Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 33 Pertarungan Di Dunia Iblis


__ADS_3

Eldrige tiba-tiba tersentak. Dia mendengar Ketua Dewan Permadi memanggilnya. Pasti dia sedang berada dalam bahaya.


"Saya akan menyusul mereka!"


Eldrige berpamitan dengan Raja Satria dan berpesan agar menjaga tubuh Selir Mayang. Dan jangan sampai membiarkan ada makhluk lain yang keluar dari lubang dimensi.


Raja Satria mengangguk. Dia memperhatikan tubuh Eldrige yang menghilang ke dalam lubang dimensi.Kini dia berjaga sendirian.


Sementara itu Eldrige berjalan di dalam kegelapan. Namun berkat mata peri-nya, dia bisa melihat dalam kegelapan.


Di dalam kegelapan itu, terlihat banyak sekali makhluk-makhluk yang tak berjiwa. Mereka berkeliaran mencari jalan untuk kembali ke dunia.


Eldrige terus berjalan tanpa menghiraukan mereka. Lalu dia merosot di dalam terowongan yang berbentuk spiral. Di ujung terowongan, dia melihat dunia iblis Sitr.


Peri itu bergegas mencari keberadaan Selir Mayang dan ayahnya. Dia menajamkan seluruh inderanya. Dengan langkah pasti, Eldrige menuju ke tempat mereka berada.


Tak butuh waktu lama bagi Eldrige untuk menemukan mereka. Dilihatnya Selir Mayang yang sedang berteriak ketakutan. Sedangkan ayahnya berada dalam genggaman iblis Sitr yang bertubuh raksasa.


Eldrige ingat dengan peringatan Ratu Malea, bahwa mustahil baginya untuk mengalahkan iblis berusia ribuan tahun itu. Namun, Eldrige tetap bertekad untuk menyelamatkan kedua orang itu.


Dengan cepat Eldrige meloncat ke atas. Dia menerjang tangan iblis itu dengan pedangnya. Namun ternyata, senjatanya itu tak mempan pada tubuh raksasa itu.


"Hyaaat!"


Eldrige kembali menerjang. Kali ini sambil mengerahkan kekuatannya, sebuah gelombang energi yang besar.


Bagai tersengat listrik, tangan raksasa itu mengibas kesakitan. Akibatnya tubuh Ketua Dewan Permadi terlepas dan meluncur turun dengan cepat. Namun dengan sigap, Eldrige menarik tubuhnya agar tidak membentur tanah.


Pria tua itu terlihat kelelahan dan napasnya tersengal-sengal. Selir Mayang segera menghampiri dan memeluk ayahnya. Wanita itu menangis tersedu-sedu.


Eldrige menyuruh mereka segera pergi mengikuti benang perak yang terikat di pergelangan tangan Ketua Dewan Permadi. Dengan segera mereka lari mengikuti tali perak itu.


Mereka terus berjalan hingga sampai ke sebuah terowongan. Dengan berpegangan pada tali perak itu, mereka memanjat ke atas. Setelah itu gelap! Mereka tidak bisa melihat apapun.


Mereka berjalan dengan mengandalkan tali itu. Terus berjalan sambil bergandengan tangan. Hingga di depan terlihat celah yang bercahaya, mereka segera ke sana.


Selir Mayang memasuki celah itu terlebih dahulu, baru disusul ayahnya. Di sana Raja Satria sedang menunggu.


"Mana Eldrige?" Tanya Raja Satria dengan cemas.


"Saya tidak tahu. Eldrige menyuruh kami pergi terlebih dahulu."


Raja Satria menatap Ketua Dewan Permadi dengan kening berkerut. Kami? Raja Satria tidak melihat siapapun bersamanya.


"Mayang, kembalilah ke ragamu sekarang!" Pria tua itu menggandeng tangan anaknya mendekati tubuh Selir Mayang.


Jiwa Selir Mayang mendekati raganya dan tiba-tiba jiwa itu tersedot masuk kembali ke dalam tubuh wanita itu.


