
“Apa- apaan? Dia pikir aku bisa dirayu?” gumam Amer melajukan mobilnya kencang.
Bukanya menikmati pesta, Amer yang kesal didekati Rendi ngacir pulang. Seharusnya laki- laki lain kalau adiknya yang patah hati bisa bersikap profesional. Tapi berbeda dengan anak- anak Baba. Saudaranya yang disakiti saudara lain sakitnya melebihi yang saudaranya.
Selain itu, Amer juga malas di tempat seperti itu. Amer datang karena undangan sebagai rekanan bisnis dan berharap orang lebih mengenal dia.
Perusahaan Vallen dan Perusahaan Baba kan berkerjasama. Axel mengundang Amer juga karena Valen dengan harapan kelak Amer bisa ikut memasarkan resto Axel.
“Thin..thin…,” Amer pun membunyikan klakso begitu sampai di rumahnya.
Petugas keamanan langsung sigap membukakan pintu. Amer pun langsung masuk setelah membuka pintu kaca dan beramah tamah mengucapkan terima kasih ke satpam. Walau seharusnya Satpam terima kasih karena keluarga Amer mempekerjakanya, tapi Amer terbiasa diajari Buna untuk berterima kasihh atas dedikasi orang lain.
Lampu dalam rumah terlihat padam, Amer pun masuk lewat pintu samping tanpa mengucap salam. Amer yakin keluarganya sudah tidur.
Baba sudah tua dan mulai datang penyakit jika begadang. Pukul 21.00 Baba sekarang sudah istirahat bersama Vio dan Buna. Tidak seperti dulu. Padahal sekarang sudah jam 22.30 malam.
Ikun sendiri yang bekerja online, lebih suka menghabiskan waktu di kamar. Nila tentu saja dia paling duluan masuk ke kamar. Para ART sendiri menempati ruang khusus dan terpisah dari rumah utama.
Amer tadi belum sempat mengambil minuman atau makanan, baru datang berkenalan dengan Axel lalu mengambil kursi. Amer juga menggantikan Baba belum lama jadi belum banyak akrab. Selain itu Amer juga bersikap dingin dan tidak suka terlalu dekat dengan orang sembarangan.
Karena di pesta belum apa- apa dan moodnya langsung dikacaukan Rendi, Amer langsung menuju ke dapur rasa kafe di rumah Babanya itu.
“Astaghfirulloh!” latah Amer kaget. “Siapa kamu?” seru Amer sedikit teriak.
Karena sudah sepi lampu dapur tidak dinyalakan semua, hanya lampu pojok perbatasan dua ruang yang dinyalakan, sehingga hanya ada sinar temaram.
Amer melihat perempuan dengan rambut tergerai indah dan memakai gaun putih sedang berdiri di dekat jendela.
“Apaan sih?” gumam Perempuan itu lirih.
Amer buru- buru meraih saklar dan menyalakan lampu.
“Ya Ampun Nila!” pekik Amer begitu lampu dinyalakan, gadis kecil berambut panjang itu berdiri menghadapnya cemberut. “Ngapain kamu di situ? Bikin kaget aja, kakak kira hantu!” tanya Amer cepat.
Amer yang merantau, dan Nila juga yang sekolah di luar, walau kakak adik, sesungguhnya Amer hampir tidak pernah melihat adiknya membuka hijab, jadi Amer kaget.
Saat melihat adiknya dengan rambut tergerai, dalam hati Amer pun mengakui kalau adiknya jauh lebih cantik ketimbang saat memakai hijab, terlihat lebih menawan, suaminya pasti senang jika tiap hari bersamanya.
“Kakak yang masuk nggak ucap salam?” jawab Nila.
Amer pun mendengus kesal lalu berjalan ke tempat gelas, Amer mengambil gelas dan menuang air putih kemudian meminumnya cepat.
Nila juga baru saja minum karena mimpi dan terbangun, tapi tak seperti Amer. Nila pun hanya berdiri mematung melihat Amer lalu mendekat.
“Rakus banget minumnya? Duduk Kak, baca doa! Kaka abis ngapain sih?” tutur Nila mengingatkan karena Amer minum air seperti orang habis lari marathon.
__ADS_1
“Tak!” Amer meletakan gelasnya di meja dengan sedikit hentakan.
“Harta itu titipan Kak, dunia juga cuma sementara, nggak usah galau- galau! Sabar” sambung Nila lagi sok tahu dan sok mengingatkan.
Amer langsung melirik ke Nila. “Ngomong apaa sih kamu?” tanya Amer dingin.
“Kakaak habis putus cinta? Dihianti? Berantem? Atau gagal dapet tender kontrak?” tanya Nila masih sook tahu.
