
Seorang petugas bernama Wicaksana datang ke balai pengobatan untuk menemui tiga orang pasien dewasa yang diduga menderita keracunan.
"Tabib Bagio mengatakan bahwa kalian sudah keracunan. Namun ada yang aneh. " Petugas itu memandangi ketiga orang itu. "Meskipun telah mengkonsumsi racun, namun diantara kalian ada yang sama sekali tidak terdampak pada efek buruknya. "
Ketiga orang itu diam. Pak Wicaksana kemudian membuka catatannya dan mulai membacanya.
"Rani, perempuan usia 35 tahun. Mengalami ruam, muntah, kram perut, demam dan sakit kepala. Ada sedikit darah di dalam muntahannya yang diindikasikan bahwa ada organ dalamnya yang terluka." Pak Wicaksana membalik catatannya.
"Durna, laki-laki usia 36 tahun. Mengalami muntah dan demam."
"Diana, perempuan usia 24 tahun. Mengalami muntah dan dehidrasi. "
"Alka, laki-laki usia 9 tahun. Mengalami ruam, muntah, kram perut, demam, sakit kepala dan sempat pingsan. Dengan usianya yang sangat muda, resikonya lebih besar karena bisa merenggut nyawanya."
Setelah Pak Wicaksana membacakan catatannya, dia segera memandang ke arah Tabib Bagio. Tabib Bagio segera mengangguk dan memberi penjelasan.
"Tanda-tanda keracunan pada Bu Rani dan Alka terlihat jelas, reaksinya pun nyata. Sedangkan pada Pak Durna dan Nona Diana, meskipun mereka pun mengkonsumsi racun tapi tampaknya tidak mengalami dampak yang serius. Saya awalnya ragu, namun akhirnya saya dapat dengan pasti mengambil kesimpulan."
Tabib Bagio kemudian menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang sudah diremas.
"Manisan? " Tanya Pak Wicaksana.
"Ini adalah sisa manisan yang ada di kantung baju Alka. Saya telah mengujinya dan terdapat racun di sana. " Kata Tabib Bagio.
"Bukankah manisan itu kau yang memberi? " Bu Rani berteriak marah pada suaminya.
"Tidak, Rani. Memang benar aku yang memberi tapi aku tidak tahu kalau itu beracun. Lagipula kau lihat sendiri kan kalau aku juga memakannya? "
"Kalian semua memang memakannya. Tapi bukankah kalian berdua telah minum penawarnya? " Tabib Bagio menatap Pak Durna dan Nona Diana.
"Saya sama sekali tidak mengerti." Pak Durna saling berpandangan dengan wanita simpanannya.
Pak Wicaksana kemudian bangkit dan kembali mengambil alih interogasi.
"Bu Rani, coba ceritakan awal mula kejadian itu. "
Maka mengalirlah cerita sedih dari mulut wanita itu. Beberapa hari yang lalu suaminya yang baru pulang dari kota datang bersama seorang wanita. Dia adalah Nona Diana.
Suaminya mengatakan bahwa dia akan segera menikahi wanita itu karena mereka saling mencintai. Bu Rani yang sakit hati tidak bisa menerimanya. Dia menjadi sangat marah dan mengusir suami serta selingkuhannya itu.
Namun kakak suaminya datang dan menasehatinya. Menurut adat mereka, tidak ada salahnya seorang pria menikah lagi. Dia bahkan akan mendapat sangsi adat jika berani menolak keinginan suaminya.
Siang itu setelah makan siang bersama, suaminya menyuguhkan manisan sebagai tanda perdamaian dan restu dari istrinya. Namun tak lama kemudian suami dan wanita simpanannya itu muntah-muntah. Wanita itu kemudian menuduh Bu Rani telah meracuni hidangan makan siang.
Tak berselang lama Bu Rani dan Alka juga muntah-muntah. Alka sempat kejang dan kemudian pingsan.
Pak Wicaksana mendengarkan penjelasan itu dengan tenang. Kemudian dia beralih pada Pak Durna.
"Bagaimana penjelasan anda? " Tanya Pak Wicaksana dengan raut serius.
"Awalnya saya juga mengira bahwa makan siang itu yang beracun. Saya tidak mengira kalau manisan yang saya berikan... " Pria itu terlihat bingung.
"Dari mana anda mendapatkan manisan itu? " Kejar petugas itu.
"Kami membelinya di pasar tadi pagi."
"Kami? " Kening Pak Wicaksana berkerut.
"Saya dan Diana. " Jawab Pak Durna agak ragu.
"Apa setelah memakan manisan itu anda dan Nona Diana memakan atau meminum sesuatu? "
Pak Durna berusaha mengingat-ingat. Kemudian dia menatap petugas itu.
