Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Jangan Ngawur


__ADS_3

"Hari ini Rendi pulang, dia ingat pesanku tidak ya?" gumam Baba tiba- tiba, Baba sedang makan siang bersama Buna setelah menghadiri sebuah acara.


Buna di sampingnya langsung menoleh.


"Aku khawatir dan tidak tenang. Mana ponselnya, Sayang?"


Jika bersama Buna, Baba memang memasrahkan dompet dan ponsel pribadinya pada Buna. Jika sedang bekerja, Baba hanya mengantongi ponsel pribadi, ponsel bisnis dan semua urusan kerja juga uang, dipegang Pak Dino sekertaris pribadinya yang sudah menua bersama.


Sebelum menyerahkan ponsel Buna sedikit mendelikan mata, heran dan penasaran.


"Pesan apa memangnya Mas?"


"Ehm...," dehem Baba gelisah menatap Buna ragu mau cerita.


"Apa?" tanya Buna.


"Yang Buna ambilkan pagi itu lho. Yang Baba kasih punya Baba!" jawab Baba akhirnya cerita.


"Hh... " Buna menghela nafasnya ingat dan tahu.


"Maas...," panggil Buna lembut. "Sudahlah. Nila sudah punya suami ini. Kalau Buna pikir- pikir. Kasian lho Rendi kalau kita memberinya syarat dan perjanjian macam- macam. Masa kita suruh anak kita cerai kalau sampai Nila hamil. Mas nggak ingat apa? Alya juga hamil Jingga sebelum Alya selesai intership. Apa mas peduli kalau Alya sedang intership? Enggak kan? Rendi udah tua lho Ba! Kasian cucu kita nanti. Udah biarin," tutur Buna panjang.


"Masalahnya, kalau kamu dulu udah wisuda. Umur kamu sudah 25 tahun Sayang. Nila masih kecil!"


"Ya salah siapa anak masih kecil dinikahin?" timpal Buna.


Baba langsung menelan ludahnya gelagapan.


"Baba hanya khawatir, Nila. Mas kasian ke Nila kalau kehilangan masa mudanya. Mas pengen Nila senang- senang dulu. Pacaran halal dulu sama Rendi. Jangan hamil dulu. Kuliah dulu!" ucap Baba.


"Baa...Nila sudah jadi istri dan itu Mas yang buat. Bahagianya Nila sekarang bersama Rendi dan biarkan mereka yang tentukan. Udah nggak usah ditelpon- telpon. Yang penting sebagai orang tua. Kapan anak butuh kita. Kita ada untuk mereka. Biarkan mereka berproses dengan pilihan mereka!" jawab Buna.


Buna kemudian memeluk tasnya yang berisi dompet dan ponsel agar tidak diambil Baba. Baba pun hanya mencebik tak bisa berkutik


"Nih makan. Alya suapin... Aak" ucap Buna malah menyodorkan makanan ke suaminya.


****


Celine berlenggang tenang meninggalkan lab, berbeda arah dengan Rendi dan Nila. Rendi dan Nila berjalan ke lorong belakang menuju parkiran, mahasiswa lain ke lorong depan ke arah gedung lain dan mengarah ke kantin.


Jika Celin berjalan tegas santai walau sendirian, lain halnya dengan Della, Sania dan Mikki tampak stress, terutama si Mikki, anak manis tapi bodoh karena selalu menuruti kata Della.


"Celine...," panggil Della kesal ke Celine.


Celine pun berhenti dengan tenangnya.


"Apa?"


"Kok kamu tega sih aduin aku ke Pak Rendi?" tanya Della sakit hati terkhianati oleh Celine.


Celine kemudian tersenyum masam menatap orang yang katanya bestinya, tapi di antara mereka tak ada yang terbuka satu sama lain.


"Menghianati gimana sih?"


"Kamu udah tahu kalau mereka suami istri? Kok kamu diam aja sih? Terus kenapa kamu aduin kita?" tanya Della.


"Hhh... Della.. Della...," jawab Celin santai

__ADS_1


Sehingga Della langsung melotot kaget.


