Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Tugas dari Abah


__ADS_3

Umi kembali dibuat heran oleh putranya, baru tadi tergesa jalan ke pondok, tau- tau sekarang sudah kembali di rumah, bahkan berganti pakaian, hati Ummi pun mulai resah, saat putra sulung satunya itu pergi lagi.


"Kamu mau kemana, Nak?" tanya Ummi.


Ditanya Umminya, Rendi langsung mendekat, duduk di dekat Ummi.


"Tugas Akbar sudah selesai kan Ummi? Abah sudah kembali aktivitas. Pohon anggurnya sudah mulai kuncup daun. Aku harus cepat kembali ke Ibukota," jawab Rendi


Mendengar jawaban Rendi, Ummi langsung menghela nafas dan pandanganya menerawang jauh ke depan, sorot matanya menyiratkan kekecewaan dan kesedihan yang dalam.


"Akbar janji, setelah ini akan sering tengokin Abah dan Ummi. Maaf karena dulu- dulu Akbar jarang pulang,"


Melihat tatapan Umminya, Rendi tahu ibunya yang baru sembuh dari marahnya itu bersedih. Rendi pun merayu sembari memegang tanganya. Tapi tetap saja Ummi masih bersedih.


"Hmm....," Ummi tidak menjawab dan hanya berdehem.


"Akbar punya kontrak dan punya kewajiban Ummi. Bukankah Abi dan Ummi mau Akbar jadi orang yang bertanggung jawab?" sambung Rendi meyakinkan


"Ummi ingin kamu segera menikah," ucap Ummi kemudian.


Rendi segera memegang erat tangan Ummi dan tersenyum mendengar harapan Ummi.


"Rendi juga ingin segera menikah. Itu sebabnya Akbar harus segera kembali Ummi...,"


"Maksudmu apa?" tanya Ummi terhenyak dengan pernyataan Rendi.


"Akbar nggak boleh lama- lama di sini Ummi. Akbar harus temui Nila! Doakan Akbar dan Nila bisa bersama lagi!" tutur Rendi meminta doa ibunya.


Mendengar penuturan Rendi, Ummi langsung mendelik dan menoleh.


"Apa maksudmu? Kamu ingin kembali dengan Nila?" tanya Ummi lalu menatap putranya itu.


"Iya Ummi... doakan Akbar!"


"Kamu yakin?" tanya Ummi ragu.


"Yakin!" jawab Rendi mantap.


Ummi malah menggelengkan kepalanya.


“Nak. Ummi dan Abah tidak akan memaksamu lagi. Ummi hanya ingin kamu menikah. Kamu tidak harus menyakiti dirimu sendiri, apalagi menyakiti Nila hanya karena keinginan Ummi dan Abi. Apalagi membuat keluarga kita jadi tidak baik begini, Ummi salah, Ummi minta maaf,” tutur Ummi malah jadi salah paham.


Setelah beberapa bulan ini, Ummi merenung dengan semua yang terjadi, Ummi beranggapan sama dengan Baba. Kalau Rendi dan Nila memang tidak cocok dan terlalu memaksakan. Ummi mengira Rendi memang tidak suka Nila.


Walau dia sangat ingin Rendi bersatu dengan Nila, selama satu bulan Rendi di rumah dan menunjukan baktinya, kemarahan Ummi reda, ambisi Ummi melemah dan terurai.


Ummi tersadar tidak ingin memaksa atau menentukan jodoh untuk anaknya lagi. Dia juga telah menyakiti Rendi, sehingga Rendi berbuat salah dan menyakiti semuanya.


Sayangnya Rendi malah tersenyum mendengar Umminya yang sudah tidak lagi galak dan kembali menjadi Ummi dengan semua kelembutan dan ketulusanya.


“Kali, ini, Akbar tidak terpaksa, Ummi. Akbar jatuh cinta dengan gadis kecil itu?” ucap Rendi.


“Kamu yakin?” tanya Ummi tidak mengira.


Rendi mengangguk.


“Akbar ingin istri Akbar, Nila, hanya dia!” jawab Rendi.


Mendengarnya Ummi tersenyum, tapi ada tatapan sendu yang terbentuk.


“Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Kamu tidak sedang menyenangkan Ummi kan?” tanya Ummi lagi.


