Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 96 Perbincangan Para Gadis


__ADS_3

Puteri Juwita terbangun di pagi hari dengan senyuman di wajahnya. Dia merasa senang karena semalam Eldrige datang menemuinya.


Gadis itu cepat-cepat mandi dan bersiap-siap bersekolah. Saat turun ke bawah, matanya melihat dinding asrama yang retak. Teman-temannya juga terlihat bingung melihat retakan itu.


Apa semalam terjadi gempa? Apa aku tidur terlalu nyenyak hingga tidak menyadarinya?


Puteri Juwita berjalan ke ruang makan yang sudah terisi beberapa gadis dan duduk menunggu teman-temannya.


"Apa semalam kau merasakan gempa? " Sari yang baru datang langsung bertanya begitu gadis itu duduk di sebelah Puteri Juwita.


"Tidak."


"Aku juga tidak. Aneh sekali, kenapa semua orang tidak ada yang merasakannya? " Ucap Sari.


"Semalam kau bersama siapa? " Sari tersenyum menggoda.


"Apa maksudmu? "


"Jangan bohong! Semalam Sapna melihat seorang pria di kamarmu saat mengantar kue. " Sari tersenyum-senyum ke arah Puteri Juwita.


"Apa itu hantu yang kau maksud waktu itu? " Sapna tiba-tiba sudah berbisik di telinga Puteri Juwita membuat gadis itu kaget.


"Bukan, kau salah lihat. " Jawab Puteri Juwita dengan wajah agak memerah. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa Eldrige datang menemuinya.


"Ya sudah kalau tidak mau mengaku. Kami akan tanyakan pada Ningrum! " Ratri yang tadi datang bersama Sapna tertawa cekikikan.


Ningrum yang datang terakhir langsung diberondong pertanyaan oleh teman-temannya.


"Aku tidak tahu, semalam aku tidur lebih awal. " Jawaban Ningrum membuat teman-temannya kecewa.


Ketika Nona Sekar masuk ke ruang makan, suasana mendadak senyap. Mereka semua kemudian menyantap sarapan dengan tenang.


Ketika Puteri Juwita berjalan keluar tiba-tiba Nona Sekar menyapanya.


"Bagaimana kabarmu hari ini, Juwita? Apa tidurmu nyenyak? "


"Iya, Nona Sekar. Semalam saya tidur nyenyak sekali. "


"Syukurlah. Eldrige mungkin tidak akan pulang selama beberapa hari, dia harus melakukan sesuatu. " Nona Sekar seolah menyembunyikan sesuatu.


"Oh, begitukah? "


"Selama Eldrige tidak ada, kau tidak usah khawatir ya. Aku yang akan membantumu. " Nona Sekar berbicara dengan sangat ramah.


"Terima kasih, Nona Sekar. "


"Tidak usah sungkan, aku dan Eldrige sudah saling mengenal sejak lama. Aku juga mengenal kedua orang tuamu. " Nona Sekar tersenyum.


Hari itu Puteri Juwita menjalani kegiatan sekolahnya tanpa terjadi apapun. Hanya saja dia merasa kehilangan agak Eldrige.


*****


Eldrige mendampingi Puteri Devi untuk menemui Ratu Malea di Kerajaan Lucshire. Gadis belia itu memandang alam di sekelilingnya dengan takjub.


Berbagai pohon raksasa dan tanaman menjalar yang melilit cabang-cabang pohon membuatnya serasa memasuki dunia lain.


Eldrige tersenyum melihat tingkah polos gadis yang sedang berjalan di sebelahnya itu. Gadis itu terlihat ceria, semburat kemerahan di pipinya menandakan semangatnya.


"Kita hampir sampai, Tuan Puteri." Ucap Eldrige ketika mereka berjalan di bawah kanopi bunga-bunga mawar Sempervirens yang berwarna putih.


Gadis itu tersenyum lalu mengangguk kepada Eldrige. Dia tidak sabar untuk menjalani kehidupan barunya di hutan ini. Selama ini gadis itu hanya terkurung di kamarnya dan Graha Usadha.


