Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Siap


__ADS_3

Semua tercengang mendengar perkataan Baba, tak terkecuali Buna. Rendi sampai gelagapan, mau menjawab tapi serasa tercekat.


"Baba yakin?" tanya Amer yang spontan bertanya.


"Ya!" jawab Baba


"Saya siap!" sahut Rendi sedikit tergagap melawan dheg- dheganya, mendengar percakapan antara Amer dan Baba, Rendi tidak mau melewatkan kesempatan.


Sementara Nila memilih hanya diam menggigit bibirnya menyimak dulu. Sebenarnya kemana arah Baba, hatinya juga masih susah diatur, Nila sangat dheg- dhegan. Tidak tahu mau senang atau kesal. Nila senang penantianya kini ada di depan mata, tapi Nila mendadak jadi takut apa ini artinya sebentar lagi dia benar- benar akan menjadi teman tidur Rendi di setiap malam- malamnya. Nila benar- benar tidak bisa mengungkapn malu, takut, canggung tapi juga ingin.


"Secepatnya maksudnya gimana Ba?" Buna yang juga kaget ikut ambil suara.


"Secepatnya. Besok pagi, lusa? Minggu depan? Semakin cepat semakin baik!" jawab Baba lagi dengan tenang dan santai. "Siap, Ren?" tanya Baba menatap Rendi.


Rendi sebenarnya kaget. Tapi dia tidak mau kehilangan kesempatan pokoknya, siap!


Dan kembali lagi semua melotot, tidak ada yang bisa mengerti mau Baba.


"Ardi! Ini pernikahan bukan beli bawang!" tutur Oma kali ini ikut bicara.


"Kenapa tidak Mah? Dulu Ardi juga nikah dadakan kan? Mending Nila, keluarga kita sudah saling mengenal 3 tahun. Nila juga sudah tinggal bersama keluarga Rendi selama itu. Nah Ardi dan Alya tidak. Nyatanya sah sekarang punya anak banyak!" jawab Baba lagi membela diri.


"Mas!" pekik Buna jadi geram dan tidak terima. Bagi Buna, cukup Buna yang menikahnya aneh. Buna tidak mau anak- anaknya sepertinya. Buna mau anak- anaknya menikah sebagaimana mestinya ada pestanya.


"Apalagi?" tanya Baba


Rendi dan Nila malah jadi diam menyimak, sekarang malah Oma, Baba dan Buna yang saling berdebat.


"Pernikahan itu sekali seumur hidup. Jangan asal- asalan. Nila juga pasti punya resepsi impian. Jangan asal cepat Mas. Kita juga adakan pengajian dan selamatan juga!" sahut Buna.


"Benar kata Alya, Jingga saja dibuatkan pesta, Nila juga iya. Kita tentukan hari yang baik dan pas. Kita ajak keluarga Rendi diskusikan ini. Jangan terburu- buru, toh mereka kan sudah menikah siri!" sahut Oma lagi.


Tapi Baba tampak diam seakan tidak mendengar kata Buna dan Oma. Baba malah menatap Rendi.


"Bagaimana Ren? Mau besok pagi? Lusa atau tidak usah sama sekali?" tanya Baba malah meminta Rendi memberikan kepastian.


Kali ini Nila yang menyimak akhirnya angkat bicara.


"Baba, boleh Nila bertanya?" celetuk Nila dengan suara lembut dan sopan ijin menyela sebelum Rendi menjawab.


"Kamu tidak mau Baba sahkan pernikahan kalian?" jawab Baba malah melempar pertanyaan seakan menantang ke Nila.


"Maaf, Ba!" jawab Nila sopan. "Sebelumnya Baba, begitu bersikeras meminta Nila untuk meminta cerai dari Mas Rendi. Nila senang sekali jika Baba juga mengerti dan menerima semua penjelasan Mas Rendi. Doa dan restu Baba sangat berarti untuk Nila dan Mas Rendi. Tapi meminta menikah dengan waktu yang sangat cepat? Apa alasanya Ba? Apa Baba marah? Atau bagaimana? Kenapa harus cepat- cepat?" tanya Nila panjang.


"Ya!"

__ADS_1


Baik Buna, Oma dan Amer setuju dengan pernyataan Nila.


Baba tampak menghela nafas lalu menatap Rendi tajam.


Rendi jadi gelagapan ditatap Baba begitu.


"Aku mau bicara dan jangan ada yang memotong!" ucap Baba tegas.


Semua jadi menggigit bibir bawahnya. Sepertinya Baba mau bicara serius.


"Rendi!" panggil Baba dingin.


