
"Empth....," Rendi melenguh, ketika kakinya digerakan istrinya.
"Bangun!" ucap Nila masih dengan mengkerucutkan bibirnya.
Ya, walau Nila yang ngambek dan yang kasih hukuman mengunci pintu kamar. Namun endingnya, Nila sendiri yang kesepian dan tidak bisa tidur nyenyak.
Jika sebelumnya, mereka kesiangan dan sholat subuh hampir mepet, sebelum subuh Nila sudah terbangun. Meski begitu, masih ada hikmahnya, Nila jadi mandi lebih pagi, lalu masih sempat sholat sunnah. Dan mau tidak mau dia yang turun mencari suaminya.
"Hoam...," Bukanya langsung bangun Rendi malah menguap, dan hanya pindah posisi, yang tadinya terlentang mendengkur melongo jadi miring dan memeluk bantal sofa.
"Maasss... bangun!" ucap Nila lagi menggoyangkan paha Rendi.
"Em.. mpt..," Rendi masih malas dan semakin mengeratkan pelukanya ke bantal sofa.
Mau tidak mau Nila yang tadinya membangunkan dengan berdiri sedikit jongkok, akhirnya duduk ke sofa dan kemudian menepuk pipi Rendi juga memencet hidungnya.
"Eugh...," Akhirnya Rendi pun terbangun dan membuka matanya.
"Bangun Mas!"
"Ehm...," Rendi masih berdehem, mengucek matanya dan mengumpulkan nyawa agar benar- benar sadar.
Aroma sampo pun mulai ia sadari sampai ke indera penciumanha, wajah manis dan imut istrinya pun memenuhi tangkapan matanya, dia tambak cemberut kesal tapi duduk menyentuh perutnya.
Rendi kemudian tersenyum saat sadar, walau marah tetap saja Nila mencarinya.
"Bangun, ih!" ucap Nila lagi.
"Jam berapa sekarang?" tanya Rendi.
"Bentar lagi subuh. Mas belum mandi kan? Buru bangun mandi. Mas hadas besar lho!" ucap Nila memperingatkan.
Seketika itu Rendi pun tersenyum. Walau masih berbaring Rendi kemudian menyedekapkan tanyanya ke dada.
"Masih mau bangunin Mas? Udah sembuh marahnya?" ledek Rendi merasa menang, walau marah istrinya masih mau nempel- nempel ke dia.
"Ish... apaan sih. Nila kan cuma bangunin. Tetep aja Nila masih marah!" jawab Nila gengsi. Kesal sekali kalau terlihat Nila yang gampangan memberi maaf.
Rendi tambah tersenyum melihat istrinya manyun- manyun tersipu begitu.
"Nggak usah senyum- senyum. Pokoknya harus ulangi dan sebutin mau Nila. Satu lagi. Nila bangunin bukan udah maafin. Tidur Mas itu ngorok. Berisik!" jawab Nila mencari Alasan
"Huuft!" Rendi pun mencebik sedikit sembari mengangguk, seperti apapun kata Nila dia paham istrinya itu gengsi.
"Udah ah!" jawab Nila lagi, masih mau unjuk marah, bangun dari duduknya berniat pergi.
Rendi pun segera meraih tangan Nila agar duduk lagi.
"Apa sih? Nila mau masak!" ucap Nila.
Bertumpu pada tangan Nila Rendi kemudian bangun dari tiduranya dan duduk.
"Sini duduk dulu!" ucap Rendi kemudian
Walau dengan mencebik dan mulut mencucu, Nila duduk.
"Setia itu nggak usah dijelasin dan dijanjiin Dhek. Mas kalau mau selingkuh, mas nggak bakalan cerita ke kamu. Mas kalau mau selingkuh dari dulu Mas punya banyak pacar dan nggak nikah sama kamu. Mahasiswa Mas banyak. Temen Mas juga banyak. Mbok kamu percaya sama Mas." tutur Rendi menenangkan istrinya uang sedang merajuk.
Nila menelan ludahnya, sebenarnya hatinya sedikit mengembang tapi tetap saja hati Nila masih dongkol.