"Saya dan Diana minum susu. "
__ADS_1
"Apakah istri dan anak anda juga minum susu? "
"Tidak, Diana hanya membuat dua gelas susu untuk kami. " Pak Durna terlihat malu.
"Setelah minum susu itu lalu apa yang terjadi? "
"Setelah itu kami langsung muntah-muntah." Jawab Pak Durna.
"Karena Pak Durna dan Nona Diana langsung memuntahkan racun yang berada di dalam manisan itu, maka kalian tidak terdampak pada efek racun. "
Kasus keracunan ini mulai mengerucut pada kedua orang itu. Petugas mulai gencar mengajukan pertanyaan pada mereka.
"Siapa diantara kalian yang membubuhkan racun pada manisan itu? " Petugas berkumis lebat itu bertanya dengan nada keras.
"Saya tidak melakukannya. " Mereka menjawab serempak.
Pak Wicaksana memukul-mukulkan tongkat ke telapak tangannya. Matanya yang lebar mendelik marah ke arah kedua orang itu.
"Sepertinya harus didatangkan seorang saksi agar kalian mau mengaku. " Ucapnya penuh penekanan.
Alis sepasang kekasih itu berkerut. Mereka tidak mengerti siapa saksi yang dimaksud oleh petugas itu.
"Bawa anak itu kemari! "
*****
Akhirnya balai pengobatan kembali tenang setelah para pasien pergi.
"Ternyata di tempat sedamai ini juga terdapat kejahatan. " Puteri Juwita masih merasa heran.
"Di manapun juga kejahatan tetap ada. Oleh karena itu kita harus tetap waspada. " Bagas tersenyum pada adik angkatnya itu.
"Kasihan Alka. Keluarganya harus tercerai-berai seperti ini. " Kali ini Ningrum yang berkata dengan sedih.
"Untung Juwita melaporkan informasi penting itu pada ayah, kalau tidak.. " Ningrum bergidik.
"Aku tidak bisa membayangkan perasaan anak itu saat mengetahui ayahnya sendiri berusaha membunuhnya dan juga ibunya." Ningrum menggelengkan kepalanya.
"Benar, itu sangat mengerikan. Aku juga tidak mengerti bagaimana seseorang yang dahulu mencintai bisa berubah sangat membenci sampai ingin menghabisi nyawa orang itu." Puteri Juwita merenung.
"Karena perasaan bisa berubah. Kejahatan memiliki tipu daya yang dapat merubah sifat seseorang. Oleh karena itu kita tidak boleh membiarkan kejahatan bersarang di hati kita." Bagas menatap kedua gadis itu dengan serius.
"Aku yakin Pak Durna kini menyesali perbuatannya. Dia tidak hanya kehilangan anak dan istrinya. Kini dia juga harus kehilangan kebebasannya. " Kata Puteri Juwita sambil menghela napas.
"Benar. Tapi penyesalan itu sudah terlambat. Aku senang kita bisa menghentikan kejahatan mereka." Ningrum tersenyum. Mereka semua merasa lega.
Hari-hari setelah itu pasien mulai berdatangan. Mereka penasaran dengan Tabib Bagio yang telah membantu petugas Balai Kota menemukan pelaku kasus keracunan satu keluarga.
Puteri Juwita juga semakin sibuk membantu di balai pengobatan. Dia merasa senang karena bisa mempelajari ilmu pengobatan dan dapat membantu orang lain.
Setiap hari dia memperhatikan dengan teliti bagaimana Tabib Bagio memeriksa penyakit para pasien dan bagaimana cara tabib itu memberi perawatan. Obat apa yang diberikan tabib itu untuk penyakit tertentu juga selalu diperhatikannya.
Di saat Bagas pergi untuk mencari tanaman obat juga terkadang gadis itu ikut. Sekarang dia merasa bahwa ilmu pengobatan adalah gairahnya.
*****
Nona Sekar menaikkan barang-barangnya ke atas punggung kuda dan mengikatnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang di istana yang ingin memanfaatkannya.
"Hya! " Wanita itu memacu kudanya membelah kesunyian malam.
Jalan-jalan di ibukota tampak lengang. Namun para prajurit masih melakukan patroli untuk menjaga keamanan.
Nona Sekar sengaja menghindari titik-titik penjagaan. Dia tidak ingin menarik perhatian para prajurit sehingga kepergiannya diketahui pihak istana lebih cepat dari yang dia inginkan.
Fajar pecah di ufuk timur ketika wanita itu melewati perbatasan Alsatia. Dia terus memacu kudanya meskipun belum pasti arah yang akan ditujunya.
__ADS_1
Di depannya terbentang padang rumput Masserjarvi yang dihuni oleh makhluk-makhluk setengah ikan. Wanita peri itu belum menentukan pilihan akan menuju Nord atau ke Elfian.
Akhirnya setelah lama menimbang, dia akhirnya memacu kudanya menuju Elfian. Dia menduga Eldrige akan ke sana untuk mencari Puteri Juwita.
Angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya yang cantik. Dan rambutnya yang ikal panjang berkibar-kibar berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
"Tak kusangka melihatmu di sini. Kukira kau sudah betah tinggal di rumah barumu yang mewah itu. " Tiba-tiba sebuah suara tertangkap telinga Nona Sekar hingga membuatnya menarik tapi kekangnya.
Kudanya terpekik karena terkejut. Kaki depan binatang itu naik ke atas.
Nona Sekar memandangi sekitarnya saat kuda yang ditungganginya telah kembali tenang.
"Raja Pelvis? " Dahi wanita itu berkerut karena tidak melihat sosok yang baru saja bicara dengannya.
"Rupanya kau masih mengenali suaraku." Diantara rumput-rumput setinggi pinggang seorang pria berambut panjang yang selalu terlihat basah berdiri menatap Nona Sekar.
"Aku tidak ada waktu berbasa-basi denganmu. Katakan apa yang kau inginkan." Ucap Nona Sekar dari atas punggung kudanya.
"Aku tahu kau mencari Eldrige. " Pria itu tersenyum.
"Apa kau mau memberitahuku dimana Eldrige berada? " Tanya Nona Sekar.
"Kenapa aku harus melakukannya? Bukankah kau bisa menghubunginya kapan saja menggunakan telepati? "
"Seharusnya aku tidak bicara denganmu. Buang-buang waktu saja. " Nona Sekar menyentakkan tali kekangnya dan membuat kudanya kembali berlari.
"Benar dugaanku, kau tak bisa melakukannya." Raja Pelvis berlari menerobos rerumputan dengan jarak yang tetap sejajar dengan laju kuda.
"Itu bukan urusanmu! " Teriak Nona Sekar geram.
"Kau terlalu memaksa. Percayalah, saat kau berusaha menggenggam telur dengan erat maka telur itu akan pecah. " Sebuah nasehat dilontarkan pria itu.
"Aku tidak tahu maksud ucapanmu dan tidak ingin tahu. " Nona Sekar tetap memacu kudanya tanpa menoleh.
"Artinya jika kau terus memaksa Eldrige maka dia akan semakin menjauhimu. " Teriak Raja Pelvis sambil terus berlari.
"Sudahkah kukakatan bahwa kau terlalu suka ikut campur urusan orang? " Cela wanita itu.
"Bukankah kau sendiri juga seperti itu? " Raja Pelvis membalikkan tuduhan itu.
"Aku tidak seperti itu! " Nona Sekar kembali menghentikan kudanya.
"Kau sudah menghancurkan hidup seseorang. Dan yang lebih parah lagi, itu juga menghancurkan seluruh kerajaan. " Mata Raja Pelvis menyorot tajam.
"Kau suka berhayal, Raja Pelvis. Mungkin terlalu lama berendam di dalam air membuat imajinasimu mengembang. " Ejek Nona Sekar.
"Kau tahu maksudku, Sekar. Jangan sampai semuanya terlambat kau baru menyadarinya."
Nona Sekar merasa tersindir oleh ucapan Raja Pelvis. Tanpa mengacuhkan pria itu, dia kembali memacu kudanya meninggalkan Raja Pelvis yang kini tidak lagi mengikutinya.
Beberapa jam kemudian, dia sudah memasuki wilayah Kerajaan Elfian. Dia terus memacu kudanya sampai ke ibukota.
Entah kenapa, semakin dekat dia ke istana semakin jantungnya berdebar kencang. Dia merasa gugup dan bingung bagaimana harus menunjukkan sikap di depan Ratu Gita.
"Sekar! " Ratu Gita menyambutnya ketika dia berjalan memasuki istana.
Nona Sekar tertegun melihat wanita yang sedang hamil tua itu. Wajah lelah wanita itu berseri-seri menyambut kedatangannya.
"Aku sangat merindukanmu, Sekar. Berapa tahun kita tidak bertemu, ya? Wah, rasanya baru kemarin kau masih sekecil ini. " Ratu Gita menyentuh pinggangnya.
Perasaan bersalah tiba-tiba tumbuh begitu besar di dada Nona Sekar. Selama ini dia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang dilakukannya adalah hal yang benar.
Namun ketika bertemu Ratu Gita, entah kenapa lapisan-lapisan kebohongan yang dia tumpuk untuk menutupi kebenaran kini terkelupas satu persatu. Dia tidak lagi memiliki keberanian menatap mata ibu kandung Puteri Juwita itu.
Hatinya kini dengan jelas menuding dirinya sendiri atas semua perbuatan egois yang menyebabkan seorang gadis tidak berdosa dihukum atas kejahatan yang tidak dilakukannya.
__ADS_1
"Maaf." Sebuah ucapan tulus meluncur dari Bibir Nona Sekar.