Rendi pun menggeleng.


“Tidak Ummi, anakmu ini sekarang sadar. Akbar selamana ini sudah kufur nikmat. Seharusnya Akbar tahu, pilihan Ummi pasti yang terbaik, seharusnya aku jaga dengan baik, tapi aku malah menyiakan itu? Masa iddah belum berakhir kan? Masih ada waktu kan?”


“Tapi kamu sudah menyakitinya, kamu sudah melepaskanya, bagaimana kamu bisa mendapatkanya lagi. Kata Fatma, Nila masih sakit hati denganmu? Apa masih ada harapan? Ummi malu? Ummi tidak mau kamu patah hati lagi. Jangan terlalu memaksakan, Ummi sudah bebaskan kamu!”


“Setidaknya aku harus mencoba kan?” jawab Rendi meyakinkan Umminya.


Ummipun mengangguk haru tidak bisa berkomentar lagi.


“Mencoba apa?” tiba- tiba suara Abi Yusuf memecahkan konsentrasi mereka.


Rendi dan Ummi pun menoleh.


“Abah…," pekik Rendi semangat.


Abi Yusuf pulang ke rumah lebih cepat dari perkiraanya. Rendi pun bangun dan mempersilahkan Abahnya duduk, Rendi ingin segera pamit ke Ibukota lagi.


****


Di Ibukota.


“Neng Vallen?” pekik Bu Siti Art Rendi.


Vallen tak jemu dan tak pantang menyerah datang ke rumah Rendi walau Rendi tidak ada di rumah.


“Katanya, Rendi pulang hari ini? Apa dia sudah pulang?” tanya Vallen mendesak.


Bu Siti pun gelagapan, karena tiga hari lalu memang Rendi telpon mau pulang. Namun sampai sekarang belum.

__ADS_1


“Bilangnya sih begitu, tapi ya saya tidak tahu jadi apa enggak, Non. Den Rendi belum kasih kabar lagi?” jawab Mbok Siti sopan.


“Ya udah, sini kuncinya, aku mau buat kejutan untuknya. Aku mau masakin sesuatu!” jawab Vallen percaya diri, mengambil kunci yang dipegang Bu Siti. Saat Vallen datang Bu Siti baru saja mengunci rumah Rendi hendak pulang setelah selesai rapih- rapih.


“Ta-tapi Non!” jawab Bu Siti tergagap bingung.


“Udah sih santai aja. Aku teman Rendi sewaktu kuliah di Amerika, meski beda jurusan tapi kosan kita deketan kok. Dia tidak akan berani marah padaku!” jawab Vallen percaya diri.


Bu Siti jadi terdiam, melihat keluguan Bu Siti, Vallen semakin ngelunjak, dia pun tersenyum sinis.


“Justru dia akan marah kalau tahu, ibu menghalangiku masuk ke rumah ini! Tau kan maksudnya?” lanjut Vallen sedikit mengintimidasi.


Bu Siti pun menelan ludahnya takut. Dia pun hanya mengangguk. "Ya Non. Silahkan!"


“Bagus, aku cuma mau masak kok! Nggak mau nyuri atau apapun. Aku punya semuanya. Aku juga bisa belikan apa yang Rendi mau!" ucap Vallen lagi dengan sombong, lalu berlenggang ke mobilnya membuka bagasi, dan ternyata Vallen sudah belanja bahan makanan.


Bu Siti dan suaminya hanya saling pandang, dengan hati yang sama- sama banyak menerka. Mereka tak kuasa melawan Vallen.


Vallen memang cantik dan kaya, kemungkinan dia pacar atau calon istri Rendi sangat besar, walau Rendi tak pernah sekalipun cerita tentang perempuan. Sayangnya dalam benak Bu Siti kurang suka, karena Vallen terlihat sombong.


“Bantuin aku yuk!” ucap Vallen kembali menyuruh Bu Siti layaknya majikan.


Bu Siti pun patuh, mengambil barang belanjaan Vallen yang banyak bak belanja bulanan. Vallen pun bersikap seakan rumah Rendi rumahnya, menata barang belanjaanya, untuk mengisi dapur Rendi.


