Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Bu Laksmi


__ADS_3

Dengan langkah terburu, Rendi meninggalkan rumah sakit, bahkan sepanjang lorong, dia tak menggandeng Nila seperti saat berangkat. Melihat suaminya yang nampak gusar, Nila tahu diri, Nila memilih diam tak banyak bertanya.


Walau sudah tak ada perkuliahan pun, terpaksa Nila ikut Rendi ke kampus.


"Kamu mau nunggu di mobil apa mau turun?" tanya Rendi saat mereka sudah sampai.


"Mas lama nggak?" jawab Nila.


Rendi sedikit memutar matanya untuk berfikir.


"Turun saja ya! Ke kantin, ke perpus atau ke ruangan Mas. Mas nggak bisa mastiin selesainya! Nanti kalau Mas udah selesai, Mas WA" jawab Rendi memberi saran.


"Iya, Mas santai aja. Selesaiin aja kerjaan Mas!" jawab Nila.


Rendi pun tersenyum mengusap lembut pipi Nila, beruntung sekali Tuhan gagalkan dia dapat Jingga yang manja dan dapatnya Nila yang lebih muda dan penyayang, ya walau banyak sisi ngambek yang dia harus memutar otaknya juga.


Mereka kemudian turun, Rendi menuju ke ruang kerjanya sementara Nila berjalan tanpa arah.


"Ke Perpus aja kali ya? Tapi sebentar lagi dzuhur, aku ke masjid aja ah?" batin Nila memutuskan.


Nila tidak ke kantin sesuai usul Rendi tapi menuju masjid kampus. Karena kampus mereka memang universitas besar, apalagi selain mahasiswa berbeasiswa yang hanya sebagian kecil, mahasiswa di kampus Nila kan orang beruang semua, masjid di kampus Nila sangat nyaman, tidak membosankan.


Tidak sedikit mahasiswa yang menjadikan masjid menjadi tempat favorit mereka, selain untuk beribadah menunaikan kewajiban, di sana juga cukup menyenangkan untuk berlama- lama duduk membaca Al Quran atau sekedar menenangkan hati dan pikiran.


Petugas kebersihan rutin membersihkan, lantainya begitu berkilau, tempatnya luas bagian putra dan putri pun terpisah dengan jelas.


Di pojok serambi jua tersedia tempat mukena dan alat sholat yang tertata sangat rapih dan bersih. Di sebelah lagi bahkan tersedia fasilitas umum seperti ruang laktasi, ada juga tersedia air mineral gratis, untuk kamar mandi dan tempat wudzu tentu ada ruang tersendiri, lalu berjajar rak yang berisi Al Quran.


Halaman depan serambi juga ditanami dua pohon kurma yang rindang. Walau tak berbuah tapi cukup membuat suasana hijau, lalu di sekitarnya ada banyak bidang yang ditumbuhi bunga- bunga kecil.


Ya, Nila lebih suka bersantai di masjid daripada di kantin. Nila berniat menunggu suaminya sekaligus menunggu waktu dzuhur dengan tadarus Al Quran.


Akan tetapi langkah Nila terhenti. Nila terperanjak kaget melihat pemandangan di depanya.


"Sini itu masjid kampus. Bukan masjid umum. Tempat ibadahnya mahasiswa dan kaum terpelajar, bukan gelandangan seperti kamu! Jangan tidur di sini! Sana pergi!" omel salah seorang berseragam kebersihan. Bahkan orang itu membawa sapu lidi yang panjang dan mengusir kasar seorang perempuan dengan sapu itu.

__ADS_1


"Saya bukan gelandangan Pak. Saya di sini menunggu anak saya. Saya mau ketemu anak saya!" ucap perempuan tua


"Bu... sini gedung fakultas kedokteran. Ibu jangan ngimpi. Hanya orang kaya yang bisa biayain anaknua di sini. Sana pergi!" usir petugas kebersihan itu lagi.


Hati Nila pun semakin miris dan Nila langsung mendekat.


"Mas Yadi. Ada apa ini?" tanya Nila mendekat Nila kenal dengan petugas kebersihan itu


Beberapa kali Nila memang secara sembunyi, suka berbagi uang atau makanan pada petugas kebersihan.


Petugas kebersihan pun langsung menoleh ke Nila sedikit gelagapan. Sementara perempuan tua dengan pakaian lusuh itu menunduk.


"Ini, Mbak. Ada gelandangan tidur di sini sejak semalam, mandi tidur buang air. Tak suruh pergi nggak mau!" adu Mas Yadi petugas kebersihan.