"Anak saya sudah kembali ke raganya!" Ayah Selir Mayang tersenyum penuh syukur. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tua hanya dalam beberapa hari ini.

__ADS_1


Raja Satria kemudian memanggil Atmaja, pengawal kepercayaannya. Raja Satria menyuruhnya berjaga di depan lubang dimensi, karena dia akan menyusul Eldrige.


Raja Satria membawa pedang dan busurnya. Dia juga memakai tali perak yang tadi dipakai Ketua Dewan Kerajaan Permadi.


Tanpa ragu-ragu Raja Satria segera memasuki lubang dimensi dan langsung disambut kegelapan. Namun pria itu terus berjalan ke depan, hingga kakinya merasakan tanah yang melandai. Dia meluncur dan berputar-putar dalam terowongan berbentuk spiral itu.


Rasanya seperti dimuntahkan ke dalam suatu mimpi buruk, Raja Satria sampai ke dalam dunia iblis Sitr. Pria itu sangat tidak menyukai tempat ini. Dimana-mana hanya ada burung bangkai yang terbang di langit yang semerah darah.


Dari kejauhan Raja Satria melihat sosok raksasa yang menjulang ke angkasa. Sepertinya raksasa itu sedang sibuk menangkap mangsanya.


Raja Satria segera berlari ke sana begitu disadarinya kalau raksasa itu sedang memburu Eldrige. Dilihatnya peri itu melompat kesana-kemari mencoba menghindari serangannya.


Segera disiapkannya busur dan anak panahnya dan segera membidikkannya ke arah raksasa itu.


"Ssiiiiing....! Ssiiiiing...!


Beberapa anak panahnya melesat ke arah tubuh makhluk itu namun sama sekali tidak melukainya.


Eldrige menoleh ke arah datangnya anak panah dan melihat Raja Satria sedang berlari mendekat sambil melesatkan panahnya. Rambut peraknya berkibar dan terlihat bercahaya di bawah langit merah.


"Kau merindukanku, Eldrige?" Pria itu tersenyum meledek.


Eldrige tersenyum lebar. Baru kali ini dia merasa sangat bersyukur melihat pria arogan itu.


Eldrige mengambil sesuatu dari kantungnya dan melemparkannya pada Raja Satria.


"Tangkap!"


"Tusukkan pada anak panah! Jika waktunya tiba, bidikkan pada dahi iblis itu!" Eldrige berteriak sambil melompat menghindari terjangan kaki raksasa.


Raja Satria mengangguk lalu segera menusukkan batu itu ke ujung anak panahnya. Aneh memang, batu itu melunak seperti marshmellow saat ditusuk.


"Buuum..! Buuum..!"


Raksasa itu terus mengejar Eldrige. Sepertinya dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Raja Satria yang dari tadi seliweran di sekitarnya seperti lalat.


"Eldrige, kemarilah!" Teriak Raja Satria.


Eldrige juga baru menyadari bahwa dari tadi yang diserang makhluk itu hanya dirinya. Peri itu langsung berlari ke arah Raja Satria.


"Pergilah Eldrige, biar aku yang menghadapinya. Jagalah pintunya sampai aku kembali!" Perintahnya.


Sesaat Eldrige merasa bimbang untuk meninggalkan Raja Satria sendirian. Namun dia segera mengangguk dan pergi menuju lubang dimensi. Tubuhnya sudah terlalu lelah, energinya seolah tersedot selama berada di tempat ini.


Raksasa itu melihat Eldrige pergi, kemudian pergi mengejarnya. Setiap langkah dari makhluk itu membuat tanah bergetar seperti gempa.


Raja Satria berusaha menarik perhatian makhluk itu dengan menusuk-nusukkan pedangnya pada jari kakinya yang besar-besar seperti kerbau.


Namun raksasa itu tak menggubrisnya dan tetap mengejar Eldrige. Raja Satria kesal karena merasa diabaikan.