"Kamar Rendi dimana?" tanya Vallen tiba- tiba di sela- sela mereka masak.


"Gleg!" Bu Siti pun gelagapan, kenapa Vallen jadi semakin ngelunjak tanya kamar majikanya.


"Kenapa Non? Kamar Pak Rendi dikunci!" jawab Bu Siti berbohong.


"Oh!" jawab Vallen terdiam.


****


Di tempat lain.


Setelah kurang lebih 1,5 jam, Nila dan Dita selesai mengerjakan pekerjaanya. Supir Nila juga datang tepat waktu menjemput Nila sesuai oerjanjian Nila.


“Ya udah aku pulang ya,” pamit Nila ke Dita.


“Iya, hati- hati di jalan, semoga presentasi besok berjalan lancar ya!”


“Bismillah, Insya Alloh, lancar. Fightiing!” jawab Nila ramah ke Dita.


Dita pun mengangguk semangat.


Setelah berpamitan dan cipika cipiki Nila pun masuk ke mobil Ayahnya yang disupiri Pak Iman. Mereka melaju pelan melewati jalan kecil di pinggiran kota itu menuju ke rumah Baba.


Sepersekian detik, perjalanan pulang Nila seperti biasanya, berselimut rasa lelah, Nila pun menyandarkan kepalanya di jok mobil yang dingin dan empuk itu.


Sembari membuang rasa lelah, dan mengosongkan pikiranya yang sedari tadi dipenuhi tugas, Nila memandang jalanan tanpa arah. Hingga sesaat focus Nila teralihkan, saat mereka melewati jalan sepi di pinggiran sungai di kampung tepi kota itu. Nila pun membulatkan matanya.


“Pak… berhenti Pak!” teriak Nila tiba.


“Sssstt…, ada apa Non?” Pak Iman pun menghentikan mobilnya mendadak, untung jalanan sepi.


“Liat di jembatan itu? Itu sepertinya ada pengeroyokan, itu teman sekelasku. Tolongin Pak!” ucap Nila menunjuk di arah belokan dari tempat mereka berpijak, tampak mobil terparkir dan ada motor Farel terparkir juga. Di dekat mobil terlihat segerombolan lelaki berpakaian preman mengelilingi seseorang. Satu orang itu tampak mencekik kerah baju seorang pemuda yang tak lain Farel.


“Wah iya!” ujar Pak Iman.


"Tolongin Pak. Bisa mati dia dikeroyok begitu!" ucap Nila panik.


"Iya Non!"


“Hati- hati tapi Pak, takutnya bawa senjata tajam,” ucap Nila memperingati.


“Siap Non! Non sambil minta tolong sama warga ya Non!” ucap Pak Iman


Nila mengangguk, untungnya semua supir di rumah Baba, sudah pilihan Baba yang sebenarnya bodyguard untuk anak- anaknya dan pandai beladiri.


Pak Iman pun langsung turun melerai.


"Permisi. Bang ada apa ini? Kok rame- rame. Udah mau maghrib ngapain di sini? Jangan main keroyokan!” lerai Pak Iman masih sopan.


“He…bapak tua, jangan ikut campur!” jawab salah satu mereka tidak suka diusik.


Akan tetapi Pak Iman seorang yang dibekali ilmu bela diri, membau ada bahaya yang bisa mengancam Farel, tidak mau diam saja.


Pak Iman pun tetap bersikeras melerai, sehingga, mereka marah dan terjadi percekcokan, Pak Iman hampir terluka, karena lucunya, Farel yang ditolong tak membbela Pak Iman.


Untungnya ada orang lewat yang Nila mintai tolong membantu Pak Iman dan segerombolan pemuda itu bubar.


Pak Iman dan warga pun mendekat ke Farel yang sudut bibirnya nampak sudah berdarah.


“Kamu baik- baik saja Nak?” tanya Pak Iman lembut.


“Nggak usah sok peduli, saya nggak kenal Bapak!” jawab Farel malah ketus dan tak tahu terima kasih padahal sudah ditolong, tentu saja warga yang membantu jadi geram.


“Hei pemuda… kami sudah menolongmu, karena peduli denganmu? Kalau nggak kamu mati di tangan mereka. Bukanya terima kasih malah songong!” jawab warga emosi.


