Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Kamu Kenapa?


__ADS_3

“Siapa sih, dosen yang sok ganteng kemarin itu?” seru Farel di pojokan kelas ke teman kelas yang lain.


Nila yang baru saja datang tanpa sengaja mendengar, karena bangku yang lain sudah di tempati teman- teman yang sudah tiba lebih dulu. Nila kebagian duduk di dekat Farel.


“Ya emang ganteng kali!” jawab teman Nila yang ternyata Celine.


Entah sudah kenal sebelum masuk ke kampus atau Farel dan Celine cepat akrab, mereka tampak berkumpul bersama.


“An jir tau nggak? Gue dikerjain!” ucap Farel lagi.


“Kenapa emangnya?”


“Tau gini gue males bangun pagi, kemarin dia bilang gue suruh datang ke ruanganya, gue udah datang pagi- pagi malah dia nggak ada!” ucap Farel lagi.


Celine dan teman- temanya malah ketawa receh menertawakan Farel.


“Ketawa lagi lo?” ucap Farel kesal diketawain.


“Ya lo bilang lo nggak takut dan kesel sama dia? Kenapa mau- maunya lo datang ke kantor dan ikutin mau dia?” ejek Celine ke Farel.


“Ck,” Farel berdecak tidak terima kalau dikira anak baik yang takut pada dosen.


“Gue nggak takut sama dosen belagu dan sok kecakepan kaya dia. Gue tertantang aja, dia mau kasih hukuman apa ke gue?” ucap Farel lagi.


“Hh…,” Celin hanya menghela nafasnya. “Serah elu deh!” jawab Celine. Entah kenapa Celine lalu melirik ke Nila padahal Nila tampak tenang menghadap ke depan, walau tak sengaja menguping tapi Nila mendengar semuanya.


Karena Celine menatap ke Nila, Farel jadi ikut melihat Nila.


“Lo liatin siapa?” tanya Farel.


“Itu yang namanya Nila bukan sih? Gue denger keluarganya kaya?” tanya Celine.


Karena namanya disebut Nila pun menoleh.


“Kamu memanggilku?” tanya Nila ramah, Celine hanya tersenyum sinis tanpa menjawab.


“Ke_Gran Lo. Nggak ada yang manggil Lo!” ucap Farel yang jawab.


“Oh, baiklah!” jawab Nila mengangguk lalu menghadap ke depan lagi, Nila memilih membaca buku entah itu novel atau buku pengetahuan.


Meski Nila tak ikut nimbrung tapi Nila tahu, dirinya sedang dicibir.


“Katanya kaya, tapi penampilanya kok udik sih?” ejek teman Celine yang bernama Deline.


“Aku penasaran sepintar apa dia?” ucap Celine.


Nilai Nila yang tak sengaja mendapat nilai sempurna membuat banyak orang termasuk kakak tingkat penasaran Nila seperti apa.

__ADS_1


Padahal Nila sudah berusaha berpenampilan tidak mencolok dan tidak menarik perhatian orang. Tapi tetap saja orang penasaran.


“Paling dia udah dapat bocoran soal duluan” jawab Farel sedikit keras sengaja memancing Nila.


Sayangnya Nila tak menggubris dan focus pada headset juga bukunya.


“Males gue disini, gue mau cabut ah!” ucap Farel lagi.


“Lah mau kemana? Lo nggak takut dimarahin senior dan dosen lagi?” tanya Deline lagi.


“Nggak apa- apa, pergi aja, Rel, gua juga pengen liat dosen itu lagi!” jawab Celine malah membela Farel nakal dan meninggalkan kelas, malah ingin berurusan dengan Pak Rendi.


Farel tidak menjawab dan mengambil tasnya meninggalkan kelas, padahal jam masuk tinggal 2 menit lagi.


Dita saja yang hampir terlambat datang dengan terengah- engah, bahkan di depan pintu hampir bertabrakan, saat berpapasan dengan Farel, Dita juga heran.


“Hooh…untung aku nggak telat!” ucap Dita begitu sampai di bangkunya.


“Emang kamu kos dimana?” tanya Nila kemudian.


“Jauh… di pinggiran kota! Cari yang murah aku mah! Kujelasin orang kaya, kek kamu nggak akan ngeri,” jawab Dita asal, Dita tahu Nila diantar jemput jadi dia nebak Nila pasti orang kaya.


“Ya udah lain kali aku main ke kosmu biar tahu ya,”


“Boleh!” jawab Dita.


“Eh tau nggak?” tanya Dita mengajak Nila mengghibahi Farel.


“Apa?”


