
Eldrige berdiri di depan pintu sambil tersenyum lebar. Wajahnya terlihat sangat senang, perlahan pria itu masuk dan menebarkan aroma Citrus ke seluruh ruangan. Ditaruhnya kantung kain berwarna putih yang dia bawa di atas meja dapur.
"Saya bawakan beberapa kebutuhan dapur dan sabun, semoga bisa bermanfaat." Eldrige berbicara dengan sopan, ada kilat kerinduan yang samar di matanya.
"Terima kasih. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi." Ratu Gita terlihat tidak berusaha menyembunyikan rasa senangnya karena bisa bertemu lagi dengan Eldrige. Di dalam lubuk hatinya, pria ini adalah sahabat yang sangat berharga. Diraihnya kantung pemberian Eldrige dan segera dibukanya.
"Wow! Eldrige kau baik sekali!" Ratu Gita memegang sebuah buku bersampul kulit yang terlihat indah.
"Yang Mulia menyukainya?" Eldrige tersenyum lebar melihat kegembiraan di wajah Ratu Gita.
"Iya, sangat!" Wajah Ratu Gita sampai memerah saking senangnya.
Mata ungu itu berkilat cemburu melihat adegan yang so sweet itu. Dengan sengaja Raja Satria menarik pinggang istrinya dan memeluknya, hingga membuat wanita itu terpekik kaget. Dilihatnya Eldrige tidak nyaman melihatnya dan berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Raja Satria tahu meskipun Eldrige adalah peri yang sudah berusia berabad-abad namun dia masih sangat awam dalam hal percintaan. Bahkan bisa dibilang Eldrige belum pernah merasakan jatuh cinta. Raja pernah mendengar bahwa hati pria itu telah membeku. Namun membayangkan bahwa istrinya adalah wanita yang berhasil menghangatkan hati Eldrige, membuat dadanya terasa terbakar.
"Aku tidak ingin meninggalkanmu, sayang. Tapi Eldrige sudah datang menjemputku. Jadi aku harus pergi sekarang." Raja Satria mencium kening istrinya.
Ratu Gita mengangguk sambil menahan air matanya. Akhirnya waktu perpisahan ini datang juga, suka atau tidak dia harus menerimanya.
Eldrige merasa tidak tahan melihat kemesraan mereka. Akhirnya dia melangkah keluar diikuti oleh Sekar yang kini mengekornya. Ratu Gita buru-buru mengikuti mereka, dia merasa takut tidak akan bisa membendung air matanya jika berada berduaan dengan suaminya lebih lama. Namun saat wanita itu melangkahkan kakinya di pintu, tiba-tiba tangannya ditarik oleh suaminya. Tubuhnya kini menyandar di dinding, pria tampan itu memepet tubuhnya kemudian menciumnya sangat lama.
"Aku mencintaimu." Ucap Raja Satria di telinga istrinya. Napas mereka tersengal-sengal seperti habis berlari. Ratu Gita melirik ke arah pintu, seperti pencuri yang takut ketahuan. Raja Satria meraih wajahnya agar menatapnya.
"Katakan kau mencintaiku!" Perintahnya. Keningnya menempel pada kening Ratu Gita.
"Aku mencintaimu." Ratu Gita berbisik lirih, seolah-olah terhipnotis.
Raja Satria kembali mencium bibirnya yang mungil dan wanita itu membalasnya. Mereka berciuman dengan perasaan takut kehilangan. Tanpa sadar air mata membasahi wajah keduanya. Ratu Gita terisak lirih, bahunya bergetar.
__ADS_1
Raja Satria menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya keluar. Di sana Eldrige sedang berdiri menunggunya. Wajah peri itu terlihat muram, matanya yang semerah Ruby menatap wajah Ratu Gita yang sembap.
"Ayo kita pulang, Eldrige!"
Eldrige mengangguk. Tangannya berputar-putar di udara dan lubang dimensi segera terbuka. Dia mempersilakan Raja Satria untuk masuk terlebih dahulu kemudian dia menyusul di belakangnya. Begitu mereka berdua telah masuk, lubang dimensi itu segera menutup dan menghilang.
Ratu Gita masih mematung ditempatnya, seperti orang yang bangun dari tidur dan tidak rela mimpinya berakhir. Tarikan kecil ditangan tiba-tiba menyadarkannya. Seraut wajah mungil tersenyum manis meminta perhatiannya.
"Kau mau apa, manis?" Tanya wanita itu.
"Bolehkah aku minta kue?" Wajah gadis kecil itu manis sekali hingga Ratu Gita sangat berat untuk tidak mengabulkannya.
"Aku ingin sekali memberimu, tapi sayang sekali kue itu sudah habis." Kata wanita itu dengan penuh penyesalan.