Dia tidak memiliki teman, bahkan para pelayan enggan menemaninya. Mereka hanya melaksanakan tugas lalu pergi setelahnya. Hanya ibu dan ayahnya yang menunjukkan kasih sayang kepadanya.


Kenangan saat dia bermain layang-layang bersama ibu dan bibinya setidaknya memberikan warna lain dalam hidupnya yang monoton. Namun kini, gadis itu berada di istana para peri yang hanya ada dalam khayalan orang-orang.


Puteri Devi melihat seorang wanita cantik berambut panjang menjuntai ke bawah hampir ke mata kaki. Wanita itu tersenyum padanya yang membuatnya ikut melengkungkan bibirnya.


Ada aura keagungan yang melingkupi wanita itu. Tanpa diberitahu pun gadis itu yakin bahwa wanita itu adalah Ratu Malea, pimpinan tertinggi bangsa peri di Kerajaan Lucshire.


"Salam hormat, Ratu Malea! " Gadis itu membungkuk hormat kepada Ratu Malea. Sikapnya yang sopan dan cepat tanggap membuat Ratu Malea terkesan.


"Salam Tuan Puteri Devi! " Jawab Ratu Malea.


Puteri Devi merasa terkejut karena Ratu Malea mengetahui namanya, namun gadis itu menahan lidahnya untuk bertanya. Meskipun dia tidak banyak bertemu dengan orang lain, namun dia tidak pernah melupakan tata krama yang diajarkan oleh ibundanya, Ratu Elok.

__ADS_1


"Raja Gaurav mengirimkan sebuah surat dan bingkisan untuk Yang Mulia! " Eldrige mengeluarkan sebuah surat dan sebuah kotak hadiah dari kantungnya. Dia menyerahkan surat dan kotak hadiah itu pada Ratu Malea.


"Sampaikan terima kasihku pada Raja Gaurav, katakan bahwa aku sangat menghargai pemberiannya! "


Eldrige mengangguk. Dia menunggu dengan tenang saat Ratu Malea membaca surat dari Raja Gaurav.


"Aku sudah membaca surat dari ayahmu, dan aku sudah memahaminya. Mulai saat ini kau akan tinggal di sini bersamaku Puteri Devi." Ratu Malea berbicara pada Puteri Devi.


"Terima kasih Yang Mulia. " Gadis itu menunjukkan rasa terima kasihnya.


Setelah itu Puteri Devi di antar oleh beberapa peri ke kamarnya. Sementara itu Eldrige masih berbincang serius dengan Ratu Malea.


"Ada penyusup dari bangsa Daemonie yang masuk ke asrama Griya Pitutur di Kerajaan Alsatia."


"Aku sudah menduganya Eldrige. Beberapa waktu yang lalu prajuritku menangkap adanya energi gelap yang melintasi perbatasan hutan Lucshire. Saat itu aku langsung melakukan Scrying. Aku melihat burung-burung Strix sedang terbang melintasi hampir seluruh wilayah Liga Kerajaan."


"Jadi dugaanku benar? " Gumam Eldrige.


"Aku akan mengirimkan prajurit-prajuritku untuk membantu menjaga wilayah Liga Kerajaan."


"Saya lega mendengarnya, Yang Mulia. "


"Ngomong-ngomong Eldrige, aku dapat merasakan hatimu yang beku kini benar-benar telah mencair." Ucapan Ratu Malea membuat wajah Eldrige merah.


"Apa kau benar-benar telah jatuh cinta?" Tanya Ratu Malea dengan suara lembut.


"Saya tidak tahu Yang Mulia. Dulu saya mengira telah jatuh cinta, namun kali ini perasaan yang saya rasakan begitu berbeda dan asing. Dulu saya bisa menahan emosi dan tetap berpegang pada akal sehat, namun kali ini terkadang saya kehilangan pengendalian diri." Jawab Eldrige dengan jujur.


"Itulah cinta Eldrige. Kau tak akan bisa memahaminya meskipun kau pelajari selama ratusan tahun."


"Apa yang harus saya lakukan, Yang Mulia?" Tanya Eldrige hampir putus asa.


