Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 118 Menolong Musuh


__ADS_3

Kabar kedatangan Dewi Hutama segera menyebar ke segala penjuru. Para pemimpin Liga Kerajaan yang pernah mendengar tentang Dewi Hutama sangat terkejut. Rupanya wanita yang memimpin pasukan Liga Kerajaan 300 tahun yang lalu itu benar-benar telah bangkit dari kuburnya.


"Kami akan kembali ke Nord untuk menemui Dewi Hutama. " Raja Norman yang sudah berada di Gornerbahn selama sebulan berkata pada Raja Gaurav.


"Aku ikut. " Kata Raja Gaurav.


"Lalu siapa yang akan menjaga tempat ini? " Tanya Raja Norman.


"Kurasa pasukan Daemonie takkan melewati jalur ini lagi."


"Sebaiknya jangan lengah. " Raja Norman memperingatkan.


"Hmm, baiklah. Aku tetap di sini." Raja Gaurav agak jengkel namun terpaksa menyetujui pendapat Raja Norman.


Maka siang itu Raja Norman dan pasukannya berangkat menuju negara mereka. Pasukan Kerajaan Nord memacu kuda mereka melewati beberapa kota yang hancur akibat peperangan.


Saat memasuki benteng yang hancur, Raja Norman sempat menyesali keputusannya untuk meninggalkan kerajaannya dan bertahan di Gornerbahn.


Sisa-sisa pasukan yang menjaga benteng menyambut kedatangan raja mereka dengan antusias.


"Selamat datang ! " Ucap mereka sementara Raja Norman dan pasukannya melewati mereka.


Ketika mereka tiba di istana, suasana tampak gembira.


"Di mana Dewi Hutama? " Tanya Raja Norman begitu kakinya menginjak lantai istana. Wajah pria berkepang dua itu merah karena terlalu bersemangat.


"Dewi Hutama sudah pergi tadi pagi, Yang Mulia. Tapi dia berpesan agar pasukan Nord pergi menemuinya di bukit Dorati dua hari lagi. " Seorang pria berkumis dan berjanggut tebal berwarna merah terang menjawab.


Senyum di wajah Raja Norman berangsur-angsur sirna menunjukkan dengan jelas kekecewaan di hatinya.


"Baiklah, sepertinya aku harus bersabar untuk bertemu dengan penyelamat kita. " Raja Norman berkata dengan nada kecewa. Dia kemudian langsung menuju ke kamar pribadinya.


*****


Puteri Juwita berdiri di depan pintu istana mengenakan gaun berwarna biru terang dengan bordiran kelopak mawar dari benang emas dan di lehernya melingkar kalung pemberian ibunya yang juga diturunkan dari neneknya.


Helaian rambutnya yang halus dan berwarna perak, diikat sebagian di bagian tengah sedangkan sisanya dibiarkan tergerai bebas menutupi punggungnya. Tatanan rambutnya itu menonjolkan bentuk tulang pipinya yang tinggi dan telinganya yang runcing, khas bangsa Elfian.


Gadis itu berdiri dengan tenang bersama bibinya, Ratu Akemi, dan kedua sepupunya. Pangeran Ryota berdiri dengan gagah di sebelahnya mengenakan mantel dari kain sutra yang nyaman berwarna hitam dan tali melilit pinggangnya.


Mereka memandang lurus jauh ke depan, ke arah pintu gerbang di ujung pelataran istana. Melewati lautan prajurit Alsatia, pasukan Raja Sagar datang diiringi derap kaki kuda.


Raja Sagar segera turun dari kuda. Dengan langkah tertatih dia kemudian berjalan menaiki undakan batu sambil memandangi seluruh anggota keluarganya yang dari tadi menantinya. Mereka terlihat sangat cocok jika diabadikan dalam sebuah lukisan.


"Selamat datang, Yang Mulia. " Ratu Akemi berjalan mendekat diikuti oleh kedua anaknya.


Raja Sagar segera memeluk tubuh istrinya. Ratu Akemi bisa merasakan tubuh suaminya bergetar ketika tangannya menyentuh pinggang pria itu.


"Kau terluka? " Ratu Akemi memandang wajah suaminya yang pucat.


"Hanya luka kecil, jangan cemas. " Raja Sagar tersenyum. Butuh lebih dari sekedar nasib baik untuk membuatnya bisa kembali pulang dengan selamat. Ratusan prajurit Alsatia gugur di beberapa pertempuran mereka.


