
Walau bertahun- tahun Rendi menanggalkan panggilan Gus, di luar rumahnya, Rendi tetaplah anak Abah. Tidak peduli dia masih ingin bersua dengan sang Istri, begitu adzan maghrib berkumandang, Rendi bergegas bangun, pamit pada Nila untuk sholat di masjid.
Adapun, Nila, Rendi tidak memaksa, sholat di rumah silahkan. Ikut juga Rendi dengan senang hati membonceng Nila dengan motor yang lama tidak dia pakai.
"Nila di rumah aja boleh ya, Mas. Nila masih malu!" jawab Nila. Nila kan belum kenalan dengan warga perumahan Rendi.
Rendi mengangguk.
"Yakin nggak ikut? Ramai lho di sana!"
"Lain kali! Deh!" jawab Nila.
"Oke!" jawab Rendi. "Hati- hati ya!" ucap Rendi tersenyum.
Nila pun mencebik. "Lhoh kok? Kan mas yang mau pergi. Mas yang hati- hati lah!" jawab Nila.
Rendi pun terkekeh
"Kan adhek di rumah sendirian. Yang kepikiran terus dijahatin orang kan adhek? Hayo di rumah sendiri ada apa nanti?!" ledek Rendi.
"Ish...nggak lucu deh," desis Nila mengkerucutkan bibirnya. "Udah sana berangkat keburu iqomah lho!" usir Nila dengan cemberut imut dan manis.
__ADS_1
Rendi tambah terkekeh, ingin sekali meraup bibir Nila yang manyun tapi sudah wudzu.
"Kalau takut panggil satpam ya. Jangan nangis!" pamit Rendi masih membercandai Nila.
Nila masih terus mengkerucurkan bibirnya, dan meraih sapu.
"Apaan sih? Buru berangkat...keburu iqomah!" usir Nila ke Rendi.
"Ya. Assalamualaikum, sayangku..., baik- baik di rumah ya," jawab Rendi sampai akhirnya Rendi mengangkat sarungnya untuk lari.
"Waalaikum slam!" jawab Nila sembari terkekeh melihat Rendi lari mengangkat sarung.
Sejenak Nila tersenyum menatap Rendi sampai menghilang dari tatapanya, hatinya mengembang melihat sosok pria tampan bersarung dan berkopiah itu. Tangan Nila pun memeluk dirinya sendiri, hari ini harinya begitu manis. Apalagi mengingat penyatuan cinta mereka.
Walau terkadang Rendi galak tidak mau mendengarnya, tapi masih banyak sisi baik Rendi yang perlu Nila syukuri. Nila ingin seterusnya begini, tak ada susah dan kesalah pahaman lagi.
"Benar kata Mas Rendi. Kenapa aku harus khawatir. Kan semua sudah diatur. Alloh jaga Mas Rendi kan? Aku tidak mau merusak kebahagiaan ini?" batin Nila lalu menutup pintu rumahnya dan masuk.
Walau baru 3 hari menempati, tapi hati Nila sudah ditumbuhi perasaan cinta pada tempat huni yang suaminya beli ini. Tidak sebesar rumah Baba, tapi dibanding jutaan fakir miskin di luar sana. Nila sangat mensyukuri rumah yang Rendi beli ini, nyaman.
Tak ada takut atau khawatir meski Nila sendirian. Nila pun menunaikan sholat di rumah sendirian. Dilanjutkan dengan tadarus Al_Quran, hingga tidak terasa waktu Isya datang. Karena belum batal wudzu. Nila melanjutkan sholat Isya.
__ADS_1
"Mungkin Mas Rendi lanjut Isya juga jadi belum pulang?" batin Nila saat melepas mukenahnya dan keluar belum ada tanda- tanda suaminya pulang.
Sebenarnya, cukup lama waktu berlalu, bahkan Nila sempat tadarus. Tapi Nila tetap berbaik sangka, seperti saat di kampus, mungkin Rendi jadi imam. Atau mungkin ada musyawarah dengan bapak- bapak komplek.
"Hh.. Aku masih punya tugas artikel!" batin Nila ingat kewajibanya sebagai mahasiswa.
Tidak mau jenuh dan membuang waktu menunggu Rendi pulang. Nila membuka laptopnya dan mengerjakan tugasnya.
Hingga di tengah Nila sibuk dengan bukunya tiba- tiba bel di rumahnya berbunyi. Nila pun mengembangkan senyum. Itu pasti suaminya. Nila juga mau menanyakan beberapa materi yang dia masih bingung. Rendi kan dosen Nila, harus diberdayakan.
Saking senangnya, Nila lupa tidak memakai hijabnya. Nila langsung berjingkat, dan berlari kegirangan, sama seperti girangnya Nila saat Baba pulang kantor dulu saat masih balita. Nila dan kedua kakak kembarnya berlomba mendapatkan pelukan Baba.
"Walaikum salam....," ucap Nila percaya diri padahal dia tidak mendengar ucapan salam.
"Gleg!" akan tetapi seketika itu senyum Nila lenyap saat pintunya terbuka.
Bahkan Nila langsung menggulung rambutnya yang masih tergerai indah dan menunduk, rasanya ingin cepat berbalik tapi Nila sudah terlanjur membuka pintu.
"Selamat malam?" sapa tamu Nila itu.
"Malam!?" tanya Nila karena tidak memakai hijab jadi tidak nyaman.
__ADS_1
"Benar kan rumahnya Pak Rendi Akbar Maulana!"
"Ya, benar. Saya istrinya!" jawab Nila.