Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Hotel Mercy


__ADS_3

Untuk mengalihkan waktu luang menunggu suaminya bimbingan, Nila memilih bangun dari duduknya, menyusuri rak buku yang tinggi panjang itu. Perpustakaan di kampus Nila sangat besar bahkan mungkin perpustakaan terbesar di negaranya. Lorong bukunya juga sangat banyak dan panjang, sunyi mencekam.


Nila melihat lihat judul dari deretan buku di sana, semua asing untuk Nila, semua menarik, tapi Nila bingung mana yang ingin dia ambil untuk dibaca, sampai tak Nila sadari Nila menghabiskan banyak waktu hanya membaca judul dan melihat sampul buku.


"Sayang...,"


"Gleg!"


Hingga tiba- tiba Nila tersentak kaget saat ada hembusan hangat menggelitik telinga Nila yang ditutup hijab.


"Mas ih!" Nila langsung memekik dan menoleh, spontan menepuk Rendi lalu menoleh kanan kiri. Untungnya Nila memilih lorong buku yang sepi.


Rendi malah nyengir menatap Nila dengan tatapan tajamnya.


"Nggak ada orang santai aja! Mas nyariin tau!" ucap Rendi malah menyandarkan tubuhnya ke tiang rak buku, kebetulan Nila berada di ujung rak. Tanganya bersedekap dan menatap Nila tajam.


Nila jadi tersipu dan salah tingkah dibuatnya.


"Ehm...," dehem Nila jadi gelagapan.


Walau di ponsel Nila berani melontarkan kata marah seenak jidatnya. Tapi berdua di lorong yang sepi dan ditatap sangat dekat begini membuat Nila mati kutu.


"Dibilang jangan kaku. Kenapa sih? Katanya mau kasih liat sesuatu? Mana?" tanya Rendi lagi, tahu banget kalau Nila salah tingkah.


"Beneran nggak ada yang liat dan denger?" tanya Nila berbisik masih mengedarkan pandangan.


Rendi pun garuk- garuk kepala mendengarnya.


"Haish! Nggak! Liat aja rak buku serapat dan setinggi ini. Mahasiswa Mas nyarinya di sebelah sana bukan di sini. Lagian kamu ngapain mojok- mojok ke sini. Mau ajakin mas mojok ya?" goda Rendi lagi berniat mencairkan ketegangan Nila.


Rendi memang sempat pusing mencari Nila dimana? Rendi kan minta Nila duduk di ruang baca dekat meja dia melakukan bimbingan.


"Ish!" Nila pun mencebik.


"Hehe...," Rendi terkekeh.


Saat bibir Nila manyun, mendesis atau mencebik imut sekali, Rendi gatal ingin mengecupnya lagi, bahkan ingin lebih, ingin melahapnya, menggigitnya.


Rendi melirik jam tangan mahal yang bertengger di lengan kekarnya. Baik Rendi dan Nila kan sama- sama akan ke kelas.


"10 menit lagi waktunya masuk kelas. Kalau kangen bilang aja? Nanti kan di kelas kamu bisa liatin Mas 90 menit full. Mau nunjukin apa sih?" tanya Rendi tahu, walau inginya bersama Nila terus tapi Rendi bisa memilah kapan dia harus menunaikan kewajiban dan tidak ingin menjerumuskan Nila. Rendi pun mendesak Nila cepat tunjukan tujuanya, tentunya dengan candaan.


Tidak peduli Rendi yang selalu kepedean. Nila merogoh sakunya dan memberikan amplop dari Celine. Rendi menerimanya, memeriksanya dan malah tersenyum.


"Tuh kan? Kita memang serasi Dhek. Liat aja? Udah nanti nggak usah ada foto prwedd ya? Usul, ini digedein aja, jadiin stand foto di resepsi kita nanti ?" jawab Rendi santai malah senang memperhatikan dengan seksama foto dirinya dan Nila yang berpelukan.


Nila jadi mendesis kesal ke Rendi.


"Ish... ck ngawur?"


"Lah. Gimana sih? Ini bagus lho fotonya?" jawab Rendi lagi mengerlingkan matanya ke Nila. "Mau peluk lagi?" goda Rendi merentangkan tangannya.


