Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Aneh


__ADS_3

"Males banget sama Prof Jul. Udah ngejelasinya nggak ada suaranya. Kek dinina bobo tahu nggak? Tugas banyak banget lagi?" keluh Dita ke Nila. Mereka berdua duduk dengan setumpuk buku- buku tebal di depanya.


Nila tersenyum mendengarnya.


"Tapi setidaknya aman kaan? Nggak harus senam jantung, tiba- tiba suruh ujian atau ditanya suruh ngejelasin. Kalau dokter Santi kan tau- tahu kita suruh ujian. Ambil sisi positifnya. Prof Jul pingin kita mandiri! Santui " jawab Nila lembut menyemangati Dita.


"Ish...," desis Dita. "Kamu maah...," jawab Dita manyun.


Hari pun berlalu, Dokter Santi sudah resmi mengundurkan diri, dan mereka kini sementara di ajar Profesor Julian. Dita dan Nila pun ke perpustakaan kampus karena hari ini ada presentasi soal kasus dari Prof Jullian.


Meski mengeluh tapi tangan dan otak Dita tetap bekerja. Bahkan Nila akui, Dita lebih pintar dari Nila. Apalagi saat Presentasi, menurut Nila, bahkan Dita bisa menjelaskan detai. Ya, bagi Nila, Dita teman yang unik.


"Assalamu'alaikum....," sapa seseorang di belakang mereka.


Dita dan Nila langsung menoleh.


"Waalaikum salam," jawab Nila lembut


"Haii...teman baik," jawab Dita sumringah lupa jawab salam.


"Jawab dulu salamnya, dosa nggak jawab salam!" tegur Nila.


"Iya ustadzah, waalaikum salam, tetangga kelas," jawab Dita manyun


Hanan pun nyengir melihat dua teman beda kelasnya ini. Lalu Hanan mengambil kursi agar ikut gabung.


"Aku boleh ikut gabung kaan? Lagi pada ngerjain apa sih?" tanya Hanan menatap ke Nila.


"Lagi...," jawan Nila pelan tapi terhenti karena Dita lebih dulu menjawab cepat.


"Boleh banget. Apalagi kalau mau bantuin aku. Hehe aku lagi buat makalah sama materi Presus Prof Jul. Ngajar sehari langsung kasih tugas banyak. Bantuin sih?" ucap Dita dengan cerianya.


Nila pun hanya mendengus. Meski beda kelas, tapi Hanan kalau istirahat selalu mencari Nila dan Dita. Entah apa niat Hanan, tapi Hanan selalu ringan tangan pada mereka. Alhasil oleh Dita, Hana dimanfaatkan untuk membantu. Hanan juga cerdas jadi Dita pikir teman yang cerdas harus diberdayakan


"Oh prof Jul. Aku baru aja presentasi, dia emang pengen siswanya mandiri," jawab Hanan


"Beneran? Kelasmu udah prsentasi. Boleh liat sama nggak materinya?" tanya Dita girang


"Sama, prof Jul kan gitu. Kalian mau kopi paste punyaku?" jawab Hanan malah menawarkan bantuan


Tentu saja Dita langsung berbinar terang.


"Mau banget!" jawab Dita girang.


Nila yang mendengar seperti biasanya menegur Dita. Nila kan masih idealis, tugas dia, ya dia yang harus mengerjakan, bagi Nila tak masalah nilainya tidak terlalu bagus yang penting hasil kerja kerasnya.


"Dita.. ini kan tugas kita belum tentu juga sama sama kelas Hanan!" tegur Nila.


Selain idealis, Nila sebenarnya tidak nyaman karena Hanan selalu membantu mereka.


"Ishh...Nila. Nggak apa- apa kita kopi paste punya Hanan dari pada harus cari buku satu- satu diketik, lamaa. Aku liat buku sebanyak ini pusing. Kita liat dulu punya Hanan. Kita baca dan kita modifikasi lagi. Kamu mau bilang biar ilmu kita manfaat harus kerjain sendiri kaan? Bu Ustadzah sayang, proses membaca dan mengedit juga ngerjain kok. Anggaplah makalah Hanan daftar pustaka!" jawab Dita cerdas dan ngeles.


"Yaya! Ya udah terserah kamu, tapi jangan asal kopas, takutnya ketahuan!" jawab Nila.


"Ya kali. aku tidak sejahat itu! Cuma ambil jalan cepat. Kalau ada yang mudah ngapain susah kan?" jawab Dita.


Hanan pun terus dibuat tertawa oleh tengilnya Dita, sementara Nila hanya berdecak. Tapi Dita memang tetap membaca materi hasil kopi paste punya Hanan dia tidak asal nyontek. Malah kadang kalau menemui yang tidak pas, Dita bisa mengkritik.


"Ya udah, mana Bang Hanan soft filenya?"


"Ada, tapi ada syaratnya!" jawab Hanan.


