Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Saling mencintai.


__ADS_3

“Ehm…,” Rendi berdehem menegakan badanya, mengulum lidahnya dan mengedarkan pandanganya tidak nyaman saat semua terdiam.


Kalau saja yang di depanya itu Axel, atau Iwan atau Santi, Rendi akan bilang, “nooh liat noooh, itu kado gue dan Nila, kalian tega misahin kami, masa kado udah datang, nikahan mau dibatalin?”


Sayangnya Rendi tidak bisa menjabarkan itu, dia hanya bisa berdehem, menyesuaikan tensi dan situasi dulu.


Buna tampak menelan ludahnya, wajahnya sendu, tangan Buna kemudian terulur, mengambil sepucuk surat dari sahabat Nila itu, lalu membacanya perlahan, padahal Nila dan Rendi belum membacanya.


Nila sendiri masih sesenggukan, berusaha menghentikan tangisnya, tapi nyatanya, buliran air mata, masih menetes pelan, dia pun segera menyekanya.


Sementara Baba terlihat semakin pucat, Baba seperti ingin menghindari melihat barang- barang itu, tapi karena di hadapanya, Baba jadi lihat.


“Sampah apa ini?” tanya Baba lirih masih mempertahan kan egonya.


“Baba..,” Buna yang baru setengah baca surat ucapan dari teman Nila langsung tercengang menoleh ke suaminya.


“Ck..,” Rendi berdecak lirih, menggigit bibir bawahnya, sepertinya dia harus bicara.


Tapi Rendi tidak boleh gegabah, harus menahan sabar menghadapi Baba.


Padahal kalau bukan mertua, atau sedang dalam masa meminta restu, Rendi pasti sudah menghajar entah dengan kata atau tonjokan, masa kado dibilang sampah, sombong sekali. Tapi kan Baba memang suka sombong, Rendi tahu itu.


Jika Rendi menahan sabar dan memilih kata tepat, Nila yang masih menangis spontan ambil suara.


“Astaghfirulloh Baba…,” ucap Nila semakin sakit hatinya. “Ini bukan sampah Ba.. ini barang- barang pemberian teman Nila, teman yang Nila sayang, mereka juga kasih ini karena sayang sama Nila!” jawab Nila sembari sesenggukan.


Baba terdiam gelagapan melihat dan mendengar Nila menjawabnya menggebu dengan isakan. Sebenarnya Baba juga tahu, dan menyadari itu, hati Baba juga bergetar, melihatnya.


Baba melontarkan kata itu juga sembari tersendat. Baba melontarkan kata kasar itu karena Baba ingin menunjukan ke Nila untuk mengabaikan rencana pernikahan mereka yang akan dibatalkan. Baba ingin menekankan bahwa itu semua hanya sekedar barang.


“Baba mungkin bisa Ba membeli semua barang ini yang kualitasnya berkali kali lipat lebih mahal dan bagus. Bagi Baba mungkin semua barang ini nggak berarti, tapi teman Nila beli ini semua, mereka nabung Ba, mereka nabung dari uang hasil kiriman orang tua mereka demi bisa kasih ini buat Nila, Baba jahat!” lanjut Nila sembari berderaai air mata.


Melihat Babanya diam Nila jadi ingin terus menyadarkan Babanya. Nila juga tidak menyangka Baba yang amat dia hormati dan takuti sesombong itu.


Buna ikut teriris hatinya, Buna kemudian meletakan surat dari teman Nila, Buna tidak bisa berkata- kata. Buna bingung mau bagiamana, Buna pun berfikir tenang sebelum menyela bicara.


"Astaghfirulloh Baba...," Buna hanya menghela nafas.


Isi surat itu semua berisi doa, doa yang tulus teman- teman Nila, mendukung keputusan Nila yang berani mengambil keputusan nikah dini, demia menjaga diri agar kelak tak terjerumus dalam pergaulan yang salah.


Mereka juga memberi selamat dan kepercayaan, insya Alloh, gus Akbar adalah lelaki terbaik yang pantas menjadinya tempat berbakti.


Rendi menunduk sakit mendengar Nila, tanganya gatal sekali ingin mendekati Nila, merangkulnya dan membelai bahunya agar tak menangis lagi. Tapi pasti akan memperkeruh keadaan.


Rendi pun menahan diri tidak emosi. Rendi pun mengangkat wajahnya tenang. Sebelum emosi Nila pecah lagi, Rendi segera menyampaikan pendapatnya, membela Nila.


