Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Apa dia mati?


__ADS_3

Flashback.


Setelah selesai mengajar, Rendi pun ke ruang kerjanya. Tidak peduli bagaimana pandangan teman sekitarnya Rendi berdendang. Wajah Rendi berseri- seri setelah keluar dari kelas Nila, Rendi juga senyum- senyum sendiri. Dia pun memandangi jam tidak sabar menanti waktu sore.


Barang – barang titipan Ainun teman Nila, memang masih di bagasi mobil yang terparkir di belakang gedung minihospital. Hari ini juga ada jadwal praktikum di lab, itu sebannya Rendi meminta Nila ke situ.


Rendi kemudian melihat jadwal ngajarnya, jam berapa. Sayangnya belum jadi Rendi ambil jadwalnya, telpon kantornya berdering. Tangan kekar Rendi pun memilih menyambar telepon inventaris kampus itu.


“Selamat Siang, dengan dokter Rendi, gimana?” tanya Dokter Rendi.


“Siang Dok, mohon maaf Dok. Mau memberitahukan. Hari ini ada acara pertemuan dengan tamu dari luar, kebetulan Prof Alwi sedang tidak di tempat


Beliau mendelegasikan, agar Dokter Rendi yang menghadiri acara tersebut,” jawab staff admin.


“Jam berapa? Jam 16 saya ada acara penting Mbak, saya juga ada jadwal praktikum, emang nggak ada dosen lain yang mewakili?” jawab Rendi mengutamakan agendanya bertemu dengan Nila agar tidak ada gangguan.


“Jam 16 insya Alloh sudah selesai, pertemuan kemungkinan selesai jam 1 siang, paling molor jam 2 siang, Dok! Untuk jadwal Praktikum bisa saya bantu kondisikan!” jawab staff admin.


“Oke, kapan dan dimana?” tanya Rendi.


“Sekarang, biasa Dok di kantor Dekan!” jawab Admin.


“Sekarang?” tanya Rendi kaget.


“15 menit lagi, tamu akan datang,” jawab admin lagi.


“Tamu? Waduh agendanya apa Mbak?” tanya Rendi kaget, disuruh menemui Tamu dari luar kampus tapi tidak tahu apa masalahnya.


"Masalah beasiswa Dok. Dari yayasan Srikandi Angkasa. Mereka menawarkan program beasiswa untuk mahasiswa kita," tutur Admin.


"Oh Oke!" jawab Rendi suaranya merendah.


Rendi langsung menutup teleponya


"Srikandi Angkasa?" gumam Rendi berfikir. "Itu kan yayasan keluarga Valen?" Rendi langsung menelan ludahnya menngingat nama itu.


Dulu saat Rendi masih kuliah ambil Magister, saat Vallen berteman dekat dengan Rendi, orang tua Vallen juga mengenal Rendi dengan baik. Ayah Vallen juga menyayangi Rendi.


Rendi mendadak teringat masalalunya. Orang tua Vallen memang sebanding dengan Baba Ardi, pengusaha besar di negaranya.


"Hh...," Rendi menghela nafasnya, tidak dipungkiri, bertemu dengan orang yang pernah mempunyai kedekatan lalu pisah bertahun- tahun timbul kecanggungan sendiri. Rendi kira ini orang tua Vallen.


Sejenak kemudian, rasional Rendi aktif lagi, semua harus profesional, tidak masalah pernah luka, pekerjaan tetap jalan. Rendi pun mengambil I-Pad nya dan bergegas ke tempat pertemuan.


Rendi berfikir semakin cepat pertemuanya, semakin baik dan dia bisa menemui Nila tanpa membuat Nila menunggu. Rendi ingin cepat bertatap muka empat mata dengan Nila, agar mereka bisa berbicara dari hati ke hati mengenai hubungan mereka sebelum masa iddah habis.


Sesampainya di ruang rapat, staff kampus juga bendahara sudah datang. Rendi sebagai ketua kesiswaaan dan wakil dari Dekan langsung dipersilahkan duduk di kursi kebesaran. Tidak lama dari luar terdengar beberapa staff mengiringi tamunya.


"Ehm..." Rendi pun menetralkan diri bersiap agar tidak canggung berhadapan dengan orang yang Rendi tebak orang tua Vallen.


"Silahkan masuk Bu...," tutur staff kampus di depan pintu.


Rendi dan beberapa pejabat di fakultas berdiri tanda menghormati tamu.


"Gleg!" begitu berdiri Rendi menelan ludahnya dan matanya terbelalak. "Vallen," gumam Rendi kaget. Tamunya itu Vallen. Vallen memang pernah ke kampusnya itu.


Sementara Vallen tampak tersenyum ke Rendi.


Rendi pun bersikap prosfesional menyambut Vallen sebagai tamu.


