Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
5 menit aja


__ADS_3

"Kalau tidak setuju, kamu boleh ceraikan Nila sekarang. Atau terserah kamu kalau mau jadi mantu durhaka, bukankah katanya mertua itu juga seperti orang tuamu sendiri. Berarti aku juga seharusnya kamu patuhi kan? Kalau kamu nggak setuju, yang pasti aku nggak mau tanda tangan. Aku kan sudah sangat baik memintamu menyegerakan!" sambung Baba melihat Rendi diam dan menghela nafas.


Baba benar- benar ingin menunjukan kekuasaanya. Pokoknya Baba mau apa kata dan inginya tercapai juga harus dipatuhi anak dan menantunya.


Baba masih dengan wajah jual mahal menatap Nila.


Nila hanya diam, dan melirik Rendi. Nila benar- benar tidak ingin komentar. Karena Nila juga ingin tahu respon Rendi, meski dalam hatinya Nila ingin mengatai ayahnya. Ayahnya lebai.


Sementara Rendi langsung mengangkat wajahnya tersenyum santai. Ya, Rendi paham, mertuanya ini sejak awal kenal memang Rendi tahunya baik, tapi agak berbeda dari kebanyakan orang.


"Ya, Ba. Terima kasih, Baba memang sangat baik. Dan Rendi yakin, Baba juga tidak akan mempersulit anak menantunya untuk berbakti dan menunaikan hak dan kewajibanya. Hanya saja. Baba juga pasti tahu kan, Nila kan sudah menjadi hak saya Ba. Masa ketemu masih harus ijin Ba? Apa itu tidak mengurangi hak saya?" tanya Rendi menawar secara halus.


"Aku kan tidak melarang, aku cuma bilang sepengetahuanku, apa kalian sudah tidak memerlukanku? Ketemunya ke sini saja nggak usah kelayapan di luar, di sekitar rumah," jawab Baba mengelak dan membela diri. Baba masih ingin memperlakukan Nila sebagai anak gadis miliknya.


Rendi langsung berfikir bisa panjang kalau terus menawar. Yang lain pun memilih tidak komentar. Karena semua sebenarnya juga merasa masih ingin tinggal bersama Nila.


"Baik Ba. Besok pagi Rendi akan ke kantor KUA dan urus semuanya!" jawab Rendi mengambil jalan mempercepat pencatatan sipil dirinya dan Nila.


"Ya, terserah. Tapi jangan lupa ya. beli materai untuk tanda tangan perjanjian yang aku sebutkan tadi!" sahut Baba.


"Siap, Ba!"


"Ya sudah, aku lelah dan ingin istirahat. Kamu juga kan La?" tanya Baba mengusir Rendi secara halus.


"Ehm....," dehem Rendi pelan. Rendi melirik Nila lagi masih ingin bersama. Bahkan Rendi ingin tidur di situ saja


"Kamu tahu maksudku kan?" tanya Baba menyambung tidak ingin Rendi menawar.


"Iya, Ba!" jawab Rendi.


"Maaf Kak, mobilnya juga lain kali parkir jangan di depan pintu garasi!" sahut Amer menambahkan semakin memojokan Rendi untuk pulang.


"Iya. Ini saya pulang. Terima kasih Ba.!" jawab Rendi tahu diri pamit.


"Ya. Hati- hati di jalan!" jawab Baba.


Rendi bangun dan melirik Nila berharap diantar.


"Saya minta waktu ngobrol dengan Nila sebentar boleh Ba?" tanya Rendi.


"Sudah malam. Ngobrol apa memang? Seharian ini kalian kan sudah ketemu kan? Sambung lewat hp saja kalau hal pribadi!" ucap Baba lagi ternyata benar- benar membatasi.


Rendi menelan ludahnya, walau dia tahu dia bisa melawan, tapi sekarang kan Rendi butuh restu Baba dan harus menjaga mood Baba.


Rendi mengangguk. "Ya, Ba! Maaf!" jawab Rendi.


"Nila mau antar Oma ke kamar kan?" tanya Baba lagi mengisyaratkan Nila untuk tidak mengantar.


Oma dan Buna hanya mencebik dan menghela nafas. Mereka semua tahu Baba sedang mengerjai Rendi. Tapi mereka memilih diam daripada panjang dan mood Baba hilang.


Rendi yang terpojok pun pamit. Tanpa diantar Rendi segera keluar.


"Ck... perasaan dulu Pak Ardi baik banget. Nasib nasib?" gumam Rendi mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah Baba.


Tapi sesampainya di depan pagar Rendi berhenti beberapa saat, dan tersenyum. Ya Rendi kan sudah punya akal.


Rendi kemudian meraih ponselnya.


*****


"Drrrrtt...," sesampainya di kamar, ponsel Nila berbunyi.


Nila pun segera memeriksa. Ternyata telepon dari Rendi.


"Hallo Assalamu'alaikum," jawab Nila.


"Waalaikumsalam,"


"Ada apa Mas?"

__ADS_1


"Baju kotor Mas ketinggalan di keranjang di kamar!"


