
"Ish kok Jitak??" keluh Nila cemberut.
Bukan tanpa alasan, Nila mengira suaminya akan berbuat jauh, sebab begitu Rendi berbaring, Nila melihat ada yang unjuk gigi membentuk gundhukan di bawah perutnya, padahal kan perut Rendi tidak gendut, dan gendhutnya kan biasanya di atas, bukan di bawah.
Apalagi Nila, sudah tahu dan lihat isinya.
"Kamu yang ngawur! Mang kamu kira mas mau ngapain?" tanya Rendi
"Ya. Kan mobil itu alat transportasi buat pergi. Ditanya mau kemana? Kenapa Mas malah tiduran begini?"
"Haishh...," desis Rendi menatap Nila menghela nafas. "Mas turun dari bandara langsung ke sini. Pak Rahmat aja Mas suruh naik taxi Dhek. Capek Mas. Kamu juga, kamu pikir gendong kamu nggak pegel apa?" jawab Rendi.
"Oh. Kirain abis itu!" jawab Nila malu- malu
"Itu apa?" tanya Rendi.
"Itu?" jawab Nila menunjuk ke pangkal paha Rendi.
Sontak Rendi langsung menggigit bibir bawahnya dan menatap Nila tajam.
"Oh ini? Ayo jangan- jangan kamu yang Pengen ya? Pantes tanya terus kapan Mas pulang?" ledek Rendi ke Nila.
"Ehm..." Nila langsung berdehem malu, wajahnya berubah menjadi seperti kepiting rebus. Dia yang suudzon, malah dikira, Nila yang ingin. "Enggak! Nila nggak pengen!"
"Iya juga nggak apa- apa. Mas buka ya!" ledek Rendi meraih pengait celananya hendak membuka.
"Hish... Jangan!" pekik Nila panik dan liat keluar memeriksa ada yang lewat, kaca depan kan masih tembus pandang.
Heranya Rendi benar- benar membuka kancingnya, dan sudah memegang resleting.
Sontak, tangan Nila langsung ikut meraihnya berniat mencegah tangan Rendi agar tidak melanjutkan, tapi jatuhnya, tangan Nila malah menyentuhnya gundhukan keras itu.
"Ouh.. Jangan kencang- kencang, Dhek!" ledek Rendi memanipulasi. Padahal Nila hanya mengambil tangan Rendi agar menjauh, hanya menyentuh tidak memegang.
"Kencang- kencang apaan sih? Nila nggak pegang apa- apa juga!" jawab Nila cemberut menarik tanganya kesal sekali Rendi jahil.
Rendi semakin terkekeh ingin menggoda Nila.
"Alah bilang aja iya. Pengen pegang kan? Mas suka kok. Ayo lagi! Nih mas bukain ya!" ucap Rendi suka sekali mengerjai Nila.
__ADS_1
"Apaan sih ngarang banget!" jawab Nila kesal dipojokan di fitnah.
"Ini udah dibuka!" ledek Rendi lagi
"Ish apaan sih?" ucap Nila sungguh sangat malu dicampur khawatir.
Sampai Nila memalingkan pandangan karena Rendi sungguh menurunkan resletingnya. Mendadak Nila jadi dheg- dhegan, tidak berani menoleh.
"Ayo!" ucap Rendi, lalu tanganga mencoba menarik tangan Nila.
"Tak!" spontan karena kesal dan merasa keteraluan, Nila meraih map kertas di atas dashboard Rendi, memukulkanya ke Rendi dan dibiarkan untuk menutupi.
"Auh...," pekik Rendi terkekeh dan melotot merebut map kertas itu.
"Ck. Nggak sopan ih! Kalau ada yang liat gimana?" omel Nila jadi kesal.
Rendi masih terkekeh lalu bangun meletakan map itu. Itu ternyata map penting.
"Ini map penting lho, sembarangan buat mukul- mukul!"
