
Para penonton yang ketakutan berubah menjadi beringas untuk menyelamatkan dirinya masing-masing. Mereka mendorong dan menginjak-injak orang-orang yang terjatuh. Mereka menggunakan orang-orang yang jatuh sebagai pijakan untuk menaiki tembok stadion.
"Kita harus menjauh dari tembok agar tidak diinjak-injak! " Teriak Puteri Juwita.
Kedua gadis itu memilih menjauhi kerumunan itu meski beresiko harus berhadapan dengan sekelompok pemuda yang haus darah.Mereka berdiri dengan tubuh gemetar saat menyaksikan para pemuda berkulit pucat itu sedang membantai orang-orang.
Beberapa orang mulai menarik kursi dan memukuli pintu. Namun itu adalah hal yang sia-sia karena pintu itu terbuat dari besi tebal.
Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Para penonton yang sejak tadi dilanda ketakutan segera berlari menerobos pintu meski harus berdesak-desakan.
Ningrum segera menarik tangan Puteri Juwita yang sedang tertegun melihat Nicolae sedang menggigit leher seorang wanita sambil menatap ke arahnya. Sentakan di tangannya membuat Puteri Juwita tersadar dan segera berlari mengikuti temannya.
Pemandangan mengerikan itu perlahan-lahan menghilang seiring keduanya meninggalkan stadion. Mereka terus berlari di sepanjang jalan melewati orang-orang yang terlihat panik dan ketakutan.
Puteri Juwita berpapasan dengan prajurit-prajurit berkuda yang melaju kencang meninggalkan gumpalan debu yang menyebar di udara, mereka semua sedang menuju stadion.
Pikiran Puteri Juwita menjadi gamang. Antara sadar dan tidak. Peristiwa mengerikan yang baru saja dialaminya merobek begitu saja kepolosan dalam diri gadis itu.
Apa ini? Apakah ini hanya sebuah mimpi buruk? Kalau begitu aku ingin sekali terbangun! Aku ingin kembali ke dunia nyata...
Sayangnya hal ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi buruk, ini lebih mengerikan karena kau tak bisa bangun dan menghilangkan hal mengerikan itu begitu saja.
Puteri Juwita dan Ningrum sudah hampir sampai di sekolah, mereka bahkan sudah melihat gerbangnya. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan Sari yang terlihat mengenaskan.
"Jangan masuk! Sekolah telah diserang! " Gadis itu terlihat sangat kacau. Bajunya sobek dan rambutnya awut-awutan.
"Bagaimana dengan teman-teman kita? Dan Nona Sekar, apa dia tidak bisa menolong kita?" Puteri Juwita menjadi bertambah cemas.
"Aku tidak tahu, tapi tadi aku melihat Nona Sekar sedang duduk bersama seorang pria berpakaian hitam. Mereka tertawa menyaksikan pembantaian murid-murid di halaman sekolah!" Wajah Sari terlihat ketakutan.
"Apa? Benarkah Nona Sekar..? " Puteri Juwita menutup mulutnya seakan tak percaya. Apakah Nona Sekar menghianati mereka?
"Kita harus bagaimana? " Ningrum terlihat panik.
"Ayo ikut aku, ada seseorang yang berjanji menolongku! " Sari bergerak cepat dan diikuti oleh kedua temannya.
Mereka berjalan memasuki gang-gang sempit yang tak pernah dilewati oleh Puteri Juwita seumur hidupnya. Dia bahkan tidak tahu bahwa tempat seperti itu ada.
"Tunggulah di sini, sebentar lagi temanku datang. " Ucap Sari ketika mereka keluar dari gang sempit dan berada di jalanan sepi.
"Kau mau kemana? " Ningrum bertanya pada Sari ketika gadis itu hendak pergi.
"Aku akan mencari teman-teman kita yang lain dan mengajak mereka kemari. Kalian tunggu saja di sini! " Sari kemudian menghilang di dalam gang.
Kini hanya ada mereka berdua. Sepasang gadis bangsawan yang tidak pernah tahu dunia luar namun tiba-tiba mereka dihempaskan begitu saja pada kenyataan yang mengerikan.
Tak lama kemudian, ada dua orang lelaki dengan penampilan menakutkan berjalan mendekat. Secara naluriah, kedua gadis itu saling berpegangan tangan dan merapatkan tubuh.
"Kalian sudah datang rupanya? " Tanya salah seorang dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan kumis yang melintang.
Kedua gadis itu tidak ada yang berani menjawab. Mereka takut melihat penampilan orang itu.
"Heh, kalian bisu ya? " Pria itu marah karena mereka tidak menjawab.
"Ayo ikut! " Pria yang satunya lagi langsung menyeret tangan Puteri Juwita.
"Aku tidak mau! Siapa kalian? " Teriak Puteri Juwita dengan jantung yang berdegup kencang. Seluruh tubuh gadis itu gemetaran.
"Kami? Kami yang akan membawa kalian! " Pria itu mulai tidak sabar dan langsung mengangkat tubuh Puteri Juwita dan memanggul gadis itu di pundaknya.