"Tapi tetep aja Mas. Dia itu ada rasa sama Mas. Bahkan dia itu depresi dan rela mau bunuh diri sama Mas. Mas nggak boleh baik- baik sama dia. Nanti dia berharap. Apalagi mas suap- suapin dia. Berkhalwat sama dia. dosa tahu Mas!" jawab Nila lagi.
"Ya. Mas akui salah. Malam kemarin Axel dan Firman ajak Mas. Nggak bilang siapa yang sakit. Di sana bapaknya Vallen. Pas malam juga Vallen belum sadar. Makanya mas dijemput lagi paginya. Nah kemarin Mas juga cuma kasih dia pengertian aja. Sungguh. Mas suapin bentar banget. Itu juga di rumah sakit, Bapaknya dan temen- temen Mas ada di sana. Sedikitpun Mas nggak ada sentuh dia. Dia juga yang minta! Mas minta maaf!" tutur Rendi menggebu.
"Pokoknya nggak boleh baik- baik sama perempuan, selain aku. Mas harus cuek dan jutek! Titik!" ucap Nila lagi ternyata diam- diam Nila bakat posesifnya kental.
Rendi pun mengangguk, sembari menelan ludahnya sebelumnya tidak pernah menyangka, bocah kecil yang dulu di matanya begitu ingusan, pendiam dan dia kira mudah dibodohi ternyata sekarang galak.
__ADS_1
"Ya!" jawab Rendi singkat.
"Beneran!"
"Ya. Bener astaghfirullah! Adhe aja yang diulang terus. Sampai bosen mas jawabnya."
"Ya. Abisan Mas liya iya aja. Tapi ternyata lupa semua." jawab Nila menggerutu.
"Mas ingat Dhek. Ingat. Tapi kan sekarang bukan kuliah. Masa suruh bikin simpulan segala. Ini kan juga bukan ujian dan kuliah yang harus mengulang penjelasan juga. Paham Mas paham maksud kamu. Lagian Yang dosen kan Mas bukan kamu!" balas Rendi menawar agar Nila tidak rewel.
"Ya kan ini di rumah. Beda cerita! Ini tuh lebih penting Mas." jawab Nila masih kekeh menurut Nila permintaan Nila itu pokok dan wajib diikuti.
"Udah. Sst!" sahut Rendi cepat dan saking gemasnya, langsung meletakan telunjuk jarinya ke mulut Nila.
"Ini masih subuh, Dhek. Itu udah adzan. Berantem itu nggak baik. Suami istri kalau berantem nanti malaikat yang mau datang kasih pahala jadi balik lagi. Dengerin Mas ya!" ucap Rendi berniat menyudahi perdebatan mereka.
Rendi kemudian meraih tangan Nila.
"Mas sekarang mau mandi. Jamaah! Kalau mau ikut hayuk kalau enggak ya nggak apa- apa. Kalau mau nemuin Vallen. Jam 11 kita ke rumah sakit. Kalau enggak juga nggak apa. Tapi ingat baik- baik, kamu harus percaya, suami kamu ini setia sama kamu! Istri Mas cuma kamu. Tentang kemarin Mas minta maaf. Hmm!" tutur Rendi mengerlingkan matanya dan menggenggam tangan Nila meminta maaf.
Nila memang diam dan hatinya mencair. Tapi entah kenapa hatinya masih terus dongkol bahkan walau mereka sudah melakukan penyatuan panas, tetap saja teringat dan membayangkan Rendi dan Vallen bertemu berduaan, ramah- ramah apalagi bantu makan itu menyakitkan.
"Hmmm...," jawab Nila.
"Maafin ya. Mas mandi boleh ya!" ucap Rendi lagi memohon.
Nila hanya diam, tapi sorot mata dan bibirnya bergerak tanda boleh.
"Makasih udah bangunin, Mas. Sayang!" bisik Rendi sebelum bangun lalu memberikan kecupan di kening Nila.
Rendi pun naik ke atas untuk mandi dan Bu bersiap ke masjid. Sembari menunggu Rendi, walau hatinya dongkol Nila tetap ke dapur, menanak nasi.
