
Raja Satria membawa seribu prajurit menuju Teluk Puteri Duyung. Letaknya di wilayah pesisir paling ujung dari kerajaan Elfian. Untuk ke sana diperlukan waktu satu hari perjalanan berkuda.
Raja Satria sampai di daerah pantai itu tepat sebelum fajar. Lautan yang gelap itu mulai tampak berkilau keemasan tatkala sang surya mulai terbit di ujung cakrawala. Angin laut yang beraroma asin mengibarkan rambutnya yang sewarna dengan pasir.
"Bagaimana kondisinya?" Raja Satria mengambil teropong dari tangan Suseno, seorang Perwira penjaga perbatasan.
"Ada tiga buah kapal yang memiliki layar ganda, depan dan belakang. Menurut informasi dari prajurit yang berada di kapal pengintai, kapal berbendera asing tersebut berlayar dengan kecepatan 13,7 knots. Mereka diperkirakan akan mencapai garis pantai sekitar 8 jam lagi."
Perwira yang masih muda itu memberikan penjelasan kepada Raja Satria yang sedang mengamati lautan menggunakan teropong.
"Perintahkan para prajurit untuk bersiaga. Kita belum tahu mereka datang dengan maksud baik atau malah sebaliknya." Mata ungunya berkilat tersorot cahaya mentari pagi.
"Baik Yang Mulia." Perwira muda itu segera pergi untuk mengatur pasukannya.
Kemudian Raja Satria masuk ke dalam tendanya yang didirikan tidak jauh dari lokasi Istana Musim Panas miliknya. Pria itu memejamkan mata sejenak, beristirahat untuk melemaskan otot-ototnya setelah semalaman berkuda.
Sekitar tengah hari, saat bayangan mulai bergeser sedikit dari atas kepala, di garis cakrawala mulai terlihat siluet kapal-kapal dengan layar menggembung.
Raja Satria kembali mengamati dari teropongnya. Namun belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kapal-kapal itu milik para perompak.
"Bersiaplah!" Perintahnya.
Semua mata tertuju pada kapal-kapal yang memiliki buritan besar di sisi lambungnya itu. Ketika telah mencapai garis pantai, kapal-kapal itu mulai menggulung layarnya. Di tengah lautan yang berwarna biru kehijauan itu, para awak kapal terlihat melemparkan jangkar ke dalam laut.
Masing-masing kapal itu menurunkan sebuah perahu kecil. Beberapa orang turun menggunakan tangga yang terbuat dari tali tambang dan menaiki perahu. Perahu-perahu kecil itu kemudian meluncur pelan ke arah pantai.
Setiap perahu diisi oleh empat orang laki-laki. Mereka mengibarkan bendera putih tanda perdamaian ke arah prajurit Elfian yang telah bersiaga sejak tadi. Kulit para prajurit Elfian yang putih pucat itu, kini terlihat kemerahan karena terlalu lama terpapar sinar matahari.
Kemudian saat perahu mereka telah menjejak pasir, orang-orang itu turun ke dalam air laut yang merendam kaki mereka sampai ke betis. Mereka menyeret perahu-perahu itu dan memancangkannya pada batu-batu karang kecil.
"Salam hormat kepada Raja bangsa Elfian!" Seru mereka dengan sikap sopan.
Raja Satria menganggukkan kepalanya kepada mereka. Serentak busur-busur milik prajurit Elfian yang siap melesatkan anak panah segera di turunkan.
"Siapa kalian?" Tanya Raja Satria sambil menelisik orang-orang asing berwajah oriental.
"Kami pedagang dan pemain akrobat dari daratan Laut Timur. Kami kemari ingin mencoba peruntungan di negeri ini." Kata seorang pria berwajah tampan yang rambut hitamnya dikuncir dan diikat dengan kain berwarna putih.
"Akrobat?" Raja Satria menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Kami mempersembahkan pertunjukan sulap, keterampilan berjalan di atas tali dan juga pertunjukan binatang." Jawab pria tampan tadi.
"Jadi kalian rombongan sirkus? Bisa tunjukkan dokumen resmi kalian?" Raja Satria bertanya sambil memandangi penampilan mereka yang tidak lazim.
Orang tadi mengeluarkan surat-surat yang terlipat dari balik bajunya. Perwira Suseno segera mengambil surat-surat itu kemudian memeriksanya.
Dengan sebuah anggukan, Perwira Suseno mengisyaratkan kepada Raja Satria bahwa dokumen yang mereka miliki adalah legal. Dari stempel yang terdapat di sana, menandakan bahwa mereka sudah biasa berniaga di berbagai negara.
