Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 110 Situasi Memanas


__ADS_3

Raja Sagar menaiki kudanya yang berbulu coklat kehitaman dan mengkilap. Dibelakangnya dua orang pengawal pribadinya, Timur dan Diarto mengikuti di belakang.


Mereka berkuda menuju bukit kecil di belakang istana, rute yang biasa dilewati sang raja saat melepas penat. Seperti yang biasa dilakukannya, Raja Sagar berhenti di sebuah telaga kecil di kaki bukit untuk memberi minum kudanya sambil menikmati pemandangan alam yang asri.


Raja Sagar duduk di atas sebatang pohon yang tumbang sambil mengamati air telaga yang berkilauan seolah tak menyadari akan bahaya yang datang di belakangnya.


Kedua pengawal pribadi itu saling berpandangan kemudian mengangguk. Mereka mendekati Raja Sagar dengan langkah pelan, masing-masing pengawal itu menghunus pedang.


Tanpa peringatan, kedua orang itu menebaskan pedangnya ke arah tubuh Raja Sagar.


Trang!


Suara benturan logam bergema di udara. Kedua pengawal itu terkejut ketika Raja Sagar tiba-tiba berbalik sambil mengayunkan pedangnya, menangkis serangan mereka.


"Ternyata kau awas juga. " Senyum mengejek dari pengawalnya yang segera berubah wujud menjadi dua orang pemuda berparas pucat.


"Kau tak terlihat terkejut, rupanya kau sudah menyadarinya? "


"Tidak sulit bagiku untuk menyadari kehadiran bangsa Daemonie. Bau busuk kalian sangat mengganggu penciumanku."


"Kurang ajar! " Kedua orang itu menyerang Raja Sagar secara bersamaan dan berusaha mendesak pemimpin Alsatia itu sampai ke pesisir telaga.


Namun tak disangka, Raja muda itu mampu berkelit dan membalas serangan mereka. Pria itu sejak kecil ditempa dan dididik untuk menjadi pemimpin di masa depan. Oleh karena itu dia juga memiliki kemampuan bertarung yang hebat.


Tak butuh waktu yang lama, Raja Sagar berhasil membalikkan keadaan. Kini dia terus maju dan mendesak kedua penyerangnya. Dia bahkan berhasil menorehkan ujung pedangnya pada tubuh mereka.


Namun keduanya tidak ingin menyerah. Mereka terus memberikan perlawanan. Saling melompat dan mencari titik kelemahan lawan.


Kuda-kuda tunggangan yang mereka tambatkan di dekat telaga meringkik ketakukan. mereka menendang-nendang ingin melepaskan ikatannya.


Raja Sagar segera menebas tali kekang dan membebaskan kudanya. Binatang itu berlari kencang meninggalkan tuannya.


Kaaaaack!


Suara pekikan burung terdengar melengking di udara. Hembusan angin menyerbu seperti kibasan kipas besar sehingga membuat rumput-rumput merunduk dan tersibak.


Raja Sagar mendongak ke atas dan melihat seekor burung besar berwarna hitam terbang berputar-putar di atasnya. Tanpa berpikirpun Raja Sagar dapat menduga burung apa itu.


Kedua orang penyerangnya tersenyum mengejek. Mereka merasa di atas angin.


"Menyerahlah sekarang, mungkin saja nyawamu akan kami ampuni! "


"Jangan mimpi! " Raja Sagar kembali menyerang. Pria itu kini tidak hanya menghadapi dua orang Daemonie namun juga harus menghindari serangan dari udara.


Meskipun kemampuan bertarung Raja Sagar tidak perlu diragukan lagi, namun menghadapi dua orang Daemonie ditambah burung iblis Strix yang mengincar nyawanya dia akhirnya menjadi kewalahan.


Beberapa kali burung itu menancapkan kukunya pada punggung Raja Sagar dan mencabiknya. Sedang kedua lawannya dengan senang hati menambahkan goresan-goresan pedang pada tubuhnya secara bertubi-tubi. Tubuh Raja Sagar kini bersimbah darah.


Burung hitam raksasa itu seperti tidak sabar ingin menikmati darah yang aromanya menguar dari tubuh Raja Sagar dan menggoda indera penciumannya. Burung itu segera menukik ke arah Raja Sagar. Sesaat sebelum burung itu menyentuh tubuh Raja Sagar, makhluk itu bertransformasi menjadi seorang pria muda berkulit pucat.


Tangan pria itu segera mencengkeram pundak Raja Sagar dan mulutnya menyeringai. Sepasang taring tajam berkilau siap merenggut nyawa Raja Sagar. Dengan gerakan cepat kepala pria itu menunduk ke arah leher Raja Sagar.