"Aku merindukanmu, sayangku. " Bisik Raja Sagar di telinga istrinya. Tubuh wanita itu berguncang karena menahan air mata, dadanya terasa sesak. Setiap hari didengarnya berita tentang pembantaian yang dilakukan oleh para Daemonie di medan pertempuran.


"Aku sangat bersyukur kau kembali. " Ucap wanita itu.


"Selamat datang, Ayah. " Lintang dan Wulan memberi salam kepada ayahnya dengan anggun. Mereka bersikap selayaknya keluarga kerajaan, meninggalkan gaya kanak-kanak seperti yang mereka lakukan saat bermain dengan Puteri Juwita.


"Kalian sudah bertambah besar. " Pujian dari ayahnya membuat kedua bocah itu menegakkan punggung dengan bangga.


"Bagaimana dengan kalian, keponakanku? " Raja Sagar memandangi Pangeran Ryota dan Puteri Juwita secara bergantian. Dia merasa kedua orang muda itu sangat serasi.


"Aku baik-baik saja, Paman. Aku senang Paman pulang dengan selamat. " Puteri Juwita mengulurkan tangannya dan langsung digenggam oleh Raja Sagar.


"Sayang sekali aku tidak sempat berjumpa dengan ayahmu." Raja Sagar memandangi gadis muda di depannya dengan penuh penyesalan.


Puteri Juwita menggangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah rindu sekali dengan ayahnya..dan juga Eldrige. Setidaknya jika pamannya membawa kabar mengenai mereka tentu saja hal itu akan membuatnya lega. Namun dia harus memaklumi dalam keadaan perang seperti sekarang ini sangat sulit bagi pamannya untuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi.


"Tidak apa-apa, Paman. "


Mereka semua kemudian masuk ke istana dan berkumpul sampai makan malam.


"Kuharap kita akan segera menumpas para Daemonie itu. " Kata Raja Sagar di sela-sela makan malam.


"Kudengar ada seseorang yang datang menolong? " Tanya Pangeran Ryota.


"Iya. Semua orang berharap dia bisa membantu kita semua. "


"Siapakah dia? " Pangeran Ryota tampak tertarik.


"Dia adalah Dewi Hutama. "

__ADS_1


"Apakah dia seorang Dewi? Atau peri? "


"Tidak. Dia adalah seorang gadis belia. Seorang manusia biasanya. " Raja Sagar merasa bangga membeberkan fakta tentang Dewi Hutama yang sangat mencengangkan itu.


"Tapi bagaimana bisa? " Pangeran Ryota merasa tak percaya.


"Namun begitulah faktanya. "


"Apakah paman sudah bertemu dengannya? "


"Sayangnya belum. Namun dari kesaksian prajurit Nord yang telah bertemu dengannya, mereka mengatakan bahwa dia adalah gadis biasa. Namun dia memiliki aura yang kuat. "


"Tapi apakah Liga Kerajaan akan bergantung pada seorang gadis biasa? " Pangeran Ryota memandang pamannya dengan sangsi.


"Eldrige pernah menyinggung tentang Dewi Hutama yang membantu Liga Kerajaan menumpas bangsa Daemonie yang menyerang 300 tahun yang lalu." Kata Raja Sagar.


"Jadi sejak dulu dia sudah ada? Berarti seharusnya usianya sudah tua? " Kali ini Ratu Akemi tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


"Dewi Hutama yang dulu sudah meninggal. Dewi Hutama yang sekarang entah bagaimana datang kembali untuk menolong kita."


Semua orang di meja makan terdiam memandang ke arah Raja Sagar dengan takjub.


Puteri Juwita kemudian memisahkan diri setelah makan malam. Saat dia masuk ke kamarnya, daun jendela berderit pelan.


Dia segera memeriksanya, ternyata jendela terbuka dibalik tirai. Darahnya berdesir, tiba-tiba dia merasa takut. Setahunya para pelayan akan segera mengunci semua jendela begitu gelap.


Secara spontan gadis itu membuka jendela lebih lebar dan menjulurkan kepalanya ke luar untuk memeriksa.


Sepi. Tidak ada apa-apa di luar sana. Di langit, bulan purnama belum tinggi. Dia juga masih mendengar para pelayan berjalan sambil mengobrol di koridor.


Akhirnya dengan buru-buru gadis itu menutup jendela dan menguncinya. Dia merasa konyol dengan tingkahnya sendiri.