"Apa?" tanya Dita antusias.


Sementara Nila hanya menoleh dengan mata indahnya, tapi mulutnya masih tetap tenang. Meski begitu hati Nila mulai gelisah, pasti Hanan mau ajak makan.


"Makan siang dulu yuk. Ke luar tapi! Jangan di kantin terus!" ajak Hanan sesuai tebakan Nila.


"Hhh....," Nila pun menghela nafasnya menunduk. Hanan terlalu baik dan selalu baik, Nila jadi tidak nyaman.

__ADS_1


Tapi berbeda dengan Dita. Wajahnya langsung berbinar


"Hayuuuk siap!" jawab Dita semangat, udah dikasih materi mau ditraktir makan lagi. Untuk anak kosan itu kan anugerah terindah.


Nila jadi tidak nyaman sendiri, mau nolak tapi Dita antusias, mau nerima, tapi Nila tidak nyaman Hanan selalu seperti ini.


"Mau ya Laa? Ini bukan hari senin dan kamis, kamu nggak puasa kan?" tanya Hanan tidak menatap Dita, tapi menatap Nila tajam karena Nila tampak diam.


"Ehm... tapi aku bawa bekal!" jawab Nila pelan, beralasan.


"Ish..., gagal deh makan enak" desis Dita manyun seperti biasa bicara apa adanya.


"Ya nggak apa- apa. Kamu makan bekalmu, kita makan di sana, barangkali mau nyobain minumannya atau tambah lauk. Soalnya ada kafe baru di dekat mall sana! Bagus lhoh, enal buat nyante. Mau yah!" jawab Hanan sedikit memaksa ke Nila.


Nila tidak ada alasan lain, Nila melirik Dita seperti sangat berharap, akhirnya Nila mengangguk. "Baiklah, aku mau!"


"Yuk. Lets go!" ajak Hanan tersenyum senang.


Dita pun dengan semangat mengemasi barangnya meninggalkan perpustakaan, Nila pun mengikutinya dengan tenang.


Entahlah, walau sudah kenal lama, tapi Nila merasa tidak nyaman jalan bersama Hanan, Nila pun membiarkan Dita sok dekat, bercakap dengan Hanan dan Nila berjalan di sisi Dita.


Menggunakan mobil Hanan, mereka pun menuju kafe di luar kampus. Tanpa Nila tahu ada sepasang mata yang mengawasinya.


"Ck... udah dipisahin masih aja bareng terus!" gumam Rendi di pojokan gedhung lantai 3 depan perpustakaan. Rendi baru tiba dan hendak meeting dengan para dosen membahas pembagian jadwal kelas sepeninggal dokter Santi.


Sejak kemarin Rendi sudah berangkat ke kampus, tapi seabreg laporan dan tugas menghadangnya. Rendi belum sempat menemui Nila.


"Hh...aku harus perjuangin biar bisa ngajar di kelasnya! Bahaya kalau dibiarkan. Aku tidak mau ada Adip kedua!" gumam Rendi mengeratkan rahangnya kesal.


Hanan memang setipe dengan Bang Adip iparnya.


****


Sementara mereka bertiga tidak peduli apapun, menikmati makan siang di kafe baru di pusat kota itu. Ternyata kafe tema indoor dengan aquarium besar.


Setelah mendapatkan soft file makalah dari Hanan, Dita dan Nila pun mengedit dan menambahkan yang kurang.


Tidak berselang lama dosen mereka datang. Mereka pun mengikuti perkuliahan dengan serius. Kuliah terasa lama karena Prof Julian sudah tua dan membosankan.


Sekitar 1,5 jam perkuliahan selesai. Prof Jul meminta hasil print makalah di kumpulkan.


"Dit...," panggil Nila di tiba- tiba.


"Ya...,"


"Flashdisku dimana ya?" tanya Nila.


Dita mengedikkan bahu lalu memeriksa tas dan meja mereka.


"Jangan- jangan ketinggalan di kafe?"


"Nggak deh. Aku di kafe nggak ngeluarin apa- apa selain makanan!"


"Hoh. Di perpus coba!" jawab Dita lagi.


"Oke aku cari!" jawab Nila.


"Tapi sepupuku yang kerja di pabrik mau nengokin aku! Aku harus buru- buru pulang, gimana dong?" jawab Dita.


"Ya nggak apa- apa aku sendiri aja!" jawab Nila ramah.


"Beneran?"


"Iyah. Udah sih santai aja!"


"Maaf ya!"


"Ish.. maaf apa sih? Aku yang teledor kok!" jawab Nila lembut.

__ADS_1


Dita pun pamit duluan. Kebetulan ruangan dosen dan perpustakaan bersebelahan. Nila pun menawarkan ke ketua kelas yang biasa mengumpulkan tugas ke ruang dosen agar Nila saja yang bawa.