"Lepaskan aku! " Puteri Juwita berteriak-teriak sambil meronta-ronta.
"Diam! Kami sudah membelimu, sekarang kau milik kami! " Bentak pria itu.
"Apa yang kau katakan? Aku bukan barang dagangan! " Puteri Juwita berusaha menendang punggung orang yang memanggulnya namun dia hanya bisa menendang udara.
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab dan terus berjalan semakin jauh. Di belakangnya, teman pria itu juga melakukan hal yang sama pada Ningrum. Tampaknya nasib kedua gadis itu bagaikan peribahasa Keluar dari kandang harimau lalu masuk ke mulut buaya.
*****
Ratu Gita sedang mengawasi para pelayan yang sedang membersihkan lukisan di Wisma Raja. Tiba-tiba saja wanita itu merasa pusing sekali. Karena itu dia berjalan perlahan-lahan ke arah kursi dan bermaksud untuk duduk.
Namun tubuhnya ambruk sehingga wanita itu terjatuh sebelum mencapai kursi. Saat ambruk, tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah lukisan hingga terjatuh. Bingkai kaca lukisan itu langsung pecah berkeping-keping.
Ratu Gita merasakan pandangannya menjadi gelap dan kesadarannya menghilang. Semua pelayan segera menolong Ratu Gita dan membawanya ke tempat tidur.
"Lukisan apa tadi yang jatuh? " Tanya Ratu Gita begitu dia telah sadarkan diri. Tadi wanita itu sempat melihat sebuah lukisan yang jatuh akibat tersenggol tangannya, sebelum dia pingsan.
"Itu adalah lukisan Puteri Juwita." Esme segera menjawab pertanyaan Ratu Gita.
"Ah, kita harus segera memperbaiki lukisan anakku! " Tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak ketika mengingat putrinya itu.
"Esme, bisakah kau panggilkan Faye? " Pinta wanita itu pada pelayannya.
"Tentu saja, Yang Mulia! " Esme segera pergi untuk mencari Faye. Esme mendapatkan informasi bahwa peri itu sedang ada pertemuan dengan Raja Satria. Pelayan setia itu memberanikan diri untuk menemui Raja.
"Ada apa kau kemari? " Tanya Raja Satria yang terpaksa menghentikan pembicaraannya dengan para peri.
"Saya diutus oleh Ratu Gita untuk menjemput Nona Faye. Ratu Gita baru saja terjatuh, Yang Mulia! "
"Apa? Kalian sudah memanggil tabib? "
"Tabib sedang dalam perjalanan, Yang Mulia! "
Raja Satria segera mengakhiri pertemuannya dan langsung pergi menemui isterinya bersama Faye.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? " Raja Satria menggenggam tangan istrinya dengan raut cemas.
"Aku tidak apa-apa, hanya pusing." Sahut Ratu Gita sambil tersenyum, wajah cantiknya terlihat pucat.
"Untuk apa kau memanggil Faye? " Raja Satria ingin tahu.
"Tapi di sana sudah ada Eldrige! "
"Aku hanya ingin memastikannya, sayang. Boleh kan? "
"Kalau itu keinginanmu, aku akan mengabulkannya. Aku harap setelah itu kau bisa lebih tenang. " Raja Satria menangguk lalu mengecup tangan istrinya.
Raja Satria kemudian memerintahkan Faye untuk pergi ke sekolah Puteri Juwita di Kerajaan Alsatia. Gadis cantik itu langsung pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Setelah Faye keluar, Tabib Albus datang dengan tergopoh-gopoh. Tubuhnya yang sudah renta menyebabkannya bergerak lebih lambat agar persendiannya tidak kumat.
"Kau lama sekali, Albus! Bahkan kura-kura mungkin akan mengalahkanmu! " Sindir Raja Satria.
"Sayang, kau tak boleh bicara seperti itu! Albus, maafkan suamiku, ya? " Ratu Gita meminta maaf pada tabib tua itu dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya memang sudah semakin lambat, maafkan saya! " Tabib itu gantian minta maaf.
"Tolong kau periksa isteriku, Albus. Tadi dia pingsan dan jatuh! " Raja Satria dengan tidak sabar mengikuti langkah Tabib Albus yang lambat.
"Baik, Yang Mulia! " Tabib Albus segera memeriksa kondisi Ratu Gita. Dibantu oleh seorang asistennya, tabib tua itu memeriksa dengan teliti.
"Sepertinya saya harus menyampaikan berita baik, Yang Mulia. Ratu Gita sedang mengandung! "
"Apa? Kau serius, Albus? " Raja Satria segera memeluk tabib itu untuk meluapkan kegembiraannya.
"Sayang, kau dengar itu? Kau sedang mengandung! " Raja Satria kini menghampiri isterinya yang sedang menangis haru.
"Aku dengar sayang, Tabib Albus harus kau beri hadiah karena memberi kabar gembira ini! " Ratu Gita tertawa di dalam pelukan suaminya.