Rendi juga berusaha memperlakukan Vallen baik, sebagai eorang dan pengusaha dan penggiat sosial yang punya tujuan mulia membantu siswa yang kurang mampu agar bisa kuliah.


Vallen sebagai perempuan berkelas juga sama bersikap profesional, meski tetap saja dia menunjukan keakraban dan keramahan.


Rapat pun berjalan lancar. Intinya yayasan Vallen ingin merekrut calon dokter berkualitas dari universitas tempat Rendi bekerja.


Keluarga Vallen juga berencana mendirikan rumah sakit. Dan Rendi sebagai dosen sekaligus pejabat di lingkungan kampus dimintai tolong, memberikan ijin juga turut mendukung seleksi itu.


Karena dihadiri semua pekerja profesional, waktu bekerja pun efektif, padahal sudah dijeda isoma, pukul 13.30 meeting sudah selesai.


Rendi pun senang, setelah tamu mereka meninggalkan ruangan, Rendi berniat bersiap menunggu Nila. Pokoknya Rendi tidak mau menyiakan kesempatan, harus ngobrol lama dan jangan buat Nila marah.


Sayangnya saat berada di lorong antar gedung pertemuan dan gedung rapat langkah Rendi terhenti. Perempuan cantik yang tadi mengenakan jas, roknya span rapih dan rambutnya diikat, kini jas blezernya menggantung di tangan, rambutnya tergerai, dan hanya tinggal memakai kaos juga rok span, cantik.


Prempuan itu pun tersenyum melihat Rendi datang.


"Bu Vallen? Belum pulang?" tanya Rendi celingak celinguk.


"Hm...kita bukan di acara rapat lagi. Nggak usah panggil Bu kali!" jawab Vallen tersenyum


"Ehm..iya!" jawab Rendi menggaruk pelipisnya canggung.


"Aku bete nih. Pumpung di sini, boleh dong ngopi di ruang kamu sambil aku liat data siswamu?" tanya Vallen lagi.


"Aduh kalau data siswa tanya bagian admin aja. Aku nggak hafal!" jawab Rendi menolak.


"Tapi kan kamu dosen, ya sedikit banyak tahu. aku pengen liat daftr nilaimu, biar aku juga tahu siapa aja yang pintar!" ucap Vallen tetap ngotot


"Tapi jam 16 aku harus pergi dan ada janji penting. Lain kali aja ya!" ucap Rendi tetap menolak.


Sayangnya Vallen malah tersenyum dan melihat jamnya


"Sekarang baru jam 14, aku nggak lama kok!" jawab Vallen ngotot. Rendi tidak tahu bahkan Vallen sudah menyentuh rumahnya.

__ADS_1


Sekarang sebagai teman, Rendi tidak punya alasan lagi, Rendi acc, tapi Rendi ajak Vallen mengobrol di kantin sembari membuka laptop Rendi.


Flashback off.


****


"Si it!!" keluh pria yang berteriak ke Nila tapi Nila tetap berjalan tanpa menoleh.


Nila sangat gugup dan gemetaran melihat hal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya, mungkin karena gemetaran dan hatinya sejak pagi sudah di obrak abrik oleh Rendi, langkah Nila yang harusnya cepat jadi terasa berat.


"Tunggu!" teriak pria itu ternyata mengejar Nila dan menarik jilbab Nila.


"Hh..," Nila pun semakin kaget dan gemetar.


"Mau kemana kamu!" tanya orang itu sedikit menggertak.


"Ma_ af. Aku mau pulang!" jawab Nila sedikit takut. Pria yang menggertaknya itu sangat seram, tinggi bertato.


"Prok- prok!" tiba- tiba terdengar teman Pria itu mendekat dan bertepuk tangan


"Eh... mau kamu apa sih?" tanya teman pria seram itu yang tak lain adalah Farel


"Apa maksudmu?" tanya Nila ke Farel


"Kamu ngikutin aku? Kamu mau laporin aku? Hah. Kamu lagi mata- matain aku?" bentak Farel lagi dengan tatapan seramnya


Nila melihat Farel bersama teman yang tidak Nila kenal ini seperti sedang menghisap sesuatu, ada beberapa obat- obatan dan minuman juga di sampingnya, lalu dimasukan ke tas dengan segera oleh Farel.


"Eng_ enggak," jawan Nila tergugup. Nila syok.. di lingkungan kampus yang berkualitas nomor satu ada aktivitas terlarang yang tidak di ketahui siapapun.


"Rese banget si lo urusin hidup gue!" ucap Farel lagi.


"Aku nggak urusin hidup kamu kok. Sungguh!" jawab Nila lagi.


Farel malah tersenyum mengejek. Nila kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, sangat sepi, dan di lorong itu cctvnya tidak menghadap ke arah Nila.


