
Rombongan prajurit berkuda melewati jalan yang di apit pohon-pohon. Mereka memacu kudanya dengan memantapkan segenap hati dan keberanian untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terburuk.
Sebuah kastil dengan ujung menara lancip terlihat bagaikan bayangan raksasa di kejauhan sana. Udara malam yang dingin ditambah kabut yang sudah turun sejak sore, membuat suasana terasa mencekam.
Kini rombongan itu telah sampai di halaman Sekolah Pengobatan Elixir. Sekolah khusus anak laki-laki yang mendidik muridnya sebagai calon tabib dan ahli obat.
Pintu utama kastil dibuka dari dalam. Seorang pria berpakaian serba hitam keluar. Langkahnya mantap meskipun usianya terlihat sudah renta. Rambut panjangnya yang sudah memutih, tergerai di punggungnya.
"Saya adalah Salvatore, Kepala Sekolah di sini. Ada apa kalian kemari malam-malam begini? " Tanya pria itu.
"Kami kemari atas perintah Raja Sagar untuk mengadakan pemeriksaan di sekolah ini dan kami juga diperintahkan untuk membawamu ke istana! " Seorang prajurit yang mengepalai rombongan segera menjawab.
"Kurasa aku sudah tahu alasan kalian melakukannya. Silakan lakukan apapun yang kalian inginkan! " Pria itu, Salvatore, membuka pintu lebih lebar dan menyingkir ke samping.
Para prajurit segera menyebar, sebagian masuk ke dalam kastil dan sebagian memeriksa area sekitar. Kastil itu sendiri adalah gedung utama sekolah sekaligus berisi kamar-kamar asrama bagi murid-murid sekolah itu.
Sekilas tidak ada yang aneh dengan keadaan di dalam sana, kecuali tak adanya pergerakan apapun. Seharusnya para murid akan terbangun ketika mendengar derap kuda para prajurit di malam hari dan berusaha mencari tahu, minimal mengintip di balik tirai jendela.
"Di mana murid-murid? " Tanya si kepala rombongan yang bernama Tuan Felix.
"Mereka sedang tidur. "
"Aku ingin memeriksa mereka! "
Salvatore berjalan di depan untuk menunjukan jalan. Lelaki tua itu menaiki tangga antik berwarna gelap dan mengkilap, menuju lantai dua.
"Mereka ada di dalam kamar. "
"Buka kuncinya, aku ingin masuk! " Perintah Tuan Felix.
"Kamar mereka tidak dikunci, silakan masuk saja! "
Tuan Felix si kepala prajurit segera menggerakkan handle pintu dan memutarnya, pintu terbuka dengan mengeluarkan suara berdecit lirih.
Ruangan itu gelap, ada dua ranjang di kedua sisi kamar menempel di tembok. Kepala prajurit memperhatikan dua orang pemuda yang sedang terpejam di masing-masing ranjang.
Dengan gerakan halus, pria itu menyingkap tirai jendela, cahaya bulan yang pucat segera menyusup masuk dan sedikit menerangi ruangan itu.
Tuan Felix menatap keduanya dengan heran karena mereka tidak juga terbangun meski ada orang yang masuk ke dalam kamar mereka. Namun pria itu memilih diam dan tidak berniat mengganggu tidur kedua pemuda itu.
Tuan Felix memeriksa satu persatu seluruh kamar yang ditempati oleh murid-murid Sekolah Elixir itu dan selalu menjumpai hal yang sama. Lama-lama hal itu justru menimbulkan kecurigaan karena menurutnya itu sangat tidak wajar.
Kepala prajurit itu bersumpah jika kamar terakhir yang akan dia masuki keadaannya tetap sama, dia akan menyeret murid-murid itu untuk bangun.
Tuan Felix melangkah di dalam kamar yang gelap lalu segera menyingkap tirai jendela. Seperti yang sudah-sudah, ada dua orang pemuda yang sedang tertidur nyenyak tanpa terganggu oleh kedatangannya.
__ADS_1
Dengan geram Tuan Felix segala menyibak selimut yang menutupi tubuh salah seorang dari pemuda itu.
Srek!
