Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Temui


__ADS_3

"Maas... Ah..," pekik Nila dengan suara tertahan.


"Nggak sakit kan?" bisik Rendi dengan suara parau dan serak.


Nila tidak menjawab, akan tetapi kelopak matanya bergerak menutup diikuti gerakan gigi yang menggigit bibir bawahnya menjawab semuanya.


Rendi pun tersenyum senang bahkan seperti ada gerakan balasan dari Nila. Rendi kemudian berbisik.


"Sekarang percaya kan? Makanya dari tadi jangan ditutup!"


Ya. Sudah hampir 15 menit, mereka berkompromi, dan berdebat, Rendi sudah bersusah payah membuat Nila terbuai, saat roketnya hendak masuk, Nila selalu beringsut dan tanganya tergerak menutup pintu.


Nila selalu beralasan takut sakit, tapi Rendi terus meyakinkan tidak, dan merayu Nila agar rileks. Rendi pun mengulangi ritualnya, saat sudah siap, Nila kembali beringsut, begitu berulang- ulang sampai memakan waktu 15 menit. Itu sebabnya Rendi ingin menertawai Nila. Setelah berhasil masuk, rupanya Nila tidak lagi sakit, akan tetapi malah melenguh dan mende sah keenakan.


Tapi karena dibercandai Rendi, seketika itu Nila jadi membuka matanya dan menatap Rendi kesal karena masih sempat- sempatnya Rendi mengungkit kesalahanya. Mood Nila kan jadi hancur. Nila jadi berusaha untuk menolak hendak menggulingkan badanya agar Rendi jadi geser.


Tapi Rendi juga tidak mau kalah, semakin Nila bergerak justru semakin dia tusukan dalam. Dan rupanya jurusnya berhasil.


Hingga siang itu, tidak peduli handphonenya terus berdering karena keluarganya mulai mempertanyakan keberadaanya, Rendi dan Nila asik main kuda- kudaan.


"Ouwh....," hingga sepersekian detik, keduanya melenguh dan sama- sama mengejang.


Untuk pertama kalinya, Rendi menempatkan benihnya di tempat yang halal dan mulia. Mereka berdua lupa dengan semua wanti- wanti Baba dan Buna.


Sepersekian detik, Rendi pun ambruk dan menggulingkan badanya ke samping Nila.


"Hah...hah...," sementara Nila terkapar lemas mengatur nafasnya yang masih tersengal, jantungnya berdebar keras, Nila pun menyeret selimutnya cepat malu melihat tubuhnya, tanganya pun mencengkeram selimut sembari menahan degub jantungnya yang ternyata lebih sulit ditata ketimbang nafasnya.


Nila kemudian melirik ke pria yang juga tampak lemas di sampingnya. Ya pria matang nan tampan dengan tubuh bersih tinggi berisi di sampingnya ternyata sudah berhasil menggagahinya. Dia malah terpejam.


"Aku sudah tidak perawan lagi?" gumamnya menyadarkan diri, rasanya masih seperti mimpi bagi Nila.


Nila kemudian memejamkan matanya dan menggigit bibirnya mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Nila mengernyit sendiri dan kemudian miring membelakangi Rendi menutup matanya.


"Aku tadi kelepasan? Kok bisa sih aku kaya tadi gitu?" gumamnya merutuki dirinya sendiri.


Ya, Nila malu mengingat tadi. Awalnya Nila terus beralasan sakit, tapi ternyata setelah Rendi berhasil entah kenapa sakit yang Nila rasa kemarin sama sekali tidak ada, bahkan Nila tadi mende sah keras juga reflek membalas Rendi, padahal Nila tidak pernah diajari tapi tadi Nila dengan sendirinya bisa menggoyangkan pinggulnya, juga mencengkeram Rendi.


"Aih...malu sekali?" gumam Nila jadi malu ke Rendi malah beringsut dan memukul- mukul kasur.


Rendi yang tadinya memejamkan mata istirahat jadi terganggu dan bangun menoleh


"Kamu kenapa?" tanya Rendi.


"Hah?" pekik Nika kaget dan tambah malu.


Belum Nila menjawab terdengar suara ketukan pintu. Mendadak mereka berdua saling tatap.

__ADS_1


"Jangan sampai ketahuan!" ucap Nila.


"Ya udah bangun!"


"Dikunci nggak tadi?" tanya Nila.


"Lupa? Udah buru sana ke kamar mandi!" ucap Rendi cepat.


Seperti maling hendak ketahuan, Nila turun dari kasur dan berlari cepat masuk ke kamar mandi. Rendi pun meraih pakaianya cepat.