Craass..


Bugh!


Cipratan darah muncrat ke udara seperti selang air akibat sobekan di leher. Dan tubuh tanpa kepala ambruk di atas rumput yang kini merah digenangi oleh darah.


Sebuah kepala menggelinding turun meninggalkan jejak darah di atas rumput dan berakhir ke dalam telaga.


Byur!


Kepala itu masuk ke dalam air yang jernih kemudian kembali muncul ke permukaan, mengapung di atas air yang mulai berubah warna menjadi merah.


*****


"Sayang, berhentilah mondar-mandir seperti itu!" Raja Gaurav menegur istrinya yang sejak tadi gelisah.


"Aku tidak setuju jika Sagar harus kembali ke istananya. Seharusnya kau mencegahnya! " Wajah wanita itu terlihat sangat pucat.


"Sagar bukan anak kecil lagi, Elok. Dia adalah seorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab terhadap rakyatnya."


"Aku tahu, tapi kita tidak tahu siapa saja musuh yang harus dihadapi Sagar. Aaah.. aku tidak bisa tenang dan terus memikirkan adikku! "


Raja Gaurav mendekati istrinya dan memeluk punggung wanita itu untuk menenangkannya. Ratu Elok memejamkan matanya dan berharap ucapan suaminya benar.


Tiba-tiba ada seorang Staf Kerajaan datang dan mengabarkan kedatangan seseorang. Ratu Elok segera melepaskan pelukan suaminya dan berjalan meninggalkan ruangan itu karena tidak mau mencampuri urusan suaminya.


Seorang pria dari bangsa peri datang menghadap.

__ADS_1


"Salam, Yang Mulia." Peri itu menunjukkan hormatnya.


"Katakan ada apa?" Tanya Raja Gaurav tanpa basa-basi.


"Saya datang untuk mengabarkan bahwa semalam istana Kerajaan Angsana telah diserang oleh kelompok Daemonie! "


"Bagaimana dengan Raja Purnama? "


"Raja Purnama berhasil diselamatkan oleh para peri namun kini istana Angsana telah dikuasai para Daemonie! "


"Kurang ajar! " Raja Gaurav berteriak marah. Dia berpikir keras. Hal yang dia cemaskan saat ini adalah kemungkinan para Daemonie itu menyerang wilayahnya, atau bahkan istananya.


"Bagaimana dengan Nord, Elfian dan Alsatia?" Raja Gaurav bertanya dengan gusar, tangannya mencengkeram pinggiran kursi untuk menopang tubuhnya yang bergetar marah.


"Kemungkinan Nord pun akan segera mereka taklukkan karena serangan-serangan terus terjadi di wilayah mereka. Sedangkan Alsatia dan Elfian, saya belum mendapatkan kabar."


"Segera hubungi mereka, terutama Alsatia. Tolong segera kabari aku lagi! "


Peri itu segera pergi melaksanakan perintah Raja Gaurav. Sedangkan Raja Gaurav sendiri segera memerintahkan semua prajuritnya untuk meningkatkan penjagaan.


"Perang global sepertinya tidak bisa dihindari lagi." Gumamnya.


*****


Eldrige mengelap pinggiran pedangnya yang berlumuran darah. Wajah pria itu tetap tenang meskipun dihadapannya mayat-mayat bergelimpangan menguarkan aroma anyir.


"Syukurlah kau datang tepat waktu menyelamatkan aku, Eldrige! " Raja Sagar mengelap wajahnya yang terkena cipratan darah dengan sapu tangan.


"Berterima kasihlah pada kudamu yang kembali ke istana dan membuat keributan." Eldrige kembali menyarungkan pedangnya.


"Sesaat tadi aku sempat berpikir bahwa akulah yang akan tewas." Raja Sagar mendongakkan kepalanya dengan perasaan agak terguncang.


Masih terbayang-bayang di ingatannya kejadian beberapa saat yang lalu ketika pria yang mencengkeramnya telah bersiap mencabik lehernya. Namun tiba-tiba kepala pria itu menggelinding ke bawah melewati kakinya dan tubuhnya yang buntung ambruk tepat di hadapannya.


Di depannya, Eldrige telah berdiri dengan pedang terhunus. Darah kental menetes dari logam pipih di tangannya itu.


Tak lama kemudian, Raja Sagar seakan terpaku menyaksikan peri itu mengayunkan pedangnya, menyerang dua orang Daemonie tadi. Ketika mulai terdesak, mereka kemudian berubah wujud menjadi makhluk besar berkepala anjing.