Setelah Rendi turun dan siap ke masjid, Nila pun ikut Rendi ke masjid. Walau rasa sakit dongkol masih tersisa, tapi rasa cinta dan harapan untuk pahala Nila lebih besar. Bak tidak ada masalah apapun, mereka berdua menjadi pasangan yang orang melihatnya begitu mesra ke masjid bersama.
Sepulang dari Masjid, Rendi meraih laptopnya . Kini dia pun masuk ke mode serius.
Nila pun bisa mengerti itu, dan Nila pula tahu diri, memilih mengerjakan apa yang mendatangkan kemuliaan dan pahala untuknya, memasak di dapur, menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Baunya enak banget Dhek?" ucap Rendi rupanya sudah lapar.
Nila yang hatinya masih tersisa rasa dongkol yang tidak bisa dia jelaskan kenapa hilang timbul dan susah hilang hanya diam tapi tanganya bergerak menyiapkan piring, juga menuangkan air putih untuk Rendi.
Walau tidak dijawab Rendi duduk dan menerima semua yang Nila berikan. Rendi juga ada kelas pagi. Rendi pun mementingkan kewajiban dan pikiran rasionalnya. Sarapan dengan cepat tidak mengulur waktu. Rendi percaya istrinya akan sembuh nanti.
Setelah sarapan Rendi pun bersiap bekerja sementara Nila membereskan sisa mereka sarapan.
"Lhoh, Dhek. Kok nggak ganti baju. Mas ngajar pagi, lhoh!" tegur Rendi karena Nila malah.
"Nila kuliah sore. Ada pagi google meet." jawab Nila.
"Oh. Ya udah Mas berangkat ya. Baik- baik di rumah!" ucap Rendi pamit.
Nila pun mengangguk.
Rendi kemudian mengecup kening Nila.
"Mas jemput Nila jam 10 kan?" tanya Nila saat mengantar Rendi ke depan.
Rendi terhenti dan sedikit terhenyak, padahal sebenarnya Rendi sudah malas menjenguk Vallen lagi, tapi rupanya istrinya ini sungguh ingin bertemu Vallen.
"Yakin kamu mau jenguk?"
"Ya!" jawab Nila.
"Oke. Mas selesai ngajar jam 09.30. Mas akan langsung pulang!" jawab Rendi.
Nila pun mengangguk, dan membiarkan suaminya bekerja. Sementara Nila di rumah. Tidak lama Rendi pergi, Bu Siti datang untuk membersihkan rumah. Nila sendiri memilih bersantai sembari menunggu jadwal google meet.
__ADS_1
Di sela Nila bersantai Nila pun mewawancarai Bu Siti.
"Ibu nggak suka Non. Orangnya kaya sombong dan sok berkuasa begitu!" ucap Bu Siti mengadu.
"Emang berkuasa gimana Bu?" tanya Nila.
Akhirnya Bu Siti pun cerita kalau Vallen pernah datang ke rumah. Sok- sokan menguasai rumah Rendi dan memasak untuk menyambut Rendi. Bahkan ingin masuk kamar Rendi untungnya oleh Bu Siti ditahan.
"Oh ya. Sampai segitunya?" tanya Nila.
"Ya. Bu. Untung Pak Rendi nggak pulanh dan mereka nggak ketemu. Seneng banget saya Non. Syukurin! Ibu seneng banget pas tahu istrinya Pak Rendi yang beneran itu Non Nila. Kalau beneran sama dia. Haduh. Bu Siti mending udah deh jualan pop ice di depan rumah!" jawab Bu Siti.
Nila sedikit tersenyum mengangguk. "Kata Mas Rendi dulu orangnya baik. Keluarganya juga katanya baik. Kok gitu ya?" celetuk Nila berfikir.
"Ya baik sama Pak Rendi. Wong sukanua sama Pak Rendi. Tapi ke saya bilangnya juga besok ini mau jadi rumahnya, kan itu namanya sombong, dan apa kata anak muda? Halu apa ya Non?" ucap Bu Siti lagi.
Nila pun mengangguk.
