Ratu Tanpa Mahkota

Ratu Tanpa Mahkota
Bab 146 Sudah Ditakdirkan


__ADS_3

Ratu Elok menyambut kedatangan suaminya dengan antusias. Dia sudah mengharapkan kedatangan kedua keponakan kembarnya itu. Namun ada kejutan lain yang dibawa suaminya, yaitu kedatangan seorang biksu yang ternyata dulunya adalah calon raja Kerajaan Watu Ijo.


"Saya pernah mendengar cerita tentang anda, Pangeran Adya. " Kata Ratu Elok.


"Panggil saya Shani saja. " Suara Guru Shani sangat tenang.


"Saya sangat berterima kasih karena Guru Shani sudah menyelamatkan keponakan saya."


"Itu hanya kewajiban saya sebagai manusia." Guru Shani merendah.


"Jadi, anda adalah kakak Ratu Gita? " Tanya Ratu Elok lagi.


"Benar. Adik perempuanku itu harus menanggung beban yang berat karena sebagai kakak aku tidak bisa melindunginya." Rasa penyesalan terpancar di wajah pria itu ketika mengingat adiknya.


"Jangan merasa bersalah, Ratu Gita adalah wanita yang hebat. Suaminya juga sangat menyayanginya. " Ratu Elok berusaha menghibur Guru Shani.


"Aku senang mendengarnya. Hanya saja, Gaurav berkata bahwa putrinya dituduh sebagai pelaku pembunuhan Raja Sagar? "


"Benar."


"Pasti itu berat bagi Gita. "


"Kita akan segera membersihkan nama Juwita. Jangan khawatir. " Ratu Elok tersenyum.


Guru Shani mengangguk. Dia berdoa agar kebenaran akan segera terungkap dan keponakannya yang hilang itu segera kembali pada keluarganya.


Ratu Elok kemudian pergi menemani kedua keponakannya. Mereka terlihat kelelahan.


"Kalian tidur dulu ya. Nanti Bibi akan kemari lagi saat waktunya makan. " Ratu Elok mengecup kening kedua bocah itu.


Ketika wanita itu melangkah keluar tiba-tiba sebuah tangan kecil memegangi gaunnya. Ratu Elok berbalik dan melihat Puteri Wulan duduk memandang ke arahnya.


"Bibi, jangan pergi! " Suara kecil terdengar menyedihkan.


Ratu Elok segera menghampiri bocah itu. Sambil menunduk wanita itu menggenggam tangan Puteri Wulan.


"Bibi tidak akan meninggalkan kalian. Istana ini sekarang adalah rumah kalian juga. Tempat ini sangat aman." Ucap Ratu Elok.


"Bisakah tetap di sini sampai aku tidur? " Gadis kecil itu menatap bibinya penuh harap.


"Baiklah." Wanita itu duduk di pinggir ranjang dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Kedua bocah itu lalu memejamkan mata dan tak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar seiring tarikan napas keduanya.


Ratu Elok memandangi kedua anak itu. Mereka adalah anak-anak dari adiknya yang telah meninggal di usia muda. Dan sekarang mereka terusir dari kerajaan mereka sendiri.


Air mata jatuh membasahi pipi wanita cantik itu. Besar sekali penyesalannya menyaksikan nasib tragis yang menimpa mereka.


"Bibi akan memperjuangkan keadilan untuk kalian. "


*****


Eldrige tertidur pulas tanpa disadarinya. Selama ini tidurnya tidak pernah nyenyak. Tubuh barunya sebagai makhluk fana masih dalam tahap penyesuaian.


Puteri Juwita masuk ke ruangan tempat Eldrige dirawat untuk membawakan makanan. Dia terpaku menatap pria itu.


Setelah menaruh makanan di meja, gadis itu berjalan mendekat. Ada sesuatu yang berubah dari pria itu tapi Puteri Juwita tidak tahu apa. Namun satu hal yang masih bisa dipastikannya, rasa cinta pria itu tidak berubah.


Rasa haru menyusup di dada Puteri Juwita melihat kerasnya usaha Eldrige untuk menemukannya. Bagaimana sosok peri penjaga Kerajaan Elfian itu rela meninggalkan segala-galanya demi dirinya.

