Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Rendi Akbar Maulana


__ADS_3

"Shodaqollohul'adziim....," lirih Abah menutup kitab sucinya.


Lalu lelaki yang mulai nampak kerutan di tepi pelipis mata dan bersarung itu membalikan badanya, masih dengan duduk bersilah. Di meja kecil yang terletak di atas karpet dekat mihrab Abah, sudah tersaji wedang jeruk hangat.


Umi pun sigap beringsut mengambilkan untuk Abah.


Dengan tangan kekarnya yang mulai berkerut, Abah pun meraih cangkir itu, dimulai dengan mengucap bismillah, Abah menyeruput minuman hangat buatan istrinya.


Walau di masjid pondok Abah sudah dzuhaan, sudah memimpin jamaah juga mengisi kajian. Tapi Abah masih tetap melanggengkan tadarus rutin di rumahnya, minimal satu jus bersama Ummi. Hanya berdua.


Asal Ummi tidak berhadas, Ummi selalu senang membersamai Abah. Itu adalah waktu berharganya mereka, mengaji bersama di tengah kesibukan Abah yang sering bepergian diundang untuk mengisi kajian.


Setelah selesai, walau sebentar, Abah dan Ummi tetap meluangkan waktu berdua bercengkerama sebelum Abah pergi menghadiri undangan mengisi kajian di tetangga kabupaten.


Abah dan Ummi kemudian beranjak dari mihrab tempat mereka beribah, seperti biasa duduk teras taman belakang rumah yang menghadap hamparan sawah , ada sungai kecil yang Abah bangun pondasi lalu sekelilingnya ditanami bunga bungaan, juga beberapa tanaman hijau, termasuk tanaman anggur dan mangga Rendi.


"Ummi semalam mimpi, Bah!" tutur Ummi pelan.


"Mimpi itu bunganya tidur!"


"Iya. Tapi Ummi berharap itu nyata! Dan terasa sangat nyata!" ucap Ummi.


"Hmmm... Memang mimpi apa?"


"Ummi lihat ada akbar kecil di sini. Dia nakal sekali... Sukanya manjat pohon. Di pohon ini. Di mimpi Ummi ini pohon tinggi sampai ke genteng, akbar kecil jatuh dan menangis dengan sangat keras. Berbeda sekali dengan Akbar kita yang selalu memendam tangisnya dan bersembunyi!" tutur Ummi panjang dengan mata berbinar senang membayangkan mempunyai cucu.


Abah hanya menghela nafasnya sejenak.


"Umi kangen Akbar paling? Apa tidak sabar punya cucu?"


"Dua duanya!" jawab Ummi.


"Baru beberapa waktu lalu ketemu? Kayanya sering telpon juga!" jawab Abah.


"Ya kenapa memangnya? Kangen kan wajar. Ummi juga tidak sabar dengar kabar Nila hamil!" tutur Ummi lagi.


"Apa iya? Pak Ardi dan Bu Alya setuju kalau Nila segera hamil dan punya anak? Mereka kan orang terpelajar dan orang kesehatan?" jawab Abah.


"Haish.. Abah. Kok malah berfikir begitu? Kok nggak mikirin anak sendiri. Akbar sudah tua! Nila itu putri Ummi, Bah. Dia setuju kok untuk tidak menunda hamil!" jawab Ummi menggebu.


"Ya.. Semoga saja. Tapi apa nggak kasian dengan kuliahnya?" tutur Abah lagi.


"Bah... Kok mikirin kuliah. Makanya itu. Nanti begitu lahiran. Ummi yang akan bawa anaknya Akbar. Ummi yang rawat. Biar Nila lanjut kuliah!" jawab Ummi.


"Ummi mau ninggalin Abah?" tanya Abah lagi.


"Ya. Ummi bawa kesini lah,"


"Hush... Masa anak mau dipisahin sama Ibunya. Ya nggak boleh!"


"Ya kan Nila bisa pulang tiap akhir pekan. Jaman sekarang ada pesawat biar cepet!" jawab Ummi lagi sangat bersemangat membahas cucu.


Abah kemudian tersenyum.


"Mii..miii... kok ngotot. Itu anak mereka. Mana mungkin Akbar dan Nila boleh. Sudah jangan banyak berangan- angan. Dosa!"

__ADS_1


"Ck. Abah, Mah. Ya siapa tahu Alloh dan malaikat lewat. Ummi pengen ngasuh cucu. Aisyah kan udah sama mertuanya!" jawab Ummi lagi.


Tapi kemudian obrolan mereka terpotong, karena langkah kaki santri terdengar mendekat. Dan benar saja, penderek Abah dengan sedikit membungkuk, menyapa Abah dan Ummi, memberitahu mobil dan supir sudah siap mengantar Abah ke tempat pengajian, dimana sudah banyak jamaah yang menunggu ceramah Abah.


Ummi pun dengan sigap bangun mengambilkan juga memakaikan kopiah dan pakaian Abah.


*****


"Aak. Dhek!" tutur Rendi menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Nila.


Pasangan suami istri itu bermalas- malasan, duduk lesehan di karpet lantai, menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa.


"Udah, Mas. Mas aja yang makan. Nila belum lapar!" jawab Nila cemberut, masih dengan celana pendek dan rambut berantakan, mukanya tampak lesu padahal sudah mandi, karena Rendi tidak pernah membiarkan Nila tidur awal dan nyenyak.


"Hargai masakan Mas!" jawab Rendi.


