
"Aku harus membicarakan sesuatu denganmu Juwita." Eldrige mencegat Puteri Juwita di koridor istana.
"Ada apa, Eldrige?"
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini."
Eldrige berjalan ke halaman belakang diikuti oleh Puteri Juwita. Gadis itu merasa sikap Eldrige lebih serius dari biasanya dan membuatnya bertanya-tanya apakah ada masalah yang cukup gawat.
Puteri Juwita memandangi Eldrige, menunggu pria itu menjelaskan sesuatu.
"Sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Ini tentang yang terjadi di gua."
"Memangnya apa yang terjadi? Maaf sepertinya aku pingsan saat diserang laki-laki seram itu."
"Kau tidak ingat apapun?"
Puteri Juwita terdiam sejenak. Apakah sesuatu telah terjadi saat dia pingsan?
"Seingatku aku merasa dicekik oleh laki-laki seram yang bersama Pangeran Awang saat aku dan Pertiwi bermaksud keluar dari gua. Ada semacam dinding tak kasat mata yang mencegah kami keluar. Lalu tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan yang mencekik leherku. Anehnya, meskipun orang yang mencekikku tidak terlihat tapi aku merasa laki-laki seram itu yang melakukannya."
"Apa yang terjadi setelah itu?"
"Kurasa setelahnya aku pingsan. Yang kuingat, rasanya saat itu kesadaranku memudar dan aku merasa jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar. Di antara perasaan jatuh yang tak berkesudahan itu tiba-tiba aku mendengar bisikan."
"Bisikan?"
"Aku mengingatnya. Itu penggalan syair lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ibuku saat aku kecil. Na..na..na..semacam itu nadanya. Tapi kata-katanya sendiri aku agak lupa karena menggunakan bahasa asing."
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Kurasa, lagu pengantar tidur tadi hanyalah sebuah mimpi. Atau mungkin sepenggal ingatan dari masa laluku."
"Tidak Juwita. Kurasa itu bukan sekedar mimpi atau ingatan masa lalu yang kebetulan kembali."
"Apa maksudmu?"
"Aku melihatnya, Juwita. Kau berubah menjadi orang lain dan menyerang dukun itu. Kau bahkan seperti tidak mengenaliku."
Puteri Juwita terkejut mendengar penuturan Eldrige. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya terbelalak lebar. Itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah dia dengar, bahkan lebih mengerikan dari berita hukuman mati yang dulu diterimanya. Kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri dan orang lain mengendalikannya seperti boneka.
"Jadi..apa yang terjadi padaku, Eldrige? Apa aku..aku..?" Kepanikan mulai melandanya.
"Tidak." Eldrige mendekati gadis yang ketakutan itu. Kedua tangannya memegangi bahu Puteri Juwita yang gemetar. Dengan kedua matanya yang merah berkilat-kilat, dia mengamati wajah gadis itu yang tengadah.
__ADS_1
"Kau tetap dirimu sendiri. Meski waktu itu kau sempat tidak sadar yang terpenting kau sudah kembali."
"Aku takut Eldrige. Apa ini semacam sihir? Apa seseorang sudah memanteraiku?"
"Aku belum tahu, Juwita. Diriku yang sekarang tidak lagi mampu mendeteksi hal-hal seperti itu. Tapi jangan cemas, kita akan mencari tahu sama-sama ya?"
Gadis itu mengangguk lemah. Mencoba mempercayai perkataan Eldrige bahwa semua ini tak perlu dicemaskannya.
"Aku mencari-cari kemana-mana rupanya kalian di sini?" Sebuah suara mengejutkan mereka.
"Paman Gaurav?" Gadis itu hampir terpekik melihat seorang pria gagah berjalan mendekat.
"Kemarilah keponakanku tersayang!" Seru Raja Gaurav dengan senyum lebar.
Puteri Juwita segera menghampiri pamannya dan memeluk pria itu. Betapa rindunya bertemu dengan keluarga yang dikiranya tak kan pernah lagi dijumpainya.
"Kau pergi ke mana saja selama ini? Ayahmu hampir gila mencarimu ke mana-mana. Ah, untung saja ada Eldrige. Hidungnya yang tajam pasti mampu mengendusmu dalam jarak ribuan kilometer." Raja Gaurav mengacak rambut gadis itu sambil melirik Eldrige. Ujung hidung Eldrige yang lancip memerah dengan cuping hidung kembang kempis.
"Paman, jangan samakan Eldrige dengan anjing."
"Kenapa kau membelanya?"
"Dia..dia selalu baik padaku, Paman Gaurav."
"Benarkah? Dia memang selalu baik pada semua orang. Nanti setelah kita pulang akan kusuruh dia menjaga Devi. Anakku itu sangat mengagumi Eldrige sejak kecil."
"Kenapa cemberut seperti itu, keponakanku sayang? Apa kau enggan membagi Eldrige meski dengan sepupumu sendiri?" Goda Raja Gaurav yang sebenarnya telah mengetahui hubungan mereka sejak di perkemahan di kaki gunung Zilzaal.