"Ih apaan?" Jawab Nila spontan melangkah mundur.


Rendi terkekeh melihat Nila ketakutan dipeluk. Padahal kan suka.


"Sadar nggak sih Mas. Foto ini artinya. Kita diawasi. Celine yang kasih ini? Celine tahu semuanya!" ucap Nila memberitahu dengan mimik serius.


"Ya terus kenapa?" tanya Rendi santai.


"Kok Kenapa? Celine ngancem Nila?"


"Kamu takut sama Celine? Ngancem apa sih?" tanya Rendi dengan nada dewasa seperti layaknya orang yang sedang ngemong ke adik kecilnya.


"Celine akan jadikan foto ini untuk laporin Mas ke polisi. Mas bisa dipenjara karena melakukan kekerasan di lingkungan kampus? Dia juga bisa sebarin foto kita ke teman- teman! Kita harus jaga jarak. Mas jangan sembarangan! Apalagi kaya tadi? Nila takut?" lanjut Nila menjelaskan dengan menggebu penuh khawatir


Rendi malah tersenyum dan menggaruk pelipisnya.


"Duh tak cium lagi nih kamu?" jawab Rendi.


"Mas!" Nila jadi kesal reflek bentak Rendi.


"Apa, Adek Nila sayang?" jawab Rendi kalau di luar kelas manggil Nila dek bukan Mbak.


"Nila serius. Celine ngancem Nila. Kalau sampai Farel kenapa- kenapa dia akan laporin Mas!" lanjut Nila menegaskan dengan nada membara.


"Ya udah nggak apa- apa? Biarin aja!" jawab Rendi lagi masih sangat tenang.


"Kok nggak apa- apa? Dia juga akan sebarin foto ini?" tanya Nila mengernyit.


Rendi menghela nafasnya tersenyum menatap Nila sangat santai.


"Nih. Oma sakit karena Mas. Baba marah karena Mas? Masalahnya apa? Kita tidak ada bertengkar kan? Mas atau keluarga Mas tidak ada yang jahatin kamu kan? Yang jadi problem perkara mulut Mas? Tentang status kita. Mas jawab pertanyaan temen Mas. Mas sendiri dan lebih nyaman pergi sendiri. Padahal sendiri itu tafsiranya banyak. Sekarang. Waktunya kita kasih tahu semua orang. Tapi kamu malah ketakutan? Gimana sih?" jawab Rendi.


"Mas waktu Nila tanya tentang yang Oma dengar, mas jawabnya ketus. Nggak kaya sekarang? Nggak ngejelasin juga? Ah udah ah kenapa bahas itu kan permasalahanya beda!" jawab Nila membela diri.


"Ya bukan gitu. Ya Salah sih Mas malam itu. Mas jutek ke kamu. Mas kan bilangnya, jangan tuntut mas dulu. Kita jalani dulu. Kan mas belum tahu kamu,"


"Dulu bilangnya nggak kaya gini?" jawab Nila lagi.


"Ya kan dulu mas belum kenal dan cinta sama kamu? Sekarang mas kasih nih cinta mas ke kamu semua. Mas juga mau orang semua tahu hubungan kita. Itu kan yang dimaui kamu sama Oma dan Baba. Harusnya kamu seneng kan? Udah nggak usah takut? Orang memang harus tahu kamu punya mas? Nggak boleh ada yang deket- deketin kamu!"


"Ish." desis Nila tersipu. Kenapa Nila yang khawatir malah jadi digombalin begini.


"Tapi kan. Kita di kampus. Bukan di rumah. Ingat juga Kita masih harus ketemu Baba. Dan satu lagi?" jawab Nila beralasan.


Rendi pun menyimak dan menganggukan kepala menunggu satu laginya Nila.


Nila tampak menelan ludahnya ragu.


"Mas nggak takut dipenjara?" tanya Nila pelan

__ADS_1


Sontak Rendi tambah rersenyum.


"Duh. Muridnya Ummi masa gini sih?" jawab Rendi lagi.