"Makasih ya Buk!" ucap Nila. Nila tersenyum meski begitu di otaknya pun datang kesimpulan. "Sepertinya dia masih ingin Mas Rendi. Aku ragu kalau kata Mas Rendi dia menerima penjelasan Mas Rendi dan beneran terima jadi sahabat. Nggak bisa dibiarin!" batin Nila
"Sama- sama Non!" ucap Bu Siti.
Nila pun mengangguk mengerti. Lalu pamit ke Bu Siti untuk ikut kuliah online, dan mempersilah Bu Siti untuk mengepel lantai.
Nila pun mengambil laptopnya dan juga buku dan pensilnya. Lalu Nila mengikuti kuliah online dari taman belakang rumah Rendi dekat kolam.
Tidak berasa, waktu kuliah usai. Waktu menunjukan pukul 09.30. Nila kemudian bersiap dan berdandan. Kali ini, Nila mengobrak abrik pakaian yang masih di koper yang belum sempat dia tata, bukan pakaian Nila keseharian yang dia pakai untuk kuliah.
Pakaian yang ada di koper adalah pakaian yang Buna, Oma dan Kakaknya belikan. Masih terbungkus plastik, karena Nila pikir pakaianya dia semasa gadis pun masih bagus dan masih dia pakai.
Namun hari ini Nila berfikir ingin memakai pakaian terbaiknya. Nila harus cantik di depan Vallen.
"Janda gatal... Harus tahu diri kamu! Mas Rendi itu punyaku!" batin Rendi bertekad.
Nila bahkan mandi lagi, lalu berdandan sembari menunggu Rendi pulang.
*****
Di Rumah Sakit.
"Daaad... centang satu!" keluh Vallen manja pada Daddynya.
Rupanya Rendi sungguh memblokir nomor Vallen. Sementara Vallen masih terus berusaha menghubungi Rendi dan memintanya untuk datang.
"Mungkin dia sibuk. Nak. Mungin ponselnya tidak aktif!"
"Kata Daddy kan waktu longgarnya jam segini. Masa dari kemarin sibuk terus. Ini pasti karena istrinya. Rendi itu baik Dad. Rendi nggak kayak gini. Rendi pasti ikutin aku dan peduli ke Vallen. Dia itu sayang ke Vallen!" ucap Vallen lagi menggebu.
Tuan Roberth hanya menatap getir putrinya. Sebenarnya Tuan Roberth juga tidak ingin putrinya begini. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, sehingga hanya bisa menelan kepedihan atas nasib buruk putrinya.
"Ya. Dia akan datang!" jawab Tuan Roberth menenangkan.
"Kapan? Pasti istrinya yang larang! Dia nggak akan ke sini!" jawab Vallen lagi.
"Npanti Daddy akan coba hubungi dan minta tolong ke Axel ya, datang percayalah!" jawab Tuan Roberth.
"Vallen kesal ke istrinya, Dad. Vallen ingin mereka cerai. Nggak apa- apa Vallen sama Rendi sahabatan, asal Vallen bisa deket sama Rendi. Dad. Tapi kalau gini pasti istrinya yang larang- larang!" ucap Vallen lagi.
"Daddy akan pastikan Rendi datang. Kamu tenang ya!" ucap Tuan Robert lagi ingin buat anaknya tenang
Vallen hanya diam murung lagi dan melempar ponselnya.
Sementara Tuan Roberth semakin teriris hatinya. Emosinya pun meletup. Dia mengeratkan rahangnya.
"Kamu harus patuhi kataku atau aku akan hancurkan rumah tanggamu Rendi. Vallen Putriku harus bahagia dan tak ada yang boleh menghalanginya. Termasuk anakmu Ardi, Gunawijaya!" batin Tuan Roberth lalu merogoh ponselnya.
Tuan Roberth pun berniat menelpon Axel keluar dari kamar inap. Akan tetapi begitu membuka pintu dari ujung lorong kamar terlihat dua orang yang baru saja dia pikirkan.
__ADS_1
Tuan Roberth pun menyipitkan matanya, memastikan dia orang yang berjalan ke arahnya bergandengan tangan adalah orang yang baru saja ia pikirkan
"Itukan anak Gunawijaya? Berani sekali dia dayang kesini?" gumamnya