“Saya nggak minta ditolong kalian! Minggir!” jawab Farel lagi.

__ADS_1


“Waah kurang ajar! Mabuk ini anak! Perlu diajar ini!” warga pun naik pitam, dan gemas ingin pukul Farel, tapi Pak Iman langsung melerai.


"Jangan Mas, jangan!" Pak Iman malah yang minta maaf dan berterima kasih ke warga. Warga yang emosi pun bubar setelah ditenangkan Pak Iman.


Nila yang sebelumnya memantau dari mobil pun mendengar dan melihat semua itu. Kecurigaan Nila pun semakin besar, ada yang aneh dengan Farel, Nila jadi timbul kasian tapu juga marah. Entahlah, Nila bingung bagaimana didikan Farel dan masalah apa? Hingga Farel seperti itu. Nila pun mendekat.


“Aku tidak menyangka ya? Mahasiswa dengan IQ tinggi sepertimu, attitude dan EQ nya 0. Aku nggak ngerti apa masalahmu? Tapi! Mereka nolongin kamu dan selametin kamu? Tapi kamu justru salahin mereka? Aneh!” ejek Nila kemudian.


Farel yang sebelumnya tidak tahu Nila pun sedikit kaget menoleh ke Nila.


“Kamu!” pekik Farel dengan tatapan sangat jengkel dan benci.


“Ayo, Pak Iman, kita pergi saja, orang yang kita tolong tidak tahu terima kasih! Buang tenaga aja!” ucap Nila.


“Hhh… aku nggak sudi ditolong perempuan munafik seperti kamu, semua wanita sama!” ucap Farel tetap angkuh dan bisa- bisanya, memaki Nila seakan ingin melampiaskan sesuatu.


Pak Iman yang amat sabar ikut naik pitam mendengar Nonanya dihina. “Jaga bicaramu anak muda, akhlakmu sangat buruk. Dia nona kami!” ucap Pak Iman jadi maju, ingin memukul Farel.


Akan tetapi Nila langsung mengangkat tangan memberi peringatan agar Pak Iman tahan. Lalu Nila yang mendekat ke Farel dengan berani.


“Dengar ya Farel, kita menolongmu bukan karena peduli sama kamu, tapi kita nggak mau berdosa, melihat kekerasan dan criminal di depan kami, tanpa kami berbuat sesuatu. Kami melakukan apa yang menjadi kewajiban kami. Its Oke, kalau kamu mau mati, bilang aja, kita nggak akan tolongin kamu lagi!” ucap Nila geram ke Farel.


Farel diam tidak menjawab dengan matanya yang tak bisa diterka.


“Sudah Pak, kita pulang saja!” ajak Nila berbalik arah malas melihat Farel yang aneh.


Nila melangkah dengan mood yang berantakan, sudah lelah, niat menolong justru dikatai. Mereka pun tak peduli Farel lagi.


*****


Di Bambu Teduh lagi.


Begitu Abah duduk, Rendi langsung mengutarakan niatnya, dengan senyum merekah menyampaikan yakin anggurnyya tumbuh, karena daunya tidak layu, dan diujung daun seperti hendak kuncup. Dia pun segera pamit hendak ke kota saat itu juga.


Sayangnya, Abah tak langsung menjawab iya.


“Katamu, pekerjaanmu sudah ada menghandle, kenapa sangat buru- buru?” jawab Abah. “Apa sudah tidak betah tinggal di sini?” lanjut Abah lagi.


“Gleg!” Rendi yang tadinya semangat 45 langsung meredup.


“Maaf, Bah. Bukan begitu. Insya Alloh, Akbar akan lebih sering nengokin Abah setelah ini, tapi Rendi punya tanggung jawab, Bah. Akbar sudah tunaikan tugas dari Abah dan insya Alloh pohonya tumbuh, dan itu kan hanya pohon, tidak penting, kita bisa beli lagi kalau mati, atau bisa kan santri yang merawatnya!” protes Rendi berfikir rasional dan menganggap Abahnya terkadang suka aneh. Masa hanya tanaman anggur membuatnya harus bolos kerja. Untungnya kelas Rendi belum padat dan masih bisa diwakilkan.


“Jadi perintah Abah, buatmu tidak penting?” jawab Abah datar malah terkesan tersinggung dan salah paham.