Mata Tuan Felix seketika melebar tatkala dia melihat tubuh pemuda itu kaku. Kedua tangannya tertekuk ke dada. Tuan Felix segera meraba tangan pemuda itu dan merasakan kalau tubuh pemuda itu sangat dingin. Dia kemudian memeriksa matanya.
Deg!
Bola matanya putih, iris matanya naik ke atas. Tuan Felix menaruh ujung jarinya di depan lubang hidung pemuda itu.
Huft!
Tuan Felix menghembuskan napas lega karena pemuda itu masih bernapas. Tanpa sengaja Tuan Felix melihat ada luka tusukan di leher pemuda itu. Jantung Tuan Felix berdebar karena otaknya mulai membuat diagnosa kemungkinan yang terjadi.
Tuan Felix segera menyingkap selimut milik pemuda yang satunya. Kondisi pemuda itu sama seperti teman sekamarnya.
"Tuan Salvatore, bisakah anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? " Tuan Felix menatap tajam ke arah Kepala Sekolah.
"Rupanya anda sangat teliti! " Salvatore tersenyum tanpa dosa, perlahan-lahan seluruh tubuhnya berubah menjadi seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit pucat.
"Kau pastilah jelmaan burung iblis itu! " Teriak Tuan Felix.
"Perkenalkan, aku Domn! " Kata pria itu sambil menyeringai lebar.
*****
"Kurasa kau cukup berani untuk berkeliaran tanpa kawananmu, Daemonie! Tapi kau terlalu kurang ajar untuk mendekati wanita yang sangat aku lindungi!" Suara Eldrige terdengar sangat dingin hingga menimbulkan rasa takut dalam dada Nicolae.
"Kau tak lebih hanya peri penjaganya, Juwita membutuhkan pria sepertiku untuk memuaskan hasrat masa mudanya! " Nicolae menepis rasa takut yang menyusup di hatinya.
"Lancang sekali kau berpikiran kotor tentang Puteri Juwita! " Eldrige menendang dada Nicolae dengan kencang sampai pemuda itu memuntahkan darah.
"Akui saja kaupun menginginkan gadis itu! " Ejek Nicolae sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang merah karena terkena darahnya sendiri.
Eldrige kembali mendekati Nicolae kemudian menginjak leher pemuda itu. Tubuh Nicolae kelojotan dan tangannya berusaha menyingkirkan kaki Eldrige dari lehernya.
"Eldrige, hentikan! " Puteri Juwita menarik lengan Eldrige dengan ketakutan. Dia tidak pernah melihat Eldrige berlaku kasar dan kejam.
Eldrige mengalihkan perhatiannya pada gadis di sampingnya. "Bukankah makhluk kotor ini yang suka menyusup ke kamarmu? "
"Iya." Puteri Juwita mengangguk.
Eldrige menyepak tubuh Nicolae sehingga pemuda itu tedorong beberapa meter. Meskipun Nicolae ingin sekali membalas Eldrige, namun dia tahu kalau hal itu hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Pemuda itu sekarang menatap Puteri Juwita yang kini berada di dalam pelukan Eldrige. Dia akan melakukan sedikit tipuan untuk merebut kembali gadis itu.
__ADS_1
Dengan gerakan tiba-tiba, Nicolae melompat ke udara dan tubuhnya berputar membentuk gulungan energi yang bergerak sangat cepat ke arah Eldrige. Dengan gerakan spontan Eldrige membendungnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memeluk Puteri Juwita.
Nicolae menggempur Eldrige dengan kecepatan yang luar biasa, bergulung-gulung seperti bola namun gerakannya bagaikan gergaji mesin yang bergerak cepat secara sistematis. Hal itu membuat Eldrige agak kerepotan karena dia juga harus membawa Puteri Juwita untuk mengikuti gerakannya.
Nicolae berputar ke kiri dan ke kanan mengelilingi Eldrige. Namun Eldrige tetap berusaha menahan gempuran dari pemuda itu. Eldrige beberapa kali menendang namun dengan lincah Nicolae berhasil menghindar dan terus bergulung-gulung di sekitar Eldrige.