"Tapi kamu selalu, nongol di depanku? Kamu pasti mata- matain aku kan?" tanya Farel tiba- tiba tanganya terulur meraih dagu Nila dan membentak.


Tentu saja Nila sangat kaget dan jantungnya seperti digempur. Tangan Nila reflek menangkis tangan Farel, tapi Farel tampak semakin mencengkeram


"Aku nggak mata- matain kamu!" jawab Nila


"Dia siapa Bos?" tanya teman Farel yang seram.


"Teman baikku, teman sekelasku iya kan?" jawab Farel sangat seram.


Nila pun semakin gelagapan, reflek kaki Nila mundur ingin lari dari pria gila yang dia hadapi itu.


Sayangnya belum sempat Nila lari, tangan Nila yang kecil langsung diraih Farel.


Nila semakin ketakutan dan tanganya memberontak. "Lepas... aku mau pulang!" jawab Nila sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Farel.


Sayangnya Farel juga semakin kencang


"Dia tahu kartu kamu Bos, dia bahaya untuk kita!" ucap teman Farel.


"Kita harus bungkam mulutnya!" jawan Farel.


Nila semakin ketakutan, dan terus berusaha melawan.


"Kita eksekusi?" tanya teman Farel entah apa artinya


Mendengar itu Nila semakin takut, dan reflek Nila menggigit tangan Farel.


"Ak!" keluh Farel tangan Nila terlepas.


Nila pun berancang mau lari. Sayangnya saat Nila lari, Nila malah terpeleset jatuh. Teman Farel pun berhasil mengejarnya, dan menangkap Nila lagi.


Nafas Nila pun terengah- engah dengan jantung yang terus berdegub kencang.


"Toloong...," teriak Nila sudah hampir menangis. Nila sangat takut, Nila syok ternyata benar dugaanya Farel tidak beres. Nila takut, Farel bisa melakukan apapun termasuk membunuhnya.


"Plak!" sayangnya saat Nila teriak Nila langsung ditampar dengan tangan kasar dan besar teman Farel sampai Nila yang kecil berdarah.


Dengan tangan lemah dan gemetar karena takut, Nila pun menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit. Saat itu juga, Farel kembali mencekalnya.


"Sekali lagi kamu teriak. Aku bisa menghabisimu!" ucap Farel.


Nila semakin takut dan menggelengkan kepalanya.


"Oke. Aku akan diam, tapi ijinkan aku pergi!" ucap Nila lagi.


Bukannya diijinkan pergi tangan Nila diraih lagi.


"Lepas!" jawab Nila


"Nurut nggak!"


"Lepas...tolong...," teriak Nila lagi tidak patuh.


Farel pun semakin geram dan menyeret tangan Nila kasar. Sebenarnya Nila juga kesakitan, tapi Nila tetap melawan, dan teriak minta tolong.


"Siapkan cepat! Ambil barangnya. Rewel banget dia!" ucap Farel memerintah temanya.

__ADS_1


Entah apa yang dimaksud siap. Teman Farel tampak mengangguk dan berjalan meninggalkan mereka, ternyata di belakang mini hospital itu ada pintu keluar yang tersembunyi dan mereka memarkir motor di belakang pagar itu.


"Lepas!" teriak Nila terus melawan.


"Plak!" Farel memukul Nila lagi.


Tidak terima dipukul kali ini Nila melawan dengan cara lain, karena meski tidak hebat Nila diajari beladiri.


"Mau sok jagoan kamu?" tanya Farel tidak menyangka.


"Aku sama sekali tidak mau meganggumu. Ini kampus. Kamu tidak seharusnya mengotori tempat ini!" ucap Nila.


"Berisik ya kamu!" omel Farel hendak memukul Nila lagi.


Walau bertubuh kecil, nyali Nila pun keluar, hingga mereka malah terlibat adu pukul. Sayangnya Nila kalah tenaga. Dan endingnya, Nila lalah, Farel berhasil mendorong Nila agar terpojok ke tembok, lalu mengungkunganya.


Nila yang kalah pun menangis ketakutan. Farel lalu menatapnya bengis.


"Kamu mengusikku? Kamu juga melawanku? Kamu pikir kamu jago? Hah!" bentak Farel menatap Nila sangat dekat.


"Hiks...hiks...," Nila yang sudah sangat takut dan lelah hanya menangis. Entahlah bagaimana cara menghadapi orang yang dengan pengaruh obat.


"Ya Alloh, tolong aku!" lirih Nila memejamkan matanya.


"Bug!" tiba- tiba, kemeja Farel ditarik dari belakang dan dipukul dengan sangat keras. Hingga Farel langsung terhuyung.


Nila langsung membulatkan matanya, jantungnya hampir copot, oleng dan hanya bisa terbengong.