“Maaf Ba...Saya menemui Nila, untuk menyampaikan amanah ini, karena saya tahu, mereka adalah orang- orang yang membersamai Nila selama tiga tahun di pondok, menyayangi Nila, tumbuh bersama Nila, sesuai usia Nila dan selayaknya Nila tumbuh,"


"Jujur Saya tidak tahu apa isinya, Ba. Saya tidak tahu kalau ini kado pernikahan, untuk saya dan Nila. Saya tidak tahu semua barang ini berharga atau tidak. Yang Saya tahu pasti, barang ini adalah kebahagiaan Nila, tali kasih Nila dan sahabat- sahabatnya yang pasti diberikan dengan rasa sayang. Saya tidak ingin merebut atau merusak tali kasih Nila dan sahabat- sahabatnya. Saya hanya berfikir


saya akan pastikan barang ini sampai di tangan Nila dengan baik! Melihat Nila tersenyum bahagia menerimanya, jadi saya antar sendiri,” jawab Rendi pelan, menunjukan ke Baba kalau Rendi memikirkan bahagianya Nila sebagai ujud bukti dia memperbaiki salahnya.


Baba tercekat tidak bisa menjawab, Baba malu sendiri. Apalagi mendengar kata Nila, baba juga sakit mendengarnya.


“Maafkan saya, kalau saya malah buat suasana jadi begini!” ucap Rendi lagi semakin merendah, berusaha agar hati Baba terketuk.

__ADS_1


Hati Baba memang sudah terketuk tapi Baba masih termakan gengsi dan malunya. Baba tidak mau menyeraah begitu saja.


“Alasan! Kenapa tidak kamu antar ke rumah!” jawab Baba menahan gengsi.


Nila dan Buna semakin tercengang dengan komentar Baba. "Baba...," pekik keduanya.


Berbeda dengan Nila dan Buna, Rendi tersenyum dan langsung menjawab.


“Saya berkali- kali ke rumah Baba, tapi sepertinya wajah dan plat mobil saya sudah jadi daftar hitam yang tidak boleh masuk, saya juga tidak bisa lagi menghubungi nomor Baba untuk minta ijin, jadi saya putuskan memberinya di kampus saja! Kalau Alloh memberi jalan yang mudah kenapa harus mempersulit diri, di kampus lebih menyingkat waktu dan tenaga juga!” jawab Rendi tetap tenang beralasan.


Kan memang Rendi, oleh Baba tidak boleh masuk rumah. Nomer Rendi juga diblokir, tidak hanya oleh Baba, Nila juga sebelumnya memblokir Rendi. Kemarin Nila yang menghubungi Rendi duluan karena Ainun menelpon.


“Ehm..,” Baba semakin malu dibuatnya, Baba tidak berkutik.


“Jadi kalian bertemu di kampus? Lalu bagaimana bisa ada di sini? Dan kalian bisa berada di satu kamar?” tanya Buna angkat bicara menyela. Baba terselamatkan oleh Buna.


Rendi kemudian melirik ke Nila, mengedikkan matanya memberi isyarat, boleh tidak cerita ke Babanya. Sebab sejak awal Rendi juga ingin dan memberi saran Nila menemui Baba, juga memberitahu keadaan Nila saat di rumah sakit, tapi Nila yang kekeh ingin ke Adip saja.


Nila mengangguk. Nila kemudian cerita dengan detail, sejak dia ditelpon Ainun sahabatnya yang sudah pulang kampong ke pulau seberang.


Nila sendiri juga yang menghubungi Rendi duluan, dan menceritakan kejadian di lorong minihospital.


“Astaghfirulloh..kamu bertengkar dan terluka? Kenapa tidak bilang mana yang luka?,” pekik Buna langsung khawatir dan meraih tangan Nila.


“Nila baik Bun. Maaf Nila tidak ingin Buna khawatir apalagi didengar Oma. Itu sebabnya, Nila dan Mas Rendi ke sini,” ucap Nila lagi.


Buna mengangguk mengerti dan menyentuh tangan Nila dengan penuh kasih. Baba semakin tidak bisa berkata- kata lagi.


“Tapi kenapa Rendi semalam terdengar tidur?” tanya Buna lagi.


"Ehm...," Rendi jadi malu ketahuan ngorok.


