Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Sah.


__ADS_3

"Kalau kalian percaya. Mamah juga percaya!" ucap Oma dalam perjalanan pulang dari panti, ke Buna yang memangku Vio.


"Menurut pengakuan Rendi, dia tidak menceraikan Nila dan hanya menjawab dia pergi sendiri. Ya gimana Mah. Nila masih istri Rendi!" jawab Buna.


"Memang yang sebenarnya Mamah dengar itu bagaimana?" tanya Baba menimpali.


"Ya memang. Mamah denger. Dia bilang, aku sendiri. Sendiri juga nyaman kan? Kenapa harus di pusingkan! Di sana ada perempuan. Mamah sakit hati rasanya Rendi seperti ingin membuka peluang untuk orang lain! Orang sudah punya istri masih bilang sendiri nyaman segala. Mamah tidak dengar percakapan temanya sebelumnya! Mamah habis dengar cerita teman Ardi, Si Rudi, nikah lagi. Padahal anaknya udah mau kuliah. Nikahnya sama perempuan yang lebih muda dari anaknya lagi," jawab Oma lagi membenarkan cerita Rendi dan bercerita. Kalau saat itu Oma Rita juga baru ketemuan teman arisanya dicurhati kalau anak perempuanya diselingkuhi suaminya.


Buna pun mengangguk mengerti. Ya, Oma tersulut emosi. Sebenarnya emosi Oma disebabkan hatinya yang sangat sensitif karena merasa 6 tahun Nila di pondok, baik saat Mts atau MA mereka semua kurang memberikan kasih sayang, mempercayakan orang lain tapi yang mereka percaya mengeluarkan kata yang tak sesuai harapan.


Oma merasa kurang mencurahkan sayangnya ke Nila, tidak seperti ke Jingga yang full kasih sayang.


Begitu juga Baba, mereka langsung dikuasai amarah.


Buna sendiri merasa bersalah menikahkan Nila, masih ragu keputusanya benar atau tidak. Saat mendengar cerita Oma, Buna 2 bulan lalu, tidak mau mendengar penjelasan Rendi, emosinya langsung membara dan malah mendukung mereka pisah.


Sekarang setelah kemarahan reda dan bisa mendengar penjelasan Rendi dengan tenang, Buna jadi sadar, nasi telah menjadi bubur, mau bagaimanapun Rendi dan Nila memang sudah menikah dan Rendi yang berhak memutuskan cerai atau tidak.


"Tujuan Mas Ardi dulu menjodohkan Nila dan Rendi menikah, agar Nila dijaga dari hal buruk. Kita percaya Rendi bisa bimbing Nila, Mah" sahut Buna mengungkapkan harapanya.


Ya sekarang bisanya mulai memupuk harapan percaya pada Rendi.


"Tapi itu beneran? Rendi sayang sama Nila? Kenapa katanya 3 tahun tidak mau menyapa Nila?" sahut Oma menambah lagi.


"Tanya Mas Ardi aja Mah!" jawab Buna.


"Lhah kok aku?" jawab Baba tidak terima mau dipojokkan.


Kan memang Baba yang meminta sebelum ijab qobul, walau sudah dinikah, Baba meminta biarkan Nila tumbuh seusianya, jangan tuntut apapun dari Nila sampai lulus Madrasah Aliyah.


"Jangan pura- pura lupa, Mas!" sahut Buna lagi.


Baba pun mengakui salah.


"Kalau benar Rendi menjauhi Nila untuk memenuhi permintaanmu, juga ingin pendidikan Nila tuntas. Mamah maafkan dia! Mamah juga takut kalau Nila kenal sama orang yang salah," sahut Oma lagi.


"Ya, nanti Oma bisa bicara denganya ya!" ucap Buna lagi


Oma mengangguk, karena kematian anak panti yang salah pergaulan, Oma ingin yang terbaik untuk Nila.


"Tapi kok rasanya masih kaya nggak tega ya? Buat ngelepas Nila beneran! Oma masih ingin kenal Rendi," sahut Oma lagi.


"Santai aja Mah. Ardi juga nggak akan lepas Nila gitu aja. Ardi akan ajukan beberapa syarat ke dia!" sahut Baba yang memangku Iya.


"Emang syarat apa?" tanya Oma.


Baba tampak diam dengan wajah gusar mau menjawab. Baba sedikit melirik ke Buna. Seperti takut mau disalahkan Buna.


"Tapi kita sudah membuat Rendi menahan mengambil haknya selama 3 tahun Mas. Jangan sampai syaratnya membuat kita jadi dzolim. Kasian Rendi!" ucap Buna peka.

__ADS_1


"Kamu kok belain anak orang terus sih? Kenapa nggak berfikir dan memihak anak kita?" jawab Baba tersinggung dan emosi.


"Lhoh. Emang Buna ngebelain apa? Baba aja belum kasih tau mau kasih syarat apa? Buna kan cuma kasih saran. Jangan sampai kita membuat syarat yang dzolim ke menantu sendiri!" sahut Buna membela diri.


Baba menelan ludahnya lagi.


"Kalaian kok malah bertengkar. Memang Ardi mau minta syarat apa?" tanya Oma lagi


Baba masih diam tapi wajahnya mendadak merah. Buna lalu melirik Baba. Buna tahu pasti Baba masih dihantui ketakutan kalau Nila yang masih kecil tiba- tiba hamil.


"Nggak tahu tuh Mas Ardi nggak jelas?" jawab Buna.


"Buna dan Mamah, sendiri emang nggak ada syarat?" tanya Baba melempar tanya Baba takut dimarahi Buna mau menjawab.


"Buna cuma pengen Nila tetap harus lanjut kuliah dan lulus! Udah itu aja!" jawab Buna singkat.


