Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil

Penyesalan Suami : Aku Bukan Anak Kecil
Rumah


__ADS_3

“Kok nangis?”


“Hiks…,”


“Haish… jangan bikin Mas khawatir, kenapa ditelpon kok malah nangis sih?”


Saat hujan turun, dan udara dingin merayap masuk ke tubuh Nila, ingatan Nila yang tadinya berkecamuk tentang Farel melebur runtuh tergantikan dengan Rendi. Iya, dalam benak Nila menjadi penuh tanya akan wajah Rendi dan semua pertanyaan tentangnya.


Nila pun menarik tanganya, lalu melangkah mundur menjauh dari kucuran air hujan. Nila memilih duduk di lobi rumah sakit yang udaranya lebih hangat. Karena hari sudah sore, taka da pengunjung, lobi terasa lengang dan sepi, hanya terlihat satpam yang berjaga di pos satpam di pojok rumah sakit, petugas informasi juga kasir yang letaknya agak jauh dari Nila.


Tepat saat Nila ingin memeriksa ponselnya, ponselnya berdering. Seperti ada tali kasih yang terhubung, seperti ada komunikasi hati yang tak terbatas ruang dan waktu. Rendi menghubungi Nila di saat Nila benar- benar memikirkanya.


Heranya, begitu suara tenornya, yang hangat dan khas laki- laki dewasanya terdengar menanyakan Nila dengan panggilan Sayang, Nila yang kalut dan kesal karena Rendi tak kunjung membalas pesanya sejak Nila di kampus, sholat, juga dalam perjalanan, Nila spontan mencurahkan emosinya dengan mengeluarkan air matanya pada Rendi.


“Hiks… hiks…” isakan lembur Nila masih terdengar di balik telepon Rendi.


Rendi yang gemas dan gusar mematikanya, namun selang beberapa waktu ponsel berbunyi lagi berubah jadi video call.


Sayangnya saat Rendi ingin video call, Nila malah merejectnya.


“Kok malah dimatikan kenapa sih? Ini daritadi ada 53 panggilan tak terjawab, giliran ditelpon nangis, divideo call malah dimatikan? Haishh.. kenapa sih? Apa terjadi sesuatu denganya?” gumam Rendi jadi gusar.


Rendi pun terus menelpon lagi, sayangnya telponya malah selalu dimatikan.


“Ish… aku malu keliatan jelek kalua lagi nangis, malah video call… telpon biasa aja!” gumam Nila mereject ternyata tidak suka video call.


Nila juga mengetik pesan untuk Rendi dan tidak suka diganggu ngetiknya sehingga terus menolak panggilan Rendi. Hingga kedua insan tersebut malah sibuk mematikan dan menelpon, hingga Nila kesal, Nila kan sedang mengetik ingin beritahu telpon biasa saja.


Hingga insiden menelpon dan menolak itu berhenti, saat Rendi juga menyerah dan memilih mengetik, mereka berdua pun sama- sama mengetik pesan, dan terkirim di waktu yang sama.


“Telepon biasa saja,” ketik Nila singkat.

__ADS_1


“Kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kamu terluka? Baba dan Buna baik- baik saja kan? Oma baik- baik saja kan? Semua keluarga kita baik- baik saja kan? Di kampus aman kan?” sementara Rendi memberondong banyak pertanyaan.


“Nila di rumah sakit jiwa.” Jawab Nila sinkat tidak sabar ingin menumpahkan smeua Lelah hati dan fisikya. Hati yang dipenuhi rasa takut, khawatir dan penasaran juga Lelah fisik keliling rumah sakit jiwa menanyakan pasien atas nama Farel, juga menahan hawa dingin karena di luar hujan deras.


“Apa? Rumah sakit jiwa? Astaghfirulloh… kok bias? Sayang mas nggak maksa kamu kalau kamu memang belum siap! Kita bias bicarakan baik- baik semua rencana kita ke depan,” jawab Rendi malah jadi salah paham.


“Ish,…. Nila sehat, bukan Nila yang sakit!” jawab Nila cepat.


“Alhamdulillah…,” jawab Rendi lagi.


“Tapi kenapa kamu di situ? Mas telpon ya…” ketik Rendi lagi.


Belum Nila menjawab, Pak Iman tahu- tahu ada di depan Nila.


