Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Baba


__ADS_3

Malam demi malam, semenjak akad terlaksana, dalam sujudnya, juga setiap kali melihat bulan yang menghiasi langit, selalu terucap salam rindu dari hati Nila untuk suaminya.


Bukan rindu tentang bagaimana menjalani hubungan suami istri yang orang lain artikan sebuah pergu mulan dalam ran jang. Namun, Nila rindu, Nila ingin menjemput indah cinta yang halal, seperti ribuan kisah yang dia baca dan dengarkan. Menjadi perempuan normal Nila punya juga punya rasa, ingin diperlakukan istimewa, menjadi teman di setiap perjuanganya.


Nila juga sudah mengerti, menyimpan kagum pada lawan jenis yang mempunyai paras tampan, apalagi dengan sederet prestasi yang Baba sampaikan ke Buna di hari- hari sebelumnya.


Meski begitu, Nila mengerti, Baba memberi jeda waktu, saat ini belum waktunya. Nila hanya meyakini, dia mempunyai tali perjanjian, jika waktu akan tiba, bahkan mereka sudah berjanji teehadap Tuhan, dengan ikrar pernikahan siri.


Nila kemudian menempatkan rindu nya dalam kotak kaca yang indah. Di penjara sucinya harus mengutamakan sekolahnya.


Nila menempatkan rindunya dengan harapan dan penantian yang indah. Dengan keyakinan saat lulus nanti, Rendi yang dia kagumi akan menyambutnya.


Sayangnya tepat di hari kelulusanya dia disambut dengan pernyataan Nenek yang mengecewakan, sampai kotak rindu pecah, berkeping- keping, bahkan sempat Nila berfikir tidak mau lagi menyusunya. Nila memutuskan memungut semua pecahan itu dalam plastik agara tak tercecer lagi.


Dan sekarang, saat Nila sudah memasukan pecahan kaca itu pada plastic sampahnya. Tahap demi tahap, Rendi menawarkan papan, pewarna dan perekat, kembali menebar harapan, menyambung pecahan kotak rindu menjadi mozaik yang indah, bahkan kini dia melengkapi semua barang itu dengan kata cinta.


Tentu saja Nila masih ingat semua rindur yang dia simpan. Nila masih ingin menjemputnya. Namun Nila tahu, membuat mozaik dari kaca yang sudah remuk dan pecah akan melelahkan, tidak mudah, bahkan bisa membuat luka dan tak ada jaminan akhirnya.


Sebelum memutuskan untuk menyusunya. Nila juga harus mempunyai pola yang matang, hendak menggambar apa, dari pecahan kaca itu. Mau jadi seperti apa?


Walau kata cinta adalah kerinduan yang dia harapkan, Nila tidak ingin terlalu cepat mengambilnya. Dia tidak ingin terjebak dalam penantian yang menyakitkan. Nila terdiam, dan terhenyak dengan pernyataan Rendi, terlebih Baba.


“Hh…,” Baba malah tersenyum sinis.


Rendi pun tersentak kaget, Rendi kan sudah memberanikan diri mengeluarkan segala keberanian untuk mengakui perasaanya. Rendi yakin, Baba, Buna dan Nila mempunyai indra pendengaran yang baik. Mereka pasti mengerti maksudnya, tapi kenapa Baba tidak memberikan respon yang seharusnya.


“Kamu bilang kalian saling mencintai?” tanya Baba mengejek.


“Ya. Saya mencintai Nila! Nila juga mencintai saya,” ucap Rendi yakin dan mantap. “Saya ingin, Nila tetap menjadi istri saya, dan saya minta maaf atas semua salah yang sudah saya lakukan, ” tutur Rendi lagi.


“Tidak!” jawab Baba tegas bahkan tanpa melibatkan Nila memberi persetujuan atas pernyataan Rendi.


“Gleg!” Rendi langsung menelan ludahnya lemas, kemudian melirik Nila yang tampak tercengang, Nila di ambang kebingungan.


“Saya berjanji saya akan berusaha bahagiakan Nila, Baba!” ucap Rendi lagi meminta.


“Menikahkan Nila cepat adalah kesalahan, selagi semua belum terlanjur, saya batalkan! Aku tidak percaya lagi dengan perkataanmu, cinta Nila juga cinta monyet, dia tidak tahu apapun!” jawab Baba lagi masih sangat teguh, Baba tetap menunjukan harga seorang Baba.

__ADS_1


"Nila katakan pada Baba. Ini kan yang kamu impikan. Kita lanjutkan pernikahan kita. Mas Sayang sama kamu. Kamu juga kan?" tutur Rendi berharap Nila juga ikut berjuang.


Jika sedari tadi Nila menentang Babanya yang sombong dan asal menuduh. Kini Nila bingung harus bagaimana, sebab Nila juga masih ragu, apa dia sudah siap.