“Ehm.. ehm..,” dada Rendi mendadak mengembang mendengar cerita Nila kalau Nila membelanya, bahkan Nila cerita detail Nila kekeh beritahu Adip dan Jingga, Rendi tidak seperti yang mereka pikir.


Buna ikut mengangguk mengerti. Sementara Baba membuang muka dan mengulum lidah masih mempertahankan ego walau hatinya mulai sadar kalau Rendi ternyata baik tetap menghormati dan menjaga Nila.


“Alhamudlillah, maafin Buna ya sudah suudzon ke kalian! Tah… Ba.. dengar! Naik Nila, Jingga atau Adip tidak ada yang melangkahi Baba, sudah jangan marah ya,” ucap Buna merendah dan mengakui salahnya.


Nila dan Rendi pun mulai turun ketegangan dan tensinya. Rendi sangat berharap ini awal kebaikan. Dia pun tidak sabat menunggu jawab Baba bilang iya dan Rendi akan segera menyampaikan rujuk.


“Ehm..,” dehem Baba semakin malu, “Ya kan Buna sendiri yang bilang ke Baba khawatir Nila selingkuh sama Adip!” jawab Baba mengelak dan membela diri malah melimpahkan kesalahan ke Buna.


“Ngeek..,” di sini Rendi dan Nila langsung membulatkan matanya. Jawaban Baba di luar dugaan Rendi dan Nila.


Mendengar jawab Baba, Buna langsung menoleh ke Baba mengeratkan rahang gemas, Baba benar- benar keterlaluan. Buna kemudian, menyeringai ke Nila,yang menatapnya.


“Buna ngira Nila sama Bang Adip? Kok bisa? Nila tidak serendah itu Buna..” tanya Nila kembali sedih atas Ibu bapaknya.


“Maaf Nak, Buna hanya khawatir kalau kamu terlalu dekat dengan Adip, Buna dengar kalian di telpon bicara terlalu dekat dan seperti.. seperti mesra,” jawab Buna ragu, tidak nyaman dengan Rendi mau memberi kesan Buna menguping Rendi dan Nila, meski sebenarnya Buna juga bahagia.


“Ehm..ehm…,” Rendi langsung berdehem keras, sembari menggerakan kepalanya acak. Rendi kemudian menegakan badanya, Rendi senang dan GR, tapi malu juga, Rendi pun melirik Nila dan mengkode Nila. Untuk apa Nila bersama Adip milik Jingga, kalau Rendi juga siap jadi suaminya. Nila bermesra dengan Rendi.


Tentu saja semua itu dalam penglihatan Baba dan Buna. Baba dan Buna juga melihat langsung kalau Rendi dan Nila saling tatap dengan penuh cinta juga saling tersipu.


“Memang Buna dengar apa?” tanya Nila lirih.

__ADS_1


“Ehm…,” Buna berdehem tidak nyaman mau jawab, Buna melirik ke Baba dan Rendi lagi, terhadap Rendi, Buna kan sungkan, selain keluarga mereka sedang bersitegang, Rendi kan juga dewasa dan terhormat.


“Nila dan Mas Rendi tidak melakukan apa- apa kok Bun!” sahut Nila meluruskan lagi sembari menunduk tersipu.


Buna mengangguk menyeringai, karena hatinya tetap membayangkan hal lain. Buna masih tidak rela, walau sudah dinikahkan, tapi kan pernikahan mereka siri dengan perjanjian menunggu dewasa, bahkan mau dibatalkan. Buna masih melihat Nila sebagai anak gadis yang baru pubertas.


Sementara Baba semakin resah dengan gerak gerik Nila dan Rendi yang malu- malu tersipu. Ada rasa cemburu sebagai ayah.


“Tetap saja, berdua di kamar malam- malam tidak boleh!” sahut Baba cepat masih saja memasang muka garang dan stay jual mahal.


Buna mendengar kata Baba langsung menoleh, Buna jadi ingat masa muda Buna, bahkan Baba dan Buna dulu lebih parah.


Tapi belum Buna menyahut Rendi langsung menyela.


“Ehm…Maaf Ba!” ucap Rendi cepat menyela, Rendi sudah menahan sabar sedari tadi, sekarang waktunya bicara,


“Meskipun kami baru nikah sirih, bukankah Baba sendiri yang menjabat tangan Saya, memberikan ijab qobul Nila untuk Rendi? Bukankah Baba dan Oma marah karena Rendi menemui Nila selama ini? Kenapa sekarang malah tidak boleh?…,” tutur Rendi langsung menukik Baba, kan Baba sendiri yang menyerahkan Nila.