"Baiklah, kalian boleh berdagang dan melakukan pertunjukan di wilayah Kerajaan Elfian. Namun kalian tidak diperkenankan untuk membawa senjata dalam bentuk apapun!" Ucap Raja Satria.
"Terima kasih Yang Mulia!" Mereka semua membungkuk hormat.
Raja Satria kemudian berjalan menuju tendanya, namun dia membisikkan sesuatu kepada Perwira Suseno. Dan Perwira itu menganggukkan kepalanya.
Setelah Raja Satria kembali ke tenda, para prajurit pergi ke kapal mereka untuk memeriksa. Ternyata mereka membawa binatang-binatang di dalam kandang-kandang besi. Mereka juga membawa tenda dan kereta kuda.
*****
Orang-orang dari daratan Laut Timur itu menggelar dagangannya di pasar sebuah kota kecil bernama Luz. Lokasinya tidak jauh dari Teluk Puteri Duyung.
Selain membawa beraneka kerajinan keramik dan lukisan cat air, mereka juga melakukan pertunjukan seni dan akrobat.
Para penduduk segera memadati stan-stan mereka dan rela membayar mahal untuk membeli tiket pertunjukan.
Rombongan itu membentuk sebuah kafilah dengan menaiki beberapa kereta kuda. Setelah dua bulan berpindah dari kota ke kota lainnya, akhirnya mereka sampai di ibukota Kerajaan Elfian.
"Kudengar rombongan pedagang dari Laut Timur sudah sampai di ibukota?" Tanya Raja Satria kepada Atmaja, pengawal kepercayaannya. Saat ini mereka sedang berada di salah satu menara pengawas di Istana Elfian.
"Benar Yang Mulia."
"Apakah selama ini ada hal-hal yang mencurigakan mengenai mereka?"
"Sejauh ini belum ada hal-hal yang patut dicurigai."
"Baiklah, terus awasi mereka dan perketat penjagaan di istana!"
Setelah Atmaja pergi, Raja Satria kembali mengawasi tenda-tenda berwarna-warni yang atapnya memiliki ujung lancip itu dari menara pengawas. Sudah lama sekali tidak ada rombongan sirkus yang datang ke negeri ini.
Ketika Raja Satria kembali ke kediamannya, istrinya sedang menidurkan bayi mereka. Bayi mungil itu terlihat sangat menggemaskan berbaring dengan mata terpejam di dalam boks. Sebuah lagu pengantar tidur mengalun indah dari bibir sang ibu.
__ADS_1
"Gaalon mein khilti kaliyon ki mausam
Aankhon mein jadhu honthon mein pyar"
Raja Satria memeluk pinggang istrinya dari belakang dan mencium pucuk kepalanya.
"Aku selalu penasaran dengan lagu yang selalu kau nyanyikan itu."
"Itu lagu yang biasa ibu nyanyikan untukku waktu kecil."
"Apa makna lagu itu? Aku tidak memahami bahasanya."
"Musim bunga akan bermekaran di pipinya. Sihir akan terpancar dari matanya dan kasih sayang dari bibirnya."
Ratu Gita mengurai pelukan suaminya perlahan. Kemudian dengan ragu dia berbalik dan menatap mata Raja Satria.
"Itu bahasa yang digunakan di Kerajaan Dewanata. Ibuku sebenarnya adalah seorang Puteri dari Kerajaan itu!" Ucapnya.
Raja Satria tersentak kaget. Dia tidak menyangka bahwa istrinya memiliki darah yang sama dengan Raja Bharata.
"Kenapa kau tak pernah bilang?"
"Karena kupikir hal itu tidak penting. Namun setelah mengetahui bahwa Kerajaan Dewanata menyerang Elfian, aku jadi semakin ragu untuk mengatakannya."
Raja Satria terdiam memandangi wajah istrinya yang terlihat cemas.
"Tapi aku bersumpah kalau aku tidak mengenal Raja Bharata! Sejak kecil aku tinggal di istana ayahku."
"Tidak apa-apa. Aku mengerti, jangan cemaskan hal itu."
Raja Satria kembali memeluk tubuh istrinya. Dia tidak ingin hal ini mempengaruhi hubungan mereka. Garis keturunan yang dimiliki istrinya bukanlah sebuah dosa.
"Aku ingin mengajakmu keluar malam ini, apa kau mau?" Ucapnya sambil mengecup pipi Ratu Gita.
"Keluar? Maksudmu keluar dari Wisma ini?"
"Keluar dari istana. Aku ingin mengajakmu berkencan." Senyuman yang sangat menawan menghiasi wajahnya.
Sepasang mata yang indah itu seketika berbinar.
__ADS_1
"Aku mau."