Nila pun menutup pintunya rapat, dia jadi bingung sendiri ini keputusan besar, 3 tahun saja bisa digugurkan dengan hanya satu pernyataan Oma. Apa iya ada jaminan Rendi benar- benar menyayanginya.


"Nila tidak cinta kamu. Dia tidak tahu apapun tentang cinta. Dia menikah denganmu karena perintahku!" ucap Baba memotong lagi sangat percaya diri.


“3 tahun lalu mungkin begitu, Ba.. tapi saya yakin Nila sudah tidak begitu. Iya kan Nila?" tanya Rendi ke Nila. Sayangnya Nila malah meneteskan air mata bingung.


Rendi jadi kalap dan tidak sabar.


"Nila juga masih istri saya, ” ucap Rendi lagi tidak mau menyerah dan ngotot.


Baba kemudian menatap Nila tajam, Nila tergagap, walau tadi Nila berani menjawab perkataan Baba, tapi ditatap galak seperti itu, Nila tetap takut.


“Pilih Baba atau laki- laki ini!” ucap Baba tegas malah membuat pilihan yang mencengangkan.


Rendi semakin lemas dibuatnya,


Diberi pilihan itu Nila semakin gemetar, Nila bingung, jujur saja, Nila ingin kembali menyusun puing itu kaca itu menjadi mozaik yang indah, tapi bersama Baba dan Buna. Walau bagaimanapun Baba adalah ayahnya.


Buna yang sedari tadi bingung langsung angkat bicara, “Baba.. tenang Ba! Ini bisa dirundingin lagi dengan kepala dingin!”


“Buna diam, kalian mau lawan Baba atau bela laki laki ini, sekarang pulang!” ucap Baba keras.


Buna ikut terdiam bingung. Dalam hati Buna setuju Nila menikah dini salah dan sekarang memang sebaiknya Nila lanjut sekolah. Tapi mendengar semua cerita Nila, pernyataan Rendi juga penjelasan Rendi, Buna takut salah dan dosa memisahkan mereka.


Sementara Nila meneteskan air matanya lagi saking takutnya.


“Ketika seorang istri sudah menikah, yang utama adalah suaminya! Buna dan Nila tahu kan? Baba juga pasti paham kan?” ucap Rendi masih tetap berjuang berharap agar Nila tetap stay.


Nila semakin terpaku di tempatnya dan bingung.


“Hanya kamu yang menyatakan dia masih istrimu, bahkan pernikahan sipil saja pihak perempuan berhak mengajukan gugatan cerai, apalagi pernikahan kalian yang masih siri!” jawab Baba menimpali tetap kekeh kalau Nila dan Rendi itu sudah berpisah.


Rendi pun kalut tidak menyangka Baba sekeras ini.

__ADS_1


“Hiks..,” Nila kembali meneteskan air matanya,


“Nila! Bangun ikut Baba pulang, suruh Mbok bawa ke mobil!” ucap Baba tegas "Baba masuk ke mobil kamu tidak bangun. Kamu jadi anak durhaka!" ancam Baba tegas.


"Baba.. dijaga ucapanya!" lerai Buna lembut.


"Buna mau ikut jadi istri durhaka?" jawab Baba malah memarahi Buna.


Buna pun menelan ludahnya lagi.


Bana tidak peduli bangun dan langsung berjalan maju.


"Baiklah!" ucap Rendi menyela.


"Kalau memang Baba meyakini saya dan Nila sudah bercerai. Hak Baba juga memberi restu atau tidak untuk saya. Silahkan Nila pulang bersama Baba. Masa Iddah Nila masih ada satu bulan. Ijinkan buktikan ucapan saya sampai masa iddah selesai!" ucap Rendi tetap meminta kesempatan


Baba tidak menjawab, tapi menoleh ke Nila.


"Bangun ikut Baba atau jadi anak durhaka!"


"Maaf Ba.. Nila. Saya mau ambil dompet saya! Ijinkan Nila ambilkan dompet saya dulu!" ucap Rendi lagi menyela.


Baba tidak menjawab, hanya berdehem dan berjalan menuju ke mobil.


Rendi dan Nila kemudian saling tatap, Buna juga masih duduk bingung.


"Nggak apa- apa ambilkan dompet Mas, mas ber3skan kado ini," ucap Rendi tetap tenang.


Nila mengangguk dan menoleh ke Bunanya. Buna mengangguk. "Cepat sebelum Baba tambah marah," ucap Buna.


Saat Nila berjalan masuk Buna lalu menatap Rendi berbisik


"Maafkan Baba ya, Nak. Semoga ada solusi terbaik!" ucap Buna berbisik


"Terima kasih Bun!" jawab Rendi.


Buna langsung bangun menyusul Baba tanpa pamit Jingga.

__ADS_1


dan begitu Nila masuk ternyata Adip dan Jingga menguping di balik pintu.


"Baba ditenangin dulu. Kita akan bantu kok!"


__ADS_2