, Baba dan keluarganya sangat bersyukur. Itu adalah anugerah luar biasa.


Cara Oma menunjukan itu semua ya mendekatkan diri, dan fokus ibadah. Selain itu juga untuk bekal, teman di alam barzah nanti kan amal sholeh Oma.


Biasanya, setiap sore, selepas sholat maghrib berjamaah, sembari menunggu makan malam, bersama Iya dan Iyu mengaji, Oma juga mengaji bersama Nila. Malam ini karena Nila tidak pulang, Oma tadarus Al-Quran, Baba yang membimbing.


Sebenarnya Baba tidak begitu telaten seperti Buna dan Nila, tapi Buna kejatah bersama anak- anak.


Iya dan Iyu pun cuning, karena Baba yang menyimak Oma, terasa aneh. Baba juga sangat lama. Mereka langsung risau tanya Nila.


“Kakak nginap di rumah, Baby Dipta!” jawab Buna.


“Hummm, kenapa Kakak nggak ajak Iya sih? Iya kan juga kangen sama Baby Dipta!” celetuk Hijau.


“Iya Buna, Iyu juga kangen Baby Dipta, Kak Nila curang!” sahut Iyu.


“Telpon Kakak!” celetuk Iya.


“Mama… Adik Iptaa,” mendengar kakaknya ribut, Vio ikut nyeletuk,


Buna yang diserbu ketiga bocilnya pun kalah, akhirnya, Buna mengalah menelpon Nila, sayangnya, saat teleponya tersambung, begitu mau diangkat langsung mati.


Buna kemudian telepon Jingga, telepon Jingga juga tidak diangkat. Terpaksa Buna menyampaikan kabar berita itu ke anak- anaknya yang lain, mereka pun kecewa.


Lebih dari anak- anak yang kecewa, hati Buna pun timbul pertanyaan, “Nggak biasanya, Nila mengabaikan panggilan Buna. Kakak Jingga juga kenapa nggak diangkat, biasanya sehari tiga kali juga video callan?”


Tidak mau dihanyutkan oleh prasangkanya, Buna memilih mengalihkan focus anak- anaknya untuk belajar dibantu dengan maid mereka.


“Nanti coba kutelpon lagi?” Gumam Buna meletakan ponselnya.


****


Di rumah Jingga.


“Taruh sini kali ya? Apa sebenarnya isinya?” gumam Rendi juga gatal dan penasaran apa isi kado teman- teman Nila.


Rendi meletakan kado Nila di atas kasur, karena takut kotor, lalu di pindah ke meja di samping kasur.


Gara- gara tadi naruhnya salah, spreinya sedikit kotor, Rendi tidak mau gadis kecilnya cemberut, dia jadi membersihkan dulu, dan endingnya jadi duduk di kasur empuk itu.


“Rapi juga kamarnya?” gumamnya melihat sekeliling.


“Hoaam…’aidzubillahiminasyaitonirrojiim, Kenapa aku mendadak jadi ngantuk gini sih?” gumam Rendi menguap.


Rendi kan sejak pagi memang bekerja keras, ngajar, rapat, lalu mengeluarkan segenap tenaganya untuk menghajar Farel, belum makan pula, dan sekarang disuruh angkat- angkat. Bahkan sekarang baru terasa, lenganya seperti ada rasa linu.


Lelah bertemu kasur, seperti haus bertemu air, Rendi menepuk kasurnya yang empuk. Dia iseng berniat meletakan badan dan kepalanya sejenak di kasur empuk itu. Niatnya hanya meluruskan, tapi tidak butuh waktu lama, bahkan posisi badanya masih melintang di kasur, kaos kaki masih di kaki, dan separuh kakinya juga menggantung, Rendi terlelap dan mulutnya melongo.


Adip sebagai Papa muda yang rajin dan murid yang baik merebus air dan mengasah keahlianya membuat kopi. Selesai membuat kopi, Adip pun bersiap menyajikan, kopi hitam untuk dia dan tamunya, susu coklat panas untuk adik iparnya.


Sayangnya sampai di ruang tamu, sepi. Adip pun memeriksa ke kamar dan Adip disambut dengkuran Rendi.


“Hhh… Pak Rendi kelelahan? Sepertinya memang terjadi sesuatu?” gumam Adip berfikir. Adip pun tidak mau mengganggunya, Adip malah berinisiatif memasukan mobil Rendi ke garasi.


Adip memilih keluar dan membiarkan tamunya istirahat, begitu sampai di depan, ART Adip jadi bangun.


“Ada tamu ya Pak?” tanya ART Adip.


“Adiknya Bu Jingga, Mbok, bukan tamu,” jawab Adip.


“Aduh, saya ketiduran, maaf, udah dibuatin minum?"


