Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Harus ada Sidang.


__ADS_3

"Itu seperti mobil Pak Rendi?" gumam Nila di dalam mobil.


Tepat di persimpangan arah rumah Baba, mobil Rendi dan Nila berpapasan. Rendi sudah merayu satpam berjam- jam tapi satpam rumah Baba tetep bersikukuh menolak Rendi masuk. Rendi pun pulang karena dia juga harus bekerja.


Nila pun memperhatikan mobil Rendi sampai memutar badanya.


"Liatin apa sih?" tanya Jingga yang duduk di samping Nila.


Mereka berdua sehabis memeriksakan kehamilan Jingga. Juga memeriksa usaha milik suaminya.


Nila juga belanja pakaian persiapan mengikuti ujian.


"Kaya mobilnya Pak Rendi Kak!" jawab Nila.


"Biarin aja!" jawab Jingga. "Jangan kuliah di kedokteran kaya Kakak. Kamu ambil fakultas lain aja!" jawab Jingga.


"Iya Kak. Nila kan ambil gizi. Kedokteran pilihan kedua!" jawab Nila.


"Kakak percaya kamu ketrima di gizi! Diajar Pria seperti itu nggak enak. Enakan di gizi!" tutur Jingga menasehati.


"Iya.Kak. Nila kan juga suka masak. Nila mau jadi nutrisionis!" jawab Nila.


Jingga pun menepuk bahu Nila sebagai tanda sayang.


Mobil mereka yang dikendarai Supir memasuki pelataran rumah Baba. Akan tetapi setelah mobil mereka masuk, pagar tak langsung ditutup belakang mereka menyusul mobil lain.


Nila dan Jingga pun menoleh.


"Abang...," pekik Jingga matanya berbinar.


Mobil tua bermodif yang terparkir di PT nya ternyata mengikutinya.


"Bang Adip?" gumam Nila juga.


Jingga pun segera membuka pintu. Benar saja pria berkulit coklat mengkilap dengan pembawaanua yang tenang dan cuek, mengenakan pakaian favorit kaos oblong dan celan tiga perempat tampak tersenyum ke mereka.


"Abaang!" rengek Jingga manja menyambutnya.


"Jangan lari- lari. Kasian dhedhe bayi. Mondut!" tegur Bang Adip memanggil Jingga dengan panggilan Mommy Gendut.

__ADS_1


"Iih Abang!" pekik Jingga manyun.


Adip pun mengulurkan tanganya. Jingga langsung menyambutnya dengab mengecup tanhan Adip


"Kok nggak ngabarin?" ucap Jingga manja. Lalu Jingga menggandengya manja.


"Kan biar seru? Suka kan?" tanya Bang Adip lagi


"Iish!" desis Jingga lalu mereka berjalan menuju ke dalam.


Nila yang sedari tadi menunggu dan memperhatikan, pun mengangguk tersenyum menyapa Kakak Iparnya. Nila endak bersalaman tapi Nila dan Adip sama- sama canggung.


"Apa kabar La?" tanya Bang Adip ramah ke adik iparnya


"Alhamdulillah, baik Kak?"


"Selamat ya. Udah mau jadi mahasiwi. Mau minta hadiah apa nih?" tanya Adip.


"Hehehe nggak minta apa- apa Kak!" jawab Nila.


"Jangan! Minta yang banyak!" jawab Jingga malah menyuruh adiknya porotin suaminya.


"Minta doa aja Kak. Nila lolos Ujian masuk mahasiswanya besok!" jawab Nila lagi.


"Pastilah. Bang Adip percaya kamu lebih pinter dari Mondut! Iya kan Mom?" tanya Adip senang sekali menggoda Jingga..


"Ish.. kita sama- sama pintar!" jawab Jingga.


Nila pun hanya tersenyum malu dan canggung jika bersama kakaknya yang di depanya terlihat mesra terus.


Mereka bertiga pun masuk. Buna dan adik- adik kembar menyambut mereka dengan riang. Tapi Amer, Ikin dan Baba tidak ada karena masih bekerja.


Adip pun beramah tamah ke Ibu mertuanya. Iya dan Iyu pun langsung berjingkat memeluk Adip.


"Bang Adip baru datang. Bang Adip punya Kak Jingga jangan ganggu. Biar Bang Adip istirahat!" celetuk Jingga langsung posesif ke suaminya padahal ke adik kembarnya sendiri yang masih SD.


"Kak Jingga bawel!" celetuk Iya.


"Iya.. pelit!" sahut Iyu.

__ADS_1


"Bang Adip mau istirahat dulu. mainnya nanti lagi ya!" lerai Buna ke Iya Iyu.


Iya Iyu pun patuh. Jingga dan Adip pun berjalan ke kamarnya.


Sesampainya di kamar. Tentu saja mereka langsung melepas rindu. Saling berpelukan, dan melempar cium satu sama lain.


Setelah sepersekian detik mereka saling melahap Bibir. Adip pun mengelus perut Jingga.


"Hai...Jagoan. Papa udah siap tunggu kamu keluar!" ucap Adip menciumi perut istrinya yang buncit.


"Sabar Papa. Tadi udah priksa...minggu depqn kalai belum kenceng ke rumah sakit!" jawab Jingga dengan suara bayi.


Mereka lalu saling duduk di atas kasur peraduan mereka yang lama mereka tinggalkan.


"Baba. Sama Amer Ikun kemana?" tanya Bang Adip.


"Kerja!"


"Pak Rendi?" tanya Adip belum tahu keputusan final Baba.


"Kok tanya Pak Rendi sih. Kan udah aku ceritain! Nggak usah tanya- tanya dia?" jawab Jingga.


"Ceritain apa?" tanya Adip.


"Udah nggak usah tahu!"


"Bentar- bentar. Nila di sini? Pak Rendi nggak kesini!"


"Mereka pisah. Pak Rendi bukan anggota keluarga kita lagi!"


"Kok gitu?"


"Ya Baba mau gitu!"


"Emang gimana ceritanya?" tanya Adip.


Jingga pun menceritakan masalah adeknya.


"Yang... nikah kua untuk cerai harus lewat pengadilan. Nikah sirih pun harus ada isbat, lho!" tutur Adip.

__ADS_1


"Udah sih Bang. Ssstt. Cup!" Jingga pun langsung membungkam Suaminya


__ADS_2