"Ya. Siapa?" jawab Rendi agar yang mengetuk pintu tidak khawatir


"Pak Rendi dan Nila di dalam?" tanya nya lagi.


Rendi pun mengenali itu suara Bunga.


"Iya. Gimana?" tanya Rendi.


"Boleh saya masuk?" tanya Bunga sopan


Ya. Untung yang ke atas Bunga, bukan si bocil Iya dan Iyu. Bunga kan tahu diri dan sudah paham adab.


"Sebentar!" jawab Rendi lega jadi bisa membetulkan pakaianya, seakan Rendi masih mengenakan pakaian pengantin lengkap dan ke kamar hanya istirahat. Setelah tubuhnya tertutup rapat walau melewatkan memakai pakaiaan dalam, Rendi membuka pintu.


"Ada apa Nga?" tanya Rendi ke Bunga.


"Nila lagi di kamar mandi, katanya kebelet terus risih mau ganti pakai baju biasa aja!" jawab Rendi beralasan.


"Oh gitu?"


"Ada apa?"


"Maaf Pak mengganggu. Om Ardi dan yang lain nanyain Dhek Nila. Ada Tamu jauh. Katanya pengen ketemu Pak Rendi sama Nila !" tutur Bunga sopan.


"Oh ya. Sebentar lagi kita turun kok!" jawab Rendi.


Bunga pun mengangguk dan Rendi dengan cepat menutup pintu dan menguncinya.


Rendi pun berbalik memeriksa Nila.


"Dhek buka pintunya!"


"Jangan!" jawab Nila ternyata masih malu padahal mereka sudah melakukan penyatuan.


"Haish. Kenapa memangnya?"


"Udah nggak usah tanya- tanya. Tunggu aja!" jawab Nila kesal. Pokoknya Nila masih malau kalau sedang mode sadar dan mengusai diri tidak kena ramuan tangan ajaib Rendi.

__ADS_1


"Kamu lagi apa sih?" tanya Rendi.


"Mau mandi!"


"Hey jangan mandi!" teriak Rendi.


"Kenapa?"


"Pokoknya cepat keluar kalau nggak. Mas dobrak nih!" ucap Rendi malah mengancam.


Nila jadi mengalah walau dengan mencebik kesal. Nila menutup dirinya dengan handuk dan kemudian membuka pintunya.


"Mandinya nanti aja. Cepat ganti baju!" omel Rendi.


"Mas kan kita hadas besar. Harus segera bersuci kan?" tanya Nila dengan polosnya.


"Haish. Kelamaan. Orang- orang nanti curiga!" jawab Rendi sekarang baru berfikir normal kalau mereka sekarang jadi pengantin kurang ajar.


Nila pun mencebik.


"Cepetan! Ganti!" ucap Rendi memburu dan setengah membentak. Nila jadi kesal.


"Siapa juga tadi yang ngajakin? Kan Nila udah bilang!" jawab Nila menyalahkan Rendi.


"Ya. Siapa juga yang tadi mengulur waktu segala ditutup kan jadi lama!" jawab Rendi lagi tidak mau kalah.


Mereka berdua malah beradu pendapat hal yang tidak penting padahal endingnya mereka sama- sama enak.


Nila yang terus disudutkan jadi ngambek dan cemberut hingga mengambil pakaianya asal. Mereka pun segera turun tapi karena berdebat dan bertengkar keduanya cemberut juga jalan sendiri- sendiri.


Hingga sampai bawah semua berdecak melihat Nila yang sudah tidak memakai gaun, tapi gamis biasa bahkan hijabnya juga hijab biasa.


"Kok udah ganti?" tanya Buna.


"Risih Bun." jawab Nila.


"Tadi ke kamar mandi, basah. Jadi sekalian ganti!" imbuh Rendi walau dengan Nila sedang marahan tetap membela.


Buna pun hanya menghela nafas lalu menoleh ke Baba dan dua laki- laki yang sedang duduk di meja menghadapi hidangan.


"Itu, katanya temenmu. Sana temui!" tutur Buna memberitahu Rendi dan Nila.


Rendi dan Nila pun menoleh.


"Itu kan kakaknya Farel?" gumam Nila dalam hati dan mendadak tegang. Jika kakaknya datang itu berarti Farel tahu tentang pernikahanku. "Siapa bapak- bapak di sampingnya?" ya Kakak Farel rupanya datang tidak sendiri.


Jika Nila tegang mengamati dan merasa tidak nyaman, Rendi tersenyum dan menggandeng Nila agar menemui tamunya.

__ADS_1


__ADS_2