“Udah, Mbok Umi tidur aja, besok masih ada tukang kan? Wong adik sendiri kok,” jawab Adip.


“Maaf ya Pak!”


“Nggak apa- apa,” jawab Adip.


Rupanya, Rumah Adip yang dulu minimalis lantai satu, sejak satu bulan kemarin baru selesai di renov jadi lantai dua. Nah bulan ini masih rapi- rapi cat dan lain- lain, bahkan beberapa kamar banyak yang masih isi matrial belum ada kasurnya. Sebagian lagi di tempati tukang dan art Adip. Adip bawa tukang dari kampung emaknya (yang baca Jingga ingat ya)


Abis Isya, Art Adip memang dipersilahkan istirahat, sementara tukang, beberapa ada yang cari udara segar, beberapa sudah tidur di kamar belakang.


Setelah dipersilahkan istirahat, ART Adip undur diri, Adip pun naik ke lantai dua baru di rumahnya itu, menyusul istrinya. Adip yakin, Nila pasti dibukakan pintu.


****


Di atas..


Nila mengikuti petuah Adip, naik ke atas menemui Jingga, Jingga rupanya baru menidurkan Dipta.

__ADS_1


Seharian ini, Pradipta rewel, nangis tidur nangis tidur. Jingga pun meminta Nila bersih- bersih badan sebelum menemui ponakanya.


“Baju ganti Kakak di lemari kanan,” ucap Jingga bisik- bisik sembari merapihkan selimut Baby Pradipta.


Nila mengangguk, lalu mengambil baju tidur kakanya, baju orang menyusui kan banyaknya daster, Jingga jauh lebih tinggi dari Nila. Nila pun kebingungan, akhirnya Nila mengambil bekas piyama Jingga yang lumayan pendek, tapi di Nila cukup menutupi ¾ kakinya.


Di depan kamar mandi, masih di kamar Jingga tapi sedikit menjauh dari Dipta, Jingga langsung bersedekap mau menghakimi adiknya.


“Astaghfirulloh,” pekik Nila kaget begitu membuka pintu kakaknya sudah menunggu.


“Kakak mau ngomong sama kamu!” ucap Jingga mode galak ke adiknya.


Nila yang manis mengangguk, Nila tahu betul, kakaknya pasti mau marah. “Ya, Kak!” jawab Nila duduk.


“Kamu tahu sekarang jam berapa?” tanya Jingga.


Nila mengangguk, sekarang memang sudah hampir jam 9, ini semua gegara adegan BAB segala, jadi kemalaman. “Maaf, Kak!”


“Kakak nggak pernah lhoh, pulang kuliah sampai jam segini apalagi sama laki- laki!” omel Jingga lagi.


Nila semakin menunduk merasa bersalah, Jingga juga sedang membara- membaranya, Nila memilih diam.


“Kakak padahal nggak pake kerudung, kakak juga bukan santri, kamu! Lihatlah kamu!” omel Jingga sangat kesal ke Rendi jadi bawa- bawa kerudung gegara Rendi latar belakangnya anak kyai.


“Kak..,” jawab Nila akhirnya menjawab, karena perkataan Jingga sedikit menyinggungnya.


“Maaf. Kakak nggak bermaksud jelekin kerudungmu dan bandingin kamu sama Kakak. Baba itu sampai lebih percaya kamu ketimbang ke Kakak. Tapi lihatlah, kamu kuliah baru satu bulan lho, ngapain kamu, pulang malam, berduaan sama dosen bangkotan itu!” omel Jingga kembali mengatai Rendi bangkotan.


Nila sedari tadi sudah menyiapkan kuping dengan sangat sabar dimarahi kakaknya. Tapi kini dia kembali mengangkat wajahnya, entah kenapa, Nila rasa sakit, Rendi dikatai bangkotan.


“Kak, Mas Rendi punya nama, Rendi Akbar Maulana!” jawab Nila lembut membela Rendi.


“Whuat! Hoh!” pekik Jingga langsung terbengong mendengar Nila adiknya yang dulu pendiam sekarang menyela dirinya saat ngomel. “Mas? Kakak nggak salah denger? Kamu panggil dia Mas? Bahkan kamu membelanya? Kamu beneran udah rujuk lagi sama dia?” tanya Jingga membulatkan matanya speechless.


Nila kembali menunduk ditanya seperti itu, Nila takut menjawab. Nila hanya mengulum lidah dan menggigit bibirnya, entahh kenapa rasanya kesal ke Jingga.


Jingga jadi tersinggung dengan sikapnya, Jingga kemudian menepuk dadanya, dilawan adik sendiri rasanya ternyata sesakit itu.