“Cowo yang kemarin bikin masalah, siapa namanya Farel? Dia malah bawa tasnya pergi? Mau kemana dia?” tanya Dita.


“Huh?” pekik Nila jadi penasaran.


Nila pun menoleh ke belakang. Ya, Celine tinggal berdua dengan Delin, dan Farel pergi.


“Ya udahlah biarin bukan urusan kita!” jawab Nila mengalihkan.


“Aku nggak suka lho kalau punya teman trouble maker kek ia, bikin suasan kelas nggak nyaman!” bisik Dita mengeluh.


“Ingat, Dita kamu jauh- jauh datang ke sini untuk apa? Jangan sampai hal di luar hidupmua mengganggumu, udah nggak usah dipikirin!” ucap Nila lagi menasehati, padahal Nila sendiri juga suka baper.


“Iya ustadzah!” jawab Dita menggoda Nila karena Nila termasuk minoritas yang memakai jilbab dan suka memberi nasehat..


“Ish,” Nila pun hanya mendesis.


Tidak lama, senior mereka datang, tapi berbeda orang, kali ini bukan Dimas, tapi senior- senior perempuan. Mereka pun mengabsen, dan Farel sungguhan bolos, meski begitu karena senior perempuan mereka tak ambil pusing.

__ADS_1


Masa orientasi hari ini pun dimulai, mahasiswa baru antusias, karena hari ini tidak hanya diisi ceramah dan motivasi, tapi banyak ke permainan ke akraban di luar gedung.


Hanan satu kelompok dengan Celine, tapi Hanan lebih sering membantu kelompok Nila yang kebetulan perempuan semua. Karena banyak acara permainan waktu tidak terasa, tahu- tahu istirahat mereka pun menuju ke kantin.


“Aku ikut gabung kalian boleh?” tanya Hanan mensejajari Nila dan Dita.


“Boleh apalagi, kalau nraktir,” celetuk Dita spontan dengan gaya cerianya.


“Dita?” pekik Nila dengan mata menyipit, menurut Nila Dita memalukan.


Sementara Hanan tersenyum melirik ke Nila, “Oke aku traktir, kalian mau makan apa? Katakana saja!” jawab Hanan.


“Beneran nih?” tanya Dita.


“Beneran!” jawab Hanan.


“Nggak, aku aja yang bayar!” celetuk Nila.


“Nggak apa!” jawab Hanan.


“Biarin aja sih L!” jawab Dita.


Akhirnya Nila pun kalah, mereka bertiga kemudian makan bersama, di sela- sela makan mereka pun saling mengobrol. Mereka semua sudah tidak sabar masuk ke perkuliahan yang sesungguhnya, siapa dosen mereka, lalu mata kuliah apa? Bagaimana mereka akan hadapi.


“Semoga ada kelasnya Pak Rendi,” ucap Dita nyeletuk.


“Uhuk!” Nila yang sedang meminum jus strawberry langsung terbatuk. Akan tetapi tidak ada yang ngeh apa sebabnya, mereka pun hanya cuek dan mengingatkan sekenanya.


“Pelan atuh, La!” ucap Dita.


“Iya, kayaknya Pak Rendi kalau ngejelasin mudah ditangkap,” sambung Hanan.


“Tapi kayaknya aku intip di kalender semester satu nggak ada!” sambung Dita lagi.


“Dia ngajar apa sih?” tanya Hanan lagi.


“Entahlah!” jawab Dita. Hanan dan Dita dengan tanpa rasa salah atau curiga lanjut terus membicarakan Pak Rendi, sementara Nila yang kesedak hanya berusaha menormalkan nafasnya dan membersihkan mulutnya.


“Jangan Please.. jangan. Semoga Mas Rendi nggak ngajar di kelasku di semester ini,” batin Nila berbeda doa dengan yang lain.


Setelah makanan selesai, Hanan menepati janjinya, untuk mentraktir. Setelah itu Hanan ajak Dita dan Nila sholat. Sepanjang jalan menuju ke masjid, hati Nila terus berdebar, takut di masjid bertemu atau diimami Rendi, sampai Nila tampak gelisah dan celingukan. Sayangnya sampai Nila selesai sholat, dan Dita berceloteh banyak Nila tak melihat Rendi.


“Sepertinya dia sungguh tidak datang, aish kenapa aku mencarinya sih, bukan urusanku,” batin Nila menggelengkan kepalanya sendiri bahkan sambil merem.


“Kamu kenapa La?” tanya Dita heran.


“Ha…” pekik Nila kaget.

__ADS_1


__ADS_2