"Ya. besok Nila cuci!" jawab Nila.


"Antar keluar sekarang!" jawab Rendi.


"Hmm...," pekik Nila.


"Cepet. Mas di bawah pohon samping pagar!" jawab Rendi lagi


"Baba udah masuk kamar," jawab Nila dengan lugunya


"Ya nggak apa- apa. Kan kata Baba boleh kita ketemu di sekitar rumah. Ini masih area rumah kan?" jawab Rendi tidak mau kalah.


"Hh....," Nila hanya menghela nafas.


"Cepetan keburu malam!" jawab Rendi.


"Harus ya? Udah sih. Nila cuci aja bajunya. Kalau udah disetrika Nila bawa kuliah. Kalau nggak kan biar buat di sini!" jawab Nila menawar.


"Cepetan turun. Tak hitung sampai 10 mundur, kalau nggak Mas masuk lagi, Mas nggak mau pulang!" jawab Rendi mau menang juga.


"Ck. Ya!" jawab Nila akhirnya.


Ya, persis seperti nasehat Jingga dulu. Baba dan Rendi itu sebelas dua belas, menang sendiri dan kaku. Tidak seperti Bang Adip itu sebabnya Jingga tidak mau.


Tapi Nila kan tidak keberatan, Nila kemudian turun membawa pakaian Rendi. Lumayan bau keringat walau bercampur bau parfum. Nila jadi mulai membau aroma suaminya ini.


Saat Nila turun suasana rumah lantai satu sudah sepi. ART juga sudah berkemas di kamar masing- masing, Baba dan Buna sudah di kamar, adik- adik jelas sudah tidur sejak pulang. Tak ada yang menanyai Nila. Nila pun berjalan keluar pagar.


Mobil Rendi memang masih terparkir, padahal kan Nila tadi sudah antar Oma. Sudah ngobrol sebentar juga sudah sholat isya. Entahlah apa Rendi menunggu atau sudah jalan jauh lalu kembali. Nila hanya heran saja.


"Thok...thok...," Nila mengetuk pintu depan mobil Rendi.


"Klek!"


"Huh?" pekik Nila.


"Masuk!" ucap Rendi


Nila mengernyit, benar- benar ya Rendi. Nila celingak celinguk. Karena jalan itu memang masih area tanah pekarangan keluarga Gunawijaya, juga jalan pribadi, suasana masih sepi.


"Masuk!" ucap Rendi.


"Mau apa? Maaf, nanti Baba marah, Nila nggak belum boleh ke rumah Mas. Ini pakaianya!" tanya Nila menyodorkan sekresek pakaian kotor Rendi.


Bukanya mengambil kreseknya, Rendi malah meraih tangan Nila dan mengajak Nila masuk sehingga Nila sedikit jatuh, sakit dan kaget.


"Sakit Mas. Iya Nila masuk!" jawab Nila.


Rendi tampak menatap Nila aneh. Nila pun membenarkan posisinya agar masuk ke dalam mobil tanpa menyakiti tubuhnya.


"Ada apa? Mas ngomong apa?" tanya Nila pelan dan ragu. Tatapan Rendi bagi Nila agak aneh, Nila mendadak jadi dheg- dhegan.


Bukanya menjawab, tangan Rendi malah tergerak mengunci mobil dan mengungkung Nila. Nila reflek memundurkan wajahnya mentok bersandar ke jok mobil.


Bukanya menjauh, Rendi malah membetulkan tubuhnya menghadap ke Nila.


"Mas, keberatan sama syarat dari Baba?" tanya Nila lagi mengira Rendi marah dan mau bahas syarat Baba.


"Cup!" bukanya menjawab.


Rendi kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Nila. Seketika itu, tubuh Nila bergetar memanas tidak bisa dia kendalikan. Nila pun memejamkan matanya tidak kuasa menolak, membiarkan Rendi melu mat bibirnya lembut. Hingga tidak Nila sadari, tubuh Nila merespon positif, muncul rasa yang tidak pernah Nila rasakan sebelumnya, seperti dorongan panas, juga ada rasa merinding, menjalar ke seluruh tubuh dan membuat nikmat.


Bahkan tanpa Nila kontrol tangan Rendi tergerak menyusuri tubuh bagian belakangnya agar Nila merapat, hingga dengan cepat, tangan Rendi bahkan masuk ke celah hijab dan pakaianya.


"Mas!" pekik Nila spontan mendorong Rendi saat gerakan Rendi sedikit kencang memencet gundukan yang ada di dadanya. Rasanya sedikit pegal dan kaget. Ya, sepertinya Rendi sangat gemas dan tanganya tergerah dengan tenaga full merem mas balon kecil milik Nila.


Rendi terdorong menjauh, mata Rendi memerah, tapi Rendi masih sempat tersenyum. Sementara Nila tampak gugup dan gelagapan merasa tidak menguasai dirinya.

__ADS_1


"Tidak terlalu besar tapi tidak kecil juga! Pas!" ucap Rendi malah menggoda Nila


"Mas. Jangan macam- macam!" ucap Nila masih sempat memarahi Rendi dan memukul Rendi malu dan kesal.


