
Persaudaraan yang Buna Alya tanamkan membuat Jingga menyayangi Nila begitu besar, sifat posesif Baba juga menurun ke Jingga. Walau hanya sekedar kakak, Jingga panik memikirkan Nila, melebihi Buna.
Begitu mulut Baby Dipta melongo dan melepaskan hisapan dari put ing Jingga, Jingga segera merapihkan diri. Jingga pun keluar ke balkon kamar rumah suaminya yang asri itu.
Mondar mandir Jingga begitu gelisah, Jingga terus memeriksa jam berapa sekarang. Lalu tatapanya memeriksa jauh ke pintu gerbang masuk rumah sekaligus tempat usaha makanan suaminya.
“Pulang Yang.. pulang, nggak usah ditungguin gitu Nila nya! Dingin lho diteras,” tutur Bang Adip, geleng- geleng kepala melihat istrinya yang overthingking terhadap adik perempuanya itu.
“Bang! Ini, udah malam, udah lewat Isya lho. Nila kan anak pondok, Si bangkotan itu juga dosen dan katanya Gus. Gimana sih mereka, tahu waktu nggak sih? Jam segini belum juga pulang! Jingga khawatir Bang!”
“Mereka katanya di rumah sakit ada urusan, insya Alloh bukan hal negative, kita makan malam dulu, sebentar lagi pasti pulang kok!” jawab Bang Adip lagi sudah lapar menunggu istrinya makan bareng.
“Jingga mau makan bareng Nila, Bang!” jawab Jingga.
“Abang udah laper, Yang. Paling Nila makan di luar!” jawab Adip.
“Ngapain mereka ada acara makan malam segala!” jawab Jingga tidak rela sekali membayangkan Nila berkencan dengan orang yang Jingga benci.
“Lhoh kok kamu yang sewot, ya namanya pergi seharian, ya mereka butuh makan, ya makan!”
“Jingga nggak sewot, Bang, tapi Jingga nggak suka, nanti Nila jadi kebiasaan ikut- ikutan suka keluar malam! Apalagi sama Om- Om tua. Isya itu harusnya pulang, Baba dulu gitu sama Jingga. Ini Abang malah belain dia, nggak adil!” jawab Jingga ngomel sendiri.
__ADS_1
“Dulu sama sekarang itu Beda. Mungkin kamu dan Nila juga beda. Nggak adil gimana? ” jawab Adip mulai kesal ke Jingga yang bawel.
“Apa bedanya? Kita sama- sama anak Baba!”
“Ck… kamu akan kerepotan kalau gini terus mikirnya!"
"Jingga khawatirin adik Jingga Bang! Dia pergi bersama laki- laki yang udah punya nilai buruk!"
"Tapi kamu juga harus ingat. Mereka itu suami istri yang Baba kita sendiri pilihkan!"
"Dan itu sebuah kesalahan Bang!"
“Abang mau nyuruh makan malam berkali- kali mau aku tambah gendhut? Hah? Abang sengaja mau Jingga gendhut terus abis itu Bang Adip punya alasan untuk selingkuh? Iya” jawab Jingga malah ngambek dan tersinggung. Jingga langsung manyun dan memalingkan muka dari Adip.
“Haish! Astaghfirulloh..” Adip pun mendesis pusing. "Ya nggak gitu, Sayang!"
"Bilang iya. Jingga sekarang gendhut. Pantas aja belain Pak Rendi terus, Bang Adip suka sama anak- anak muda." omel Jingga tambah meracau.
"Haduh.. Abang Lapar, Abang mau makan! Abang turun ya!" ucap Adip mau kabur.
3 tahun menjadi suami Jingga sudah hafal sifat Jingga, daripada panjang urusanya dan Adip kelaparan, Adip memilih turun makan sendiri.
__ADS_1
"Huh...," Jingga pun tambah ngambek melihat suaminya sekarang sudah berkurang bucinya. Sebenarnya bukan berkurang, tapi Adip ingin Jingga lebih dewasa.
Suami istri pun malah jadi diam- diaman dan marahan karena Rendi.
*****
Di tempat lain.
Flash back beberapa waktu sebelumnya.
Masih di bawah pohon di depan gedung rumah sakit pendidikan tingkat provinsi di Ibukota. Rendi yang merasa mempunyai kesempatan bersama Nila adalah peluang emas tidak mau menyiakan kesempatan.
****
Kaak
Maaf..
aku bersambung di sini, aku lagi ngetik di telp suruh ke rumah orang tua bantuin Masak. Besok acara pengajian. Insya Alloh malam atau besok yaaa....
__ADS_1