"Aku bilang atau nggak bilang. Pak Rendi akan tahu itu ulah kamu. Aku lapar. Aku pengen cepat ke kantin. Karena kamu nggak jawab, aku bantu percepat. Kalau nggak? Akan lebih lama kita kejebak di depan pintu. Lagian, kan udah kubilang kan. Jangan apa- apain Nila. Udah, gini aja. Daripada kalian nuduh aku yang enggak- enggak. Pikirkan bagaimana cara Pak Rendi kasih ampun ke kalian. Udah ya aku mau makan!" ucap Celine enteng.


Della pun tambah kesal, tapi Della tak kuasa melawan Celine yang diketahui anak pejabat, bahkan katanya kenal orang nomor satu di kampus itu. Della hanya bisa mengepalkan telapak tanganya.


"Kok Celine begitu ya?" ucap Miki dengan polosnya.


"Tapi bener Celine. Kita harus mikirin gimana caranya kita lolos, apa jawaban kita kalau ditanya darimana kita dapat cairan itu. Kita salah emang,


ketahuan nyuri. Pak Dito juga pasti kena. Pak Rendi kan nggak ada ampun. Gimana kalau dia dipecat terus orang tua kita dipanggil?" tutur Sania gelisah.


"Hiks...ah aku nyesel ikutin Della. Tahu Nila istrinya Pak Rendi. Aku temanan aja sama Dita dan Nila? Pantas barang- barang Nila bagus!" celoteh Mikki dengan polosnya.


Ya. Walau seringnya mereka berdandan dewasa dan sok kuat, mereka masih bermental anak mamah yang biasanya selalu dimudahkan oleh orang tua mereka.


"Diam! Kalian berisik!" bentak Della seketika itu.


Della mengeratkan rahangnya terpojokan. Della rasanya sangat iri melihat barang yang Nila pakai, selalu pas dilihat. Ternyata walau tidak mencolok dan tertutup hijab, barang- barang Nila mahal. Della ingin punya juga, tapi orang tuanya, hanya untuk membiayai Della sudah sesak nafas bahkan konon untuk uang gedung Della, orang tua Della yang seorang pegawai menjual salah satu aset tanah.


Ya, tanpa ada yang tahu, Della sampai melakukan segala cara agar mempunyai barang- barang yang dia ingin dan bisa berteman dengan teman kelas atas seperti Celine, Mili dan Sania, termasuk menjadi sugar Baby. Dan itu sudah Della lakukan sejak SMA.


Della pintar dan cantik, hingga dia mempunyai nilai jual mahal atas dirinya, apalagi sekarang dia menyandang status mahasiswa kedokteran. Pria yang dia kencani pun tak tanggung- tanggung, petinggi negeri.


"Gimana kita bisa diam, Della. Ini salah kamu. Harusnya kita ikuti Celin nggak ganggu Nila.," jawab Mikki.


"Kalau kalian, nggak berani ya udah. Nggak usah temui Pak Rendi. Gue akan temui dia sendiri. Aku berani! Biar gue yang tanggung!" jawab Della mantap.


Mikki dan Sania langsung spechless. Tapi karena mereka terlanjut mengaku, kalau mereka tidak datang malah mereka salah.


"Iya kita tetep ikut temani kamu!" ucap Sania.


****


Ya, Nila berjalan tanpa sepatu. Saat keluar dari ruang lab pun ternyata banyak mahasiswa kakak tingkat mereka. Sontak mereka jadi perhatian dan tidak jarang yang menggunjing sampai ke telinga Nila.


"Saudaranya Pak Rendi? Adiknya? Apa lagi dihukum sama Pak Rendi?"


Tidak ada yang menebak kalau Nila istri Rendi.


Nila tidak berani mengangkat wajahnya atau menoleh. Sungguh, malu sekali, hingga tanpa sadar Rendi sudah berjalan cepat dan belok, Nila malah lurus dan menabrak papan slogan.


"Hhh...!" Rendi yang melihatnya menghela nafas menggelengkan kepala.


"Gleg!" sementara Nila menelan ludahnya, tambah malu. Nila pun mencebik ketika sadar dia sedang diperhatikan banyak orang termasuk Rendi, juga terlihat sangat bodoh.