"Mamah?" tanya Baba ke Oma Rita.


"Sama. Mamah cuma pingin Nila bahagia menjadi perempuan yang punya value dan berharga!" jawab Oma.


"Tuh Mamah dan Alya udah jawab. Baba mau apa?" tanya Buna


"Surprise aja!" jawab Baba mengelak.


"Ck!" decak Buna kesal ke suaminya rasanya pengen ngejitak. Entah kenapa Baba dari dulu sampai sekarang hobby sekali bikin Buna geram.


Oma hanya menghela nafasnya. Oma percaya putra kesayanganya ini akan memberikan pilihan terbaik untuk putrinya.


Sesampainya di rumah. Nila tampak sibuk bersama ART menyiapkan makan malam. Padahal Buna Baba dan Oma sudah makan di panti. Tapi tetap saja di keluarga mereka bukan tentang makanya. Tapi moment berkumpul.


Nila pun langsung menyambut keluarganya mencium tanganya sebagai tanda hormat. ART juga langsung tanggap menggendong Iya Iyu dan Vio.


"Ikun dan Amer udah pulang?" tanya Buna.


"Kak Ikun tidur di apartemen. Kak Amer ada Bun!" jawab Nila.


"Rendi mana? Udah pulang?" tanya Baba


"Di atas Ba. Di klinik?" jawab Nila.


"Klinik?" pekik Oma.


"Ehm...," Nila berdehem ragu mau cerita kalau Amee baru menghajar Rendi.


"Rendi sakit?" tanya Buna yang hatinya lembut jadi khawatir.


"Nila panggilkan ya Bun!" jawab Nila tidak mau menjelaskan.


"Ya cepat. Baba mau tidur jangan lama- lama!" ucap Baba.

__ADS_1


Nila langsung mengangguk ke atas memangg il Rendi untuk turun.


*****


Begitu mendengar Baba tiba. Rendi dan Amer bergegas turun. Bahkan Amer berjajar dengan Rendi dan Nila diacuhkan. Nila jadi mencebik penasaran kenapa mendasak Amer dan Rendi tampak akrab. Apa yang mereka obrolkan.


Mereka bertiga pun turun. Orang tua mereka sudah menunggu. Dengan langkah gugup, Rendi dengan sopan menyapa Baba Oma juga Buna.


"Makanlah dulu!" ucap Baba singkat menunjukan wibawanya sebagai ayah tidak ingin terlihat murahan.


Rendi mengangguk tersenyum dan menjawab dengan sangat sopan. Mereka pun makan malam bersama walau Baba Buna dan Oma hanya mengambil makanan sangat sedikit.


Rendi pun tahu diri, toh di hotel sudah makan banyak. Jadi tidak terlalu lapar mereka pun makan dengan cepat.


"Terima kasih, Ba. Sudah memberikan ijin Rendi masuk ke rumah ini lagi," ucap Rendi memulai.


"Ehm...," Baba hanya berdehem masih ingin jual mahal.


"Oma... Rendi harap Oma mau mendengarkan penjelasan Rendi dan memaafkan Rendi? Ijinkan Rendi jelaskan kejadian saat itu?" lanjut Rendi ingin menuntaskan kesalah pahaman dengan Oma.


Oma kemudian tersenyum


"Oma sudah dengar semuanya dari Ardi dan Alya. Mirna juga sudah menelponku? Oma yang minta maaf," tutur Oma dengan legowo malah meminta maaf ke Rendi.


"Oma..." tentu saja Nila dan Amer yang mendengarnya jadi terheran- heran. Terlebih Rendi matanya langsung berkaca- kaca. Di luar dugaanya, Oma cepat sekali memaafkanya.


Rendi spontan bangun dan mendekat ke Oma meraih tangan Oma dan bersimpuh. Sedikit berlebihan tapi Rendi sungguh sangat bahagia.


"Oma tidak perlu minta maaf. Rendi yang salah dan berdosa. Apa ini artinya Oma merestui Rendi dan Nila kembali? Terima kasih Oma?" ucap Rendi terbata.


Nila sendiri menunduk, dadanya mendadak berdebar. Sebentar lagi Nila akan benar menjalankan peranya sebagai istri.


Oma sendiri mengangguk


"Ehm!" Baba yang duduk memimpin di ujung meja langsung berdehem tidak suka melihat Rendi begitu sweet ke Oma.


"Jangan GR dulu!" ucap Baba memecah suasana.


Semua pun menoleh ke Baba termasuk Rendi.


"Kembali duduk ke tempatmu!" ucap Baba lagi.


Suasana jadi tegang termasuk Nila dan Buna. Buna jadi khawatir apa surprise dari Baba? Jangan sampai suaminya ini mengeluarkan syarat yang aneh- aneh.


Rendi yang sebelumnya berkaca- kaca penuh haru mendadak pucat padam. Buna sudah memberi restu Oma juga sudah, tapi Baba memang belum, Rendi jadi panik.


Tapi apapun itu, sudah boleh diijinkan masuk kembali, itu artinya pintu maap terbuka. Rendi pun patuh duduk di baris kursi laki- laki di samping kana Baba.


"Iya Ba!" jawab Rendi menunduk tegang menunggu apa yang hendak Baba minta. Hatinya terus berdoa semoga Baba hendak mengucapkan kata yang Rendi mampu mengikutinya.

__ADS_1


Nila dan Buna pun menunduk menunggu. Sementara Oma dan Amer tampak santai menonton dan mendengarkan.


"Aku ingin secepatnya kau nikahi Nila secara sah dan tercatat secara resmi," ucap Baba di luar dugaan semuanya.


__ADS_2