Puteri Juwita memutuskan untuk menulis surat. Salah satu kegiatannya akhir-akhir ini. Ada beberapa surat untuk ibunya, ayahnya, Eldrige bahkan untuk Ningrum. Namun semuanya masih terlipat rapi di laci mejanya. Tidak ada satupun yang terkirim.


Saat sedang menulis surat yang kali ini ditujukan pada ibunya, tiba-tiba pintu terbuka. Dua orang pelayan masuk untuk membantunya membersihkan diri dan menyikat rambutnya.


"Apa tadi kalian lupa mengunci jendela? " Tanya Puteri Juwita.


"Tidak, Tuan Puteri. Kami selalu memastikan semua jendela terkunci sebelum gelap."


"Begitu? " Puteri Juwita tidak ingin memanjangkan masalah jadi hanya menyimpannya dalam hati. Lagi pula tidak ada yang terjadi.


Para pelayan meniup lilin sebelum meninggalkan kamar setelah memastikan Puteri Juwita berbaring di balik selimutnya.


Akhirnya saat suasana terasa sangat sepi, rasa kantuk mulai menyerangnya dan dia jatuh tertidur.


Namun tak lama kemudian dia kembali terbangun saat merasakan tiupan angin dingin menerpa tubuhnya. Dia melihat selimutnya tersibak dan melorot ke bawah membuat kelambu yang menutupi ranjang tertarik di sisi tempatnya berbaring.


Tirai jendela bergerak-gerak lemah. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang seakan suaranya memenuhi gendang telinganya.


Perlahan diturunkannya kedua kakinya ke lantai. Telapak kakinya bersentuhan dengan karpet lembut dari bulu domba. Tangannya menyibak kelambu lalu dengan langkah pelan gadis itu menyeberangi ruangan menuju jendela.


Bulu di tengkuknya meremang saat dilihatnya jendela sedikit terbuka. Dia tidak tahu apakah akan berteriak atau memeriksa keadaan. Tapi dia tidak ingin membuat keributan di tengah malam buta.


Akhirnya, dengan tangan bergetar dia menyibak tirai dan mendorong daun jendela. Dia melihat ke luar, namun lagi-lagi tak ada siapapun di sana.


Wuush.


Angin dingin bertiup masuk menerpa wajahnya. Dia segera mengunci jendela.


Namun tubuhnya tiba-tiba menegang. Sesaat rasanya ada seseorang berada di balik punggungnya. Puteri Juwita langsung berbalik.


Kosong.


Dia ingin menertawakan tingkahnya namun jantungnya masih berdebum-debum tak karuan. Secara reflek dia mundur ke belakang dan bersandar di jendela.


"Kurasa kau mencariku, Tuan Puteri? "


Sebuah suara dari sebelah kirinya betul-betul mengagetkannya.


"Kau? " Puteri Juwita terbelalak melihat wajah seorang pria yang tersorot sinar rembulan yang kebiruan dari kaca jendela.


"Iya, ini aku. " Pria itu tersenyum.


Suasana yang remang-remang masih bisa membuat gadis itu mengenali pria di sebelahnya.


"Kenapa kau di sini? " Tanya gadis itu ketakutan.


"Aku tidak bisa menyerah padamu. "


"Apa kau tak takut pada para penjaga? "

__ADS_1


"Aku mungkin tak punya kesempatan lagi untuk bertemu denganmu. " Bibir pria itu bergetar.


Puteri Juwita baru menyadari ada darah mengalir di pelipis pria itu.


"Kau terluka? "


"Aku tidak apa-apa. Kau mencemaskan aku? "


"Kurasa apapun yang terjadi padamu adalah hal yang pantas kau dapatkan. "


"Tak kusangka wanita selembut dirimu bisa berkata sekejam itu. " Pria itu terkekeh pelan.


"Bicara tentang kekejaman kurasa kau tidak menilai dirimu sendiri.. Nicolae. "


"Uhuk.. uhuk.. " Pria itu, Nicolae, terbatuk-batuk. Tangan kanannya mengepal dan memukul-mukul dadanya sendiri. Darah mengalir dari mulutnya.


Puteri Juwita cepat-cepat mengambil kain dan menyeka mulut Nicolae. Sesaat dia melupakan bahwa pria di hadapannya adalah seorang predator yang haus darah.


Bruk!


Tubuh Nicolae yang tinggi menjulang mendadak ambruk. Pria itu pingsan.