"Huh?" pekik Nila mengernyit kenapa bawa- bawa Ummi.


"Sayang, Adek Nila Putri Gunawijaya binti Ardi Gunawijaya yang manis. Dengar Mas!" ucap Rendi lembut.


Nila tersipu dipanggil dengan nama lengkapnya itu. Nila berdiri di depan Rendi menatap dengan mata polos dan bibir manisnya.


"Tau kan? Arti ayat kursi? Baca juga surat Al Anam ayat 59? Juga surat At Taghabun 11? Dan masih banyak lagi. Jangan khawatir. Segala apa yang ada di langit dan di bumi itu semuanya Alloh Atas sepengawasan Alloh. Tidak ada sehelai daun yang jatuh kecuali atas izinNya, dan semua yang terjadi atas kehendakNya. Ya udah. Hadapi! Jangan takut sama ancaman orang? Kita lakukan aja apa yang jadi tugas kita. Pikirkan yang baik- baik!" tutur Rendi panjang mengingatkan dan mengajari Nila dengan dewasa.


Nila tertegun tidak bisa menjawab. Iya juga sih? Kalau ada Alloh dan melakukan hal benar kenapa harus takut Celine?


"Cup...," tanpa ijin lagi, Rendi kembali mendaratkan kecupan ke Nila kali ini bukan di bibir tapi di puncak kepalanya.


Nila pun tersentak kaget. Kenapa Rendi jadi semakin ke sini semakin kesana. Nila hanya mendelik menatap Rendi. Rendi malah tersenyum.


"Alloh kabulin doa kamu kan? Mas sayang banget sama kamu sekarang. Udah! Kamu hanya boleh mikirin kuliah dan pernikahan kita. Ayok ke kelas!" bisik Rendi mengajak Nila masuk ke kelas.


Bahkan Rendi berjalan lebih dulu. Nila hanya mencebik, dadanya kembali berdebar keras. Hangat kecupan yang diberikan Rendi masih terasa. Tubuhnya seperti meleleh jadi susah digerakan.


"Nggak boleh telat!" gumam Nila tersadar dan langsung berjalan setengah berlari menyusul Rendi menyusuri lorong buku.


Begitu berhasil mensejajari Rendi. Rendi ingin meraih tangan Nila dan menggandengnya, tapi di ruang baca banyak siswa sehingga Nila menepis.


Mereka pun ke kelas. Perkuliahan berjalan lancar. Rendi dan Nila bersikap profesional meski keduanya sesekali saling tatap, berkomunikasi lewat mana dan hanya mereka yang tahu. Hingga perkuliahan selesai.


*****


Tak ada kejanggalan sedikitpun dalam perkuliahan sehingga Dita pun tak banyak bertanya. Begitu kuliah selesai, Rendi langsung pergi.


Sementara Nila langsung pergi bersama Dita. Sebab Rendi sudah memberitahu Nila. Rendi ada meeting sebentar. Rendi mempersilahkan Nila makan siang dulu atau sholat dulu. Rendi juga meminta Nila tunggu di parkiran mobil dosen.


"Hai Rend...," sapa Vallen sudah menunggu.


"Mana yang lain? Cuma kita?" tanya Rendi tidak nyaman. Seharusnya mereka meeting tidak hanya dua orang.


"Orangku ada kegiatan lain? Stafmu tadi di sini. Tapi katanya ada agenda lain. Nggak apa- apa kan kita berdua aja? Kamu masih ada kuliah setelah ini?" tanya Vallen berusaha bersikap profesional


Meski begitu, Rendi tetap tidak nyaman. Rendi pun hanya mengangguk dan menjawab singkat.


"Sudah selesai!" jawab Rendi.


Vallen mengangguk senang dan mengeluarkan laptopnya.


Tidak banyak bosa basi dan menunggu waktu. Vallen menjelaskan detail program yang ingin dia laksanakan di kampus Rendi dan Rendi menyimaknya dengan seksama.


Hingga di tengah- tengah Vallen menjelaskan ada seorang pelayan datang memberikan minuman.


"Diminum dulu Rend!" ucap Vallen.