"Aku terserah Eldrige saja." Puteri Juwita sambil diam-diam melirik ke arah Eldrige.
"Hahaha..Paman hanya bercanda. Lagipula tampaknya Eldrige hanya ingin mengikutimu saja." Raja Gaurav menepuk pundak Eldrige.
"Oh ya, Paman. Kudengar Paman kemari bersama pasukan Kerajaan Alsatia?"
"Benar. Kami kemari sebenarnya untuk menangkap Pangeran Awang. Bukti-bukti keterlibatannya pada kematian Raja Sagar dan Ratu Akemi sudah terkumpul."
"Jadi benar kalau Pangeran Awang terlibat?"
"Benar. Eh, kau sudah tahu?"
"Bagas, anak Tabib Bagio adalah korban selamat pada pembantaian di Sekolah Elixir. Dia mendengar bahwa Pangeran Awang bekerjasama dengan para Daemonie untuk menyerang istana."
"Wah, pantas saja. Aku sampai heran bagaimana caranya Pangeran Awang bisa menyibak jalan menuju puncak pimpinan di saat kondisi darurat perang."
__ADS_1
"Dan di sini dia bekerjasama dengan dukun mendiang Raja Bharata." Eldrige ikut membuka mulut.
"Wah, tak kusangka dia bergerak secepat itu." Raja Gaurav menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi sayangnya dia maupun dukun itu berhasil melarikan diri."
"Tapi Eldrige, bukankah kau bilang sudah kehilangan kekuatanmu? Lalu bagaimana kau mengalahkan dukun sakti itu?"
Eldrige melirik Puteri Juwita yang menundukkan kepala di sebelah Raja Gaurav. "Bukan saya yang mengalahkannya."
"Kalau bukan dirimu lantas siapa?"
"Juwita."
"Apa?" Raja Gaurav mengalihkan pandangannya pada gadis di sebelahnya.
"Sebenarnya kami di sini sedang membicarakan hal itu, Paman."
"Bisa kalian jelaskan maksudnya?" Kini pandangan Raja Gaurav bolak-balik antara Eldrige dan Puteri Juwita.
Eldrige kemudian kembali mengulang peristiwa di gua. Raja Gaurav beberapa kali terkejut mendengar penjelasan itu, namun kedewasaannya membuatnya dengan sabar mendengarkan penjelasan Eldrige tanpa menyela.
"Baiklah. Masalah ini biar aku dan Eldrige yang akan memikirkannya. Kau tidurlah dulu karena sekarang ini sudah terlalu malam."
"Iya, Paman." Puteri Juwita berjalan masuk sambil sebelumnya menoleh sejenak pada Eldrige yang berdiri memandanginya.
Semuanya itu tak luput dari pengamatan Raja Gaurav. Pantas saja waktu itu Eldrige berani meminta restu pada Raja Satria, rupanya memang ada sesuatu diantara Puteri Juwita dan Eldrige.
*****
Hari masih pagi sekali, kabut masih belum beranjak membuat suasana hutan terasa suram. Seseorang melangkah tertatih-tatih ditelan kabut. Tubuh orang itu menggigil, mungkin disebabkan hawa dingin yang langsung menembus pori-porinya yang tak terlindung pakaian.
"Lindungi aku Dewa." Suaranya gemetar diiringi gemeletuk gigi-giginya.
Matanya kosong dan gelap, dipenuhi kehampaan laksana kematian dan membuat mata itu tampak mengerikan. Dia bergerak perlahan menahan rasa sakit di tubuhnya.
Ketika dia sampai di tepian sungai, ditangkupnya seraup air dan meminumnya dengan rakus. Kerongkongannya terasa kering dan sakit. Bekas tercekik di lehernya kemarin belum pulih. Namun tak hanya itu, seluruh kekuatannya seakan telah dilucuti dan hanya meninggalkan jasad yang ringkih lagi lemah.
Seumur hidupnya dia memuja dewa Murr yang telah memberkatinya dengan kesaktian dan energi yang sangat besar. Namun baru kali ini dia berhadapan langsung dengan wujud awatara dewa itu.
Meski dia mengakui bahwa bangsawan Kerajaan Dewanata merupakan titisan dewa, namun berhadapan langsung seperti itu ternyata sama sekali di luar prediksinya. Bertahun-tahun yang lalu ketika dia membangkitkan mayat Raja Bharata, seseorang berhasil mengalahkannya.
Mungkinkah gadis itu yang melakukannya? Bukankah gadis itu berasal dari Elfian? Namun melihat usianya, sepertinya gadis itu bahkan belum dilahirkan saat peristiwa itu terjadi.
__ADS_1
Jadukari Daalal Nath mendesah perlahan. Paru-parunya mengembang dan mengempis di dalam ceruk dadanya yang tipis.
"Jika sang dewa sendiri telah mewujud dan datang ke hadapanku, mengapa tak kusambut saja dan menunjukkan padanya bahwa aku adalah pelayan setianya? " Selarik gigi-gigi hitam terbentang ketika bibirnya membentuk seringaian.