"Buggg...!!" sekali lagi pria itu memukul Farel lebih keras hingga Farel yang tadi baru terhuyung sempoyongan, kini tidak mampu menangkis dan sekarang roboh jatuh. Belum puas, pria itu menendang perut Farel, hingga Farel mengaduh lemah dan kesakitan.


"Hugh.. hugh...," Nila pun masih syok sesenggukan dan gemetaran melihat semua itu.


Pria itu lalu menoleh ke Nila dengan wajahnya yang merah padam bahkan matanya menyala hampir menangis. Pria itu tak lain Rendi, Rendi sangat khawatir dan marah, selain marah karena kecolongan sebagai dosen, juga marah, ada yang berani menyentuh istri mungilnya.


"Kamu baik- baik saja?" tanya Rendi gemetaran juga, Rendi langsung meraih kedua bahu Nila memeriksa Nila dengan seksama.


Nila tidak menjawab, tapi wajahnya sudah sangat kacau dan berderai air mata, seketika itu, secara spontan Nila langsung memeluk Rendi erat.


"Hiks.. hiks..., aku takut!" lirih Nila menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendi.


"Gleg!"


Seketika itu, Rendi terdiam, hatinya yang tadi bergemuruh dengan api yang berkobar dan membara, sekarang padam, seperti ada hujan yang mengguyurnya. Pelukan Nila yang spontan mencari perlindunganya memberikan energi yang berbeda. Hingga Rendi sendiri tidak bisa berkata- kata.


"Puk...puk...," dengan pelan tangan Rendi pun terulur mengelus pundak Nila, menyatakan bahwa dia siap melindungi Nila meski tanpa kata. Sebenarnya Rendi ingin mengungkapkan banyak kata panik dan khawatirnya, juga menenangkan Nila, tapi Rendi tidak ingin merusak moment mereka. Rendi pun membiarkan Nila tenang di pelukanya dan menikmati waktu berharganya mereka.


Hingga waktu berlalu, pelukan Nila yang tadinya hangat berubah membuat dirinya sedikit sesak, sehingga tubuh Rendi spontan menunjukan kesesakanya


"Huft...," Rendi menghembuskan nafasnya pelan.


"Gleg!" ketakutan Nila yang mulai mereda membuatnya sadar. Nila juga merasa gelagat tubuh Rendi, dia pun melepas pelukanya cepat "Ehm..," dehem Nila menunduk.


"Nggak apa- apa. Peluk lagi aja!" ucap Rendi pelan jadi tersenyum dan keluar sifat nakalnya.


"Ma_af," ucap Nila tersipu malu.


"Are you Oke?" tanya Rendi pelan.


Nila yang matanya sembab mengangguk, tapi terus menunduk. Nila malu karena tanpa sadar Nila memeluk Rendi erat, menyatakan betapa Nila butuh dia.


Malu menghadapi dan mengakui itu, Rendi tidak menanggapi Rendi, melainkan fokus ke arah lain. Rendi pun menatap Nila dengan penuh cinta. Sayangnya mata Nila beralih ke arah lain. Seiring emosinya yang reda,4 reda juga otak Nila.


"Apa dia mati?" tanya Nila ingat ada Farel di antara mereka. Nila pun menoleh Farel yang terkapar untuk mengalihkan malunya


Rendi pun ikut menoleh.


*****


"Kaak... maap yaa. mungkin aku nggak dewasa tanya ini.


Tapi serius deh pengen tanya. Khususnya buat yang kasih aku ulasan bintang satu!"


Kakak yang kecewa dengan tulisanku, kakak rugi dalam hal apa sih sampai kasih bintang 1?


Kakak baca ini gratis, nggak berkoin kan? Nggak mikir, nggak ngerangkai alur dan kata..kaan? Nggak mantengin laptop dan hp buat nyusun kata kan?


"Kaak. khusus yang kasih aku bintang 1.


Oke.. aku terima kalau dibilang karyaku nggak bagus. Emang aku sadari segala kelemahanku.


Saya persilahkan tinggalkan, nggak usah dibaca, udah.


Atau koment emosi terbawa suasana, boleh. Kritik membangun dan saran juga aku terima. Atau mau diskusi boleh, bisa Japri aku di instagramku " @ririnrohmanningsih (coretanrandom),


Tapi jangan kasih bintang 1 atau ulasan kecewa. Apalagi kalau belum selesai baca.


Itu ngaruh label karyaku, padahal kan penilain pembaca beda. Kasian kan yang tadinya mau mampir baca jadi nggak jadi?


Tidak semua author itu gajian rutin. Kita berjuang juga usaha.


Aku aja sering pengen nyerah nulis.


Kalau masih mau baca, ya ayo saling dukung. Kita happy dan cari hiburan bareng.

__ADS_1


Aku sayang lho sama kalian...


__ADS_2