Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Temui, Nila!


__ADS_3

Rendi pun berjalan ke kantornya dengan langkah gontai dan lemah, kini benar- benar terasa. Bagaimana rasanya kesepian, oleh keluarga ditinggalkan, oleh teman- teman disepelekan, oleh Baba yang dulu mendukungnya dimusuhi, dalam waktu dekat Baba sudah terlihat akrab dengan orang asing.


"Aku mau apa ya?" gumam Rendi kebingungan


Selama ini hidup Rendi terus menerus dihadapkan oleh kerjaan dan hari ini dia mulai merasakan kebosanan. Sampai Rendi sekarang bingung entah apa yang dia lakukan.


"Pak Rendi nggak ada kelas?" tanya teman mengajar Rendi.


Rendi hanya menoleh dengan muka datarnya lalu menggeleng. "Tidak!" jawab Rendi singkat tanpa senyum, datar


Tentu saja teman Rendi menelan ludahnya dan langsunh pergi. Mereka malas bercakap- cakap denhan Rendi.


Oleh teman sekantornya pun Rendi ditinggalkan. Rendi kemudian kembali ke dunia sepinya. Menghadap komputer, memang banyak yang bisa dia kerjakan, tapi hari ini hatinya begitu tidak nyaman dan semua terasa memuakan.


Rendi pun memutuskan untuk pulang. Fatma dan suaminya memang sedang berkunjung ke rumahnya. Suami Fatma yang merupakan salah satu pengajar di pondok pesantren mertuanya ada seminar.


Fatma ikut, sebenarnya Fatma ingin bertemu dengan Nila, akan tetapi oleh Rendi dilarang. Rendi menjelaskan kalau Nila hari ini ujian, itu sebabnya Fatma ikut memantau hasil nilai tes Nila.


Fatma seoarng adik perempuan, lebih muda dari Jingga, akan tetapi lebih tua dari Nila. Fatma juga mengenyam pendidikan di luar sehingga pergaulan Fatma lebih luas. Fatma lebih lembut dari Ummi dan Abinya, Fatma masih mau memaafkan Rendi.


Setelah menempuh perjalanan melewati jalan ibukota yang padat, Rendi pun sampai di komplek perumahan elit yang asri dan damai.


Di rumahnya, adik cantiknya yang tinggi dan ramah itu tampak sedang sibuk di taman dengan gunting rumputnya.


"Assalamu'alaikum...," sapa Rendi mengucapkan salam ke adiknya


"Waalaikumsalam!" jawab Fatma menoleh dan hendak tersenyum menyapa.

__ADS_1


"Udah pulang Bang?" sapa Fatma girang. Fatma bahkan langsung meletakan gunting rumputnya dengan wajah sumringah ingin bertanya.


Sayangnya Rendi hanya salam saja, wajahnya masih datar dan berlenggang masuk tanpa bertutur sapa atau beramah tamah lagi.


"Hhh...," Fatma pun langsung menghela nafasnya.


"Bang...bang. Gimana mau dapat jodoh kalau begituu terus sikapnya, apa setiap pulang kerja dia selalu seperti itu? Apa abangku memang sesakit itu jiwanya?" gumam Fatma jadi kasian.


Rendi tampak melepas sepatunya.


Fatma yang hatinya lembut tidak mau menyerah. Perempuan bergamis dan berjilbab itu pun mendekat ke Rendi.


"Bang Rendi udah makan belum?" tanya Fatma bosa- basi.


Rendi kemudian menoleh ke Fatma, entah kenapa sorot mata Rendi menghangat, seperti anak jalanan yang kesepian dan kelaparan lalu tiba- tiba di tawari orang baik, seperti berkaca- kaca.


"Belum...kenapa?" jawab Rendi akhirnya mau membuka pertanyaan balik.


"Makan bareng Yuk! Fatma masak!" ajak Fatma hangat.


Rendi pun mengangguk lalu mengikuti Fatma. Fatma kemudian mengambilkan Rendi piring menyajikanua dan menuangkan untuk Rendi.


"Makasih, Abang bisa sendiri!" jawab Rendi.


"Maaf, Fatma kebiasaan melayani suami Fatma Bang! Nggak apa- apa. Bang Rendi kan Abangnya Fatma!" jawab Fatma.


"Ehm...," Rendi jadi berdehem ingat kemarin malam. Kalau ada Nila dia juga diperlakukan dengan baik.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Fatma.


"Nggak apa- apa. Suamimu kapan selesai seminarnya?" tanya Rendi lagi.


Fatma semakin senang Rendi mau mengobrol.


"Katanya sih besok sore!" jawab Fatma.


Rendi mengangguk lalu merkea pun makan. Rendi terlihat sangat kelaparan, sementara Fatma makan pelan, Fatma sebelumya memang sudah makan. Fatma mengajak kakaknya makan agar ada alasan Rendi meluangkan waktu duduk bersamanya.


Jika tidak, Rendi pasti akan masuk di kamar dan menghabiskan waktu dengan dunianya.


"Kakak jadi ketemu Nila?" celetuk Fatma di akhir mereka makan.


Rendi langsung menelan makananya dan berhenti sejenak.


"Aku lihat, Nila rangking pertama. Itu berarti dia ketrima dan akan jadi mahasiswi Bang Rendi kan?" tanya Fatma lagi.


Rendi pun tampak berfikir sejenak


"Bang Rendi belum lihat, apa Bang Rendi ada jatah ngajar dia atau enggak!" jawab Rendi.


Fatma kemudian tersenyum.


"Nyari perempuan yang sholehah, baik, cantik, cerdas, dan penurut seperti Nila itu susah lho, Bang!" ucap Fatma lagi.


Rendi tidak menjawab dan mengalihkan tatapanya ke arah lain menghindari Fatma.

__ADS_1


"Bang Rendi sama Nila baru talak satu kan? Masih bisa rujuk kan? temui Nila Bang!" ucap Fatma lagi..


Rendi hanya mengulum lidahnya. Dalam hati Rendi berfikir. "Bukan hanya rujuk. Aku tidak berniat menceraikanya,"


__ADS_2