Nila langsung menoleh ke ibu tua yang menunduk memegang sekantung keresek. Nila mengernyitkan matanya sedikit memastikan sepertinya Nila kenal.


"Bu Laksmi?" pekik Nila kaget.


Seketika itu, ibu tua itu mengangkat wajahnya begitu juga sang petugas kebersihan.


"Mbak Nila kenal?" tanyanya.


Sementara perempuan tua itu tampak berbinar dan berkaca mendengar namanua disebut.


"Nak Nila!" pekiknya terharu dan airmatanya hampir habis.


"Mas Yadi. Dia bukan gelandangan?" ucap Nila lembut


"Dia ibunya Mbak Nila?" tanya Mas Yadi lagi.


"Anggap aja begitu! Biar aku ngobrol sama Bu Laksmi ya. Maafin dia!" tutur Nila lembut ke Mas Yadi


Mas Yadi mengangguk dan sedikit malu.


"Maafin saya Mbak. Maafin saya Bu. Saya tidak bermaksud kasar, cuma ingetin jangan tidur di sini!" tutur Mas Yadi lagi.

__ADS_1


Bu Laksmi pun mengangguk.


Dengan segera Nila menggandeng Bu Laksmi tanpa risih, untuk duduk di bangku taman depan masjid.


Perempuan tua dengan setelan rok coklat dan blouse bunga- bunga, menatap Nila sendu, ujung matanya tampak basah karena air matanya sempat keluar. Meski begitu dia tetap menatap Nila dengan penuh syukur pada Tuhanya.


"Ibu di sini ngapain? Ibu apa kabar?" tanya Nila lembut setelah mereka duduk sembari memegangi tangan perempuan yang terus menatapnya itu.


"Alhamdulillah, baik Nak. Terima kasih sudah tolong Ibu!" ucap Perempuan itu.


"Ibu ngapain di sini? Ibu bilang, setelah keluar dari rumah sakit, Ibu akan jadi ibu hebat untuk Farel dan temui keluarga ibu? Ibu kenapa tidur di masjid!" tanya Nila lagi.


Ya, Ibu Laksmi adalah pasien RSJ yang ditunjukan Celine ke Nila. Saat Nila berkunjung, dokter mengatakan Ibu Laksmi sudah dinyatakan normal dan diperbolehkan pulang. Hanya saja pihak rumah sakit menunggu, keluarga Bu Laksmi.


Sayangnya tak ada keluarga Bu Laksmi. Mengetahui itu Nila tidak tega. Nila pun memperkenalkan diri sebagai teman Farel. Lalu Nila meminta ijin untuk membantu Bu Laksmi keluar dari rumah sakit dengan membayar biaya perawatan yang harus dilunasi.


Nila takut menyakiti Bu Laksmi sehingga tidak cerita banyak tentang Farel. Bu Laksmi pun hanya bercerita tentang dirinya, kenapa dimasukan ke rumah sakit jiwa oleh suami jahatnya. Hingga Bu Laksmi dipisahkan dengan anaknya.


Setelah keluar, kala itu Bu Laksmi hanya bilang terima kasih dan menyampaikan akan pulang ke rumah keluarganya. Walau awalnya Nila berniat mengantar, Bu Laksmi menolak, Nila pun membantu memberikan uang saku.


Walau Nila sudah melakukan banyak hal itu, Nila tak cerita pada Rendi atau siapapun. Apalagi bilangan uang yang dia keluarkan baginya sedikit itupun yang Nila yang diberi oleh Baba, bukan dari nafkah suaminya.


Mendengar pertanyaan Nila, Bu Laksmi menunduk.


"Maafkan Ibu Nak!" ucap Bu Laksmi.


"Kok minta maaf Bu?"


"Ibu tidak tahu lagi, siapa keluarga ibu dan kemana ibu harus pulang? Ibu tidak punya rumah. Ibu berbohong. Suami ibu sudah menikah lagi. Mereka juga pindah rumah!" tutur Bu Laksmi sendu.


Nila langsung menelan ludahnya, rasanya sakit mendengarnya. Nila tahu keluarga Farel kaya, tapi kenapa seorang ibu di keluarga itu begitu miris.


"Kenapa ibu nggak bilang dari awal? Saya kan bisa bantu ibu!" ucap Nila lagi.


Bu Laksmi langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nggak Nak. Nggak. Ibu tidak mau merepotkanmu. Ibu sudah sangat berterima kasih ditolong kamu keluar dari rumah sakit. Ibu janji Ibu akan cari kerja sebisanya. Tapi Ibu ingin ketemu Farel. Dimana ya ibu bisa ketemu dia?"


__ADS_2