
Nona Sekar sengaja membawa Eldrige berputar-putar meski sesungguhnya dia bisa menduga ke mana kira-kira Mandala membawa Puteri Juwita.
"Apa kau tidak bisa berpikir secara praktis?" tanya Eldrige kesal.
"Sabar, Eldrige. Aku kan tidak tahu daerah sini. Kalau kau ingin cepat, bukankah sebaiknya kau ikuti saja ideku untuk bertanya langsung pada Ratu Malea?" kata Nona Sekar pura-pura kesal.
Dari tadi mereka hanya berkeliling di sekitar ibukota. Andai saja Eldrige masih memiliki kekuatan sihirnya, pastilah dia bisa segera mengendus jejak Puteri Juwita.
"Mungkin menemui Ratu Malea bukan ide buruk." Eldrige mulai tergoda untuk mengikuti saran Nona Sekar.
"Apa kita menghadap sang ratu saja?"
Eldrige diam sesaat, namun dia kemudian menggeleng. "Tidak."
Nona Sekar mendengus kecewa, namun dia tahu bahwa cepat atau lambat Eldrige akan menyerah juga. Dia kemudian membuka pintu dimensi lagi dan mengarahkannya pada wilayah perbatasan ibukota.
*****
"Eldrige pasti sedang sibuk berputar-putar. Tapi aku khawatir jika dia mulai menyadari bahwa rekannya hanya mempermainkannya saja." Jadukari Daalal Nath berkata sambil duduk di lantai beralas permadani di hadapan Nenek Divya.
"Tidak, kurasa Nona Sekar cukup cerdas. Apalagi dia memiliki motif pribadi untuk mencegah Eldrige menemukan Juwita."
"Sebenarnya kekhawatiranku bukan hanya itu. Tuan Mandala selama ini mencari Mangal Arti untuk menyempurnakan kekuatannya, namun jika benda itu kini bersatu dengan Uma yang tentu saja sekarang adalah Dewa Murr, tentu saja hal itu akan sedikit rumit."
"Wanita adalah makhluk sensitif, Daalal Nath. Bisa saja Uma akhirnya luluh kepada lelaki yang sangat dicintainya," ucap Nenek Divya sambil tersenyum penuh arti.
"Tetapi Mandala adalah lelaki sama yang telah dibunuhnya."
"Ya, aku hanya mencoba berpikir positif. Siapa tahu reuni mereka setelah ratusan tahun bisa kembali menghangatkan hubungan mereka berdua. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, itu bisa berdampak baik untuk kita."
"Tapi apa kau yakin bisa mengendalikan Uma? Mandala sendiri hanya menganggapku pesuruhnya saja. Aku hanya berharap dia berbaik hati untuk memberiku sebagian kecil kekuatannya dan membiarkanku tetap berada di sampingnya."
"Dasar kau otak udang. Seberapa panjang pun kau hidup tetap saja mau menjadi pesuruh," ejek Nenek Divya.
"Kau sendiri selama bertahun-tahun berusaha mendapatkan Mangal Arti untuk apa? Sebentar lagi pun kau akan mati."
"Aku lebih cerdas daripada kau, Daalal Nath. Aku sudah mengamankan dan memastikan hanya keturunanku yang akan mewarisi kerajaan Dewanatha. Aku tidak rela kalau keturunan Widya menyingkirkan keturunanku. Nenek moyangku sudah bersabar menjadi kacung yang hanya bisa mendampingi keturunan Uma, tapi tidak denganku, aku sudah berhasil menyingkirkannya."
"Kau rupanya tidak jauh beda denganku, Yang Mulia." Jadukari Daalal Nath terkekeh pelan.
__ADS_1
Mereka tidak menyadari ada seseorang yang mencuri dengar percakapan itu. Tubuh orang itu bergetar marah, lalu dia pergi diam-diam.
*****
"Aku tidak menyangka jika ternyata nenek bersifat sejahat itu." Puteri Pertiwi berjalan di koridor dengan menahan sesak di dada akibat mendengar percakapan neneknya. Rok sutra berwarna biru muda yang dipakainya berkibar cepat sambil menimbulkan suara berdesir.
"Dari mana malam-malam begini, Sayang? Kenapa belum tidur?" Sebuah suara membuat langkah Puteri Pertiwi terhenti.
"Ayah?"
"Kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu? Apa kau bertengkar dengan suamimu?" Raja Badre tertawa sambil mengamati wajah putrinya. Dia mengulurkan tangan dan mengangkat dagu Puteri Pertiwi. "Kalian baru saja menjalani kehidupan pernikahan, wajar saja kalau ada sedikit perbedaan."
"Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Puteri Pertiwi menatap ayahnya.
"Tentu saja." Raja Badre mengangguk.
"Apa kita benar-benar keturunan bangsawan Kerajaan Dewanatha?"
Raja Badre terkejut mendengar pertanyaan putri tunggalnya itu. "Tentu saja. Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa ada alasan untuk meragukannya?"
"Ah, aku tidak yakin, Ayah. Hanya saja ..."