"Kan dari tadi udah. Perasaan ini juga Nila yang abisin. Kan mas yang mau kerja!" jawab Nila lagi


Ya, tidak ada angin tidak ada hujan. Atau mungkin karena sejak hari kemarin Nila sudah memberikan servis terbaiknya, Rendi sangat semangat masak sarapan untuk dirinya dan istrinya, walau dia hanya masak sosis tumis.


Dan pagi ini saat dia merasa berhasil membuat masakan. Dia pun meratukan Nila. Rendi yang menyuapi Nila, banyak- banyak, sampai Nila kekenyangan dan cemberut.


"Yaya. Tapi kan kamu juga kuliah! Butuh asupan nutrisi agar otakmu nyambung!" ucap Rendi.


Nila langsung mencebik.


"Nila kuliah siang kok. Nila mau tidur dulu!" ucap Nila.


"Enak aja tidur!" jawab Rendi cepat.


"Jangan pura- pura lupa. Pagi ini Mas buka kelas daring!" ucap Nila mengingatkan.


"What?" pekik Nila seketika itu matanya melotot


"Astaghfirullah.!" seketika itu Rendi langsung memencet hidung Nila.


Nila pun segera menepis mengaduh pegal dan sesak.


"Mata kuliah suami sendiri sampai dilupain!" ucap Rendi


Ya. Hari ini Rendi memang share di grup mata kuliahnya. Dia adakan google meet.


"He... Maap. Kok tumben Mas pilih daring? Mas mau kemana emangnya?" tanya Nila dengan polosnya.


"Biar bisa sambil berduaan sama kamu!" jawab Rendi.


"Huh?" pekik Nila mencebik kesal


"Udah buruan! Buka laptopnya!" ucap Rendi memberi perintah.


"Mas jangan bercanda. Kita satu frame?" tanya Nila lagi.


"Ya kalau kamu nggak malu!"


"Ya malu!"

__ADS_1


"Ya udah siapin dua laptop!" ucap Rendi memerintah lagi


Walau dengan mengkerucutkan bibirnya, Nila bangun mengambil hijab. Lalu menyalakan dua laptopnya. Sementara Rendi mengambil piring dan gelas makananya dan membereskanya ke dapur.


Pagi itu pun, Rendi membuka kelas daring dengan alasan ke mahasiswanya dia ada agenda. Padahal kenyataanya dia duduk bersebelahan dengan Nila yang juga jadi peserta zoomnya.


Bukanya senang, Nila menggerutu, di sepanjang kuliah. Sebab dia malah jadi bingung mau mendengarkan laptop atau menatap ke samping. Bukanya fokus Nila malah pusing suaranya ada dua ditambah kaki Rendi sangat usil. Mau di mute nanti Nila tidak dengar saat teman Nila bertanya dan diskusi. Apalagi Rendi ada iseng melempar pertanyaan ke Nila segala.


Untung mereka memakai background aplikasi sehingga mahasiswa lain tidak tahu mereka berdua sedang berdekatan. Nila pun menjawab seakan menghadap laptop padahal sanga penanya ada di sampingnya.


Kuliah berjalan sekitar 45 menit. Dan google meet Rendi tutup. Seketika itu Nila pun langsung mencubit kesal suaminya.


"Iih kesell...," protes Nila ke Rendi.


Rendi terkekeh sangat bahagia, bahkan kali ini tertawanya sampai terbahak.


"Lain kali kuliah di kelas aja!" jawab Nila


"Enakan begini kan?"


"Enak apanya? Enak di kelas bisa ketemu teman- teman. Dosa lho bohong sama anak- anak. Alasan ada kerjaan penting. Ada dinas luar, ada agenda. Huh. Dasar!" omel Nila manyun- manyun mengatai Rendi.


"Ya nggak bohong lah. Quality time sama istri kan juga tugas pokok!" jawab Rendi lagi.


"Haish. Udah udah sana berangkat. Di kakak tingkat nggak daring lagi kan?" tanya Nila setengah mengusir.


"Ya ampun. Mas diusir!" ledek Rendi bercanda.


"Bukan gitu. Kan sebagai istri Nila harus dukung Mas kerja dengan baik dan benar biar halal rejeki kita!" jawab Nila


"Yaya. Mas berangkat. Kamu nanti naik apa? Mas jemput apa gimana?"


"Nggak usah. Naik taksi online aja!" jawab Nila lagi.


Rendi mengangguk, lalu bersiap berangkat ngajar. Nila pun mengantar suaminya sampai depan pintu.


"Kabari Mas kalau butuh jemput. Kalau mau naik taksi online pun kabari Mas terus yah!" ucap Rendi mengusap puncak kepala Nila lalu menciumnya.


Nila pun mengangguk dan melepas suaminya kerja sampai mobilnya tak terlihat dari pandanganya


Nila pun masuk berniat memanjakan dirinya rebahan sebentar sebelum kuliah siang. 30 menit berlalu saat Nila mulai terasa nyaman dengan tidurnya, indra pendengar Nila menangkap suara bel.


Nila yang baru terlelap setengah sadar memastikan bel itu nyata atau mimpi. Tapi ternyata benar.


"Siapa sih? Bu Siti kan libur? Buat apa Mas Rendi balik?" gumam Nila sembari memakai hijabnya.


Dadanya sedikit cemas melirik jam, takut ternyata sudah siang. Tapi ternyata memang belum


"Masih jam segini? Ck. Sukanya jahil banget sih?" gumam Nila yakin suaminya sedang ganjen.


Dengan wajah cemberut, Nila membukakan pintu.


Akan tetapi seketika itu, Nila menelan ludahnya kaget.


"Selamat Pagi. Mbak? Benar dengan kediaman Bapak Rendi Akbar Maulana?"

__ADS_1


__ADS_2