"Aku tidak pesan? Ini kamu yang pesan?" tanya Rendi merasa tidak nyaman, Rendi tidak menghubungi bagian konsumsi sebab dia pikir meeting hanya sebentar dan hanya sedikit orang malas membuat SPJ jadi tidak adakan konsumsi.


"Maaf ya. Aku tuan rumah malah tidak menjamu!" jawab Rendi.


"Aku tahu kamu sibuk!" jawab Vallen. Akhirnya di jeda waktu mereka minum. Bahkan Rendi meneguknya cepat.


Vallen melanjutkan penjelasanya hingga selesai dan semua berjalan lancar. Lusa akan segera disalurkan bantuan dari Vallen.


"Oke sudah selesai," ucap Rendi lega. Rendi melirik jamnya. Meeting selesai 10 menit lebih cepat dari yang dia janjikan ke Nila.


"Axel ngajak kita ketemuan!" ucap Vallen tiba- tiba.


"Kapan?"


"Sekarang! Buat makan siang? Kamu udah nggak ada kuliah kan?" tanya Vallen.


"Dimana?" tanya Rendi cepat.


"Di restoran lantai 4 hotel Mercy! Dia nggak wa kamu?" tanya Vallen.


Rendi diam sejenak menatap Vallen lalu berfikir. Tumben sekali Axel ajak makan di hotel Mercy, hotel bintang 5 yang Rendi tahu harganya sangat mahal.


Melihat Rendi berfikir Vallen langsung tersenyum.


"Nih. Wa nya. Kalau kamu nggak percaya! Aku hanya menyampaikan pesan Axel!" ucap Vallen menyodorkan ponselnya.


Ya di pesan Axel meminta Vallen ajak Rendi. Axel sedan ingin berbagi.


"Kok di hotel sih?"


"Yang paling dekat dari sini. Dia dan istrinya kebetulan lagi nginep!" jawab Vallen. Gedung hotel Mercy, jika dilihat dari lantai atas memang terlihat. Kampus dan hotel memang sangat dekat. Tapi tetap saja kalau ditempuh dengan mobil lumayan.


Rendi mengangguk. "Oh gitu!"


"Ayo kita kesana. Bareng aja!" ajak Vallen.


"Aku bawa mobil!"


"Nanti aku antar balik!" jawab Vallen.


"Tidak usah. Aku harus sholat dulu. Kamu boleh duluan kok!" jawab Rendi lagi.


"Oh. Nggak apa- apa aku tunggu! Kita bareng aja! Kebanyakan mobil macet lho!" jawab Vallen lagi, setengah mengharap mereka pergi bersama.


"Nggak usah. Kita ketemu di sana saja. Aku juga ingin kasih kalian kejutan!" jawab Rendi kekeh menolak pergi bersama. Rendi malah berniat ingin mengajak Nila dan kenalkan Nila.


Vallen tampak menelan ludahnya kecewa ajakanya ditolak.


"Kejutan apa?"

__ADS_1


"Bukan kejutan dong kalau kuberitahu. Aku akan menyusul kalian. Tunggu aku di sana ya!"


"Axel bilang sudah menunggu di sana? Apa tidak sebaiknya kamu berangkat bersamaku?" tanya Vallen masih terus berusaha agar mereka berangkat bersama.


"Tidak!" jawab Rendi tegas. "15 menit aku akan susul kalian!" jawab Rendi tegas menolak.


Vallen terlihat gelagapan sudah ditolak. Vallen pun menyeringai mengangguk setuju.


"Oke! Aku harus buru- buru kan? Selamat siang!" pamit Rendi meninggalkan Vallen.


"Ish.. sial. Tidak sesuai rencana? Kejutan apa lagi? Pokoknya harus berhasil. Bahaya kalau gagal!" gumam Vallen entah apa maksudnya. Vallen lalu mengirim pesan ke Axel


"Santai aja... kerjanya sekitar 20-30 menitan kok! Pas!" jawab Axel.


Vallen pun tersenyum senang. Lalu menutup ponselnya dan berangkat lebih dulu


Sementara Rendi langsung ke masjid. Sholat dzuhur dan menghubungi Nila. Rupanya Nila sudah menunggu di parkiran. Rendi pun berjalan cepat ke parkiran.