“Kamu lupa, kamu sudah menceraikan Nila! Kalian sudah bercerai! Sekarang sudah berbeda” jawab Baba.


“Tapi, Ba!” sanggah Rendi lagi cepat, kini tegasnya mulai dia tampakan, dia tidak mau membuang kesempatan.


“Tapi pa?”


“Setelah saya diskusi dengan ustad Hikam… hukum talak Kinayah apabila perkataan itu saya memang tidak menginginkan Nila.....,”


Rendi pun menuturkan pendapatnya, kalau menurutnya, mereka belum bercerai, Rendi tidak memberikan nafkah batin ke Nila karena memang Rendi sedang S3 juga menunaikan janji agar membiarkan Nila tumbuh sewajarnya. Adapun kesalahan Rendi ada sebabnya.


Baba dan Buna sebenarnya tertohok dengan pernyataan Rendi, takut juga mereka menyalahi aturan memisahkan suami istri. Tapi Baba masih tidak mau menerima dengan mudah.


“Tetap saja itu kan kata ustadmu, tentu saja memihakmu, kata ustadku tidak!” jawab Baba kekeh.


Rendi pun menelan ludahnya, menahan sabar. “Maaf Ba. Ustad Baba setuju kata Baba karena beliau mengira saya berniat menceraikan Nila, tapi saya tidak demikian! Jadi ini hukumnya adalah khilaf dan kesalahan saya, saya mohon maaf ke Nila, Baba dan juga semuanya, saya mengaku salah, tapi status Nila masih istri saya, saya berhak atasnya. Kalau mau melakukan lebih tidak ada dosa. Tapi saya masih tetap menghargainya.. dan..” jawab Rendi berusaha meyakinkan lagi, tapi langsung dipotong.


“Tidak, kamu sudah mentalak Nila, titik! Kalian sudah bercerai! Menikahkan kalian adalah kesalahan. Saya batalkan perjodohan kalian! Kalian juga belum berhubungan!” tutur Baba bersikukuh.


“Tapi saya tidak ingin bercerai Ba!” jawab Rendi tidak kalah ngotot.


Buna dan Nila jadi tercekat mendengar dan menyaksikanya. Mereka pun memilih diam.


“Pernikahan kalian masih siri! Sudah kalian bercerai saja! Jangan temui Nila lagi dan Nila! Kamu belajar dengan benaar raih cita- citamu! Perjodohan dan pernikahan ini Baba batalkan!” ucap Baba kekeh masih terus mempertahankan harga harga dirinya.


“Walau tidak tertulis, tapi ini adalah hukum, Ba! Kami masih terhubung suami istri dan Baba sendiri yang menikahkan kami!” tutur Rendi tidak mau kalah juga mempertahankan pendapatnya.


Baba pun jadi kesal sendiri, sebenarnya hati Baba bergetar menghadapi Rendi yang kukuh dengan pendirianya, tapi Baba tidak mau menurunkan gengsinya.


“Kenapa ngotot sekali!" jawab Baba melemparkan tuduhan ke Rendi, "Ini kan perjodohan, saya yang memutuskan, kalian bercerai, ceraikan Nila. Untuk semua nafkah yang kamu berikan ke Nila. Aku ganti semua!" ucap Baba berkobar semakin sombong karena Baba punya uang.


Nila pun semakin kesal Babanya.


"Ba...," ucap Nila menyahut ingin menimpali, tapi kedahuluan Rendi.


“Bagaimana kalau kami saling mencintai dan ingin mempertahankan pernikahan ini?” sergah Rendi cepat.


"Gleg!" Nila, Baba dan Buna langsung tercekat.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pernikahan ini sudah bukan lagi tentang pernikahan siri dan perjodohan? Saya mencintai Nila dan Nila mencintai saya. Kami ingin bersama, Saya siap menikahi Nila dengan pernikahan sebagai mana mestinya!" lanjut Rendi cepat lancar dan penuh semangat.


"Hooh..," Nila langsung menelan ludahnya melongo, dadanya berdebar hebat, Rendi percaya diri sekali mengatakan Nila juga mencintainya tanpa tanya ke Nila dulu.


__ADS_2