“Gleg!” Rendi kembali terdiam. Abahnya memang seorang kyai dan Ulama yang rajin ibadah juga berilmu, terkadang di setiap tindakanya mengandung arti yang tidak semua orang bisa mengerti termasuk anaknya.


Ummipun tidak bisa membela dan memilih diam.


“Maaf, Bah! bukan itu maksudnya,” jawab Rendi.


“Kenapa harus buru- buru kembali ke Ibukota? Yakin karena tanggung jawabmu atau karena naaf sumu?" tanya Abah lagi.


Rendi langsung menunduk, ucapan Abah seperti sebilah pisau yang menusuk tepat sasaran. Sepertinya Abi Yusuf tahu isi hati anaknya.


“Jujurlah, pada Abahmu, Nak” sambung Ummi menyela.


Rendi pun menghela nafas, memberanikan diri menatap Abinya sendiri yang terkadang menjelma seperti sosok penguji. Tapi jika bukan pada ayahnya, pada siapa lagi, Rendi bisa jujur dan mendapatkan petunjuk yang benar.


“Maaf Bah. Akbar rindu Nila, Bah, Akbar ingin menemuinya dan kembali mengajaknya menjadi istri Rendi!” ucap Rendi memberanikan diri mengatakan jujur.


Mendengar penuturan Rendi. Abah malah tertawa.


"Carikan Abah dua pohon Mangga. Tanam di belakang rumah!" jawab Abah malah menambah tugas ke Rendi.


"Bah!" jawab Rendi masih mau melawan


"Kamu mau bantah dan lawan Abah? Apa segini bukti ucapanmu mau berbakti dan senangkan Abahmu?" jawab Abah lagi.


Rendi pun kembali menelan ludahnya dan mengeratkan rahangnya bingung, mau mengiyakan, Rendi kesal, perintah Abahnya tidak masuk akal. Mau menolak, tapi ini Abah Yusuf.


Mencari Bibit mangga butuh waktu, belum lagi mencangkul lubangnya memberikan pupuk juga. Itu sangat tidak penting dan merepotkan.


Melihat anaknya diam dan dongkol Abah tersenyum lagi.


"Kalau tidak mau silahkan pergi. Abah nanti suruh Fahri atau samsul saja! Tapi apa kamu pikir semua keinginanmu akan kamu dapatkan dengan mudah dan akan lancar, jika di hatimu masih penuh dengan hawa naaf su dan tidak sabaran. Apalagi kamu pergi membawa luka kecewa Abahmu?" tutur Abah kemudian.


Rendi kembali tersentak dengan pernyataan Abahnya.


"Rendi mau Bah!" jawab Rendi cepat.


"Api yang kamu kobarkan terlalu besar. Butun waktu untuk memadamkannya. Biar dulu apinya padam. Baru kamu datang!" ucap Abah Yusuf lagi dengan kiasan.


Rendi pun menunduk diam merenungi. Walau tak tahu maksud pastinya. Tapi Rendi mencona mengartikan. Mungkin maksud Abah, kemarahan Nila dan Baba masih menyala- nyala. Terbukti sejak awal Ummi dan dirinya mendekati Baba dan Nila mereka selalu diperlakukan tidak baik.


"Tapi kalau kelamaan, waktu Iddah Nila akan segera berakhir Bah." jawab Rendi menawar.


"Salahmu. Kamu buat gadis sebaik dia lepas!" jawab Abah enteng.


Rendi kembali terdiam. Abah tersenyum lagi melihat putranya yang bodoh.


"Jodoh itu sudah tertulis sejak ruhmu ditiupkan. Renungi kesalahanmu. Pikirkan juga langkahmu. Ketergesaan dan ambisi yang penuh naf su hanya akan menyesatkanmu. Tunggu dulu. Biarkan padam dulu apinya!" ucap Abah lagi menasehati.

__ADS_1


"Ya Bah!" jawab Rendi akhirnya harus mengalahkan haasratnya yang menggebu untuk segera menemui Nila.


Abah pun kembali meminta Rendi untuk mencangkul lubang tempat dia menanam mangga. Otomatis kepulanganya pun tertunda lagi.


__ADS_2