"Ikuti kata hatimu, Eldrige. Ikuti takdir yang menuntunmu!"


"Bukankah saya ditakdirkan untuk tidak merasakan cinta? "


"Kata siapa? Hatimu sengaja dibekukan untuk menjagamu agar tetap teguh menjalankan tugasmu sebagai Guardian. Namun sejak awal, takdirmu bukan untuk itu. Oleh sebab itu aku pernah mengatakan padamu, bahwa suatu saat hatimu yang membeku akan kembali menghangat." Ratu Malea memandang Eldrige dengan sorot mata yang teduh.


"Apakah saat itu adalah sekarang? Apakah Yang Mulia mengizinkannya?"


"Terima kasih Yang Mulia! "


*****


"Akan ada pertandingan Baggata lagi pekan depan. Kita harus menontonnya bersama-sama! " Sari berkata pada teman-temannya saat mereka berkumpul di kamarnya setelah makan malam.


"Wah, aku tidak sabar memberi dukungan pada Bagaskara! " Sapna terpekik senang.


"Kudengar pertandingan besok tim Sekolah Kesatrian akan melawan tim Sekolah Elixir . Bayangkan, pemuda-pemuda ahli pengobatan akan bermain Baggata! " Ratri ikut-ikutan terpekik senang.


"Kudengar kau punya saudara yang belajar di Sekolah Elixir, Ningrum? " Tiba-tiba Sari bertanya pada Ningrum.


"Iya, kakakku bersekolah di sana. " Jawab Ningrum.


"Jadi keluargamu adalah ahli pengobatan? " Tanya Sari.


"Ayahku adalah tabib istana Alsatia." Ningrum menyebutkan jabatan ayahnya dengan bangga.


"Wow, tak kusangka ayahmu ternyata adalah orang penting! Ayahku hanyalah seorang pejabat daerah." Keluh Ratri.


"Bagaimana dengan ayahmu, Juwita? Apa jabatannya? " Tanya Sari.


"Itu.. eh, ayahku adalah.. " Puteri Juwita agak ragu untuk menjawabnya. Dia tidak ingin menyombongkan kedudukan ayahnya.


"Sudah, kita tidak usah menanyakan jabatan orang tua masing-masing. Kita semua bisa sekolah di sini karena kita masih keturunan bangsawan! " Sapna menengahi.


Puteri Juwita sangat bersyukur teman-temannya sudah tidak menanyakan tentang jabatan ayahnya.


"Ngomong-ngomong, kenapa Tuan Eldrige tidak terlihat hari ini? " Sari sangat penasaran karena satu-satunya hiburannya di asrama ini tiba-tiba menghilang.


"Mungkinkah Tuan Eldrige pulang ke Elfian? Apa kau tahu Juwita? " Tanya Ratri.


"Aku tidak tahu. " Jawab Puteri Juwita dengan jujur.


"Sayang sekali, padahal hanya dengan memandang wajahnya yang tampan sudah bisa membuatku bersemangat! " Sari berlagak lemas.

__ADS_1


"Kau betul-betul gadis bangsawan yang nakal! " Sapna pura-pura memarahi Sari.


"Apa kalian tidak menyadari sikap Nona Sekar hari ini lebih hangat? " Sari mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbicara dengan dramatis.


"Maksudnya? " Tanya Ningrum tak mengerti.


"Tadi Nona Sekar menanyakan apakah tidurku nyenyak semalam, kau percaya itu? " Ucap Sari seakan hal itu adalah sesuatu yang luar biasa.


"Benarkah? " Kata Puteri Juwita, dia teringat tadi pagi Nona Sekar juga menanyakan hal yang sama padanya.


"Tadi Nona Sekar juga menanyai kabarku. " Kata Ratri.


"Apa menurut kalian hal itu aneh? Bukankah itu pertanyaan biasa? " Tanya Puteri Juwita.


"Tentu saja aneh, selama ini Nona Sekar hanya memastikan semua gadis-gadis di sini mematuhi peraturan. Dia tidak pernah menanyakan kabar atau apa kita tidur nyenyak." Ratri berbicara serius.