"Ya lagian kenapa dibuka- buka ih!" ucap Nila mencebik benar - benar kesalnya di ubun- ubun.
Rendi bangun duduk tapi tidak juga membetulkan, sebab ternyata masih memakai celana lagi. Jadi Rendi memang memakai celana 3. Rendi hanya ingin mengerjai istrinya.
"Ya siapa tahu mau liat. Katanya kangen?" pinta Rendi lagi
"Ish apa sih? Kangen nggak begini juga. Sebbel," jawab Nila cemberut dan menoleh ke tempat lain. "Nggak sopan. Nila turun aja lah!" ancam Nila ngambek lalu meraih pintu mobil.
"Yaya enggak. Jangan gitu. Maaf kan cuma bercanda. Mas pakai celana banyak kok. Sok liat!" ucap Rendi akhirnya mengaku
Nila pun menoleh dan memeriksa.
"Bercyandaa...," ucap Rendi terkekeh.
Nila mencebik. Ternyata memang masih ada celana kolor pendek. Rendi kembali tersenyum. "Bercandanya nggak lucu!"
"2 : 0 kan, sekarang siapa yang otaknya ngeres? Hah? Ayo jawab. Mas cuma tiduran dikira ngapain?" ledek Rendi lagi
"Nila bukan ngeres Mas. Ini kampus. Kita harus hormati tempat dan tahu adab! Jangan sampai kita melakukan kesalahan. Nanti kan di rumah bisa!" ucap Nila panjang tapi keceplosan kalau nanti di rumah bisa.
__ADS_1
"Oke. Bener ya. Di rumah mau!" tanya Rendi lagi
"Ehm...," dehem Nila malu. "Udah buruan, kita mau kemana?" tanya Nila mengalihkan.
"Depan kayaknya ada toko sepatu. Nggak apa- apa kan Mas belikan yang nggak merek?" tanya Rendi, kini bicara serius tidak jahil lagi, dan ternyata memikirkan sepatu Nila.
"Iya nggak apa- apa. Yang penting sepatu kok!" jawab Nila lembut.
"Its oke. Lets go!" jawab Rendi membetulkan kursinya. Lalu menyalakan mesin mobilnya.
Nila melirik ke bawah lagi ternyata belum dibetulkan.
"Mas tunggu!" ucap Nila saat Rendi hendak maju.
"Apa?"
"Dibenerin dulu resletingnya! Nanti lupa turun melorot lho!" tutur Nila perhatian.
"Benerinlah!" jawab Rendi meledek lagi.
"Ya ampun!"
"Biar sweet!" ucap Rendi lagi mengedikkan mata.
"Iihh... Nggak gitu caranya sweet!"
"Ya udah biarin aja begini!" jawab Rendi benar- benar nakal.
"Hhh...," Daripada kelamaan dan kebanyakan berdebat, Nila mengalah. Nila menundukan kepalanya dan membetulkan. Sebenarnya sangat berlebihan si Rendi ini menurut Nila. Tapi Rendi memang suka sekali jahil.
****
"Hooh... Omaigat? Ternyata Nila jago banget?" pekik Seseorang di dalam ruangan yang berdekatan dengan parkiran. "Kamera mana kamera!" ucapnya meminta kamera. Tapi rupanya temanya di sampingnya sudah menyalakan kamera dengan tersenyum smirk.
Ya, Della berhasil merekam dari kejauhan, karena dari depan mobil, yang tampak hanya Nila membungkuk ke bagian bawah tubuh Rendi, tidak jelas melakukan apa terhadap Rendi. Namun Rendi tampak senyum- senyum lalu setelah itu Nila mengangkat tubuhnya lagi.
"Dell, tapi kan mereka suami istri?" ucap Sania mengingatkan Della.
"Tetap saja!" jawab Della enteng dengan tersenyum licik entah apa yang Della rencanakan.
__ADS_1