“Hooh..,” Jingga masih menghela nafasnya sambil terus menatap adiknya yang menunduk itu. “Dikasih jampi- jampi apa kamu sama dosen Bangkotan itu sampai kamu begini?” tuduh Jingga lagi.


Ditatap dan dituduh seperti itu, Nila yang seharian ini dikejutkan banyak masalah jadi tidak tahan juga dituduh. Nila langsung mengangkat wajah menatap kakaknya lagi, tapi kini matanya memerah.


“Kak..istighfar! Kakak keji sekali menuduh Mas Rendi begitu? Kakak dengarkan Nila dulu!” ucap Nila dengan mata berkaca- kaca.


“Jingga!” bentak Adip spontan, mendengar istrinya yang kelewat emosi, sampai kelepasan memanggil nama.


Jingga dan Nila sama- samaa kaaget menoleh ke Adip.


Adip yang tak pernah marah, sekali marah sangat seram.


“Abang… Abang bentak aku?” lirih Jingga tambah sakit hatinya.


Sementara Nila langsung menunduk takut.


“Hh…,astgahfirulloh,” gumam Adip langsung beristighfar tidak ingin kelepasan emosi.


Adip pun mendekat ke Jingga dan Nila.


“Hiks…,” akhirnnya air mata Jingga jatuh duluan padahal Nila yang sudah berkaca- kaca.


Jingga merasa sakit dilawan adiknya ditambah dibentak suaminya.


“Sayang.. please, jaga overthingkingmu, kamu salah kalau menuduh adikmu sendiri begitu. Kita dengar dulu penjelasan Nila!” ucap Adip pelan menenangkan.


“Hiks… hiks…,” Jingga yang sudah terlanjur sakit jadi tambah menangis.


Nila yang tadi hampir menangis jadi air matanya ketarik lagi, kini dia malah jadi kikuk sendiri.


“Maaf, kalau aku malah bikin Kakak dan Bang Adip jadi bertengkar gini,” ucap Nila kemudian.


Adip menggelengkan kepala bijak. “Ceritakan apa yang terjadi pada kakakmu ini, kenapa kamu pulang malam bareng Pak Rendi?” tutur Adip bijak.


Jingga masih pundung diam saja.


“Iya Bang!” jawab Nila. “Kak Jingga dengerin Nila ya!” ucap Nila menatap Kakaknya lembut, walau kesal, walau sudah dituduh, tetap saaja Nila kan sayang Jingga.


Nila kemudian memulai cerita dari ditelpon Ainun, dan menanyakan kado, lalu berlanjut ke Nila janjian sama Rendi di gedung mini hospital.


Sampai di pertengahan cerita itu, isakan Jingga mulai terhenti, mungkin Jingga malu sudah suudzon.


Nila kemudian mulai menceritakan Farel, Adip dan Jingga mulai menegang dan tambah mendengarkan dengan seksama.


“Ini buktinya Kak!” ucap Nila menyibakan sedikit kerudungnya yang lecet kena pukulan Farel. “Ini udah lumayan kempEs karena tadi berobat, ini Nila juga dijahit sedikit!” ucap Nila menunjukan lenganya yang terluka.


“Gleg!” Jingga langsung tercekat.

__ADS_1


“Hmm… tah, Mommy Dipta cantik dengar adikmu ini? Jangan overthingking!” Sahut Adip langsung menunjukan kesalahan Jingga.


“Nila takut pulang ke rumah, Kak. Nila sayang Oma. Oma baru sehat, Baba sama Buna pasti khawatir dan marah dengar ini!” lanjut Nila lagi.


“Nggak apa- apa, Alhamdulillah, yang penting kamu selamat,” jawab Adip bijak.


“Terus kenapa kamu harus mesra- mesra gitu sama Pak Rendi?” tanya Jingga akhirnya buka suara.


“Mesra?” pekik Nila kaget dan tersipu, kenapa Jingga mengatainya mesra? Memang kapan Jingga lihat.


“Ehm..,” sementara Adip jadi kesal dan cemburu, khawatirnya Jingga malah terkesan cemburu ke Rendi.


“Maksud Kakak, kamu bisa kan minta jemput Bang Adip, jadi Bang Adip bantuin kamu!” jawab Jingga lagi.


“Nila pikir, bersama Mas Rendi sudah cukup Kak,” jawab Nila lagi membela Rendi lagi.


Jingga semakin membelalakan matanya.


“Mas lagi? Kamu beneran udah rujuk sama dia?” tanya Jingga kembali mendesak.


Nila hanya menggigit bibirnya dan melirik ke Adip.


“Mommy Dipta!” tegur Adip kini lebih pelan, “Istighfar!”


“Mas! Ini urusan Jingga dan Nila! Ijinin Jingga tanya dan Nila jawab!" jawab Jingga tidak terima kalau dilerai, Jingga kan ingin mencegah Nila rujuk. Jadi dia sangat khawatir dan penasaran.