__ADS_1


Puteri Juwita membungkuk untuk mengamati wajah Eldrige lebih dekat. Tangannya menyentuh wajah pria itu, mengusapnya pelan menyusuri lekukan rahang dan berhenti di atas bibir yang melengkung bagai busur.


"Ah! " Gadis itu terpekik ketika Eldrige membuka matanya.


Seperti tersengat listrik Puteri Juwita segera menarik tangannya kembali namun tangan Eldrige segera menyambarnya. Eldrige menarik tubuh gadis itu hingga jatuh menindihnya. Debaran jantung gadis itu berkejaran dengan irama jantungnya.


"Eldrige, lepaskan aku! " Perintah gadis itu.


Eldrige tidak mengindahkan perintah itu. Lengannya yang lain malah melingkari pinggang gadis itu, mengungkungnya dalam dekapannya.


Wajah mereka kini saling berhadapan dalam jarak kurang dari sejengkal. Napas hangat gadis itu menyembur menggelitiki kulit wajah Eldrige setiap kali gadis itu terengah-engah karena berusaha melepaskan diri.


Gadis itu akhirnya berhenti memberontak ketika menyadari usahanya hanya sia-sia. Kini dia hanya diam di depan tatapan Eldrige. Usaha terakhirnya hanyalah berusaha mengangkat kepalanya sejauh mungkin dari wajah pria itu.


Tidak lama setelahnya gadis itu mulai merasakan tulang lehernya sakit karena kelelahan menopang berat kepalanya. Wajahnya sedikit demi sedikit mulai turun.


Rasa cemas terpancar di matanya yang berbentuk daun salam. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak gelisah. Namun Eldrige seolah malah menikmatinya.


Cup.


Bibir gadis itu jatuh tepat di atas bibir Eldrige. Mata Puteri Juwita terbelalak saking malunya.


"Akhirnya kau yang menciumku duluan. " Eldrige tersenyum ketika gadis itu memalingkan wajahnya.


"Itu karena kau curang." Balas Puteri Juwita dengan kesal.


"Curang bagaimana? " Tanya Eldrige pura-pura tidak mengerti.


"Kau menarik tubuhku dan tidak mau melepasnya. " Gadis itu menatap marah.


"Aku hanya merespon tindakanmu. Kau yang menyentuhku duluan. "


"Ya sudah, periksalah. " Eldrige menyodorkan wajahnya.


"Lepaskan aku dulu. " Puteri Juwita menggeliat dalam pelukan Eldrige.


"Kenapa? "


"Kau ini masih saja bertanya. Bagaimana aku bisa memeriksamu dengan keadaan seperti ini? "


"Kau kan tidak memerlukan tanganmu. Begini saja kan bisa. " Eldrige mengangkat wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan.


"Eldrige, kau.. " Gadis itu sudah mau memarahi Eldrige ketika kata-katanya kembali tertelan karena Eldrige kini menciumnya.


Dengan sisa kesadarannya Puteri Juwita berusaha menjauhkan wajahnya namun Eldrige kini memegang tengkuknya. Pria itu memiringkan wajahnya dan memperdalam ciumannya.


Puteri Juwita mendesah. Antara menikmati dan menolak. Namun pesona Eldrige telah melumpuhkan akalnya. Kini dia malah membalas ciuman Eldrige.


"Eldrige.. " Rintih Puteri Juwita sambil memejamkan mata ketika tautan mereka lepas.


"Kau milikku Juwita." Klaim kepemilikan atas gadis itu membuat dada Puteri Juwita berdesir.


"Tapi aku tidak bisa, Eldrige. " Sorot kesedihan memancar di mata gadis itu.


"Kenapa? Aku merelakan semuanya hanya untukmu, Juwita. "


"Ini semua untuk kebaikanmu, Eldrige. " Puteri Juwita melepaskan pelukan Eldrige. Kini dia duduk di pinggir tempat tidur sambil menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Katakan padaku alasannya! " Eldrige tidak bisa menerima penolakan itu.


"Aku sudah berjanji pada Nona Sekar untuk menjauhimu sebagai ganti agar dia mau menyelamatkan nyawamu. "


*****


Sejak kepergian para puteri ke desa Kulm, sudah terjadi beberapa hal di istana. Raja Badre sudah mengirimkan beberapa undangan kepada para bangsawan di Kerajaan Dewanata dan sekitarnya untuk mengikuti sayembara mencari suami bagi Puteri Pertiwi.