"Jihaan. Aku aja yang antar ke kantor dosen. Aku mau ke perpus juga soalnya!" tawar Nila.


"Boleh... banget. Aku buru- buru mau pulang soalnya!" jawab Jihan senang


Jihan kemudian menyerahkan setumpuk makalah teman- temanya ke Nila.


Nila pun membawa ke ruang dosen. Entah kenapa, Nila selalu merasa ringan dan semangatnya jika disuruh ke ruang dosen.


Saat di gedung khusus aula dan kantor dosen, Fokusnya ke meja ruang Rendi yang letaknya di pojok dekat jalan.


Beberapa kali Nila lewat hanya tergeletak nametagenya. Mejanya rapih seperti lama tak tersentuh komputernya juga tidak menyala. Seharusnya Nila senang sesuai pesan Baba dan Jingga agar aman di kampus terhindar dari orang yang menyakitinya. Tapi entah kenapa, Nila ingin melihat bagaimana wajah tampan yang pernah dia kagumi sedang bekerja di kantornya, termasuk hari ini.


"Permisi Pak. Mau ngumpulin makalah kelas Pak!" sapa Nila.


Petugas administrasi pun mempersilahkan. Nila pun berjalan ke bilik ruang Prof Jul.


Ruang dokter Jul, kebetulan melewati ruang Rendi. Walau hati kecil Nila merutuki untuk tidak melihat, tetap saja mata Nila gatal menoleh dan melihat. Dan selalu hatinya dheg- dhegan saat lewat.


"Komputernya nyala?" gumam Nila degub jantungnya semakin cepat, walau tidak ada batang hidung Rendi, tapi komputer di meja Rendi nyala. Di meja yang biasa kosong juga tergeletak buku batik kecil yang terselip ballpoint, itu berarti digunakan.


Nila pun berjalan cepat keluar dari kantor, tidak bisa dipungkiri, Nila merasakan debaran yang kuat.


"Dia sudah kembali, tapi dia kemana saja kemarin?" gumam Nila jadi celingak celinguk sendiri, hati kecilnya berharap ada Rendi. Walau entah apa motifnya, kenapa dia berharap begitu.


"Huuft...," Nila pun membuang semua rasanya itu dan masuk ke perpus tempat tujuan pertamanya.


Nila kemudian mencari flash disknya, di tempat tadi dia duduk.Benar saja di bawah kursi FD nila tergeletak. Untung masih utuh dan tidak keinjak orang.


"Farel!" pekik Nila kaget saat dia hendak kembali .


Di pojok perpustakaan yang sepi, Farel tampak duduk tersungkur dan terdengar seperti menangis.


Nila hafal tasnya dan juga bajunya.


"Dia kenapa?" gumam Nila penasaran.


"Aku samperin apa nggak usah ya? Tapi ini sudah sore?" gumam Nila melihat jam.


Nila mau cuek tapi kasian. Akhirnya Nila pun memberanikan diri mendekat.


"Farel!" sapa Nila.


Farel terdiam, belum membalikan muka.


"Kamu Farel kan?" tanya Nila lagi


Farel tampak menyeka air matanya, dan akhirnya berbalik menoleh ke Nila. Seperti biasanya, tatapan Farel begitu ngeri, penuh amarah, sehingga Nila kaget bahkan mundur secara reflek.


"Kamu lagi!" pekik Farel marah


"Maaf... aku denger kamu menangis? Kamu kenapa? Kamu baik- baik aja kan? Ini sudah sore, kamu nggak pulang?" tanya Nila pelan peduli sebagai teman.


Mendengar pertanyaan Nila, Farel yang sebelumnya sangat seram, berubah tersenyum. Sebenarnya saat dia tersenyum, Farel lumayan manis dan tampan.


"Kenapa kamu bertanya begitu? Kalau aku bilang aku butuh teman? Apa kamu mau menemaniku?" jawab Farel di luar dugaan Nila. Tidak membentak atau marah.


Nila menelan ludahnya, tergagap menghadapi Farel berubah.


"Maaf, aku harus pulang. Tidak baik juga kan? Kita hanya berdua di perpustakaan yang mulai sepi!" jawab Nila menolak halus.


Mendengar jawab Nila, Farel kembali tersenyum kecil dengan mengangkat ujung bibirnya.


Nila yang sudah menemukan flashdisknya menoleh ke sekitar, perpus memang sudah sepi. Dia pun tidak mau terkena masalah. "Maaf ya. Aku harus pulang. Aku cuma mau ingetin. Ini sudah sore!" ucap Nila lagi.


"Ya. Oh iya. Makasih ya kemarin udah selametin aku!" ucap Farel lagi.


Nila mengangguk, harusnya senang karena Farel terlihat seperti manusia pada umumnya, tapi tetap saja Nila malah jadi takut. Nila pun berjalan cepat untuk keluar dari perpus dan pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2