
“Waalaikumsalam,” jawab Nila sedikit terkaget dan menoleh.
Seulas senyum hangat dan tulus tertangkap netra Nila, seorang gadis seusianya, tampak sederhana, dengan rambut diikat lurus ke belakang dengan berpakaian senada berdiri.
“Aku boleh duduk di sini?” tanya gadis itu.
Tentu saja Nila langsung mengangguk mempersilahkan.
“Ya silahkan!” jawab Nila.
Gadis itu pun tersenyum senang lalu mengulurkan tanganya meminta salam perkenalan.
“Kenalkan namaku Dita!” ucap gadis itu.
Nila mengangguk dan menyambut uluran tangan itu. “Nila” jawab Nila.
Saat Nila mengucapkan namanya, gadis itu langsung melotot kegirangan
“Nila Putri Gunawijaya?” seru gadis itu spontan.
Nila pun menyeringai dan meminta teman barunya itu jangan keras- keras.
“He… iya!”
“Waah… yang kemarin nilai ujianya, 100 persen bener semua?” tanya Dita senang.
“He… hanya kebetulan aja pas aku belajar tentang itu!” jawab Nila merendah.
“Waah,,, aku senang sekali bisa bertemu dan berteman denganmu, mulai sekarang kita temenan ya!” ucap Dita lagi.
Nila pun mengangguk meski agak merasa canggung dan aneh, orang lain ingin berteman denganya, hanya karena Nilai Nila bagus. Padahal kan namanya manusia, mendapat nilai bagus tidak selalu menandakan dia benar- benar menguasai. Kadang memang karena kebetulan Alloh yang memberi rizki, apa yang dipelajari sesuai dengan yang diujikan. Nila merasa masih sangat kurang, apalagi selama ini kan Nila banyaknya belajar ilmu tentang agama.
__ADS_1
“Tapi aku tidak sepandai yang kamu kira, kok!” tutur Nila kemudian.
“Di dunia ini nggak ada orang yang benar- benar pintar mengaku pintar, orang yang ngaku- ngaku pintar biasanya malah nggak pintar!” jawab Dita tetap mengira Nila genius.
“Oh gitu ya? Terserah kamu lah, yang penting, jangan terlalu berharap aku sesuai ekspektasimu ya!” tutur Nila lagi.
Dita kemudian tersenyum lebar.
“Apa kamu mengira aku berteman denganmu hanya karena ituu? Tidak kok, maksudku aku senang aja kalau ketemu teman yang serius belajarnya. Kenalkan aku Dita, aku dari daerah, aku masuk sini juga karena keberuntungan dapat beasiswa, makanya aku senang pas ketemu kamu, jadi aku punya teman belajar nanti!” tutur Dita menjelaskan.
“Oh… masyaa Alloh,” jawab Nila langsung merasa bersalah sudah suudzon dan kini mengerti. “Ternyata kamu jauh lebih hebat dari pada aku,” tutur Nila tersenyum balik memuji.
“Ah.. kamu! Hebatan kamu. aku beruntung aja!” jawab Dita.
"Sama," jawab Nila.
Sepertinya mereka berdua satu tipe, begitu Dita menjelaskan siapa dirinya, Nila juga merasa langsung terharu dan senang. Apalagi sejak awal Dita begitu sopan dan riang. Mereka pun saling tersenyum, keduanya sama- sama seperti mendapatkan pasangan.
Ya benar- benar cantik, rambutnya tertata rapid an bisa ditebak itu rutin dibawa ke salon, hitam legam lurus sebahu dan warnanya mengkilap. Tubuhnya juga tinggi semampai, tidak kerempeng, tidak gemuk juga setiap bagian tubuhnya berisi sesuai porsinya tidak kurang dan tidak lebih.
Dita langsung menoleh dan menatap seksama, tapi Nila hanya menoleh sekilas, Nila tidak heran dengan perempuan cantik, kakaknya Jingga juga dulu sangat cantik. Menurut Nila malah cantikan Kak Jingga dulu, sayangnya sekarang kakaknya itu sedang mengASIhi Baby Pradipta dan kecantikanya sudah ditutupi.
“Siapa mereka?” bisik Dita.
“Ajak kenalanlah!” jawab Nila enteng.
“Cantik banget,”
“Kamu juga cantik kok, Dit!” tutur Nila ramah.
Sayangnya Dita tak menggubris kata Nila, Dita focus ke tiga temanya yang cantik itu, dia berjalan anggun, lalu duduk melewati bangku tempat Dita dan Nila duduk, saat mereka lewat, aroma wangi langsung tercium di indera Dita dan membuat Dita terheran- heran.
__ADS_1
“Benar ya kata orang, orang yang bisa masuk ke fakultas kedokteran, kalau bukan beruntung dapat beasiswa kaya aku, pasti orang kaya” ucap Dita lagi berbisik ke Nila.
Nila yang sedari tadi cuek dan memilih diam tersenyum. “Udah sih, ini hari pertama kita kuliah, nggak usah mikir yang aneh- aneh. Perbaiki niat kita, kita di sini mau nimba ilmu yang bermanfaat untuk hidup kita kelak, udah focus!” ucap Nila lembut.
Dita pun mengangguk tersenyum setuju. “Iya- iya, ya kan nggak apa- apa kan hari pertama kita perhatikan calon teman- teman kita?” bisik Dita lagi, walau baru sekejap mereka berdua langsung akrab.
Sepertinya Dita anak yang comel dan sangat lugu, Nila sebenarnya juga lugu, akan tetapi Nila terlahir dari orang kaya dan terbiasa terdidik untuk bersikap tenang, mengamati dalam diam.
“Nanti kan aka nada waktunya kita berkenalan, kita di sini kan juga akan belajar bersama bertahun- tahun, sudah jalani saja, bismillah,” jawab Nila lagi.
Dita pun tersenyum mendengarnya, “Selain pintar kamu baik banget ya,” puji Dita lagi.
“Terlalu banyak memuji orang itu tidak baik,” tegur Nila lagi.
“Ish… yaya! Tapi aku beneran kok, aku yakin kamu baik,” jawab Dita lagi.
Nila hanya tersenyum , saat Nila hendak menjawab, kakak tingkat mereka tampak datang, Nila pun meminta Dita untuk diam.
Benar saja. Begitu segerombolan kakak tingkat mereka masuk mereka meminta diam. Hanan yang sudah lebih dulu datang dan duduk di pojok depan sesekali melirik ke Nila, karena Hanan tahu Nila tidak begitu nyaman jika terus didekati dan akan selalu jaga jarak, Hanan pun memilih duduk dengan teman barunya yang sesama laki- laki.
Saat Hanan melirik ke Nila, justru Dita yang menangkap dan melihat, meski begitu, Dita pun tak berkomentar dan hanya berfikir sendiri di dalam hati.
Kakak tingkat mereka yang merupaka pengurus Bem pun mulai mengucap salam dan memaparkan kegiatan mereka untuk orientasi kampus, tidak lama hanya beberapa hari.
“Thok…thok…”
Tiba- tiba di tengah perjalanan saat kakak tingkat mereka berbicara ada yang menyita perhatian. Farel tampak mengetuk pintu dan terlambat, semua pun menoleh ke Farel.
“Bukanya dia sudah tiba sejak tadi?” gumam Nila, mereka kan bertemu di parkiran.
“Berani sekali dia terlambat,” gumam Dita.
__ADS_1