Rendi tidak marah dan tanganya malah merangkul Nila lagi.


"Secepatnya mas akan urus pencatatan sipil kita. Mas nggak macam- macam. Ini ibadah!" jawab Rendi lembut memberitahu.


Nila yang mendengarnya jadi menelan ludahnya menunduk. Kenapa dadanya jadi berdebar hebat begini. Tapi benar kata Rendi, kalau sudah sah Rendi berhak menjamah atas semua tubuhnya.


"Ehm...," dehem Nila jadi bingung rasanya malu dan takut tapi ternyata ada rasa enaknya juga.


"Kalau kita tidak melakukanya Baik Mas ataupun kamu malah berdosa. Kamu tahu kan?" bisik Rendi lagi sedang mengajari Nila sedikit- sedikit agar bisa menunaikan tugasnya dengan nyaman.


"Ehm.. tapi nanti kan?" jawab Nila.


"Kenapa harus tunggu Nanti. Sebenarnya tidak boleh tahu menunda- nunda. Cuma kan mas tidak mau melanggar undang- undang perlindungan anak. Mas juga menepati janji ke Baba. Baba udah acc kan? Kamu sekarang sudah bukan anak lagi juga, kan?" ucap Rendi lagi.


Nila pun mengernyit semakin gelagapan. Sepertinya Rendi benar- benar tidak mau bernegosiasi seperti 3 tahun lalu. Nila jadi takut jangan- jangan di mobil ini Rendi benar- benar mau menuntaskan hasrat tadi siang.


"Mas, tapi... tapi... ini di mobil. Nila... Nila...," ucap Nila mendadak ketakutan dan mendekap dadanya sendiri.


Seketika itu Rendi terkekeh lalu menjauhkan tubuhnya dari Nila


"Ck...," Nila jadi kembali mencebik dan mengernyit, Nila seperti dipermalukan.


"Cup!" Rendi malah mendekat dan mengecup kening Nila. Kali ini lebih pelan dan hangat. Nila hanya bisa menundukan kepalanya menelan ludahnya, tangan yang mendekap dadanya mengendur.


"Iya, nggak di sini. Nanti di rumah ya. Tapi kalau Mas mau jangan nolak lagi! Kamu nggak boleh malu dan takut, kamu sudah dewasa kan?" ucap Rendi pelan dan lembut.


"Ehm...," dehem Nila jadi bingung, Rendi benar- benar tidak bisa ditebak.


Rendi tersenyum melihat Nila ketakutan begini.


"Katanya nikmat kok. Nanti kamu ketagihan!" bisik Rendi ke telinga Nila. Sebenarnya Nila juga mulai suka bahkan sekarang juga telinga merinding. Tapi Nila malu.


"Udah bahas yang lain. Mas mau ngomong apa?" tanya Nila mengalihkan pembicaraan, rasanya geli dan malu.


"Jangan takut sama Celine lagi!" ucap Rendi kini dengan nada serius.


Nila terpaku mendengarkan, kenapa tiba- tiba bahas Celine.


"Insya Alloh, malam ini juga Mas pulang ke Bambu teduh, urus semua persyaratan nikah kita. Mas akan ijin nggak masuk kuliah. Sepertinya akan ada masalah karena kubaca pesan Pak Dekan. Orang tua Farel ternyata tak sepaham dengan Kakaknya?" tutur Rendi lagi dengan dewasa


Nila membulatkan matanya kaget.


"Orang tua Farel?" pekik Nila.


"Aku memberitahu kamu bukan untuk membuat kamu takut. Tapi biar kamu nggak khawatir, kalau besok mas nggak masuk, bukan karena apa- apa. Mas mau nemuin Abah sama Ummi." ucap Rendi lagi.


"Maksud Mas orang tua Farel nggak terima gimana Mas?" tanya Nila jadi panik.


Rendi tampak menggaruk pelipisnya, ragu memberitahu cerita lengkap ke Nila.


"Nggak apa- apa. Keluarga mereka sepertinya memang nggak beres. Nggak usah dipedulikan. Kamu kuliah biasa aja. Yang nyaman aja!" ucap Rendi lagi.


Nila menelan ludahnya mengangguk.


"Dapat salam dari Fatma dan Aisyah. Katanya telepon kamu tadi!" ucap Rendi lagi.


Nila mengangguk, iya tadi sempat melihat ada beberapa panggilan yak terjawab


"Ya sudah kembalilah. Istirahat!" ucap Rendi meminta Nila kembali masuk.


Nila mengangguk tersenyum. "Mas hati- hati!" ucap Nila kini berani membalas memberi perhatian.


Rendi hanya mengangguk.


Nila meraih pintu mobil dan membuka kuncinya, tapi sayangnya tidak kunjung terbuka.

__ADS_1


"Kok masih kekunci Mas?" tanya Nila.


"Peluk dulu, 5 menit aja!" ucap Rendi tersenyum merentangkan kedua tanganya.


__ADS_2