Rendi pun mengalah berbalik dan mendekat ke Nila. Bahkan sesampainya di dekat Nila, Rendi jongkok dan membungkuk.


Nila pun mengernyit kaget.


"Mas mau apa?" tanya Nila.


"Jalanmu lambat banget, Dhek? Kaos kakimu kotor juga. Naik!" ucap Rendi ternyata tidak sabar Nila berjalan lambat.


Nila pun langsung tengak tengok dan ternyata memang dia diliatin beberapa kakak tingkat.


"Mas ini di kampus. Malu!" ucap Nila lirih.

__ADS_1


"Haish...," desis Rendi. "Dari kemarin siapa yang tanya terus kapan Mas pulang. Mang nggak kangen apa sama Mas. Buru naik! Mas gendong. Mobil Mas di situ kok!" rayu Rendi ke Nila.


Nila hanya memanyunkan bibir. Memang Nila selalu tanya kapan Rendi pulang. Nila juga selalu lapor dia sedang apa, Rendi sedang apa. Walau prakteknya oleh Rendi dibaca borongan. Meski begitu tak sekalipun Nila biacara kangen.


"Ayo Mas gendong. Nggak ada orang kok!" ucap Rendi lagi..


Ya sebenarnya mereka memang sudah di ujung lorong dan hampir meninggalkan lab. Sebentar lagi mereka akan turun dari lantai bangunan gedung laborat, mereka akan berjalan ke parkiran yang panas dan kotor.


Nila menelan ludahnya ragu. Nila malu harus bermesraan di kampus


"Cepet!" seru Rendi lagi


"Ya!" jawab Nila akhirnya, Nila yang hari ini memakai tunik dan celana langsung naik ke punggung Rendi.


"Pegangan yang kenceng!" ucap Rendi.


Nila tidak menjawab tapi mengalungkan tanganya ke leher Rendi. Rendi pun menggendong Nila berjalan ke arah mobil.


"Jalanya yang cepet Mas?" bisik Nila memeluk Rendi erat menyembunyikan wajahnya di punggung Rendi.


Rendi malah berjalan santai dan tersenyum, tak ada berat sedikitpun karena Nila tak begitu tinggi juga tidak gendut. Yang ada Rendi sangat nyaman dan tubuhnya menghangat saat di punggungnya terasa ada tekanan dari dua benda kenyal dari Nila.


"Kenapa memangnya?" tanya Rendi


"Malu ih!" jawab Nila.


"Malu kenapa? Nggak ada orang juga!" jawab Rendi.


"Ada!" jawab Nila dengan suara manjanya.


"Nggak ada!" jawab Rendi tidak peduli ada orang atau tidak. Rendi masih ingin menikmati tekanan- tekanan dari tubuh Nila.


"Ih.. Malah pelan. Cepetan ke mobil!" pinta. Ila lagi


Sayangnya Rendi malah semakin memelankan jalanya, nyaman sekali dipeluk Nila seperti sekarang. Apalagi, Rendi merasakan ada bagian hangat yang menempel dari bagian pangkal paha Nila yang mengaitnya. Seketika itu, celana Rendi terasa sesak karena ada yang membesar memenuhi ruangan.


"Iih...!" Karena kesal dan gemas melihat respon Rendi. Nila malah menggigit kecil bahu Rendi.


"Auh. Jangan digigit, Dhek!" keluh Rendi tertawa geli manja.


"Buruan!" rengek Nila lagi


"Ya. Ini udah sampai!" jawab Rendi sampai di samping mobilnya.


Nila pun segera melorot turun.


"Kita mau kemana?" tanya Nila.


"Udah masuk!" jawab Rendi.


Nila patuh masuk ke mobil. Rendi pun menyusul masuk.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Nila lagi.


Sayangnya bukanya menjawab Rendi malah menurunkan jok mobilnya turun dan bisa berbaring.


Sontak Nila melotot kaget

__ADS_1


"Mas jangan ngawur. Ini kampus!" omel Nila pikiranya sudah kemana- mana.


Sontak Rendi langsung tertawa dan menjitak kepala Nila.


__ADS_2