__ADS_1


Pria itu kemudian mencari cara agar dapat membidik dahi raksasa itu. Dia harus mencari pijakan agar lebih mudah mengenai sasaran.


Kemudian pria itu berlari menuju mulut terowongan karena itu adalah satu-satunya jalan menuju lubang dimensi.


Raksasa itu tiba-tiba menyusutkan tubuhnya sehingga menjadi seukuran manusia. Tampaklah kepalanya yang berbentuk kambing dengan jenggot panjang.


Tanpa menunggu lagi, Raja segera membidikkan anak panahnya yang sudah ditusuk dengan batu mirah delima pemberian Eldrige ke arah dahi iblis itu.


"Ssiiiiing..! Jleb!"


"Grraaaaaaakh..!"


Makhluk itu berteriak kesakitan saat sebuah anak panah menancap di dahinya. Ada asap tipis yang keluar dari lubang di dahinya itu. Matanya yang merah melotot marah menatap ke arah Raja Satria.


"Sekarang kau baru menyadari kehadiranku, makhluk jelek?" Raja Satria mencibir.


Raksasa itu bukannya tidak menyadari kehadiran Raja Satria, namun besarnya energi milik Eldrige lebih menarik perhatiannya. Apalagi Eldrige 'lah yang membantu jiwa Selir Mayang untuk melarikan diri dari tempat itu.


Sekarang Raja Satria benar-benar sudah mendapatkan perhatian dari makhluk itu. Dengan ganas makhluk itu menyerang Raja Satria. Beberapa kali pemimpin bangsa Elfian itu mendapat pukulan dari iblis Sitr.


Raja Satria memegang dadanya yang terasa nyeri. Rupanya dia telah salah karena terlalu meremehkan makhluk itu.


Raja Satria menghunuskan pedangnya dan sekuat tenaga berusaha melawan makhluk itu. Namun pria itu segera menyadari, bahwa dia bukanlah lawan yang sepadan. Bahkan serangannya sama sekali tidak melukai makhluk itu.


"Buugh!"


Sebuah pukulan kembali mendarat di wajahnya yang tampan. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Pria itu berdiri terhuyung-huyung.


"Aku harus selamat!" Pikirnya.


Raja kembali bertarung dengan tenaganya yang tersisa. Makhluk itu menyeringai seolah mengejek pria itu. Kemudian makhluk itu kembali memukul Raja Satria dan membuatnya tersungkur.


Makhluk itu menunduk, kemudian mencengkeram kerah baju Raja Satria. Lalu makhluk itu memukulinya bertubi-tubi, membuat pria itu memuntahkan darah segar.


Iblis Sitr menyeringai menyeramkan. Dia terlihat menikmati penderitaan Raja Satria.


"Grraaaaaaakh!"


Makhluk itu tiba-tiba berteriak. Matanya melotot dan ekspresi wajahnya terlihat kaget.


Raja Satria rupanya mencengkeram anak panah yang masih menancap di dahi makhluk itu dan mendorongnya lebih dalam.


Darah berwarna hitam mengalir deras dari lukanya. Makhluk itu mengerang kesakitan. Tubuhnya kelojotan dan menggelepar.


Melihat itu, Raja Satria dengan susah payah memanjat terowongan dengan tali perak milik Eldrige. Suara teriakan makhluk itu menggema di dalam terowongan.


Raja Satria berjalan dalam kegelapan sambil berpegangan pada tali perak. Hingga dia sampai pada lubang dimensi yang terang.


Eldrige segera membantu Raja Satria keluar dari lubang itu. Lalu memapah pria itu ke kursi. Kemudian Eldrige buru-buru menutup lubang dimensi.

__ADS_1


Raja Satria yang terluka parah, segera dibawa oleh para pengawal ke kamarnya di Wisma Raja. Sedangkan Eldrige tetap berada di sana untuk melakukan upacara pembatalan perjanjian antara Selir Mayang dengan iblis Sitr.


__ADS_2