“Maaf? Apa salah, kalau Nila rujuk sama Mas Rendi?” celetuk Nila kemudian.


Jingga semakin terbengong kata- kata itu sungguh keluar dari mulut Nila. “Nila!” lirih Jingga tidak menyangka dan syok.


Sementara Adip hanya tersenyum dan mengehela nafasnya. Adip sudah mengira saat melihat Nila duduk di depan sejajar dengan Rendi, lalu Rendi membukakan seatbelt Nila. Juga mereka berdua akur membawa kado sambil saling berbisik.


“Maaf!” lirih Nila lagi menunduk.


“Ini mustahil, nggak masuk akal, kamu nggak lagi ngarang cerita kan? Kamu bilang nggak pernah ketemu! Lalu ketemu sehari dan kalian rujuk? Kamu sadar kan Nila!” tanya Jingga lagi sedikit keras.


“Sayang, istighfar, Dipta bisa bangun! Nggak usah emosi gitu!” lerai Adip lagi.


“Bang… ini ada yang nggak beres, kamu kan ingat Nila, dia udah nyakitin kamu, nyakitin Oma dan keluarga kita!” tuduh Jingga lagi.


Nila masih menunduk rasanya pusing sekali dimarahi Jingga, dan Nila pun tidak bisa kalau terus dimarahi.


“Mas Rendi udah minta maaf dan jelasin, alasan kenapa dia mengaku masih sendiri ke teman- temanya, Mas Rendi tidak berniat menceraikan aku, dia juga tidak pernah menjatuhkan talak. Dia hanya ingin melindungi nama baik keluarga kita. Pernikahan siri, apalagi saat itu Nila baru lulus smp, kan dilarang pemerintah Kak, dia menyembunyikan demi kebaikan, bukan menceraikan," jawab Nila membela Rendi lagi.


Jingga langsung berdecih, Adip masih menyimak.


“Ck… itu hanya akal- akalanya saja merayumu. Tetap saja dia sudah merendahkanmu, dengan mengatakan dia lajang! Kamu dijampi- jampi yah?”


“Sayang, talak kinayah jatuhnya talak satu! Talak satu itu punya kesempatan rujuk asal Nila memaafkan Rendi, bahkan tanpa tebusan saksi! Itu hak mereka!” jawab Adip membela Nila.


“Tapi kan mereka berdua belum berhubungan kan?” jawab Jingga lagi masih mendebat. “Bahkan si Rendi itu tidak menafkahi Nila 3 tahun, 3 tahun Bang!” tegas Jingga.


“Mas Rendi kan memang saat itu sedang S3 dan selesein disertasinya, Kak! Kata Mas Rendi, kita masih suami istri,” jawab Nila masih terus membela, Nila merekam dengan baik penjelasan Rendi, walau di depan Rendi Nila jaim, tapi Nila senang menerima penjelasan Rendi.


“Kok kamu belain dia terus? Kamu sendiri kan yang cerita dia tidak pernah menemui?”


“Itu memang permintaan Baba, waktu mereka akad! Pak Rendi hanya memenuhi janjinya,” celetuk Adip membela lagi.


“Bang…”


“Sudah!” jawab Adip meminta Jingga meredam emosi, "Sudah ya, hak mereka, untuk rujuk! Yang penting Nila aman, biarkan dia istirahat dan kita istirahat!” ucap Adip menenangkan dengan suara sedikit tegas.


Jingga sebenarnya masih ingin membantah, sayangnya, Dipta yang mendengar berissik kembali bangun dan langsung mengeluarkan suara nyaringnya.


Adip langsung menoleh. “Lihat, anak kita bangun kan?” bisik Adip.


“Hmm…,” Jingga hanya berdehem dan meninggalkan Adip dan Nila langsung sigap menggendong Dipta.


Nila menelan ludahnya jadi tidak enak sendiri.


“Istirahatlah, kamu mau minta tolong Bang Adip ketemu Baba kan?” ucap Adip ke Nila.


Nila mengangguk, “Iya!”


“Bahas besok, ini sudah malam,istirahat sana!” ucap Adip secara halus mengusir Nila dari kamarnya.


Nila mengangguk tidak nyaman juga di kamar orang yang sudah menikah. “Mas Rendi udah pulang?” tanya Nila kemudian.


Adip sedikit tersenyum.


“Pulang belum yah? Coba cek sendiri!” jawab Adip datar dan singkat.


Nila yang mendengar Dipta menangis keras pun sadar diri segera turun.


“Huh! Mas Rendi!” pekik Nila kaget sampai berjingkat mendapati Rendi melongo, ngorok dan terlentang melintang di atas kasur.

__ADS_1


__ADS_2