"Aneh! " Puteri Juwita juga merasa aneh.


"Menurutku perubahan sikap Nona Sekar karena telah terjadi sesuatu! " Kata Sari, membuat teman-temannya menatapnya penasaran.


"Sesuatu? " Puteri Juwita bingung.


"Nona Sekar sedang jatuh cinta! " Ucap Sari dengan sangat yakin.


"Apa? Dengan siapa? " Ratri dan Sapna bicara bersama-sama.


"Dengan satu-satunya pria yang diizinkan tinggal di asrama ini, Tuan Eldrige! " Sari berbicara dengan lantang.


Deg!


Tiba-tiba dada Puteri Juwita bergemuruh. Ternyata bukan hanya dirinya yang berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Eldrige dan Nona Sekar.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? " Puteri Juwita bertanya dengan kesal.


"Karena orang yang sedang jatuh cinta, biasanya akan melakukan sesuatu yang diluar kebiasaannya." Kata Sari sok tahu.


"Jatuh cinta? Apa kau pernah jatuh cinta Sari? " Tanya Puteri Juwita karena penasaran.


"Kau jangan menanyakan hal itu padanya, Juwita! Sari selalu jatuh cinta pada setiap pria tampan yang ditemuinya! " Sapna menggeleng-gelengkan kepalanya.


Semua teman-temannya tertawa mendengarnya. Sari cemberut dan pura-pura merajuk.


"Tapi aku suka perasaan jatuh cinta. " Ucap Sari.


"Jatuh cinta itu seperti apa rasanya? " Tanya Puteri Juwita lagi.


"Jatuh cinta itu, kau akan berdebar-debar saat bertemu dengannya. Selalu teringat padanya. Akan merindukannya jika tidak berjumpa. Kau akan sangat senang bahkan jika hanya mendengar suaranya! " Sari berbicara seolah sedang bermimpi.


"Apa kau membacanya di buku? " Ejek Ratri.


"Itu semua hasil pemikiranku sendiri! " Jawab Sari tidak terima.


"Juwita, apa kau pernah menyukai seseorang? Mungkin dengan orang yang baru kau kenal? " Kini Sari membalikkan pertanyaannya pada Puteri Juwita.


Puteri Juwita berpikir sejenak. Selama ini dia tidak pernah berteman dengan lawan jenis. Satu-satunya pria yang dekat dengannya selain ayahnya hanya Eldrige. Jika ada yang bertanya apakah dia menyukainya, tentu saja jawabannya iya. Tapi dia tidak mungkin jatuh cinta pada Eldrige, karena Eldrige sudah seperti keluarga.


"Saat aku berangkat kemari, di perjalanan aku bertemu dengan seorang pemuda. " Puteri Juwita tiba-tiba teringat pada Pangeran Ryota.


"Benarkah? Ceritakan pada kami! " Teman-temannya langsung mengerumuninya.


"Saat itu kami hanya saling bertatapan. Ketika aku mampir ke rumah pamanku, ternyata kami bertemu kembali." Puteri Juwita agak malu menceritakannya.


"Wah, mungkin dia adalah jodohmu! " Seru Ratri.


"Romantis sekali! " Sari seolah-olah sedang menikmati sebuah cerita roman.


"Kata orang, jika kalian bertemu sekali itu dinamakan tak sengaja. Namun jika kau berkali-kali bertemu dengannya, itu berarti kalian berjodoh! " Ningrum tiba-tiba berkata mengejutkan.


"Kau jangan main-main! " Bantah Puteri Juwita.


"Aku serius! Aku pernah mendengar seseorang mengatakannya. " Jawab Ningrum sambil mengedikkan bahunya.


"Ingat itu Juwita, siapa tahu kau bertemu dengannya lagi. " Goda Sapna.


Wajah Puteri Juwita menjadi merah karena terus-terusan digoda teman-temannya. Gadis itu berdebar-debar membayangkan jika Pangeran Ryota benar-benar jodohnya.

__ADS_1


__ADS_2