"Tidak! Peri tampan tadi membawa kue di kantungnya."
Sekar mengangguk, membuat Ratu Gita merasa heran. Bagaimana dia bisa tahu?
Mereka bergegas ke dapur dan membongkar kantung pemberian Eldrige. Ternyata isinya sangat bermacam-macam. Kantung yang terlihat kecil itu memuat berbagai barang yang secara nalar tak akan muat ke dalam kantung sekecil itu.
"Aku tahu dari baunya." Sekar tertawa gembira sambil menggigit kue kesukaannya.
Mereka mengobrol sangat lama, membuat Ratu Gita sejenak melupakan kesedihannya. Arya datang tepat sebelum makan siang, jadi mereka makan bersama. Pemuda itu membagi sebagian madu yang didapatnya kepada Ratu Gita.
"Apakah kalian akan kemari lagi besok?" Tanya Ratu Gita ketika kakak beradik itu berpamitan.
"Setiap hari kami selalu kemari untuk mengawasimu tapi kakakku bilang bahwa tidak sopan bertamu di rumah orang setiap hari." Jawab Sekar dengan jujur.
Kakaknya mendelik sambil diam-diam menendang kaki adiknya. Dia takut kalau misinya mengawasi Ratu Gita terbongkar.
__ADS_1
"Jangan marah pada adikmu, aku sudah tahu kok kalau Ratu Malea yang menyuruh kalian mengawasiku."
"Apa kau tidak marah?" Remaja itu bertanya dengan cemas.
"Tidak. Aku justru berterima kasih karena berkat kalian, aku bisa selamat ketika diserang oleh nenek sihir jahat!"
"Oh, waktu itu aku yang menyuruh kakakku untuk cepat-cepat melapor pada Ratu Malea." Ucap Sekar dengan bangga.
"Huu.. itu cuma alasanmu karena sayapmu gemetaran sampai tidak bisa terbang!" Arya mencemooh adiknya.
"Tidak kak Gita, aku bukanlah penakut! Aku tetap di sini untuk melindungimu, sementara kakakku yang menyebalkan itu pergi meminta bantuan." Jarinya menunjuk ke arah hidung kakaknya yang lancip.
Ratu Gita tertawa melihat pertengkaran keduanya. Seumur hidupnya dia tidak pernah memiliki saudara untuk diajak bertengkar. Selama ini dia hanya memiliki Gaurav, sepupu terkasihnya. Namun dia tidak bisa selalu menemaninya, karena posisinya sebagai pangeran. Apalagi setelah dia ditunjuk untuk menjadi Putera Mahkota menggantikan Putera Mahkota sebelumnya yang melarikan diri ke biara. Gaurav seakan direnggut dari sisinya.
*****
Raja Satria keluar dari kamar Eldrige dan langsung menuju kediamannya untuk berganti pakaian. Dia bertekad untuk menemukan dalang yang menyebabkan hal-hal buruk menimpa istrinya.
Diam-diam diperintahkannya pengawal pribadi kepercayaannya untuk menyelidikinya. Dia selalu ingat dengan peringatan Ratu Malea yang mengatakan bahwa seseorang telah memanipulasi pikirannya dengan sihir. Berarti orang itu adalah orang yang selama ini dekat dengannya dan bisa mempengaruhi pemikirannya.
Satu-satunya orang yang dikenalnya yang menguasai ilmu sihir hanyalah Eldrige. Tapi sangat jelas jika peri itu tidak mungkin melakukanya. Lalu siapa?
Seharian Raja melaksanakan tugasnya dengan pikiran yang penuh curiga kepada semua orang terdekatnya. Para Dewan Kerajaan, para pejabat dan bahkan para Staf dan Pengawal Kerajaan tak luput dari kecurigaannya. Siapa diantara mereka yang selama ini telah mempengaruhi keputusan-keputusannya? Yang membuatnya tergila-gila? Tiba-tiba dahinya berkerut setelah memikirkan suatu kemungkinan. Nanti dia harus menemui Eldrige untuk membicarakannya.
Raja sudah kembali ke kamarnya setelah jam tugasnya selesai. Tubuh dan pikirannya terasa sangat lelah. Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengusir penat.
Namun tak lama kemudian dirasakannya sebuah sentuhan menjalar di tubuhnya. Dia membuka matanya dan melihat wajah cantik Selir Mayang diatasnya. Wanita itu terlihat sangat mempesona, lebih dari biasanya. Sentuhan wanita itu juga semakin agresif dan memaksa.
"Aku menginginkanmu." Selir Mayang berbicara dengan suara serak dan menggoda. Sepertinya malam ini pria itu harus menyerah padanya.
__ADS_1