Gadis manisnya sudah menunggu dengan tenang. Rendi pun tersenyum menatapnya. Nila benar- benar berbeda dengan Jingga.


"Udah lama nunggunya ya?" tanya Rendi. "Maaf!"


Nila menoleh ke kanan dan ke kiri menunduk malu.


"Cepat masuk. Nila malu!"


"Haish...," desis Rendi gemas kenapa Nila selalu malu.


"Thit..thit...," Rendi memencet remote membuka mobilnya Nila pun masuk dengan cepat.


"Maas!" panggil Nila ragu dan lembut.


"Ya Sayang ada apa?" jawab Rendi sembari memutar setirnya.


"Nila mau beli sesuatu untuk Bunga. Mampir toko Aneka ya!" pinta Nila hati- hati.


Rendi tampak diam fokus melihat layar kamera mobil karena sedang mengeluarkan mobil dari area parkir yang penuh. Nila pun diam menunggu jawaban dengan tenang.


Setelah keluar. Rendi menatap Nila sejenak. "Toko Aneka dimana? Kita ke hotel Mercy dulu.!" jawab Rendi.


"Ha?" pekik Nila kaget. "Hotel Mercy ngapain?"


"Mas kenalin kamu ke teman Mas. Dia undang Mas makan siang!"


"Kok di hotel. Kenapa nggak restoran lain?"


"Biasalah orang kaya!" jawab Rendi.


"Nila malu!"


"Haish... malu lagi. Katanya pengen diakui? Ini teman Mas yang waktu itu tanya Mas lho!" jawab Rendi.


Nila menunduk tersipu.


Sementara Rendi menatapnya tersenyum sepersekian detik.


"Mas!" pekik Nila kaget. "Awas!"


Di depan jalan ada pengamen nyebrang dan lampu masih menyala merah. Tapi Rendi seperti melamun.


"Astaghfirulloh!" pekik Rendi ngerem langsung. Untung Nila peka dan Rendi masih sempat ngerem sehingga pengamen itu selamat.


Rendi dan Nila lalu saling pandang mengelus dada.


"Mas jangan ngalamun! Ini lampu merah lho!" tutur Nila pelan.


"Iya.. Dhek! Maaf!"


Rendi tampak mengangguk, memejamkan mantanya sejenak dan memijat alisnya.


"Kok mas tiba- tiba kepalanya pening ya Dhek?" keluh Rendi.


"Mas belum makan kali!" jawab Nila.


"Mungkin. Apa karena deketan sama kamu ya!" jawab Rendi malah ngacau.


"Ish.. " desis Nila tersipu .


Lampu menyala merah Rendi pun menyalakan mobilnya lagi.


"Sshh...," selama di jalan Rendi sesekali mendesis seperti menahan sesuatu. Nila di sampingnya pun menoleh aneh.


"Mas kenapa?"


"Nggak tahu rasanya nggak jelas!" jawab Rendi pusing sendiri.


Wajah Rendi merah padam, dan berkeringat. Entah Rendi tidak tahu kenapa. Apa memang alamiah karena berdekatan dengan Nila atau karena apa.


Celana Rendi terasa menyesak. Dada Rendi berdebar tapi bukan dheg- dhegan senang atau gerogi. Rendi juga sedikit pening. Seperti tidak bisa menguasai dirinya.


"Mas sakit?" tanya Nila melihat Rendi gelisah dan aneh.


Rendi menelan ludahnya seperti menahan sesuatu.


"Kaya ada yang nggak beres Sayang!" jawab Rendi.


"Itu hotel Mercy udah keliatan, Mas! Kita istirahat aja nanti!" ucap Nila berfikir cepat.


Nipa juga takut, Rendi keringetan dan seperti bergetar.


"Iyah! Mas harus guyur air sepertinya!" jawab Rendi menyalakan riting kiri hendak masuk ke parkiran hotel.

__ADS_1


"Maksudnya mandi?" tanya Nila kaget.


"Udah yang penting masuk dulu!" jawab Rendi.


__ADS_2