Oleh karena itu, istana megah itu mulai berbenah untuk menyambut tamu undangan. Kamar-kamar tamu disiapkan. Tentu saja tak lupa para dukun dan ahli nujum didatangkan agar acara itu bisa berlangsung sukses.


Pangeran Awang yang diam-diam sedang mencari dukun untuk membantunya, beberapa kali merasa kecewa karena hanya mendapat kata-katanya manis tanpa bukti.


"Aku tidak menginginkan ramalan, aku mau bukti nyata! " Teriak pria itu setelah mengusir salah satu dukun untuk ke sekian kalinya.


"Para dukun yang hebat-hebat semuanya berkumpul untuk Raja Badre, Yang Mulia. " Asisten pribadi Pangeran Awang membungkuk takut.


"Pasti ada yang lain. Dukun-dukun di yang berkumpul untuk Raja Badre hanyalah tukang ramal untuk perjodohan. Aku menginginkan seseorang yang memiliki kekuatan supranatural. " Teriak pria itu lagi.


"Itu.. saya sempat mendengar dari salah satu dukun bahwa hal semacam itu sekarang sudah dilarang, Yang Mulia. Semua itu disebabkan karena pihak istana menduga para dukun yang memiliki kekuatan supranatural cenderung bersifat jahat." Kata asisten itu.


"Justru itu yang kuinginkan. Cepat cari kemana saja dukun yang seperti itu! "


"Tidak usah mencari lagi, saya sudah datang." Tiba-tiba seorang lelaki tua berambut gimbal dan bertubuh kurus dengan sehelai kain kuning kunyit lusuh yang hanya melilit area sensitif nya berdiri agak membungkuk di depan pintu.


"Siapa kau? " Pangeran Awang bertanya agak marah karena ketidaksopanan orang itu.


"Saya adalah Jadukari Daalal Nath. " Ucap lelaki itu.


"Kenapa kau kemari? " Tanya Pangeran Awang.


"Saya datang untuk membantu anda, Yang Mulia. Saya telah menunggu kedatangan anda sejak lama. "


"Apa maksudmu? " Pangeran Awang curiga jika lelaki itu orang gila.


"Jangan salah sangka terhadap saya. " Kata lelaki itu seolah bisa membaca pikiran Pangeran Awang. "Saya mengetahui tujuan anda yang sesungguhnya. Saya bisa mewujudkan ambisi Yang Mulia. " Suara serak lelaki itu seolah membujuk.


"Ambisiku? " Pangeran Awang masih belum mempercayai lelaki berpakaian aneh itu.


"Menguasai Kerajaan Dewanata. " Pria itu menyisakan kekehan pelan di akhir kalimatnya.


"Bagaimana kau tahu? " Pangeran Awang mulai tertarik pada perkataan pria itu.


"Saya tahu segalanya. " Suara Jadukari Daalal Nath penuh percaya diri.


"Kalau kau begitu hebat, lalu kenapa Raja Badre tidak mengundangmu ke istana? "


"Itu karena kebenciannya pada kekalahan Raja Bharata di masa lalu. Dia melimpahkan semuanya pada saya. " Wajah lelaki tua itu mengernyit marah.


"Kenapa dia menyalahkanmu?"


"Sebagai dukun yang menyertai Raja Bharata, mereka menganggap sayalah yang mempengaruhi Raja Bharata untuk menyerang kerajaan lain. "


"Jadi kau dukun yang menyertai Raja Bharata? " Sorot takjub terpancar di mata Pangeran Awang. Dukun Raja Bharata terkenal memiliki kekuatan supranatural yang tinggi. Beberapa cerita menyebutkan bahwa dukun itu bisa membangkitkan orang mati.


"Benar, sayalah orangnya. " Dagu dukun itu terangkat dengan angkuh.


"Bagus, kau memang orang yang kuharapkan." Senyuman Pangeran Awang melebar.

__ADS_1


Hatinya gembira bukan kepalang karena mendapatkan berkat yang tidak disangkanya. Dukun terkuat yang hanya dia dengar ceritanya itu datang dengan sukarela untuk membantunya.


"Ini memang sudah ditakdirkan. " Jadukari Daalal Nath tersenyum lebar menampakkan gigi-giginya yang hitam dan sebagian telah tanggal.


__ADS_2