Puteri Juwita tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mungkin meminta pertolongan untuk menyelamatkan seorang Daemonie yang terluka. Bahkan mungkin itu akan membuat dirinya sendiri berada dalam kesulitan.


Akhirnya Puteri Juwita mengambil bantal dan selimut. Dia tidak bisa diam dan melihat seseorang yang terluka begitu saja. Dia menepis rasa benci dan takutnya demi membantu pria itu. Dia hanya dibimbing oleh rasa kemanusiaannya.


Dengan hati-hati dia meletakkan kepala Nicolae di atas bantal, kemudian dia menyelimutinya.


Puteri Juwita menyalakan lilin dan menaruhnya di bawah jendela.


Disekanya darah yang mengalir dari mulut pria itu. Dia juga membersihkan darah yang mengalir dari luka di dahi Nicolae.


"Aarkh"


Nicolae mengerang saat Puteri Juwita berusaha membuka bajunya.


"Jangan berisik, kau akan membangunkan orang-orang! " Kata Puteri Juwita.


Tangan gadis itu membuka kancing baju pria itu dan memeriksa tubuhnya. Ada luka menganga di bahu kiri pria itu. Luka itu seperti bekas tebasan pedang.


Puteri Juwita kembali menyeka darah dari bahu Nicolae dengan hati-hati.


Gadis itu berdiri, kemudian berjalan menuju meja belajarnya. Tangannya membuka laci. Di sebelah surat-suratnya dia mengambil sebuah kantung kecil pemberian Eldrige.


Dia kembali mendekati Nicolae. Sambil berlutut gadis itu mengoleskan cairan berwarna merah dari botol kecil yang diambilnya dari kantung tadi.


"Aaaakkh! "


Nicolae kembali mengerang. Kali ini tubuhnya menggigil hebat seakan menahan rasa sakit yang teramat besar.


Tangan Puteri Juwita mengambang di udara. Dia takut melihat Nicolae yang tampak menderita. Tubuh Puteri Juwita gemetar. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Nicolae.


Gadis itu kembali menutupi tubuh Nicolae dengan selimut. Sepanjang malam dia berjaga sambil bersandar di dinding di bawah jendela. Sesekali matanya terpejam, namun dia segera terbangun saat mendengar Nicolae mengerang.


Dia menyendokkan air ke mulut Nicolae saat pemuda itu dalam keadaan setengah sadar mengeluh kehausan.


Tubuh gadis itu sangat lelah. Pagi hari saat pelayan datang, mereka menemukan gadis itu tidur meringkuk di bawah jendela.


"Tuan Puteri, kenapa anda tidur di sini? " Tanya seorang pelayan.


Puteri Juwita terkejut karena hari sudah pagi. Rupanya dia tertidur. Namun dia heran karena tidak melihat Nicolae di sana.


Tiba-tiba dia melihat kain berlumuran darah yang dia pakai untuk menyeka luka Nicolae semalam. Saat itu seorang pelayan berjalan ke arah jendela dan menarik tirai. Kain berlumuran darah itu berada tepat di sebelah kaki pelayan itu.


Dengan jantung berdebar Puteri Juwita berusaha meraih kain itu sebelum pelayan itu melihatnya.


"Udara pagi ini segar sekali, Tuan Puteri. Anda seharusnya tidak melewatkannya dengan berdiam diri di kamar. " Pelayan itu berkata sambil membuka jendela lebar-lebar.


Sementara itu Puteri Juwita menyembunyikan kain berlumuran darah di belakang punggungnya.


"Aku.. ti..dak akan melewatkannya. " Ucap gadis itu dengan gugup.


"Kalau begitu, ayo bangun. Saya akan menyiapkan air untuk mandi. " Pelayan itu mengulurkan tangannya.


Puteri Juwita berdiri dengan bantuan pelayan itu. Namun saat dia mulai melangkah, tiba-tiba pelayan itu berhenti dan menunjuk ke lantai.


"Darah apa itu? " Pelayan itu bertanya.


"Darah? " Gadis pelayan yang baru masuk menanggapi pertanyaan rekannya.


Wajah Puteri Juwita memucat ketika melihat ceceran darah di lantai tepat di dekat hamparan karpet.

__ADS_1


"Itu... itu.. " Puteri Juwita telah kehabisan akal.


"Tidak perlu takut, Tuan Puteri. Saya tahu darah siapa itu. " Pelayan yang baru masuk itu berbisik seakan menyimpan rahasia.


__ADS_2