Hingga saat Eldrige benar-benar terfokus pada Nicolae, tanpa diduga tiba-tiba tubuh Puteri Juwita terlepas. Gulungan energi milik Nicolae pun tiba-tiba lenyap.
"Aaah! " Puteri Juwita terpekik kaget begitu dia merasa ada seseorang yang menariknya. Rupanya Nicolae telah berpindah tempat dalam sekejap dan sekarang berada di belakang Puteri Juwita. Pemuda itu dengan cepat meraih pinggang Puteri Juwita dan membawanya dalam gulungan energi yang bergerak cepat.
Namun sebelum dia sempat kabur, tiba-tiba Eldrige menggerakkan jarinya dan melepaskan cahaya kuning yang dengan cepat menabrak dan mengobrak-abrik gulungan energi milik Nicolae, sehingga membuat tubuh pemuda itu terhempas dengan keras dan menimbulkan bunyi berdebum.
Buum!
Sedangkan tubuh Puteri Juwita kini terlempar akibat tabrakan kuat yang tadi menghantam Nicolae. Eldrige bergerak cepat dan melompat untuk menangkap tubuh Puteri Juwita tepat sebelum gadis itu terhempas ke tanah.
"Hah.. hah.. hah..! " Napas gadis itu tersengal-sengal. Perutnya terasa mual akibat kejadian tadi.
"Apa kau baik-baik saja, Tuan Puteri? " Eldrige menatap gadis yang kini kembali berada di dalam pelukannya dengan cemas.
"Aku mual sekali! " Puteri Juwita melepaskan tubuhnya dari pelukan Eldrige dan berlari sempoyongan ke sudut bangunan rumah lelang. Gadis itu membungkuk dan memuntahkan isi perutnya di sana.
Eldrige segera melemparkan jaring tak kasat mata ke tubuh Nicolae dan mengikat pemuda yang sudah tidak berdaya itu. Kemudian dia segera menghampiri Puteri Juwita yang terlihat sangat pucat.
Dipijatnya tengkuk gadis itu sambil mengusap-usap punggungnya. "Ayo kita kembali ke asrama! "
Puteri Juwita tidak menjawab, tubuhnya terasa sangat lemas.
"Sebelum pergi akan kusegel dulu tempat ini!" Eldrige menggerakkan jarinya dan menyegel seluruh bangunan rumah lelang.
"Bagaimana dengan dia? " Puteri Juwita menunjuk Nicolae yang meringkuk dengan tubuh terikat.
"Tentu saja kita akan membawanya, kau tidak keberatan kan? "
"Sebenarnya aku ngeri melihatnya." Puteri Juwita tidak akan pernah melupakan saat dia melihat Nicolae menghisap darah orang di stadion.
"Baiklah, akan kuletakkan dia di dalam ruang penyimpananku dulu." Eldrige mencabik udara dan menyeret tubuh Nicolae ke dalam lubang dimensi, lalu dia segera menutupnya lagi.
"Apa kau mau ku gendong, Tuan Puteri?" Tanya Eldrige dengan suara lembut. Matanya memandangi wajah Puteri Juwita dengan tatapan sayang.
"Iya, Eldrige ! " Kata Puteri Juwita malu-malu. Gadis itu segera naik ke punggung Eldrige dan memeluk lehernya. Beberapa hari dia tidak bertemu Eldrige rasanya rindu sekali. Syukurlah Eldrige datang menyelamatkannya.
"Terima kasih, Eldrige! Kau adalah pahlawanku!" Bisik Puteri Juwita di telinga Eldrige, membuat telinga Eldrige meremang geli.
Dengan wajah yang merona merah dan sedikit tersipu, pria itu menoleh ke belakang. "Aku akan selalu melindungimu, Juwita. Kau bisa selalu mengandalkan aku!"
__ADS_1
Puteri Juwita menempelkan kepalanya di pundak Eldrige dan merasa sangat nyaman. Pria itu tersenyum, dia bisa merasakan detak jantung Puteri Juwita di punggungnya. Hatinya menghangat.
Kemudian Eldrige mencabik udara dengan jarinya untuk membuka lubang dimensi dan membawa Puteri Juwita pulang ke asrama.