"Pasti, aku akan memberikan hadiah yang banyak untuknya! "
__ADS_1
Tabib Albus lagi-lagi meneteskan air mata karena terharu oleh kebaikan Raja dan Ratunya. Dia bahkan tidak menginginkan hadiah lagi karena baginya, kasih sayang yang mereka tunjukkan padanya jauh lebih berharga.
"Kau harus bersiap-siap kurepotkan selama sembilan bulan ke depan, Albus. Aku melarangmu untuk mengobati orang lain, mulai sekarang kau hanya boleh mengawasi isteriku!"
"Baik, Yang Mulia! "
*****
Eldrige berbicara secara pribadi dengan Raja Pelvis. Pemimpin bangsa rusalqa itu sengaja mencarinya untuk menyampaikan sesuatu yang penting.
"Ada segerombolan burung liar yang ingin merusak lingkungan ini. Aku berhasil menangkap seekor dan kukurung dalam kandang. Apa kau mau melihatnya? "
"Maksud Yang Mulia, Strix? "
"Ternyata kau sudah tahu? "
"Mereka telah menimbulkan keresahan karena berani memasuki wilayah Liga Kerajaan. "
"Oh, kedengarannya mereka memiliki rencana! "
"Itulah yang sedang kami selidiki. Saya juga menangkap satu, tapi dia tidak mau bicara. "
"Begitukah? Burung yang kutangkap pun sama. Sangat merepotkan!" Keluh Raja Pelvis.
"Jadi apakah Yang Mulia memang tahu bahwa saya akan lewat sini? " Tanya Eldrige penasaran.
"Sebenarnya tidak, aku hanya menunggu seseorang dari Istana Alsatia lewat untuk melaporkan temuanku. Kau tahu sendiri aku tidak ingin masuk ke istana itu lagi sejak... kau tahu sendiri kan? " Rupanya Raja Pelvis belum bisa melupakan peristiwa lima belas tahun yang lalu.
"Ya, saya paham." Eldrige mengangguk.
"Baiklah, kurasa aku tidak perlu menyeret burung itu ke hadapanmu kan? " Raja Pelvis bertanya untuk sekedar memastikan.
"Tidak perlu. Tapi jika Yang Mulia berkenan, bolehkah saya meminta bantuan untuk mencari sarang mereka bersama-sama? " Tiba-tiba Eldrige meminta bantuan pada Raja Pelvis.
"Kau mempercayaiku? " Raja Pelvis tampak terkejut.
"Kenapa tidak? Bukankah Yang Mulia adalah sahabat Raja Satria? " Jawab Eldrige dengan sopan.
"Ah, jadi Raja Satria menganggapku sahabat? Baiklah kalau begitu, lagi pula aku sedang bosan terus berdiam di dalam danau." Raja Pelvis sangat senang karena Raja Satria masih mengingatnya.
"Kalau begitu, mari ikut saya! " Eldrige kemudian memberikan seekor kuda kepada Raja Pelvis.
Pria itu menungganginya dengan canggung. Kuda itu berkali-kali meringkik ketakutan ketika didekati oleh Raja Pelvis. Eldrige akhirnya terpaksa menggunakan sihirnya untuk membuat kuda itu patuh.
*****
Puteri Juwita dan Ningrum dilempar ke dalam sebuah kamar yang gelap. Mereka berdua meringkuk ketakutan. Di dalam kamar itu tercium bau anyir dan pesing yang membuat mereka berdua mual.
"Juwita, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? "
"Aku belum tahu, Ningrum. Tapi ada yang aneh mengenai ini semua. Tidakkah kau curiga kenapa mereka tiba-tiba bisa menangkap kita? " Puteri Juwita berbisik di telinga Ningrum.
Gadis itu mengangguk dalam kegelapan. Dia akhirnya memikirkan perkataan Puteri Juwita. Memang jika dipikirkan, kejadian yang menimpa mereka ini sangat tidak masuk akal.
"Kalau menurutmu, kenapa mereka menculik kita? " Tanya Ningrum.
"Lelaki yang menangkapku tadi mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menjual kita."
"Apa? " Tanpa sadar Ningrum berteriak, namun dia cepat-cepat menutup mulutnya.
"Apa kau serius, Juwita. Siapa orang yang tega menjual kita? " Tanya Ningrum dengan suara pelan.
"Coba kau pikirkan baik-baik, siapa kira-kira yang mungkin melakukan hal itu?" Puteri Juwita tidak menjawab pertanyaan Ningrum dan malah melemparkan sebuah pertanyaan lagi.
"Aku tidak bisa menebak. Aku tidak pernah berhubungan dengan penjahat jadi aku tidak tahu." Ningrum merasa kebingungan.
__ADS_1
"Aku juga tidak pernah berhubungan dengan penjahat. Tapi apa kau ingat kenapa kita bisa berada di jalan itu, Ningrum? Siapa yang telah mengajak kita ke sana? " Tanya Puteri Juwita dengan nada serius.
"Maksudmu... Sari? " Ningrum menelan ludah.