Dalam wujud mereka sekarang, keduanya mendapatkan energi berlipat ganda. Mereka mulai menyerang Eldrige dengan brutal. Mereka menggunakan insting binatang buas ciri khas bangsa Daemonie.


Eldrige berkelit menghindari serangan kuku-kuku tajam mereka yang siap mencabik musuhnya. Peri itu berloncatan kesana-kemari sambil sesekali melepaskan pukulan dan tendangan ke arah makhluk-makhluk itu.


"Mari kita kembali ke istana, Yang Mulia!" Seruan Eldrige menyadarkan lamunan Raja Sagar. Peri itu kemudian mengajak Raja Sagar masuk ke dalam lubang dimensi.


*****


Beberapa pelayan datang untuk membersihkan luka-luka Raja Sagar dan mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian datanglah tabib istana bernama Bagio untuk mengobatinya.


Eldrige memperhatikan tabib yang sedang mengobati Raja Sagar. Dia menemuinya begitu tabib itu selesai.


"Apakah putrimu bersekolah di Griya Pitutur? "


"Bagaimana Tuan bisa mengetahuinya?" Tabib itu merasa heran.


"Aku berjumpa dengan putrimu di sana, dia adalah teman sekamar Puteri Juwita."


"Puteri Juwita dari Kerajaan Alsatia? " Mata tabib itu melebar karena terkejut.


"Benar." Eldrige mengangguk.


"Sungguh suatu kehormatan karena anak saya bisa menjadi teman dari keponakan Raja Sagar!" Tabib Bagio merasa senang.


"Ningrum adalah gadis yang baik. Puteri Juwita sangat beruntung memiliki teman seperti putrimu! " Pujian itu tulus dari hati Eldrige.


"Benarkah? " Tabib itu hampir saja menangis karena bangga mendengar pujian yang ditujukan untuk putrinya.


"Tetaplah setia di sisi Raja Sagar, apapun yang terjadi! " Eldrige mengingatkan.


"Saya akan selalu setia kepada Raja Sagar!" Tabib itu berkata dengan sungguh-sungguh. Setelah mengucapkan hal itu, tabib Bagio meninggalkan ruangan.


"Dua orang peri telah berjaga di istana. Mereka akan mengenali para Daemonie yang menyamar." Eldrige berdiri memandangi Raja Sagar yang sedang berbaring.


"Terima kasih, Eldrige." Raja Sagar terlihat lemah di tempat tidurnya.


"Saya akan pergi untuk melindungi sekolah." Eldrige berpamitan kepada Raja Sagar.


"Pergilah Eldrige, lindungilah gadis-gadis itu. Terutama keponakanku, Puteri Juwita."


"Saya akan bertaruh nyawa demi keselamatan Puteri Juwita." Ada kilatan aneh di mata merahnya saat Eldrige mengatakan hal itu

__ADS_1


"Aku percaya padamu. Gadis itu sangat tergantung padamu, jelas sekali jika dia sangat menyayangimu." Raja Sagar terkekeh pelan.


Eldrige tersenyum sambil menahan debaran di dadanya. "Saya juga sangat menyayanginya."


*****


Suara langkah kaki yang berisik di koridor mulai menghilang menjelang lonceng jam malam berbunyi. Kamar tidur yang ditempati Puteri Juwita kini juga sudah gelap. Api lilin yang ditutup semprong kaca telah ditiup Ningrum sebelum gadis itu tidur.


Puteri Juwita kini berdiri di dekat jendela yang menghadap halaman berumput yang dibatasi oleh pepohonan. Bulan separuh nampak di langit, bayangannya memantul pada kaca jendela bangunan asrama.


Teng.. teng.. teng..teng.. teng.. teng.. teng.. teng.. teng..


Suasananya semakin sunyi. Tidak ada lagi suara cekikikan para gadis atau obrolan bisik-bisik mereka.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan lirih mengejutkan gadis itu. Puteri Juwita buru-buru berjalan melintasi ruangan dan membuka pintu. Seketika wajahnya merona saat mengenali siapa yang berada di hadapannya sekarang.


"Ayah?" Gadis itu memekik tertahan dan langsung menubruk tubuh yang menjulang di depannya.


"Kau baik-baik saja, sayang? " Tanya Raja Satria.


Gadis itu mengangguk dalam pelukan ayahnya. Puteri Juwita baru menyadari bahwa dia sangat merindukannya sampai-sampai rasanya ingin menangis. Raja Satria merasakan tubuh putrinya bergetar dalam pelukannya dan menyadari betapa rapuhnya perasaan gadis itu.