“Non!” sapa Pak Iman.


“Ya Pak, sudah selesai jenguk temanya ayo, pulang, Hujanya deras!” sapa Pak Iman ternyata saat tadi Nila berdiri di luar Pak Iman melihat, Pak Iman pun menjemput Nila sampai depan lobby.


“Oh iya, Pak. Sebentar!” jawab Nila


Rendi pun menjawab oke dengan semangat. Nila jua bergegas bangun mengikuti Pak Iman. Di siang menjelang sore itu, dengan membelah jalanan yang gelap akan kabur dan hujan deras, pak Iman melajukan mobilnya pelan. Jarak rumah sakit Jiwa dan rumah Baba juga lumayan jauh, apalagi jalanan ibukota yang macet di hamper setiap lampu merah, hingga waktu pulang Nila memakan waktu kurang lebih tiga jam. Nila juga ketiduran dan tidak memperdulikan ponsel di tasnya lowbat.


“Sudah, sampai Non!” tutur Pak Iman membangunkan Nila.


“Ha..,” pekik Nila kaget dan mengerjapkan matanya.


“Ayo, turun Non, sepertinya ada tamu!” tutur Pak Iman lagi.


Nila langsung membetulkan duduknya dan juga hijabnya, Nila juga agak kaget suasana gelap, pertama hujan kedua sudah lewat ashar dan mungkin waktu ashar tidak banyak lagi, karena rumah Baba juga sudah menyala banyak.


“Tamu siapa, Pak?” tanya Nila jadi seperti orang bodoh, karena bangun tidur. Nila persis seperti Buna kalau di mobil Sukanya tidur.

__ADS_1


“Nggak tahu, rame itu di dalam,” tutur Pak Iman.


Nila pun segera turun dan masuk,


“Assalamu’alaikum…” sapa Nila.


“Waalaikum salam… alhamdulillah…., pulang juga kamu, Nak!” jawab keluarga Nila langsung berdiri menyambut Nila dan yang tadinya membelakangi Nila di balik mebel kursi yang tinggi langsung menoleh.


“Abah? Ummi? Mas Rendi?” pekik Nila melongo kaget. Kenapa suami dan mertuanya tiba- tiba langsung ada di rumahnya.


Tidak menjawab Nila, Ummi yang rindu Nila, berdiri tersenyum, dan menghampiri Nila. “Sini duduk, Nak… ummi kangen!” tutur Ummi.


Nila tersenyum, walau dengan menelan ludah masih bingung dan tidak menyangka, kata Rendi kan Rendi butuh beberapa hari, tadi juga Rendi telepon tidak katakana apapun.


“Ayo sini… duduklah, Ummi ingin jemput kamu!” tutur Ummi spontan dan to the point.


“Ha…” pekik Nila kaget, termask Baba dan Buna, sebab sedari tadi sampai, pada Baba dan Buna, Ummi juga belum menyampaikan maksudnya, masih berbosa- basi, say hello tanya kabar juga maaf- maafan atas semua yang terjadi.


“Jemput gimana, Maksudnya, Um?” tanya Buna spontan.


Nila jga langsung gelagapan dan menoleh jam.


“Ya kan, kita sudah baikan kan? Rumah Nila yang sebenarnya kan di rumah Rendi, bukan di sini!” jawab Ummi dengan percaya diri.


“Ehm…” Baba langsung berdehem.


Rendi juga langsung menegang, pada Ummo dan Abah, Rendi tak sepatah katapun menceritakan semua syarat Baba dan mengatakan semua baik- baik saja.


“Dhek… kamu baru pulang kan? Udah sholat belum? Dari pagi belum ganti kan?” tutur Rendi mengalihkan pembicaraan dan menengahi semuanya.


“Ah iya, Mas. Abah, Baba, Ummi, Buna, Nila belum asharan, Nila juga kotor banget, Nila mandi dulu ya!” ucap Nila gugup.

__ADS_1


“Astaghfirulloh, ini udah jam berapa, cepat- cepat sana sholat!” jawab Buna.


Rendi mengerlingkan matanya meminta Nila cepat ke atas. Nila pun berjalan cepat meninggalkan ruang tamu. Dan kini, Baba menatap Rendi tajam.


__ADS_2