“Ck…,” Amer pun berdecak lalu mengambil kursi dan duduk.
Nila jadi menatap aneh kakaknya, tapi tidak mau ambil pusing. “Ya udah Nila balik ke kamar ya!” pamit Nila sambil balik badan.
“Eh tunggu!” ucap Amer menghentikan Nila.
Nila pun berbalik badan lagi. “Apa?”
“Sini, duduk!” ucap Amer maalah meminta Nila duduk ke dekat Amer.
Nila pun patuh ke kakaknya itu, bahkan mengira kakaknya mau curhat dan Nila bersiap mendengarkan. “Apa, Kak? Nila siap jadi adik baik buat Kakak!” ucap Nila tersenyum manis.
Amer menelan ludahnya berfikir, sambil menatap adik cantik yang dia sayangi itu.
“Buruan Kak!” ucap Nila.
“Apa di kampus tadi pagi, Rendi songong itu menemuimu dan merayumu?” tanya Amer.
“Jujur sama Kakak!” tanya Amer mendesak.
“Nila kira, Kakak mau curhat, kenapa malah tanya Mas Rendi sih?” jawab Nila saat tidak marah kembali menyebut Rendi Mas, seperti sebelumnya.
"Apa dia pernah merayumu dan berusaha mengambil hatimu untuk kembali?" tanya Amer lagi.
"Gleg!" ditanya itu Nila langsung gelagapan, bisa ketahuan kalau Nila pernah bertemu Rendi di warung bakso.
"Kenapa sih semua orang tanya begini? Nila malaa jawab terus. Baba juga tadi tanya begitu?" jawab Nila ngeles agar tidak berbohong, sembari sedikit menunjukan muka ngambek.
"Hmm.. ya maaf!" jawab Amer.
Nila pun hanya mencebik dengan bibir mungilnya.
"Aku tidak salah dengar kan tadi?" gumam Amer lagi.
"Hoh? Salah dengar apa?" tanya Nila.
"Tau nggak? Sepertinya dia gila karena kak Jingga dan kamu!" ucap Amer lagi.
__ADS_1
"Huh? Gila?" tanya Nila lagi.
"Tau nggak? Kaka lagi kesel banget abis ketemu dia di grand opening resto teman Kakak!" ucap Amer akhirnya cerita.
"Oh Kakak abis ketemu Mas Rendi?" tanya Nila.
"Iya. Dia kan baru aja cerai darimu kan? Dia pede banget bilang ke temanya kalau dia punya istri. Segala bilang istrinya disembunyikan dan berharga. Ta i banget kan?" cerita Amer menggebu menjelekan Rendi.
"Iyakah dia bicara seperti itu?" tanya Nila memastikan.
"Iya. Dia pikir kakak akan mudah maafin dia hanya dengan dia bicara begitu. Laki- laki nggak jelas. Kamu jangan mudah percaya!" ucap Amer lagi.
Sayangnya berbeda tanggapan dari Amer. Niat Amer menjelekan Rendi, Nila yang mendengarnya malah jadi tersipu dan dadanya bergetar. "Benarkah Mas Rendi sungguh ingin aku kembali? Apa iya aku berharga untuknya?" gumam Nila terbengong.
"Heii...!" ucap Amer mengagetkan Nila.
"Ehm... ya Kak!"
"Denger kakak nggak?" tanya Amer.
"Ya!"
"Nggak mutu kan cara dia? Kakak bete banget.Makanya kakak pulang!" ucap Amer lagi.
"He.... iya Kak!" jawab Nila menyeringai.
"Kalau Kakak jadi laki- laki. Nggak gitu caranya. Harusnya dia dari awal yang jelas. Nggak pura- pura," omel Amer lagi.
"Ya udah Kak. Biarin aja dia mau ngomong apa. Kakak jangan emosi!" tutur Nila malah Nila yang nasehatin Amer.
"Kakak kalau liat dia hawanya pengen nonjok!" ucap Amer lagi berapi- api. Amer hampir mewarisi Baba muda.
"Ish...capek buang tenaga Kak. Malah kena polisi ribet Kak. Udah sih tidur aja yuk!" ajak Nila mendinginkan
Amer pun mengangguk dan ambil air lagi.
"Ayo!" ajak Amer.
Kakak adik itu kemudian berjalan beriringan bahkan Amer iseng memainkan rambut adiknya
"Kok Kakak baru liat rambutmu sih Dhek?"
"Hmmm bagus kan rambut aku?" jawab Nila centil.
"Kaya kuntilanak!" ledek Amer.
__ADS_1
"Ih Kakak!" jawab Nila kesal dan mencubit Amer.