"Ya Ba!"


"Kamu sangat yakin kan kalau kamu masih suami Nila?"


"Ya. Saya yakin. Saya tidak mencampuri Nila untuk memenuhi permintaan Baba dan menunaikan janjiku. Saat di restoran siang itu. Rendi hanya menjawab pertanyaan teman Rendi. Kenyataan Rendi saat itu datang sendiri!" jawab Rendi.


"Aku tidak begitu ahli dalam hukum agama atau hukum pernikahan. Aku hanya ayah bodoh, yang mencintai putriku lebih dari apapun. Aku tidak tahu aku benar atau salah. Tapi semua sudah terjadi."


"Aku hanya ingin Putriku hidup bahagia. Aku tidak ingin putriku sengsara di dunia ataupun di akhirat nanti. Itu sebabnya aku nikahkan putriku denganmu yang aku percaya bisa menjaga dan menuntun Putriku, agar putriku tidak terjerumus ke pergaulan yang salah dan tidak benar."


"Saat aku mendengar kau tidak bersikap baik pada Putriku. Aku sakit dan terluka, sangat. Tapi aku tidak berdaya, karena kamu lebih pandai, membawa senjata atas nama kedudukanmu sebagai suami,"


"Karena kalian sudah terlanjur terikat dengan membawa nama Tuhan. Nila juga sudah memenuhi umur minimal. Bentuk kasih sayangku untuk melindungi Nila, aku ingin Nila diakui menjadi istrimu secara hukum. Tentu saja aku ingin kamu juga mematuhi semua undang- undang yang tertulis dalam pernikahan baik agama dan negara. Aku berhak menuntutmu kalau sedikit saja kamu berlaku tidak baik pada putriku!" ucap Baba menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi.


Kali ini semua benar- benar dibuat mematung oleh pernyataan Baba. Terlebih Buna. Ya Buna sekarang paham maksud Baba. Jika meminta Nila cerai tidak bisa, ya solusinya menikah secara sah.


"Siap, Ba!" jawab Rendi mantap.


"Bagus!" jawab Baba.


"Baik nikah siri atau sah. Rendi juga akan memperlakukan Nila dengan baik sesuai tuntunan agama kita Ba." sahut Rendi menyatakan itikadnya sebagai suami.


"Kapan kamu ingin langsungkan?"


"Besok pagi akan Rendi urus jika itu keinginan Baba!" jawab Rendi lagi.


"Tapi aku juga ingin mengajukan beberapa pernjanjian lagi! Kamu bersedia?" sahut Baba ternyata Baba memang tak semurah itu.


Buna yang tadinya terharu langsung mendelik. Nah ini nih. Ini Baba yang bener bukan Baba yang kumat berubah jadi orang lain. Batin Buna.


Sementara Rendi mulai tampak berfikir dan plintat plintut, dalam hatinya, duh... perjanjian apalagi.


"Boleh Rendi tahu dulu, janji yang seperti apa?" jawab Rendi kali ini harus hati- hati.

__ADS_1


"Catat dan dengarkan termasuk kamu Nila!" ucap Baba.


"Ya Ba!" jawab Nila dan Rendi.


"1. Katakan kamu bersedia dan wajib menceraikan Nila, jika kamu kasar terhadap Nila baik ucapan dan perbuatan.




Kamu wajib menceraikan Nila kalau kamu sampai berani menduakan Nila!




Nila wajib lulus kuliah.tepat waktu. Point ini kamu paham kan maksudgnya?" tanya Baba menyela.




Rendi yang sedang menyimak tergagap sejenak. Baru mau menjawab Baba sudah lanjut bicara, Baba yang tanya tapi Baba tidak peduli jawaban Rendi.




Tidak boleh ada tuntutan dimana Nila akan tinggal. Terserah Nila.




Dan jika sampai point satu dua kamu lakukan atau terjadi, kamu wajib bayar denda minimal 5 Milyar maksimal terserah aku!" ucap Baba.




Kali ini Buna dan yang lain sedikit syok tapi Baba tidak peduli tetap melanjutkan


"Yang ke enam. Selama pernikahan sah belum terlaksana. Kapan kalian bertemu dan bersama harus seijin Baba!" ucap Baba tegas.


Rendi hanya sedikit mengernyit dan menghela nafasnya. Sebenarnya aturan Baba sangat mudah, karena memang tak ada niatan Rendi menyakiti Nila. Rendi malah merqsa Baba agak berlebihan pake Denda segala. Dan yang lumayan berat malah point nomer enam.

__ADS_1


__ADS_2