Belum sempat Puteri Pertiwi menjelaskan, seorang pengawal datang dan membisikkan sesuatu kepada raja sehingga pria itu terpaksa harus segera undur diri.
*****
"Bisakah kau berhenti mempermainkanku, Sekar?" tanya Eldrige begitu dia melangkah keluar dari lubang dimensi dan lagi-lagi tidak menemukan jejak Puteri Juwita.
Nona Sekar agak salah tingkah mendapat pertanyaan itu dan kembali beralasan. "Aku hanya peri muda yang tidak berpengalaman, Eldrige."
"Jangan banyak alasan kalau tidak mau aku berpikiran buruk tentangmu. Terus terang, sejak kejadian di Alsatia aku sudah mulai meragukanmu."
"Eldrige! Tega sekali kau berkata seperti itu. Aku akui aku cemburu pada gadis itu, tapi itu tidak berarti aku berniat jahat padanya."
Eldrige mengalihkan pandangan pada perbukitan yang tampak gelap di seberang sana. Ingin rasanya dia kembali memiliki kekuatan sihir agar bisa mengobrak-abrik setiap sudut Kerajaan Dewanatha untuk menemukan keberadaan Puteri Juwita.
"Baiklah, Sekar. Antarkan aku menemui Ratu Malea." Ucapan Eldrige serta merta membuat Nona Sekar tersenyum lebar. Akhirnya keingunannya tercapai untuk membuat Eldrige menyerah dan kembali menjadi peri.
"Tentu saja, Eldrige."
__ADS_1
Dengan sekali cabikan, udara di depan mereka kembali sobek dan segera mereka masuk ke dalam lubang dimensi. Tak berapa lama mereka sudah berada di hutan Lucshire di kaki gunung Grand Solano.
"Eldrige, kurasa aku cukup mengantarmu sampai di sini saja," kata Nona Sekar.
Eldrige mengangguk dan segera berjalan di setapak gelap memasuki hutan Lucshire. Pendar cahaya kunang-kunang menyembul dari balik semak-semak.
"Eldrige datang." Sebuah suara kecil seperti hembusan angin tertangkap di pendengaran Eldrige.
"Ada apa dia kemari? Bukankah dia sudah melepaskan kehidupannya sebagai peri?" bisik yang lain.
"Apa dia menyesal?"
Suara-suara itu saling bersahut-sahutan hampir menyerupai dengung lebah, namun Eldrige sama sekali tidak terganggu. Dia terus melangkah di jalan setapak yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Para pixi yang beterbangan seperti kunang-kunang itu bergerombol mengikuti Eldrige diam-diam, atau begitulah yang mereka kira. Mereka terus berbisik sampai Eldrige berjalan di bawah kanopi bunga-bunga mawar. Setelah itu mereka berhenti mengikuti Eldrige karena segan kepada ratu mereka.
"Eldrige, cukup lama kita tidak berjumpa." Sambutan dari wanita anggun penguasa Kerajaan Lucshire terasa hangat.
"Salam hormat, Ratu. Maafkan atas kedatangan saya malam-malam begini."
"Tidak apa-apa, Eldrige," sahut Ratu Malea sambil mempersilakan Eldrige duduk di depan singgasananya yang tampak berpendar. "Katakan apa keperluanmu?"
"Sebenarnya saya kehilangan Puteri Juwita. Seorang pria yang baru bangkit dari kematian membawanya pergi."
"Lagi-lagi sihir asing," gumam Ratu Malea. "Sayang sekali penglihatanku tidak bisa menembus pertahanan mereka, Eldrige."
"Saya memahaminya, Yang Mulia. Saya kemari dengan harapan bahwa Yang Mulia sudi meminjamkan kekuatan sihir peri kepada saya."
"Eldrige, diantara semua peri seharusnya kaulah yang paling tahu jika hal itu tidak mungkin. Sihir peri hanya boleh digunakan oleh bangsa peri, sedangkan kau sekarang ...."
"Saya mohon kali ini saja, tolong biarkan saya meminjam kekuatan sihir itu. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya tidak ingin terjadi apa-apa kepada Puteri Juwita."
"Hmm, aku kasihan padamu Eldrige. Sungguh. Tapi sebuah peraturan dibuat untuk menjaga agar segala sesuatunya tetap seimbang. Kau sendiri yang telah memutuskan untuk meninggalkan kehidupan sebagai peri dengan segala keistimewaannya."
"Masih ada satu cara, tapi kurasa kau tak akan mau melakukannya."
"Saya bersedia melakukan apa saja untuk menyelamatkan Puteri Juwita."
"Maukah kau melepaskan gadis yang kau cintai dan kembali kepada kami?"
__ADS_1
Eldrige terdiam mendengar perkataan Ratu Malea. Dia sudah tahu pada akhirnya hal inilah yang harus dia hadapi. Namun rasa cintanya sungguh besar kepada Puteri Juwita sehingga apapun mampu dia korbankan, termasuk perasaan cinta itu sendiri.
"Baiklah, saya bersedia," ucap Eldrige dengan jantung yang serasa diremas kuat.