"Ayo kita mengobrol di bawah! " Raja Satria menuntun putrinya yang masih bergelayut memeluknya.


Saat menuruni tangga, Puteri Juwita melihat beberapa orang telah berkumpul di lantai satu yang masih terang. Dia melihat Eldrige berada di antara mereka. Pria itu menatapnya tak berkedip dari tempatnya berdiri di sebelah Nona Sekar.


Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba timbul di hati Puteri Juwita melihat betapa dekatnya posisi keduanya. Meskipun sebenarnya gadis itu sangat merindukan Eldrige karena sudah tidak bertemu selama beberapa hari, tapi dia memutuskan untuk pura-pura tidak melihatnya.


Raja Satria duduk di kursi di sebelah putrinya. Di sekelilingnya sudah ada Eldrige, Nona Sekar, Faye dan Raja Pelvis. Mereka membicarakan masalah yang tidak dimengerti oleh Puteri Juwita. Sesekali gadis itu melirik Eldrige yang diam-diam memandanginya. Namun gadis itu tetap tidak mau melihatnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang." Kata Raja Satria sambil mengelus rambut putrinya. Mereka semua berdiri ketika Raja Satria berpamitan.


"Sekar, aku titipkan putriku padamu. Sepertinya Eldrige tidak bisa lagi berada di sini karena kami di Elfian membutuhkannya. Sebagai gantinya akan ada Faye bersama kalian. Tapi tidak sekarang, mungkin untuk beberapa hari ke depan. " Ucapan Raja Satria itu membuat Eldrige dan Puteri Juwita saling berpandangan.


Sementara itu Nona Sekar tersenyum kepada Raja Satria. "Terima kasih, Yang Mulia! " Ucap Nona Sekar.


"Juwita, ayah pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik ya! " Raja Satria menunduk menatap putrinya.


"Iya ayah, sampaikan salamku untuk ibu." Puteri Juwita merangkul leher ayahnya dan mengecup pipinya.


"Ayo Eldrige, kita pulang sekarang! " Raja Satria segera berjalan menuju pintu depan diikuti oleh Nona Sekar, Raja Pelvis dan Faye. Sementara itu Eldrige masih berdiri di tempatnya sambil menatap Puteri Juwita.


"Juwita, aku.. " Eldrige tidak tahu harus bicara apa karena melihat gadis itu yang seperti sedang marah padanya.


"Pergilah Eldrige! " Puteri Juwita berbalik dan berjalan menuju tangga.


"Tidak! " Tiba-tiba Eldrige memeluk pinggang gadis itu dari belakang.


"Apa yang kau lakukan Eldrige? Ayahku ada di depan, dia akan membunuhmu! " Puteri Juwita panik dan berusaha melepaskan diri dari Eldrige.


"Tidak akan, ayahmu tidak bisa membunuhku semudah itu. Lagipula ayahmu mungkin akan merestui kita." Eldrige semakin mengeratkan pelukannya dan malah meletakkan kepalanya pada bahu gadis itu.


Puteri Juwita menghentikan usahanya untuk melepaskan diri dari pelukan Eldrige. Dia berusaha mencerna arti ucapan pria itu.


"Apa maksudmu? " Tanya Puteri Juwita.


"Ayahmu berharap kelak kau akan menikah dengan orang yang mampu melindungimu sepertiku." Eldrige masih mengingat perkataan Raja Satria kemarin.


"Benarkah Eldrige? " Seketika Puteri Juwita melupakan kemarahannya.


"Ayahmu sendiri yang mengatakannya padaku." Ucap Eldrige sambil menghirup aroma kekasihnya.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri? " Gadis itu merasa geli karena merasakan napas Eldrige di lehernya.


"Aku akan bicara pada ayahmu setelah semua masalah ini selesai, aku akan meminta restu padanya. Aku ingin menikahimu." Bisik Eldrige lembut tepat di telinganya.


Puteri Juwita terkejut dan tersenyum malu mendengar perkataan Eldrige. Dia tidak bisa membayangkan dirinya menikah dan menyandang gelar Nyonya Eldrige.


"Apa kau mau menikah denganku, Juwita?" Tanya Eldrige dengan jantung berdebar kencang.


Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, dia terlalu gugup dan malu untuk menjawabnya.


"Aku.. "


"Eldrige, kenapa kau lama sekali? " Sebuah seruan telah mengagetkan mereka dan membuat keduanya saling melepaskan diri.


"A-ayah? " Dengan gugup Puteri Juwita menatap seorang pria yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2